25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titik Rawan Pariwisata Bali

Chusmeru by Chusmeru
March 29, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

HARUS diakui, Bali adalah sebuah pulau yang kecil. Namun ia terus dipacu untuk menjadi besar. Bali dipaksa menjadi penyumbang devisa negara. Bali terus bergincu untuk menjadi primadona pariwisata. Akankah Bali mempesona atau berakhir merana?

Sebagai pulau di tengah Nusantara, Bali sudah sejak lama diprediksi akan menjadi destinasi wisata dunia. Di masa lalu Bali merupakan tujuan wisata yang aman dan nyaman. Pantainya bersih dan indah. Penduduknya ramah, tradisi dan budayanya menawan.

Kondisi Bali yang didamba wisatawan tidak bertahan lama. Awal tahun 2000-an Bali mulai berubah. Bukan hanya sebagai tujuan wisata, Bali juga menjadi ladang bisnis, sumber penghidupan, lahan kejahatan, bahkan menjadi sasaran terorisme. Pariwisata Bali mulai rawan.

Titik rawan pariwisata Bali utamanya dirasakan di seputar Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan). Perlahan tapi pasti, beragam masalah mulai muncul di Sarbagita. Dampaknya bukan hanya dirasakan wisatawan, tetapi juga penduduk setempat.

Meski menyimpan titik rawan, pemerintah pusat tetap mendorong Bali menjadi ikon pariwisata Indonesia. Siapa pun yang menjadi menteri pariwisata, selalu menjadikan Bali sebagai kiblat pengembangan pariwisata Indonesia. Tanpa disadari, tiba saatnya Bali menumpuk masalahnya sendiri. Masyarakat yang tak terkait dengan pariwisata pun harus ikut menanggung beban dampak buruk pariwisata.

Secara garis besar, titik rawan pariwisata Bali disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor kepadatan manusia. Kedua, faktor kepadatan bangunan. Bali kian padat, bukan hanya oleh wisatawan yang datang tetapi juga oleh banyaknya infrastruktur pariwisata yang memadati hampir semua destinasi.

Kepadatan Manusia

Titik rawan pariwisata Bali berawal dari kepadatan manusianya. Bali yang lengang dan tenang hanya tinggal cerita. Kini Bali sudah pengap oleh hiruk-pikuk manusia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, luas daratan Pulau Dewata ini sebesar 5.780,06 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 4,32 juta jiwa sesuai hasil sensus penduduk tahun 2020.

Jumlah penduduk Bali yang terus meningkat setiap tahun dibarengi dengan kunjungan wisatawan yang juga selalu bertambah. Untuk tahun 2025, berdasarkan data BPS Bali kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 6,9 juta. Sedangkan wisatawan nusantara sejumlah 26,6 juta. Dapat dibayangkan, provinsi dan pulau kecil yang setara dengan sekitar 0,29% dari total luas daratan Indonesia itu dipadati oleh jutaan manusia.

Tentu saja kepadatan manusia di Bali memunculkan titik rawan dalam banyak hal. Kemacetan lalu lintas kini menjadi pemandangan sehari-hari di Sarbagita. Jarak tempuh antara objek wisata yang satu dengan lainnya menjadi lebih lama, padahal tidak terlalu jauh. Kemacetan ini dipicu oleh bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di Bali.

Kemacetan yang ditemui di jalanan setiap hari akan menimbulkan stres sosial. Orang tidak nyaman berada di jalan yang macet. Yang terjadi adalah kesemerawutan dan pelanggaran lalu lintas. Suara klakson mobil dan sepeda motor bersautan antara wisatawan dan masyarakat di tengah jalanan yang macet.

Persoalan sampah menjadi ancaman bagi pariwisata Bali. Jumlah penduduk yang setiap tahun bertambah tidak dibarengi dengan pengelolaan sampah yang baik. Akibatnya Bali dikepung oleh sampah, dan hingga kini belum ada kebijakan yang solutif untuk mengatasi sampah, khususnya di Denpasar dan Badung.

Kunjungan wisatawan mancanegara yang nyaris menembus 7 juta orang itu juga berdampak pada perilaku agresif. Apalagi hingga kini tidak pernah ada mekanisme seleksi turis asing yang masuk ke Bali. Wisatawan mulai banyak yang berulah. Sesama bule berkelahi di Bali. Ada pula pula sekelompok turis mengeroyok sekuriti sebuah tempat hiburan. Bahkan wisatawan mulai berani menantang pecalang (perangkat adat di Bali).

