
MALAM itu, muncul notifikasi di layar ponsel saya. Pesan WhatsApp dari seorang teman.
“Kok masalah datang keroyokan ya?”
Beberapa detik kemudian ia mengirim pesan lagi.
“Mercuri ya… sampai kapan?”
Saya hampir tertawa saat membacanya. Bukan karena menganggap remeh masalah yang sedang ia hadapi, tetapi karena beberapa minggu terakhir istilah Mercury in Retrograde rasanya saya jumpai di mana-mana.
Beberapa hari sebelumnya, seorang teman lain mengirim tangkapan layar lewat direct message Instagram. Isinya adalah sebuah tweet dari akun astrologi di platform X yang mencoba mengaitkan konflik Israel dan Iran dengan posisi planet-planet.

“I know it probably cocoklogi but bro…,” tulisnya.
Saya sendiri tidak pernah benar-benar percaya astrologi, saya menganggapnya sebagai hiburan. Tapi anehnya, selama periode Mercury in Retrograde pertama tahun 2026 ini, saya juga merasa hidup terasa sedikit kacau. Miskomunikasi dengan orang lain, sulit memahami sebuah pesan darri teman, sinyal internet tiba-tiba bermasalah, hingga kegiatan yang meleset dari rencana awal.
Apakah itu semua kebetulan? Atau memang mercury in retrograde ini benar adanya? Tanya saya dalam hati.
Percakapan dengan teman-teman, ditambah berbagai postingan yang terus muncul di beranda media sosial, membuat saya penasaran. Mengapa begitu banyak orang dengan mudah mengaitkan masalah yang dijumpai sehari-hari, dari hal sepele sampai peristiwa global, dengan satu fenomena astrologi bernama Mercury in Retrograde?
Apa sebenarnya Mercury in Retrograde?
Secara astronomi, mercury in retrograde atau merkurius bergerak mundur adalah fenomena optik. Planet Merkurius sebenarnya tidak mundur. Yang terjadi adalah ilusi dari perspektif pengamat di Bumi.
Merkurius mengorbit Matahari jauh lebih cepat daripada Bumi. Ketika kedua planet berada pada posisi tertentu dalam orbitnya, pergerakan Merkurius tampak melambat, berhenti, lalu bergerak ke arah berlawanan jika dilihat dari Bumi.
Peristiwa ini terjadi sekitar tiga hingga empat kali dalam setahun dan biasanya berlangsung selama tiga minggu. Seperti yang dilansir dari situs Almanac.com, pada tahun 2026, periode tersebut jatuh pada:
- 26 Februari – 20 Maret
- 29 Juni – 23 Juli
- 24 Oktober – 13 November
Dalam sains, fenomena ini tidak memiliki pengaruh terhadap kehidupan manusia. Sejauh ini tidak ada bukti mutlak bahwa posisi Merkurius dapat mengacaukan komunikasi, merusak teknologi, atau memicu konflik.
Namun dalam astrologi, penjelasannya sedikit berbeda.
Astrologi mengaitkan Planet Merkurius dengan komunikasi, perjalanan, informasi, dan teknologi. Ketika planet ini memasuki fase retrograde (mundur), astrolog percaya bahwa area-area tersebut menjadi rentan “mundur” juga, rentan terhadap gangguan. Kesalahpahaman meningkat, perubahan rencana tiba-tiba, benda elektronik bermasalah, dan orang-orang cenderung merasa lebih emosional saat berkomunikasi.
Narasi inilah yang membuat banyak orang mulai menghubungkan berbagai kejadian sehari-hari dengan Mercury in Retrograde.
Mengapa orang masih memercayainya?
Ketertarikan manusia terhadap astrologi sebenarnya bukan hal baru. Dalam jurnal berjudul Astroscience: A Tool for Prediction vs. Introspection, Dr. Shipra Saxena (2024) menjelaskan bahwa astrologi sejak lama digunakan manusia sebagai alat untuk memprediksi peristiwa sekaligus sebagai sarana refleksi diri.
