Aku Benci Politik
aku benci politik
datang dengan senyum licik
manis kata-kata penuh retorik
namun di baliknya tersimpan taktik
aku benci politik
Janji-janji menggema heroik
sungguh lantang dan puitik
hingga nuraniku terusik
aku benci politik
membuat aku terhimpit pelik
terjebak dalam drama simbolik
dipeluk cinta palsu di tengah publik
aku benci politik
debat-debat panas, sinis, dan toksik
kuasa adalah topik
tanpa empati tanpa autentik
aku benci politik
karena hidup terus begini, sungguh ironik
gerak langkah jadi panggung mekanik
makan omong kosong dan basa-basi klasik
Tikus Rakus
lembap di sudut gelap
bayang seekor tikus belajar lapar
bukan lagi pada remah
melainkan pada meja jamuan besar
ia menanggalkan bau selokan
mengganti kulit dengan mimpi kekuasaan
mengira langit dapat diwarisi
hanya dengan keberanian yang dipaksakan
langkah kecil berubah hasrat
gigi tak lagi mencari makan
melainkan menggigit arah
ingin menjadi sayap di antara burung pemangsa
namun dunia punya sunyi sendiri
tempat ambisi lupa mengukur diri
dan sebelum langit sempat disentuh
sebelum kursi sempat diduduki
ia berhenti
bukan oleh musuh
melainkan oleh jerat
yang disiapkan
oleh serakah rakus sendiri
Demokrasi yang Mati
di negeri yang konon demokrasi
janji-janji bersemi seperti pagi
namun senja selalu datang lebih dulu
membawa pulang harapan yang tak pernah jadi
keadilan berdiri jauh di cakrawala
terlihat indah dari kejauhan
namun setiap langkah mendekat
hanya menambah jarak
semakin jauh dan tak terlihat
di sini, suara-suara pelan
dititipkan pada dinding kekuasaan
lalu hilang menjadi gema
tanpa pernah kembali sebagai jawaban
yang mengalir bukan lagi keyakinan
melainkan arus kepentingan
mengikis makna satu per satu
hingga kata kehilangan jiwa
kini demokrasi
seperti tanah yang lupa hujan
retak perlahan tanpa bunyi
hilang di balik nurani
.
Penulis: I Wayan Kuntara
Editor: Made Adnyana Ole



























