Sabtu
waktu tak banyak
menit yang kau punya
sebentar-sebentar habis
langit mencatat semuanya
tatapanmu menyeretku
ke labirin cermin
kau berbicara lewat peluk
dan dua butir kecup
dengan menanggung rahasia
setiap sebelum pulang
aku, bahkan untuk memulai satu kalimat
tak bisa, seperti ditelan cahaya
saat itu, dipastikan aku rindu
padahal aku tahu, kemana
tempat yang kau tuju
2025
Kamis 1
aku meninggalkan rumah
dan masuk malu-malu di point kopi pagi itu
kuhadapkan wajah ke daftar menu
pilihanku selalu sama,
beberapa laki-laki seperti
sedang merenung, sambil sesekali
menyeruput kopi
atau menghembuskan kepulan
asap rokok yang aromanya menyengat
dibiarkannya tatapan itu dihangatkan mentari pukul sembilan
dari depan sini, arah jalan menjauh
bergenang linang
2025
Minggu
aku tak pergi ke gereja
setelah kau tak terlihat lagi
kepada puisi
kutulis kata-kata
dan menembangkannya dengan
senandung pilu
kau bak masuk dalam peti mati
yang mengantarmu pulang
2025
Senin
berbahagialah, meski ini Senin
bertahun-tahun di sini,
kau menemukanku
setelah mengembara serampangan
tataplah bibirku
peluklah aku, dan jadikan bayimu
akan kulewati hari ini dengan bahagia
monster itu akan redam
aku tak akan lagi ketakutan
2025
Jumat
aku ingin selalu bahagia bersamamu
kulihat kalender di handphone
mengingatkan hari Jumat
bukan karena aku tak tahu harus kemana
atau menemui siapa
sebab telah kuhadiahkan
seluruh bahagiaku untukmu
sebab, aku lelaki yang kau beri percaya
ketika kalimat
kita saling jaga ya
terucap dari sepasang bibir kita
kita tak akan peduli seberapa
kaki gemetar, atau seberapa kencang
degub dada ini
aku selalu menanti senyummu
hangat tubuhmu setelah prosesi di altar
menikmati roti dan anggur
aku tak berhenti
menginginkanmu meski tak mungkin
2025
Kamis 2
yakinlah, puisi selalu jujur
meski ia tak punya mata telinga
meskipun kau selalu berkata;
aku gombal
ada bahagia, setelah kau racik
secangkir kopi pandan penuh sayang
atau ketikkan pesan rindu
lewat telegram
aku mengabarkan cinta
tiap saat
aku menulis puisi kelahiran kita,
tiap hari
tapi kau mengatakan itu gombal
ketika tiap huruf terasa cemburu, memburu
aku mencintaimu
aku mencintaimu
entah harus berapa puluh kali lagi aku ucapkan ini
atau berapa hari sekali aku harus mengatakannya
dengan emoji bergambar hati
kau merasuk ke dalam pelukanku
dan telah terdiam lama di sana
2025
Rabu
hari ketiga, dia kirim kisah
dari tempat yang tak ku ketahui
katanya, hujan telah melampaui batas-batas
isi kepala dan logika
sambil menjahit kepala,
aku terus memikirkannya
hingga pagi susah payah
menakar rindu
agar api cintaku tetap menjadi mungkin
menghangatkannya hingga, tak perlu lagi bertanya
sebab dia sama merasakannya
2025
Catatan: Aku atau kau dalam puisi-puisi ini menapak tilas kejadian dan ingatan setiap hari. Maka, digunakanlah nama-nama hari sebagai judul semua puisi ini.
Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole




