Berjubelnya manusia di satu tempat yang kecil memang berpotensi menimbulkan konflik sosial, baik antara masyarakat setempat dengan pendatang maupun di antara wisatawan. Konflik sosial bisa berupa ketidaksukaan wisatawan terhadap perilaku penduduk setempat atau sebaliknya. Hal itu terjadi di Bali ketika beberapa turis asing membuat petisi karena terganggu suara kokok ayam di Jimbaran maupun turis yang protes karena tergangu oleh tetabuhan joged bumbung hingga malam di Mengwi, Badung.

Potensi konflik sosial dan ekonomi juga berpeluang terjadi di Bali, ketika sektor pariwisata menjadi ladang bisnis yang semakin terbuka. Ojek online di kawasan wisata kini banyak digeluti oleh pendatang dari luar Bali. Diduga, banyak pula akomodasi ilegal yang dikelola orang asing. Bahkan wisatawan mancanegara sudah merambah kepada profesi pemandu wisata, yang tentu saja ilegal.

Titik rawan yang mulai dirasakan Bali seiring kepadatan manusia adalah faktor keamanan, baik bagi masyarakat maupun wisatawan. Tindak kriminalitas kerap terjadi. Pencurian dan peredaran narkoba kian marak. Yang mengkhawatirkan, beberapa wisatawan asing menjadi korban pemerkosaan. Selain berkurangnya rasa aman, ini semua mencoreng citra pariwisata Bali. Perlu ada jaminan keamanan dari pemerintah kepada wisatawan.

Kepadatan Bangunan

Bukan hanya oleh penduduk dan wisatawan, Bali juga dipadati dan dikepung oleh bangunan. Setiap pembukaan objek wisata baru sudah pasti akan dibarengi dengan pembangunan sarana akomodasi dan amenitas lain. Konsekuensi kepadatan bangunan akan menimbulkan berbagai ekses, baik yang positif maupun negatif.

Kepadatan bangunan yang ditandai dengan menjamurnya hotel, vila, restoran, warung makan, kafe, kios cinderamata, dan bangunan lain memang memberi banyak peluang kerja. Perputaran uang dan pendapatan di daerah juga meningkat. Namun kepadatan bangunan mengorbankan lahan-lahan produktif. Kepadatan bangunan yang tidak direncanakan dengan baik juga akan menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Tentu saja kepadatan bangunan menjadi salah satu titik rawan pariwisata Bali. Apalagi bila tidak didukung oleh manajemen transportasi yang baik, kemacetan sudah pasti akan terjadi. Kepadatan bangunan amenitas pariwisata maupun pemukiman penduduk akan memicu persoalan volume sampah yang tinggi setiap hari. Hal ini akan membuat Bali mudah dilanda banjir ketika hujan deras lantaran sampah yang menumpuk, seperti banjir bandang yang terjadi pada September 2025 lalu dan banjir Februari 2026 di Denpasar, Badung, dan Tabanan.

Pantai-pantai yang selama ini menjadi andalan pariwisata Bali menghadapi kerawanan pula. Abrasi pantai sudah terjadi di Bali. Pantai Kuta, misalnya, mengalami abrasi yang serius. Puluhan meter bibir pantai sudah hilang sejak 20 tahun silam. Jika musim pasang air laut, bisa cuma sisa 2 meter sampai pedestrian (detikBali, 21/11/2024). Faktor alam memang berperan dalam abrasi. Namun ada pula yang beranggapan bahwa pembangunan perluasan bandara internasional mempercepat proses abrasi.

Kepadatan bangunan di sektor pariwisata Bali menyimpan potensi penyimpangan. Bentuk penyimpangan bermacam-macam, mulai dari pembangunan di jalur hijau, konversi hutan mangrove menjadi tempat usaha, bangunan di tebing sungai, penggunaan sempadan pantai, hingga bisnis vila ilegal. Pelanggaran dan penindakan pun hilang timbul seperti gejala penyakit maag. Ketika pemerintah diam dan mendiamkan, penyimpangan itu kian menjadi.

Solusinya tidak mudah. Titik rawan pariwisata yang disebabkan oleh kepadatan dan bangunan memerlukan kebijakan yang revolusioner, ekstrem, dan radikal. Bukan kebijakan yang biasa-biasa saja. Bukan kebijakan yang hanya mengamankan jabatan politik atau kepentingan ekonomis.

Bali perlu kebijakan ekstrem yang menyentuh hal dasar dalam mengatasi kepadatan manusia dan bangunan. Membatasi jumlah kunjungan wisatawan merupakan salah satu pilihan. Moratorium pembangunan sarana dan prasarana pariwisata menjadi pilihan lain. Jika Bali dibiarkan ugal-ugalan, cepat atau lambat akan mengalami kehancuran. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Next Post

Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co