12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
March 20, 2026
in Esai
Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti

Foto ilustrasi: Canva

SETIAP menjelang Hari Suci Nyepi, saya selalu teringat dengan sebuah lagu dari band Navicula. Lagu itu berjudul “Saat Semua Semakin Cepat Bali Berani Berhenti,” yang dirilis resmi pada 2018 dalam album Earthship. Lagu ini tidak meledak dengan agresivitas seperti beberapa karya lain dari Navicula.

Sebaliknya, aransemen akustik terasa lebih reflektif, seolah memberi ruang bagi liriknya untuk berbicara. Ada nuansa melankolis sekaligus menenangkan. Ketika bagian reff berbunyi, “Saat semua semakin cepat, Bali berani berhenti dan menyepi,” kalimat itu terasa seperti pernyataan yang diucapkan perlahan tetapi tegas. Musiknya tak sekadar mengiringi kata-kata, melainkan memperkuat suasana hening yang menjadi inti dari Hari Raya Nyepi itu sendiri.

Lirik lagu tersebut juga menarik karena tidak langsung berbicara tentang ritual atau tradisi. Ia justru dimulai dari sesuatu yang sangat manusiawi: kelelahan. Seperti pada lirik, “Ku telah terlampau lelah, berilah aku waktu sesaat” terdengar seperti pengakuan yang jujur tentang kondisi manusia modern yang terus berlari. Dalam konteks itu, Nyepi diibaratkan dengan kebutuhan manusia untuk berhenti sejenak ─ ‘membasuh luka’, menenangkan pikiran, dan memulai kembali dengan lebih jernih.

Kalimat itu seperti sebuah pengingat. Kita hidup di zaman yang serba cepat. Teknologi membuat segalanya serba instan, informasi datang dalam hitungan detik, pekerjaan berpacu dengan tenggat waktu, dan mobilitas manusia semakin tinggi. Dunia hampir tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan malam hari pun dipenuhi cahaya, suara kendaraan, dan aktivitas tanpa jeda. Kecepatan seolah menjadi ukuran kemajuan zaman.

Namun setahun sekali, Bali menunjukkan sesuatu yang berbeda, yaitu Nyepi.

Pada Hari Raya Nyepi, satu pulau memasuki keheningan total selama 24 jam. Bandara ditutup, kendaraan berhenti, toko-toko tidak beroperasi, dan lampu-lampu dipadamkan. Jalanan yang biasanya dipenuhi wisatawan dan lalu lintas berubah menjadi kosong. Pantai yang ramai menjadi sunyi. Dari luar, keadaan ini mungkin terlihat seperti pulau yang tertidur. Tetapi bagi masyarakat Bali, Nyepi bukan sekadar berhenti dari aktivitas sehari-hari. Ia adalah momen untuk kembali kepada diri sendiri ─ kembali ke titik nol.

Nyepi merupakan bagian dari perayaan Tahun Baru dalam kalender Saka. Sebelum hari hening itu tiba, masyarakat Bali melalui berbagai rangkaian ritual. Salah satu yang paling dikenal adalah arak-arakan pawai ogoh-ogoh (pengerupukan) pada malam sebelum Nyepi. Ogoh-ogoh yang menggambarkan simbol energi negatif diarak keliling desa dengan iringan gamelan dan sorak-sorai masyarakat. Malam itu penuh energi dan keriuhan. Keesokan harinya, Bali tenggelam dalam sunyi.

Keheningan Nyepi bukanlah sekadar larangan aktivitas. Dalam tradisi Hindu Bali, dikenal empat pantangan utama yang disebut Catur Brata Penyepian: tidak menyalakan api atau cahaya (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak bersenang-senang (amati lelanguan). Pantangan ini mengajak manusia untuk menahan diri dari kesibukan dunia luar dan memberi ruang untuk refleksi. Tanpa hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, manusia diingatkan untuk instropeksi diri.

Dalam dunia modern, praktik seperti ini terasa semakin langka. Banyak orang sekarang berbicara tentang pentingnya istirahat dari teknologi, melakukan “detoks digital” atau menjalani gaya hidup yang lebih lambat. Namun jauh sebelum istilah-istilah itu populer, masyarakat Bali telah memiliki tradisi yang secara kolektif mempraktikkan hal serupa melalui Nyepi.

Lagu dari Navicula itu terasa seperti merangkum makna tersebut. Ketika dunia semakin sibuk mengejar produktivitas, Bali justru berani mengambil jeda. Keberanian itu bukan sekadar menghentikan aktivitas selama satu hari, tetapi juga menjaga sebuah filosofi hidup: bahwa manusia perlu berhenti sejenak untuk menjaga keseimbangan dengan dirinya sendiri, sesama, dan alam.

Menariknya, keheningan Nyepi juga membawa dampak nyata pada lingkungan. Tanpa kendaraan, tanpa penerbangan, dan tanpa aktivitas industri selama satu hari penuh, udara di Bali menjadi lebih bersih. Pada malam hari, langit terlihat jauh lebih gelap sehingga bintang-bintang tampak jelas. Suara alam yang biasanya tertutup oleh kebisingan kota, seperti angin, serangga, dan ombak menjadi lebih terasa.

Nyepi juga menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat menyatukan masyarakat. Meskipun berasal dari praktik keagamaan Hindu Bali, perayaan ini dihormati oleh semua orang yang tinggal di pulau tersebut, termasuk wisatawan. Hotel-hotel tetap beroperasi tetapi para tamu diminta untuk menghormati aturan Nyepi. Banyak turis yang awalnya merasa terkejut karena tidak bisa keluar atau bepergian, namun kemudian justru menikmati pengalaman yang unik ─ satu hari tanpa kebisingan dunia.

Dalam konteks globalisasi yang sering menyeragamkan cara hidup manusia, Nyepi menjadi pengingat bahwa budaya lokal masih memiliki kekuatan untuk menawarkan perspektif yang berbeda. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu berarti bergerak lebih cepat. Terkadang, kemajuan justru berarti mengetahui kapan harus memberi jeda.

Karena itu, setiap kali Nyepi mendekat dan saya kembali mendengar lagu “Saat Semua Semakin Cepat Bali Berani Berhenti”, lagu itu terasa semakin bermakna. Ia adalah gambaran sikap hidup masyarakat. Di tengah dunia yang terus berlari, Bali menunjukkan bahwa berhenti sejenak bukanlah kelemahan, melainkan keberanian. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliHari Raya NyepiHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara Klunting Menjelang Takbir

Next Post

Sepi yang Diibadahkan: Kota, Puisi, dan Nyepi

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Sepi yang Diibadahkan: Kota, Puisi, dan Nyepi

Sepi yang Diibadahkan: Kota, Puisi, dan Nyepi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co