Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
: umbu landu paranggi
tubuhku mencatat dingin
dengan huruf-huruf kabur
di halaman kulit tipis gembur.
bubuhkan sepenggal kalimat
sebagai penanda pengembaraan
telah kita dapati beribu kisah;
kelahiran, tragedi & kematian
juga pertemuan & perpisahan
tentang seorang musafir
yang berhasil meletakkan dingin
pada dada yang asing.
masih tersisa beribu misteri
dibiarkannya mengaga
di luar pintu terbuka
diuratkannya sunyi
melilit leher & kepala
tubuhku mencatat dingin
& mantra-mantra tak lebih berharga
dari sekadar rasa tenang
sejenak saja, hangat pergumulan
mengeriapi suasana
sempatkan mengembara
sebab kesedihan tak akan sirna
maka catatlah segala peristiwa
menjadi dingin yang mengawetkan
sebuah nyala.
lamat-lamat kudengar suara
“sunyi bekerjalah kau
bagi nyawaku risau”
Damparalit, 2024-2025.
Ketika Januari Tiba
gerimis jatuh tipis
melubangi sepi
ada doa yang melingkar diam
menjemput yang utuh
dan yang tak utuh
kenangan terjaga dalam ia
seperti api kecil menolak padam
di jantung badai
jarum jam patah
sebelum angka dua belas
dan rindu atau dendam
tak pernah benar-benar tuntas
barangkali tersisa
nafas pengembara
melarungkan jejak
pada sengketa
dititipkan malam
pada ceruk ingatan
damparalit, 2025-2026.
Variasi Lain
Adam di Firdaus
Telah kutinggalkan taman yang sepi itu.
Firdaus hanya mitos bagi orang-orang
yang takut kotor & basah oleh keringat.
Di sini, di tanah asing berkarat,
aku harus mendefinisikan ulang
setiap buah dan setiap larangan.
Tak ada ular, tak ada godaan.
Hanya diriku sendiri yang menjadi hakim
atas kegagalan dan keindahan yang dicipta.
Dosa telah menjadi kawan akrab,
sebab tanpanya, aku tak bisa dewasa.
Aku telah bebas, dan demikianlah
Kebebasan mengundang banyak kesepian
damparalit, 2025
Catatan: Adam di Firdaus adalah judul puisi karya Subagyo Sastrowardoyo.
Menduga Nasib
kita tak pernah benar-benar
membaca garis tangan, Shava
kita hanya menduga takdir
dengan gagap & seringkali mangkir
sekadar merangkai mitos
dari petuah para leluhur
mengapa kita harus mencari pertanda
di gelap malam, ketika bintang-bintang
hanya patung beku? nasib, seperti sungai,
tak pernah mau kembali ke hulunya.
ia hanya mengalir, membawa ranting kering,
membiarkan kita menjadi perahu kecil
tak punya dayung.
sebab semua ramalan adalah dusta
yang melenakan. yang nyata,
hanyalah tubuh (dan ruh)
berdiri di sini, sekarang,
membawa sekantung penuh doa,
membiarkan segala tanya
dan memilih untuk tetap menyala
berjaga dalam ngungun yang sama
lalu kemudian
lamat-lamat kita dengar
badai di luar jendela
terus memanggil nama kita.
2025
Tak Ada Duka di Beranda
di atas tikar pandan, tempat sepi bercakap,
lampu minyak gantung telah merelakan renyah
bukan nyala, tapi bara yang menyimpan sejarah.
tanah basah menguarkan aroma petaka
tapi, tak ada tangis jatuh dari atap beranda.
sebab segala yang datang adalah penjaga pintu,
gerbang pagi yang tak pernah meminta sandi;
hanya sedia menerima setiap debu di kening waktu.
dan burung-burung, mereka tak pernah bertanya
mengapa harus pulang ke dahan yang sama.
kau lihat? di cangkir gerabah itu, kopi sisa
masih memanggul pahit yang tak ia keluhkan.
seorang lelaki tahu, air matanya takkan mengubah
peta garis tangan atau arah angin yang ditanam
sejak mula, di ladang yang benar telah terbuka
maka, biar saja doa itu sunyi senantiasa
tak ada duka, sebab duka pun telah usai
sebagai kabut yang lenyap sebelum fajar.
beranda ini bukan palagan, tapi altar
tempat kita hanya bertukar pandang
dengan Yang Akbar.
2025.
Maka Kelak Pada Akhirnya
akan ada sunyi
yang menyelubungi batu-batu
suara burung hanya tinggal gema
dari sayap yang menerbangkanmu
tanpa arah
tubuhmu hanyalah riak di permukaan air
pecah lalu hilang, lalu sirna
namun bayangannya masih
berusaha menyentuh dasar
dan barangkali seisi dunia
tak lebih dari sekeping kaca buram
yang memantulkan wajah kita
sebelum benar-benar lenyap
ke dalam cahaya tak bermakna
mudah sirna, mudah sekali sirna
2025
Penulis: Syeftyan Afat
Editor: Adnyana Ole




























