13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menimbang Kembali Arah Bali

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
December 6, 2025
in Esai
Menimbang Kembali Arah Bali

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BELAKANGAN ini, isu transmigrasi tiba-tiba kembali menyeruak di Bali. Ia datang tanpa mengetuk pintu, lalu menjadi perbincangan publik seperti angin yang meniupkan debu di halaman rumah. Tanggapan publik pun beragam. Seperti biasa, ada yang pro, ada pula yang kontra. Sebagian lagi hanya menghela napas sambil berkata, “Ah, masalah lama berseragam baru.” Bahkan, Gubernur Bali pun angkat berbicara secara pragmatis, yang intinya “Kalau mau, silakan. Kalau tidak, ya tidak apa-apa.”

Dari sini, muncul sebuah pernyataan sederhana yang justru membuka ruang diskusi lebih dalam. “Benarkah transmigrasi masih relevan bagi Bali?

Jika kita jujur, persoalannya bukan sekadar perpindahan penduduk. Yang paling mendasar adalah apa yang sedang terjadi di tanah Bali sendiri saat ini?

Zaman dulu, satu kelempung (petak) sawah bisa dikerjakan oleh seluruh garis keluarga, baik orang tua, anak, sepupu, bahkan penyanding pun datang membantu dengan suka cita tanpa dipanggil. Semua dikerjakan dengan penuh kebersamaan dan gotong-royong. Suara rindik dan tembang pengangon selalu terdengar lirih dari kejauhan.  Ketika panen tiba, petani bekerja sambil bercanda, dan subak berdiri kokoh bukan hanya sebagai lembaga irigasi, tetapi sebagai roh kebersamaan.

Kini? Sawah menjadi ruang sepi. Bukan semuanya mutlak karena tidak ada air, tetapi karena tidak ada orang. Generasi muda memilih bekerja di kafe, hotel, kantor, atau merantau. Tenaga kerja pertanian menjadi barang mahal, nyaris “barang mewah”. Upah mencangkul seharian terkadang setara dengan sebulan UMK di sektor lain. Petani yang sudah sepuh menyerah dalam sunyi. Lahan dibiarkan tidur, sebelum akhirnya dikontrakkan atau dijual perlahan-lahan oleh anak cucunya. Kadang dengan alasan yang terdengar sederhana, “Sudah tidak sanggup menggarapnya.”

Akibat krisis tenaga kerja, sawah dan ladang menjadi museum hidup. Dari sinilah cerita tentang alih fungsi lahan tumbuh seperti rumput liar. Selain karena keserakahan, juga karena keputusasaan.

Subak selama ini dibanggakan sebagai warisan dunia. Benar. Tetapi status UNESCO tidak cukup menghidupi petani. Pun tidak cukup menahan anak-cucu dari anggota subak kita agar mau tetap bertani. Kita tidak cukup kuat pula menghadang godaan dunia usaha lain yang lebih menjanjikan. Ternyata, Subak tidak roboh dari luar. Sesungguhnya ia rapuh dari dalam. Rapuh karena kehilangan tangan-tangan yang dulu menghidupkannya.

Maka dari itu, ketika pemerintah pusat mengimbau transmigrasi bagi warga Bali, pertanyaan besar pun muncul, “Kalau tenaga kerja pertanian di Bali saja tidak ada, bagaimana kita bisa mengurus lahan pertanian di luar daerah? Dan kalau lahan di Bali sendiri semakin habis, siapa yang sebenarnya butuh transmigrasi? Penduduk atau pemerintah? Lalu, pertanyaan besarnya di sini adalah, “Alih fungsi lahan, siapa salah?

Bali sering dituding kehabisan lahan. Akan tetapi, sebelum menunjuk siapa pun, mari kita lihat cermin. Pajak tanah naik. Harga pupuk naik. Harga tenaga kerja naik. Harga gabah tak pernah naik dengan pantas.

Sementara itu, sektor kuliner, pariwisata, dan jasa menawarkan pendapatan lebih cepat, lebih pasti, dan lebih “modern”. Maka di sinilah garis finisnya: petani menyerah. Lahan dijual. Sawah berubah jadi vila. Ladang berubah jadi tempat parkir. Pekarangan berubah jadi ruko.

Lalu kita bertanya, “Mengapa alih fungsi kerap terjadi?” Jawabannya jelas, karena sistem membuat bertani menjadi pekerjaan paling tidak dihargai.

Isu transmigrasi seolah menawarkan jalan keluar: pindah saja, cari lahan baru.
Khawatirnya, ini hanya memindahkan masalah, bukan menyembuhkan akar penyakitnya.

Bila tenaga kerja pertanian di Bali saja tidak tersedia, bagaimana mungkin masyarakat Bali mau mengolah ratusan hektar di daerah luar? Bila bertani tidak lagi menarik di Bali, apakah akan menarik di tanah baru?

Dengan demikian, transmigrasi termasuk obat atau hanya plester luka? Jadi, transmigrasi bukan solusi ketika mental, ekonomi, dan sistem pendukung pertanian sendiri melemah.

Di sisi lain terbitnya Instruksi Gubernur Bali Nomor 5 Tahun 2025 tentang larangan alih fungsi lahan pertanian ke sektor lain, patut diacungi jempol. Instruksi ini merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan pangan dan pemertahanan eksistensi lahan produktif di seluruh wilayah Bali. Bahwa perlindungan lahan pertanian adalah bagian dari upaya menjaga jati diri Bali sebagai daerah agraris sudah sangat mendesak untuk dilakukan.

Penguatan Pendidikan Pertanian

Lebih dari semua itu, seyogianya penguatan pendidikan pertanian merupakan solusi yang terlupakan. Jika ada satu solusi yang paling realistis untuk menyelamatkan pertanian Bali, jelas itu adalah mengembalikan kejayaan pendidikan pertanian.

Pemerintah perlu menguatkan SMK pertanian, memperluas praktikum, menjadikan subak sebagai laboratorium hidup, dan memberikan insentif bagi siswa pertanian dan lulusan yang mau bertani. Dunia industri pariwisata pun harus ikut bertanggung jawab. Hotel, restoran, dan kafe harus berani menyerap lulusan SMK pertanian sebagai agro-technician, quality control, atau food-supply specialist.

Pendidikan adalah jalan panjang, memang. Akan tetapi, hanya itu satu-satunya jalan yang tidak menipu.

Jika transmigrasi untuk Bali ingin dibahas, marilah jujur dalam menimbang, “Apakah benar transmigrasi dibutuhkan? Atau kita hanya ingin mengalihkan pandangan dari persoalan pelik pertanian kita sendiri? Apakah kita ingin mengirim warga ke daerah lain, sementara sawah di Bali berubah jadi bangunan tanpa perlawanan?”

Bali tidak membutuhkan keputusan tergesa-gesa. Bali membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa kita sedang kehilangan akar kita sebagai masyarakat agraris.

Maka, sebelum berbicara tentang transmigrasi, mari kita berbicara tentang rumah kita sendiri—tentang tanah, air, subak, dan pendidikan pertanian sebagai masa depan kita bersama. Kalau akar sudah patah, ke mana pun kita ditransmigrasikan, kita tidak akan pernah tumbuh dengan sehat. Mari menimbang kembali arah Bali! [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliorang baliPariwisataPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“If You Leave Me Now”: Saat Langit Denpasar Muram

Next Post

Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud: Ungkap ‘Surga’ yang Kian Compang-camping

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud: Ungkap ‘Surga’ yang Kian Compang-camping

Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud: Ungkap ‘Surga’ yang Kian Compang-camping

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co