Banjir dan Dagelan Penguasa
Hujan turun bukan semata dari langit,
ia jatuh dari meja rapat yang licin oleh amplop dan janji.
Sungai meradang, hutan dilucuti atas nama investasi,
akar-akar menangis, tanah kehilangan doa.
Di Sumatera, air menghapal nama para perampok senyap,
tangan rakus berjabatan dengan jas mahal dan stempel negara.
Para menteri menari di layar kaca, lidahnya komedi murahan,
menenangkan presiden dengan laporan yang dipoles senyum.
Di parlemen, kebenaran dilipat seperti peta usang,
diselipkan di saku kepentingan, dibarter dengan kekuasaan.
Rakyat mengungsi, rumah hanyut, harap pun karam,
sementara dagelan penguasa terus dipentaskan di atas banjir.
Hujan Sebagai Tertuduh
Hujan diperiksa polisi, ditanya KTP dan surat izin menetes,
ia dituduh membawa gergaji, kapak, dan pita ukur kayu.
“Ini murni cuaca,” kata seragam, sambil menepuk mikrofon,
padahal kayu hanyut rapi, lurus, bernomor, seperti antre sembako.
Hujan tertawa kecil, air matanya makin deras ke sungai,
mana mungkin ia pandai menebang, menghitung, lalu memberi label.
Angin jadi saksi, awan dipaksa tanda tangan berita acara,
bahwa hutan tumbang sendiri karena salah musim.
Ribuan batang melaju bak kapal pesiar ilegal,
tak satu pun “manusia” tercatat dalam laporan.
Beginilah negeri ini menulis dongeng versi dewasa,
saat hujan dijadikan kambing hitam dalam dagelan penguasa.
Rakyat Ditenggelamkan Oleh Tangan-Tangan Rakus
Izin diteken di atas peta rawan, dengan tinta yang beraroma emas,
gunung dijual per lembar, sungai disulap jadi selokan kepentingan.
Para menteri bersidang sambil menutup telinga bumi,
katanya aman, padahal tanah sudah hafal cara runtuh.
Hutan ditebang atas nama pembangunan dan dalih ketahanan,
ribuan pohon tumbang demi sawit yang rakus sinar dan air.
Akar dicabut, aliran sungai dibelokkan seperti hukum,
lumpur pun naik jabatan menjadi algojo kampung.
Sumbar, Medan, Aceh menelan air dan ingatan duka,
rumah berubah kubur, jerit hilang di laporan resmi.
Penguasa mencuci tangan di podium yang kering,
sementara rakyat ditenggelamkan oleh tangan-tangan rakus.
Galodo
Galodo datang tanpa salam, membawa ingatan purba yang murka,
air bercampur lumpur berlari seperti sejarah yang ingin menuntut.
Gunung memuntahkan rahasianya, hutan menjerit kehilangan tubuh,
kampung-kampung terlipat, namanya hilang dari peta dan doa.
Ribuan nyawa dikunyah senyap, tanpa sempat mengucap perpisahan,
rumah, masjid, kandang, dan sekolah tidur di bawah tanah basah.
Hewan-hewan lari dengan mata penuh tanya, lalu lenyap,
satwa dan manusia setara di hadapan amukan lumpur.
Kota menjelma kenangan, dipikul sunyi oleh hujan abu cokelat,
langit membisu, enggan menghitung berapa yang tak kembali.
Galodo menyapu waktu, menyisakan bau duka dan nama,
yang kini hanya hidup di lidah orang-orang yang selamat.
Desember, 2025
.
Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole



























