28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konflik Israel–Palestina dari Perspektif Gus Dur: Sebuah Pelajaran bagi Indonesia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 30, 2026
in Esai
Konflik Israel–Palestina dari Perspektif Gus Dur: Sebuah Pelajaran bagi Indonesia

ilustrasi tatkala.co

Melampaui Narasi Hitam-Putih

Dalam percakapan global, konflik Israel–Palestina sering direduksi menjadi pertarungan agama: Islam versus Yahudi. Narasi ini sederhana, emosional, dan mudah diterima—tetapi justru karena itu, ia sering menyesatkan. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menawarkan perspektif yang berbeda: konflik ini bukan konflik agama, melainkan konflik politik, sejarah, dan kemanusiaan. Pandangan ini tidak hanya relevan untuk memahami Timur Tengah, tetapi juga penting sebagai cermin bagi Indonesia, bangsa yang majemuk dan rentan terhadap simplifikasi serupa.

Realitas Sosial: Ketika Manusia Tetap Bisa Hidup Bersama

Salah satu argumen kuat Gus Dur berangkat dari fakta sederhana: banyak warga Palestina bekerja di Israel. Mereka berinteraksi setiap hari—di tempat kerja, pasar, dan ruang publik—tanpa selalu berada dalam ketegangan. Relasi ini menunjukkan bahwa pada tingkat manusiawi, hubungan tidak selalu diwarnai kebencian.

Di sini kita melihat perbedaan antara “realitas sosial” dan “realitas politik.” Rakyat biasa, baik Palestina maupun Israel, pada dasarnya ingin hidup layak: bekerja, membesarkan keluarga, dan hidup aman. Konflik besar yang kita lihat di layar televisi seringkali bukan refleksi dari hubungan antarindividu, melainkan hasil konstruksi politik yang lebih luas.

Pelajaran penting bagi Indonesia adalah bahwa harmoni sosial seringkali lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Namun, ia bisa retak ketika ditarik ke dalam narasi politik yang sempit.

Fragmentasi Internal: Palestina Tidak Tunggal

Pandangan Gus Dur semakin kuat ketika kita melihat fakta bahwa Palestina sendiri tidak monolitik. Terdapat berbagai faksi dengan ideologi dan strategi yang berbeda, seperti Fatah dan Hamas, serta kelompok lain seperti Palestinian Islamic Jihad.

Perbedaan ini mencakup:

  • pendekatan terhadap Israel (negosiasi vs perlawanan bersenjata)
  • orientasi ideologi (nasionalis sekuler vs Islam politik)
  • kepentingan kekuasaan internal

Jika konflik ini murni agama, seharusnya tidak ada perpecahan internal yang signifikan. Namun kenyataannya, konflik internal justru menjadi bagian penting dari dinamika Palestina. Ini memperkuat argumen bahwa konflik tersebut adalah konflik politik yang kompleks, bukan sekadar pertarungan teologis.

Kekerasan dan Jalan Buntu Politik

Gus Dur secara konsisten menolak kekerasan, baik yang dilakukan oleh Israel maupun kelompok Palestina. Ia melihat kekerasan sebagai jalan buntu yang hanya memperpanjang penderitaan. Ketimpangan kekuatan militer membuat korban terbesar hampir selalu jatuh di pihak sipil, terutama rakyat Palestina.

Namun, kritik Gus Dur tidak berhenti pada satu pihak. Ia juga mengingatkan bahwa strategi kekerasan dari kelompok tertentu di Palestina tidak membantu perjuangan mereka dalam jangka panjang. Kekerasan, dalam perspektif ini, bukan solusi, melainkan lingkaran setan.

Bagi Indonesia, ini menjadi pengingat penting: konflik yang dibiarkan berkembang dalam logika kekerasan akan sulit diselesaikan tanpa keberanian untuk keluar dari siklus tersebut.

Dialog sebagai Jalan Tengah

Salah satu gagasan yang sering dianggap kontroversial dari Gus Dur adalah pentingnya dialog, bahkan dengan pihak yang dianggap “lawan.” Ia pernah mengusulkan agar Indonesia membuka hubungan dengan Israel, bukan sebagai bentuk dukungan, tetapi sebagai strategi untuk berperan dalam perdamaian.

