GURU selalu ditempatkan pada posisi penting dalam dunia pendidikan. Tidak hanya sebagai penyampai materi, guru juga dituntut menguasai sejumlah keterampilan agar proses belajar mengajar tidak sekadar menjadi rutinitas, melainkan pengalaman bermakna bagi siswa. Salah satu keterampilan yang kerap dianggap sederhana, namun sebenarnya menjadi kunci dari proses pembelajaran yang hidup, adalah keterampilan bertanya. Kompetensi ini termasuk dalam kompetensi pedagogik yang wajib dimiliki guru, sejajar dengan keterampilan dasar mengajar lainnya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), keterampilan adalah “kecakapan untuk menyelesaikan tugas”. Sementara itu, bertanya berasal dari kata “tanya” yang berarti permintaan keterangan. Maka, keterampilan bertanya dapat dimaknai sebagai kecakapan guru dalam mengajukan pertanyaan yang mampu memicu respons, jawaban, atau tanggapan dari siswa. Pertanyaan bukan hanya ungkapan verbal yang menuntut jawaban, melainkan juga stimulus yang menggerakkan proses berpikir. Seperti dikatakan dalam sebuah pandangan klasik, “bertanya itu sendiri berarti berpikir”.
Brown (1975) menyebut bahwa bertanya adalah “any statement which tests or creates knowledge in the learner,” artinya setiap pertanyaan mengkaji atau menciptakan pengetahuan baru dalam diri peserta didik. Eni Purwati, dkk (2009) juga menegaskan bahwa tujuan pertanyaan dalam pembelajaran agar siswa memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir. Artinya, kualitas pertanyaan guru akan sangat berpengaruh pada kualitas jawaban dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Guru yang mampu bertanya dengan baik sebenarnya sedang mengajar dengan baik.
Pertanyaannya kemudian, mengapa bertanya menjadi begitu penting?
Karena dari satu pertanyaan sederhana, proses belajar dapat bergerak. Pertanyaan yang tepat dapat membuka rasa ingin tahu, memusatkan perhatian siswa, sekaligus menyadarkan mereka bahwa memahami pelajaran bukan hanya soal mendengar maupun menghafal, tetapi juga soal berpikir, merespons, dan menyusun pemahaman. Dari sinilah manfaat keterampilan bertanya terlihat. Pertanyaan dapat meningkatkan rasa ingin tahu, mendorong siswa menjadi lebih aktif, melatih keberanian untuk berpendapat, dan membantu guru menilai sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi. Lebih dari itu, pertanyaan juga dapat menciptakan suasana kelas yang dinamis, tidak hanya satu arah.
Dalam praktiknya, keterampilan bertanya dibagi menjadi dua tingkatan, yakni bertanya tingkat dasar dan bertanya tingkat lanjut. Pada tingkat dasar, guru mengajukan pertanyaan untuk menggali informasi umum, membuka pembelajaran, atau meninjau kembali pemahaman siswa terhadap materi sebelumnya. Pertanyaan dasar biasanya muncul di awal, tengah, atau akhir pembelajaran. Fungsinya tidak lain untuk membangun koneksi antara pengetahuan lama dengan materi baru. Hasibuan (1991) menyebut bahwa pertanyaan tingkat lanjut digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir lebih tinggi, sementara pertanyaan dasar menjadi fondasinya.
Agar pertanyaan dasar memiliki fungsi optimal, ada beberapa komponen penting yang harus diperhatikan guru. Pertama, pertanyaan harus disampaikan dengan jelas dan singkat. Pemilihan kata sangat menentukan apakah siswa dapat memahami maksud pertanyaan. Di sinilah kemampuan guru membaca karakteristik siswa menjadi penting. Kedua, pemberian acuan. Sebelum bertanya, guru bisa memberikan konteks agar arah jawaban lebih tajam. Misalnya, “Bumi merupakan salah satu planet yang mengelilingi Matahari. Dapatkah Anda menyebutkan nama planet lain yang mengelilingi matahari selain Bumi?” Kalimat pembuka tersebut memberi arah sebelum pertanyaan dilontarkan.
