Hikayat Begadang
satu peringatan, bayangkan
ada tangga menuju surga, dan aku siap-siap menari
di bawahnya, malam kliwon baru saja usai
tak ada ingatan yang dikhianati
oleh pikiran-pikiran tak jujur
kusruput americano pukul 02.33
suhu di luar cukup dingin
lidahku sudah kebal pahit
jalan lenggang, dendang jangkrik
deru motor di telinga, muncul hilang
langkah lirih, beribu rasa terbelah
ada segaris takdir gontai dalam tubuh ini
tubuh kanak-kanak menggigil
tapi masih kuat memerangi waktu
aku masih terjaga
menjaga cerita-cerita
di kepala, pertanyaan saling silang
mencari jalan pulang
menantang kenyataan
: masihkan ada cinta?
2025
Tamasya Nokturnal
dimana kejahatan sesungguhnya?
kulihat di papan iklan, televisi, dan
sosial media memajang
berita picisan, yang tak pernah kupercaya lagi
membela diri ditangkap polisi
murka ibu tiri, di luar prediksi
kitab suci dan nabi-nabi
dimana kejahatan sesungguhnya?
padahal langit telah mengirim dendam
namun, buku cara korupsi yang baik
dan benar laku keras di pasaran
dimana kejahatan sesungguhnya?
laku sejarah, matahari telah sembunyi
di altar suci sambil menunggu
datangnya seekor wanara
dengan api yang sama
di langit Alengka
2025
Mari Minum
telah kubuka rahasia
di kota yang ganas
kau mati berkali-kali
ada cinta menyatu
dalam sloki kesayangan
jika kopi tinggal ampas
ingat saja
telah tersentuh
hangat arak
mengendap di dasarnya
aroma menusuk
menyengat khas
mungkin setelahnya
wajahmu berubah pucat
2025
Ritual Api
mulutmu api
tetapi bukan kuda api
maka masuklah hati-hati
sebelum amuk istana dengan manik-manik api
menikam diam-diam
2025
Pasrah Menyerah
maka kisahkanlah lagi
kepadaku badai bertubi-tubi
hingga terjengkal berkali-kali
siapa tahu sederet ingatan
tragis bukan main pedihnya
air mata ringkih
mencium pipi sendiri
menasbihkanku sebagai Ratu Pasrah
bahwa kau telah tersesat
di pikiran sendiri: menyerah
membayangkan cinta jatuh
tidak di pangkuanmu lagi
2025
Elang
tiada basa-basi
riwayat kaumnya
atau koloninya diseret keserakahan
ia siap terbang sendiri
dengan dagu tegak
bersiap mematik bangkai
yang lama diintai
bau tengik
menjadi kesukaannya
jangan kau cemas
juga diintai matanya
yang siap, kapan saja meringkusmu
bersyukurlah, bahwa
kemudian kau kan jadi kenangan
2025
Kali Ini tak Ada Alasan Bersedih
setelah kularang ia ke laut
bahkan setelahnya menangis
isak rindu hangat tubuhmu
ia dapat tidur nyenyak
tanpa bermimpi
tanpa insomnia lagi
akhir bukan sesuatu istimewa
katamu dalam igau
‘‘Ini hanya sebuah cara
dunia memberi keadilan’’
: dari jendela angin memberi jawab
2025
Nyeri Tengah Malam
di matamu, jendela menolak padam
di tubuhmu, ketabahan telah ditatah
petang belum berakhir, ragamu
ingin rebah, jalan masih panjang
terseok-seok menahan nyeri
waktu menuju 00.21:28 WITA
kubeli paracetamol seharga Rp 29.870
keluar apotek kubawa petuah serta
pembayaran tunai tubuh terbaring
kembali ke rumah dengan umpatan;
mungkin karena hidup sungguh mengecewakan
2025
.
Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole



























