SEBANYAK lebih dari 100 orang melakukan penanaman pohon di kawasan Danau Tamblingan, Buleleng, Bali, Sabtu, 28 Maret 2026. Mereka berasal dari berbagai komunitas lingkungan, akademisi, hingga organisasi internasional yang memiliki perhatian terhadap pelestarian alam.
“Penanaman ini difokuskan pada area sekitar danau yang dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem,” kata I Wayan Sadyana, pendiri Komunitas Kayoman Pedawa.
Komunitas Kayoman Pedawa yang bermarkas di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, merupakan salah satu penggagas kolaborasi penanaman pohon yang melibatkan peserta dari berbagai negara ini.
Ini adalah kolaborasi internasional ke-4 tentang budaya dan lingkungan yang dilakukan Komunitas Kayoman bersama berbagai komunitas dan lembaga dari berbagai negara ini.

Lembaga yang ikut dalam kolaborasi ini adalah Universitas Iwate, BKSDA Bali, Asia Enviromental Alliance, Greenery Fund, Baga Raksa Alas Mertajati, Masyarakat Adat Dalem Tamblingan serta dihadiri juga oleh Munduk Moding Plantation, Green Study Adventure dan keikutsertaan Yayasan Wisnu.
Pohon yang ditanam berjumlah 1000 bibit pohon yang terdiri dari bibit pohon beringin, bunut, aa, kayuapuh, bambu, gintungan, kayu tanah, kayu bengkel, aren, dan gempinis,
Tanaman ini dipilih karena memiliki kemampuan menyimpan air yang baik dan dinilai efektif dalam mendukung konservasi sumber daya air di kawasan Danau Tamblingan. Penanaman dilakukan secara bertahap untuk memastikan efektivitas dan kualitas penanaman.


Bagi Kayoman Pedawa, kegiatan ini merupakan kolaborasi keempat setelah sebelumnya dilakukan pada tahun 2023, 2024, dan 2025 di Desa Pedawa. Kali ini, Kayoman memperluas jangkauan kolaborasi dengan melibatkan lebih banyak pihak, termasuk komunitas internasional. Peran Kayoman dinilai aktif dalam membangun sinergi antar komunitas lingkungan di Bali.
“Tujuan utama kegiatan ini tidak hanya untuk mendukung konservasi air Danau Tamblingan, tetapi juga memperkuat konektivitas antara komunitas di kawasan hulu dan hilir,” kata Sadyana.
Menurut Sadyana, keterlibatan masyarakat dari wilayah hilir, termasuk kawasan Panca Desa Bali Aga, dianggap penting untuk membangun kesadaran bersama dalam menjaga hutan dan sumber air.
Karena jumlah pohon yang ditanam mencapai 1000 batang, proses penanaman dilakukan secara bertahap yang sudah dimulai sejak 27 Maret 2026. Kegiatan ini secara aktif diikuti oleh Komunitas BRASTI dan Yayasan Wisnu. Tahapan awal dilakukan untuk memastikan seluruh bibit tertanam dengan baik sesuai kondisi lahan.

Ke depan, Komunitas Kayoman Pedawa, BKSDA bersama BRASTI akan menjadwalkan kegiatan pemeliharaan secara rutin. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pohon yang telah ditanam dapat tumbuh optimal dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan. Upaya berkelanjutan ini diharapkan mampu menjaga fungsi ekologis kawasan Tamblingan tetap terjaga. [T]
Sumber: Siaran Pers Kayoman Pedawa
Editor: Jaswanto





