Ketiga, pemindahan giliran menjawab. Jika satu siswa belum memberikan jawaban yang tepat, guru dapat memindahkan giliran ke siswa lain tanpa menciptakan kesan menghakimi. Keempat, penyebaran pertanyaan. Pertanyaan sebaiknya tidak hanya diarahkan kepada satu dua siswa saja, tetapi memberi peluang kepada seluruh siswa untuk berpikir. Guru bisa mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas terlebih dahulu sebelum menunjuk siapa yang menjawab. Kelima, pemberian waktu berpikir. Setelah pertanyaan disampaikan, guru tidak perlu langsung menunjuk siswa untuk menjawab. Jeda sejenak memberi kesempatan bagi seluruh siswa untuk memproses informasi.
Terakhir, pemberian tuntunan. Jika siswa kesulitan menjawab pertanyaan, guru dapat memberi petunjuk kecil atau memecah pertanyaan menjadi bagian yang lebih sederhana agar siswa dapat membangun jawabannya sendiri. Dengan cara ini, siswa tidak sekadar menerima jawaban, tetapi belajar membentuk pemahaman.
Sayangnya, di banyak kelas, keterampilan bertanya belum sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal. Tidak sedikit guru yang masih mendominasi pembelajaran dengan ceramah panjang tanpa diselingi pertanyaan. Pembelajaran menjadi satu arah, siswa pasif, dan ruang dialog tidak muncul. Padahal, penguasaan keterampilan bertanya merupakan kunci menciptakan suasana belajar yang hidup. Guru yang mampu bertanya dengan baik bisa mengatur ritme kelas, membangun rasa ingin tahu siswa, dan bahkan menciptakan kedekatan emosional melalui interaksi multiarah.
Beberapa alasan mengapa keterampilan bertanya dasar penting dikuasai
Guru sering kali lebih nyaman bercerita panjang lebar daripada membangun dialog. Siswa juga tidak terbiasa bertanya karena budaya kelas yang cenderung teacher-centered. Selain itu, masih ada anggapan bahwa pertanyaan hanya berfungsi menguji pemahaman, bukan sebagai alat berpikir. Padahal, pertanyaan bisa menjadi undangan bagi siswa untuk terlibat secara mental dan intelektual.
Dalam praktik mengajar, pertanyaan dapat diberikan di tiga momen penting. Di awal pembelajaran untuk menarik perhatian, di tengah pembelajaran untuk mendorong pemikiran kritis, dan di akhir pembelajaran untuk menegaskan pemahaman. Sebuah contoh sederhana dapat dilihat dalam pelajaran sejarah. Guru mungkin memulai dengan pertanyaan dasar seperti, “Siapakah presiden pertama Negara Indonesia?” Pertanyaan ini berada pada level kognitif rendah, namun menjadi pintu masuk diskusi yang lebih kompleks, seperti membahas karakter kepemimpinan atau konteks sejarah pada masa itu.
Kendati demikian, ada sejumlah hal yang perlu dihindari agar pertanyaan tidak kehilangan makna. Misalnya, guru menjawab pertanyaannya sendiri, mengulangi pertanyaan yang sudah jelas secara berulang-ulang, atau memberikan pertanyaan ganda yang membuat siswa bingung. Menunjuk siswa terlebih dahulu sebelum menyampaikan pertanyaan juga dapat memicu kecemasan. Pertanyaan seharusnya menumbuhkan keberanian, bukan rasa takut.
Dari sini dapat terlihat bahwa bertanya bukan sekadar tindakan lisan, tetapi keterampilan pedagogis yang membutuhkan kesadaran, teknik, dan kepekaan. Guru yang mendengarkan jawaban siswa dengan sungguh-sungguh, menanggapinya dengan positif, dan menuntun proses berpikir siswa, sebenarnya sedang membangun budaya dialog di dalam kelas. Dan di situlah pendidikan bekerja dengan cara yang paling manusiawi.
Pada akhirnya, mengajukan pertanyaan bukan hanya cara untuk mengevaluasi pengetahuan, tetapi cara membangun kemampuan berpikir. Pertanyaan yang sederhana bisa menjadi pemantik bagi proses belajar yang lebih dalam. Di ruang kelas yang hidup, pertanyaan tidak jatuh sebagai formalitas, tetapi hadir sebagai jembatan antara rasa ingin tahu dan pengetahuan. Guru yang memahami ini tidak hanya mengajar, tetapi juga membangkitkan kesadaran berpikir dalam diri siswa. Dan, mungkin di situlah letak seni mengajar yang sesungguhnya. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole










![[Tuturangan Ambengan 1]: Menyentuh Lontar, Menyentuh Ingatan Leluhur](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/10/arix.-lontar1-75x75.jpeg)















