SUARA pesan WhatsApp siang itu membuat sumringah wajah temanku Katno. Aku melihatnya saat kami berlima ngobrol santai di kantin sambil menunggu jam pulang tiba. Akhirnya celetukan salah satu teman terdengar, “Kok mesam-mesem dewe, Kat?” (Kok senyum-senyum sendiri, Kat?)
Katno adalah salah satu teman guru yang bisa dikatakan memaksa dirinya menjadi multitalenta. Gimana enggak? Pagi hari sampai siang dia memerankan tugasnya sebagai guru di sebuah sekolah dasar. Dan sepulang dari sekolah, ia langsung bantu lapak seblak istrinya yang lumayan bisa jadi tambahan menghidupi keluarga.
“Klunting.” Katno hanya menjawab dengan singkat sambil tetap menatap posel yang layarnya sudah buram hampir mirip masa depannya.
Klunting adalah alarm yang bikin semua para guru bahagia seperti tunjangan sertifikasi atau lainnya yang mereka nanti akhirnya cair. Kali ini THR yang pastinya ditunggu istri, anak, orang tua, mertua, keponakan, cucu, dan para lambe nyinyir dengan ucapan “angpaonya mana?”
Obrolan seru yang kami ciptakan sebelumnya jadi tenggelam oleh jawaban singkat Katno. Ada yang menatap Katno dengan wajah antara percaya dan tidak, karena seringkali kami tidak bisa membedakan mana ucapannya yang serius atau bualan belaka. Sebagian lainnya langsung mengeluarkan ponsel dan jempol mereka mulai meliuk-liuk di atas keypad mengetik sederet angka PIN.
Sebenarnya harapanku tidak jauh beda dengan mereka. Tiap kali di salah satu grup WhatsApp muncul stiker dengan logo salah satu bank daerah dengan tulisan klunting, jantungku tiba-tiba ngebut, padahal cuma penasaran doang, bukan dikejar mantan.
Alhasil, aku pun ikutan membuka m-banking meski kadang banyak juga teman di grup WhatsApp yang suka iseng kirim kabar hoax. Benar-benar buat hati para guru sepatah-patahnya. Tapi tidak dengan siang itu. H-3 lebaran akhirnya THR cair dan obrolan kami berlima pun berubah topik membahas apa saja yang bisa dibeli atau disiapkan buat lebaran.
Tapi tentu saja tidak semua guru begitu. Tak sedikit dari mereka, saat THR cair, bukan kebutuhan lebaran yang mereka pikirkan melainkan beberapa rencana berbeda yang tersusun di kepalanya. Membayar yang tertunda atau sekadar bernapas sedikit lega, misalnya.
***
Beruntung yang cair adalah THR. Jadi kami selamat dari suara notifikasi dari pimpinan yang selalu menyertai notifikasi klunting saat tunjangan sertifikasi cair dengan nasihat bla bla bla. Kalimatnya tidak keras. Tidak juga marah.
“Harus dimanfaatkan untuk peningkatan kompetensi, ya!” kalimat yang cukup tenang menyerupai bentuk kepedulian, dan sedikit unsur usil. Lucunya, “peningkatan kompetensi” muncul bukan saat lembur menyusun perangkat. Bukan saat memahami murid dengan segala dinamika yang tidak pernah ada di modul pelatihan.
Tidak! Ia muncul saat saldo bertambah. Dan lebih lucu lagi, narasi semacam itu sering kali didefinisikan secara sepihak. Seminar ini, pelatihan itu, pembelian ini, pengembangan itu.
Di satu sisi tidak ada yang salah sama sekali. Peningkatan kompetensi memang penting dan wajib. Semua tahu itu. Tapi di sisi lain, ada ruang kecil dalam diri yang ingin bertanya–pelan saja, tidak perlu di dengar siapa-siapa: “Apakah melakukan sesuatu dan menjadi lebih baik selalu harus didikte, dipertontonkan atau divalidasi?” Sepertinya tidak. Sebagian besar dari kami hanya ingin hal-hal kecil: merasa cukup, tidak selalu dituntut, menikmati hasil tanpa harus diberi catatan kaki.
Seperti halnya siang itu. Katno bersyukur karena THR akhirnya cair dan tentu saja tidak ada kenyinyiran yang mencederai ia dan keluarga kecilnya menikmati hari jelang lebaran. Satu hal sederhana yang perlu disadari: di antara suara luar dan suara dalam, ia masih punya satu pilihan kecil–mendengarkan seperlunya atau cukup didengarkan saja. Dan dibiarkan berbunyi semaunya. Nikmati saja suara takbir dengan penuh syukur dan suka cita.[T]
Penulis: l Margi
Editor: Jaswanto



