Logika di balik gagasan ini sederhana tetapi mendalam: tidak mungkin menjadi mediator jika tidak memiliki akses ke kedua pihak. Dialog bukan berarti menyerah, melainkan membuka kemungkinan solusi yang lebih manusiawi.

Pendekatan ini menunjukkan keberanian intelektual dan moral. Dalam konteks Indonesia, ini relevan ketika kita menghadapi konflik internal: apakah kita memilih menutup diri atau membuka ruang dialog?

Rakyat versus Elite: Dua Lapisan Realitas

Gus Dur sering membedakan antara rakyat biasa dan elite politik. Rakyat cenderung menginginkan stabilitas dan kehidupan yang damai, sementara elite sering terjebak dalam kepentingan kekuasaan, ideologi, atau legitimasi politik.

Dalam konflik Israel–Palestina, perbedaan ini sangat jelas. Sementara banyak warga dapat hidup berdampingan dalam keseharian, keputusan-keputusan politik di tingkat atas justru memperuncing konflik.

Indonesia pun tidak kebal terhadap fenomena ini. Konflik horizontal seringkali dipicu atau diperbesar oleh narasi elite, sementara masyarakat di tingkat akar rumput sebenarnya memiliki kapasitas untuk hidup rukun.

Perspektif Kemanusiaan: Inti dari Pemikiran Gus Dur

Pada akhirnya, pendekatan Gus Dur berakar pada kemanusiaan. Ia melihat manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya mampu hidup berdampingan. Agama, dalam pandangannya, seharusnya menjadi sumber kedamaian, bukan alat konflik.

Pendekatan ini menolak reduksi identitas. Seseorang tidak hanya Muslim, Yahudi, atau Kristen; ia juga seorang pekerja, ayah, ibu, tetangga—manusia dengan kebutuhan dan harapan yang sama.

Dengan perspektif ini, konflik tidak dilihat sebagai pertarungan identitas, melainkan sebagai kegagalan sistem politik dalam mengelola perbedaan.

Pelajaran bagi Indonesia: Mengelola Keberagaman

Indonesia adalah negara dengan keberagaman yang luar biasa: agama, suku, budaya, dan bahasa. Dalam konteks ini, pelajaran dari konflik Israel–Palestina menjadi sangat relevan.

Pertama, kita harus waspada terhadap narasi yang menyederhanakan konflik menjadi “kita versus mereka.” Narasi semacam ini mudah memicu polarisasi.

Kedua, penting untuk membedakan antara konflik politik dan konflik sosial. Tidak semua ketegangan di masyarakat berasal dari perbedaan identitas; seringkali ada kepentingan lain di baliknya.

Ketiga, dialog harus menjadi pilihan utama. Dalam masyarakat plural, menutup ruang komunikasi hanya akan memperbesar kesalahpahaman.

Keempat, peran elite sangat menentukan. Elite politik dan intelektual memiliki tanggung jawab untuk meredakan, bukan memperkeruh situasi.

Dari Timur Tengah ke Nusantara

Pandangan Gus Dur tentang konflik Israel–Palestina mengajarkan kita untuk berpikir lebih dalam, melampaui emosi dan simplifikasi. Ia mengajak kita melihat manusia di balik konflik, serta memahami kompleksitas politik yang menyertainya.

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar pelajaran tentang konflik di negeri jauh, tetapi cermin bagi diri sendiri. Apakah kita mampu menjaga keberagaman sebagai kekuatan, atau justru terjebak dalam polarisasi?

Gus Dur memberikan arah yang jelas: kemanusiaan di atas segalanya, dialog sebagai jalan, dan keberanian untuk melihat kebenaran di luar narasi yang nyaman. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, pandangan ini bukan hanya relevan, tetapi juga mendesak. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gus DurisraelPalestinaperangPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jika Tuhan adalah AI —Sebuah Refleksi tentang Iman, Gender, dan Keheningan Semesta

Next Post

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi ---Catatan Pementasan 'Aduh" Teater Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co