Nokturnal II
malam ini
aku menjadi doa
yang datang dari ayat-ayat dongeng
dan tanpa suara, terbang di antara kerlap bintang
menuju kamarmu.
Saudade II
- Eternity and a Day
anna
kubawa harum bunga
dari kuburmu yang kering
sebagaimana pada tahun-tahunku yang sudah mati
yang memenjara sisa umurku
dalam kesepian dan dingin hujan
di rumah pantai itu
kupeluk bayangmu yang lewat
meski angin selalu menepismu
dari tanganku
apakah kamu sedang bermimpi, Alexandre?
aku menangis, anna
seperti badai yang sepanjang sungai
menyisir angka-angka
tak bertulang
angka-angka kita yang hilang
dalam dendam kangen dan keabadian.
Gus Fring
maka bertahun-tahun
setelah kematiannya
kamu mencarinya lagi
di dalam diri orang lain
dan di sebuah lembah paling gelap di dalam hatimu
tapi kamu tetap tidak menemukannya
Di Ruang BK SMPN 3 Singaraja
kamu menganggap kejadian itu adalah hal sepele, dan tak perlu dibesar-besarkan seperti api yang melahap masjid di kampungmu 6 tahun lalu, karena kamu juga merasa dirugikan. tapi nyatanya tidak. perkelahian itu sekilas mirip adegan-adegan dalam film Sergio Leone, hanya saja tanpa senjata western sinema. atau menurutmu itu sudah semestinya terjadi? karena ada dendam yang tak selesai antara kita dan mereka.
di sana kamu mematahkan tangannya, kamu memukulnya sampai darah mengucur dari hidungnya. seranganmu begitu bertubi sampai empat biji permen relaxa keluar dari saku bajunya, dan kerah putihnya menjadi merah. teman-temannya berusaha meleraimu, tapi kamu sudah seperti orang kesurupan leak dalam drama calonarang sehingga teman-temannya kewalahan menahanmu.
orang-orang yang membencimu di kelas ada di sana, dan melaporkanmu dengan segera kepada guru-guru di ruang BK. mereka menemukanmu dalam keadaan masih memukulinya. kamu menyadari dan kamu menghentikan segalanya. kemudian mereka menyeret sembari menjewermu ke ruang BK dengan umpatan yang sudah sekian kali kita dengarkan; dasar orang-orang islam ini.
lima hari sebelumnya, Ramdan juga demikian. orang tuanya menangis memohon di hadapan kepala sekolah agar ia tak dikeluarkan. apakah kamu tega melihat orang tuamu nanti seperti itu? tapi kamu berkata Wira juga melakukan hal yang serupa, namun tak diberi hukuman apapun, seakan-akan kamu tak mengerti jika keduanya adalah sesuatu yang berbeda.
padahal kita sudah mengalaminya kemarin, kemarinnya lagi, kemarin-kemarinnya juga, setiap di kelas, pada pelajaran yang berbeda-beda, ketika mereka yang berbisik-bisik keras tentang lelucon apakah kita menyembah tembok, sehingga kita merasa terluka lalu menjawabnya dengan tuhan dari semen, sampai kemudian kita diusir dari kelas.
di ruang BK, guru-guru menanyaimu karena ini sudah kesekian
kalinya kalian berulah. semestinya kamu meminta maaf,
berjanji tak mengulangi lagi. namun keras kepalamu
tak pernah menghilang, dan kamu menjawab dengan nada
tak mengenakan kenapa itu terjadi. karena mereka selalu
menyebutmu orang-orang islam itu.
Selatan II
apakah masih bisa kaurasakan detak jantung pagi di sana, seperti detak jantung pagi di sini. setelah rona kulitmu yang pernah menebar harum dupa terkelupas, hanyut di kanal-kanal darah, meninggalkan renta kerangka tubuhmu, sendirian di atas meja makan yang dipenuhi kawanan anjing berbulu gading.
.
Penulis: Azman H. Bahbereh
Editor: Adnyana Ole



























