Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes terdengar seperti doa yang terlambat, atau justru satu-satunya yang masih relevan. Dirilis pada 1974 sebagai bagian penutup dari komposisi epik The Gates of Delirium, Soon hadir bukan sebagai teriakan kemenangan, melainkan bisikan setelah kehancuran.
Kata soon, segera adalah kata yang ambigu. Ia menjanjikan, tetapi sekaligus menunda. Dalam kehidupan hari ini, soon menjadi mantra politik, ekonomi, bahkan moral: keadilan akan datang segera, kesejahteraan segera terwujud, kebenaran akan terungkap segera. Namun “segera” itu terus bergeser, tanpa kepastian waktu dan tanpa perubahan sikap.
Lagu Soon justru mengajak kita membaca ulang makna penantian, bukan sebagai sikap pasif, melainkan sebagai ujian etis manusia modern.
Setelah delirium (suatu keadaan kebingungan atau linglung parah yang menyebabkan penderitanya sulit fokus dan berfikir),datanglah keheningan. Soon tidak berdiri sendiri. Ia lahir setelah kekacauan musikal yang merepresentasikan perang, konflik, dan kegilaan manusia.
Ini penting: harapan dalam Soon bukan optimisme dangkal, melainkan kesadaran yang lahir dari pengalaman kehancuran.Di sinilah relevansinya dengan kehidupan kontemporer. Kita hidup di zaman yang secara teknologis maju, tetapi secara eksistensial rapuh. Informasi melimpah, tetapi makna mengering. Komunikasi instan, tetapi pemahaman semakin dangkal. Dunia menjadi cepat, sementara manusia kehilangan waktu untuk berpikir.
Martin Heidegger pernah mengingatkan tentang manusia modern yang terjebak dalam das Man, kehidupan yang ditentukan oleh keramaian, opini umum, dan arus tanpa refleksi. Dalam situasi itu, manusia kehilangan keotentikannya.
Soon, dengan keheningannya, seolah mengajak kita keluar dari kerumunan bising itu dan kembali mendengar diri sendiri.
Budaya “Soon” dan Penundaan Moral
Dalam politik dan kehidupan publik hari ini, soon sering menjadi alat penenang. Ia meredam kegelisahan tanpa menyentuh akar persoalan. Janji perubahan diulang, tetapi struktur ketidakadilan tetap lestari. Publik diminta menunggu, sementara elite bergerak tanpa penundaan.
Albert Camus menyebut situasi semacam ini sebagai absurditas: ketika harapan dan realitas berjalan berlawanan, tetapi manusia tetap dipaksa percaya pada narasi yang sama. Namun bagi Camus, kesadaran akan absurditas bukan alasan untuk menyerah, melainkan panggilan untuk bersikap jujur dan bertanggung jawab.
Soon tidak menawarkan kepastian palsu. Ia justru mengakui kegelapan: “this endless night”. Tetapi di dalam pengakuan itulah harapan menjadi manusiawi; bukan propaganda, bukan slogan.
Keheningan sebagai Kritik Zaman
Berbeda dengan budaya media sosial yang menuntut reaksi cepat dan pendapat instan, Soon memilih keheningan. Dalam dunia yang memuja kebisingan, keheningan menjadi bentuk perlawanan.
Keheningan memungkinkan refleksi. Tanpa refleksi, manusia hanya bereaksi; dan reaksi yang tak dipikirkan sering kali melahirkan kekerasan simbolik, kebencian, dan polarisasi. Kita melihatnya setiap hari: debat publik yang bising tetapi miskin pemahaman, perbedaan yang segera berubah menjadi permusuhan.
Soon mengingatkan bahwa tidak semua jawaban lahir dari suara paling keras. Sebagian justru muncul dari kesediaan untuk berhenti sejenak dan mendengarkan.
Cinta sebagai Etika, Bukan Romantisme
Tema utama Soon adalah cinta, bukan dalam arti romantis yang sentimental, melainkan sebagai kekuatan etis. Erich Fromm dalam The Art of Loving menegaskan bahwa cinta bukan perasaan pasif, melainkan tindakan aktif: perhatian, tanggung jawab, penghormatan, dan pengetahuan.
Dalam masyarakat yang terfragmentasi oleh identitas dan algoritma, cinta sering dianggap lemah. Padahal justru cinta, dalam bentuk empati dan kesediaan memahami, adalah syarat dasar keberlanjutan hidup bersama.
Yes, sebagai band rock progresif, tampaknya memahami satu hal penting: kemajuan tanpa kedewasaan moral hanya akan melahirkan kehancuran yang lebih canggih. Soon adalah kritik halus terhadap modernitas yang lupa pada dimensi kemanusiaannya sendiri.
Menunggu Cahaya atau Menjadi Cahaya
Pertanyaan paling penting yang diajukan Soon kepada manusia hari ini adalah:
apakah kita hanya menunggu cahaya, ataukah bersedia ikut menyalakannya?
Harapan tidak datang sebagai hadiah. Ia lahir dari keberanian untuk berubah, secara personal maupun kolektif. Menunggu tanpa refleksi hanyalah penundaan. Tetapi menunggu dengan kesadaran adalah proses pendewasaan.
Di tengah dunia yang terus menjanjikan “segera” tanpa kepastian, Soon menawarkan etika penantian: bersabar tanpa pasrah, berharap tanpa menipu diri, dan mencintai tanpa pamrih.
Mungkin cahaya itu memang akan datang,soon jika manusia berhenti saling berteriak, dan mulai saling mendengar. [T]





























