25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 20, 2025
in Esai
Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

PADA beberapa percakapan dengan banyak sahabat sesama orang Bali, ada kalimat yang begitu membekas di hati dan ingatan saya; “Nak rage Bali, percaye teken Karma Phala”. Terjemahan bebasnya: “(Karena/bahwa) kita orang Bali (yang) percaya dan yakin akan adanya hukum karma”. Kalimat itu bukanlah sebuah glorifikasi kesukuan, apalagi chauvinisme budaya—melainkan sebagai pengingat bahwa orang Bali, yang sejak lahir hingga meninggal tak lepas dari upacara, mempunyai nilai-nila yang terus terbawa dan dibawa, kemana pun atau dimana pun mereka berada. 

Idealnya begitu. Namun, kini, tidak semua orang Bali beragama Hindu. Meski mungkin nama mereka tetap mempertahankan nama khas Bali seperti Putu/Wayan, Made/Kadek, Komang/Nyoman, dan Ketut, agama mereka Islam, Kristen, Buddha, atau juga Khonghucu. Terlebih bagi Perempuan Bali (Hindu), yang menikah dengan laki-laki non-Hindu dan non-Bali, dengan alasan “semua agama itu sama”, atau “demi keutuhan rumah tangga”, juga “demi kebahagiaan keluarga besar” dengan mudah memutuskan pindah agama, keluar dari agama asal.

Konversi agama, meskipun tidak semuanya bermakna negatif, pada akhirnya menjadi tantangan bagi orang Bali, terutama oleh keluarga yang memegang teguh agama dan juga tradisi Bali dan juga Hindu. Dengan adanya perubahan pola pergaulan masyarakat, penduduk yang majemuk terutama di kota, berpengaruh juga pada budaya Bali yang mengalami distraksi. Pacaran beda agama, bagi generasi muda Bali, tidak lagi dipandang sebagai hal yang tabu. Kendala akan muncul biasanya, ketika mereka akan menikah.

Di Indonesia, sejak adanya Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974 yang merupakan revisi dari undang-undang perkawinan pada masa Orde Lama, sebuah pernikahan dikatakan sah apabila kedua mempelai agamanya sama. Artinya, jika dahulu pada zaman kakek dan orang tua kita, negara tidak terlalu campur tangan pada “agama”. Pada masa setelah Orde Lama runtuh, bahkan untuk menikah saja persoalan agama (dan iman) yang merupakan hal privat atau personal warga negara, kemudian ikut diurusi oleh negara. Sejak itu pula, pasangan beda agama tentu tak bisa menikah secara resmi di Indonesia. Solusinya, salah satu pasangan (istri atau suami) berpindah agama mengikuti agama pasangannya. Atau, bagi kaum berpunya, menikah di luar negeri seperti di Singapura atau Australia demi mendapatkan surat-surat resmi pernikahan.

Pola seperti ini bukan saja menunjukkan bahwa agama merupakan “sesuatu” yang dianggap penting di Indonesia, tapi juga—jangan lupa—agama juga menjadi alat politik oleh kalangan tertentu. Agama statistik, mungkin pembaca pernah membaca atau mendengarnya. Siapa yang berpindah agama, siapa yang meninggalkan agama asal, juga berhubungan dengan angka, statistik. Meski tidak secara eksplisit, fakta ini bisa menjadi “api dalam sekam” jika kita semua tidak membicarakannya secara terbuka dengan kepala dingin dan dialog yang sehat.

Di Bali, ini yang luar biasa, jika ada saudara atau kerabat yang dengan alasan-alasan tertentu memilih pindah agama, mereka tetap diterima dengan tangan terbuka. Keluarga, akan tetap menanggap saudara yang telah menjadi penganut agama “lain”, sebagai orang Bali. Tak mudah, tentunya, jika dibandingkan dengan tempat lain di Indonesia, menerima dengan tangan terbuka anggota keluarga atau kerabat yang telah “murtad” tetap sebagai bagian dari komunitas kita. Di situlah menunjukkan, bahwa Pulau Dewata telah melalui proses panjang akan “keterbukaan”. Mereka yang berpindah agama, biasanya, dianggap hanya “agama” saja yang kini berbeda. Lebih dari itu, mereka tetaplah kakak, adik, keponakan atau bahkan anak dan cucu kita—orang Bali.

Kalimat “Nak rage Bali” kemudian menjadi alat ukur, sejauh mana perubahan yang dialami orang Bali setelah misalnya, mengalami “pembauran” dengan budaya-budaya dan agama berbeda. Masihkah disebut “orang Bali”, jika kemudian seseorang tidak lagi bersikap dan berbuat sesuai nilai-nilai dan ajaran luhur di Bali? Ini tentu bukan hanya ditujukan oleh mereka yang telah berpindah keyakinan, tapi juga bagi orang Bali yang masih beragama Hindu. Sebab, pada banyak kasus, meskipun perempuan atau lelaki Bali telah berpindah keyakinan—mereka tetap dengan setia menunjunjung tinggi “value” atau nilai-nilai sebagai orang Bali. Misalnya, takut berpikir, berkata, dan berbuat jahat, menyakiti orang lain; mencuri, berbohong, dan juga melakukan korupsi.

Di sisi lain, ada juga yang melupakan nilai-nilai luhur sebagai orang Bali setelah mereka pindah agama, entah karena menikah, faktor ekonomi, asmara, dan juga karena alasan politik. Setelah pindah agama, seperti yang pernah ditulis oleh Anand Krishna dalam beberapa buku beliau—hal yang paling rawan adalah membanding-bandingkan agama “baru” dengan agama asal. Kemudian terlibat dalam debat kusir, yang hanya membuang-buang energi dan menunjukkan sikap tak baik  

“Nak Rage Bali”, akan menjadi benteng kokoh bagi segala hal yang merubah Bali. Orang Bali (Hindu) yang percaya pada Brahman (Tuhan), Atman (jiwa), Karma Phala (hukum sebab-akibat), Punarbhawa (reinkarnasi), dan Moksha (pembebasan rohani). Panca Sradha, inilah yang menjadi identitas orang Hindu-Bali. Kita bisa bilang bahwa Sradha ini merupakan pencapaian luar biasa yang lahir dari ketajaman pikiran pada resi-resi dan leluhur orang Bali pada zaman dahulu.

Hari raya di Bali, penentuan waktunya, dan filsafat serta makna yang menyertainya, bukan hanya kebetulan semata. Lebih dari itu, hari raya di Bali menjadi semacam pengingat—ketika kita pulang kampung setelah lama bekerja di kota lain satu pulau, luar pulau, bahkan juga luar negeri: “Masihkah (Engkau) Orang Bali?” —setinggi apa pun pendidikanmu, sebanyak apa pun hartamu, setenar dan sebesar apa pun namamu, pertanyaan itu terus bergema; melalui suara genta pemangku Pura, diskusi hangat dengan keluarga, atau pun juga melalui hadirnya kenangan pada foto yang tergantung di tembok rumah, atau album-album foto lama di lemari kamar tua. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hindu Baliorang balitumpek landep
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Musang Menulis Rindu  |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Next Post

Dari Ide ke Aksi, Dari Aksi Jadi Pasti: Merayakan Ujian dengan Ekshibisi Scrapbook

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Dari Ide ke Aksi, Dari Aksi Jadi Pasti: Merayakan Ujian dengan Ekshibisi Scrapbook

Dari Ide ke Aksi, Dari Aksi Jadi Pasti: Merayakan Ujian dengan Ekshibisi Scrapbook

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co