Menurut Campion (2012) dalam jurnal tersebut, praktik astrologi sudah ada sejak peradaban Babilonia, Mesir, dan Yunani kuno. Pada masa itu, posisi benda langit sering digunakan untuk meramalkan musim panen, bencana alam, bahkan nasib para raja. Seiring waktu, astrologi berkembang menjadi sistem yang juga digunakan untuk memahami kepribadian dan pengalaman hidup seseorang.
Meski begitu, penelitian tersebut juga menekankan bahwa bukti ilmiah yang mendukung kemampuan astrologi dalam memprediksi kejadian secara konsisten masih sangat terbatas.
Adapun penelitian yang dilakukan Shubo Kou dan Xiyuan Ma (2023), mereka menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap mercury retrograde dapat memengaruhi perekonomian. Studi tersebut menunjukkan bahwa harga saham di pasar Tiongkok cenderung mengalami penurunan selama periode mercury retrograde dan kembali naik setelah periode tersebut berakhir.
Menurut Kou dan Ma, fenomena ini berkaitan dengan psikologi takhayul yang memengaruhi suasana hati dan persepsi risiko para investor. Banyak orang memaknai mercury retrograde sebagai periode ketika berbagai hal cenderung berjalan tidak sesuai rencana. Keyakinan itu pun yang kemudian memengaruhi cara mereka mengambil keputusan.
Dalam psikologi, ada konsep confirmation bias. Manusia cenderung lebih mudah mengingat kejadian yang mendukung keyakinannya dan mengabaikan pengalaman yang tidak sesuai.
Jika seseorang percaya mercury retrograde menyebabkan miskomunikasi, ia mungkin akan lebih mengingat setiap kejadian miskomunikasi selama periode tersebut. Ketika komunikasi berjalan lancar, hal itu cenderung diabaikan.
Di era media sosial, pola ini menjadi semakin kuat. Meme, thread di platform X, hingga video TikTok terus mengulang narasi yang sama tentang mercury in retrograde. Lama-kelamaan, fenomena ini berubah menjadi semacam bahasa bersama di internet untuk membicarakan hari yang terasa kacau.
Hingga saat ini mungkin orang-orang mengaitkan fenomena Mercury in Retrograde ada pengaruhnya terhadap dinamika kehidupan manusia, cenderung tidak megetahui penjelasan astronominya. Ketika masalah datang bertubi-tubi, dari hal yang besar seperti ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran hingga pertengkaran sepele dengan teman, menyalahkan posisi Merkurius terasa lebih mudah dibanding menerima bahwa hidup memang kadang berjalan tidak sesuai rencana, bisa datang kapan saja. Tanpa pengaruh pergerakan planet.
Ada perasaan yang menghibur ketika berkata, “Oh, lagi mercury in retrograde.”
Dengan melontarkan istilah itu kita merasakan ketenangan atau alasan atas terjadinya suatu kegagalan, membuat kita yakin ada sesuatu di luar diri kita-lah yang menjadi faktor kegagalan tersebut.
Bagi sebagian orang, astrologi mungkin sekadar hiburan. Bagi yang lain, ia menjadi cara untuk memahami kehidupan. Tidak ada salahnya kok, selama tidak dijadikan satu-satunya pedoman untuk menjalani hidup ini. [T]
Sumber:
Casad, B. J., & Britannica Editors. (2026, February 19). Confirmation bias. Britannica. https://www.britannica.com/science/confirmation-bias
Crockford, S. (2018). A mercury retrograde kind of day: Exploring astrology in contemporary new age spirituality and american social life. Correspondences, 6(1).
Longacre, C. (2026, March 10). Mercury retrograde dates. The Old Farmer’s Almanac. https://www.almanac.com/content/mercury-retrograde-dates
Ma, X., & Kou, S. (2023). Mercury, mood, and mispricing: A natural experiment in the chinese stock market. Available at SSRN 4455435.
Shipra Saxena, D. (2024). Astroscience: A Tool for Prediction Vs. Introspection: A Critical Analysis. International Journal For Multidisciplinary Research. https://doi.org/10.36948/ijfmr.2024.v06i04.26856
Penulis: Putu Ayu Arundhati Gitanjali
Editor: Adnyana Ole




























