26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kekerasan: Tatkala Aspirasi Berujung Tragedi

Chusmeru by Chusmeru
September 7, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

BERAWAL dari kekecewaan rakyat dan mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah. Janji menyediakan jutaan lapangan kerja ternyata hanya retorika kampanye politik. Pengangguran tetap tinggi, pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di mana-mana.

Pemerintahan baru yang diharapkan membawa perubahan menuju masyarakat yang sejahtera ternyata jauh panggang dari api. Begitu kabinet terbentuk, pajak menjadi monster untuk menguras uang rakyat. Sementara harga-harga kebutuhan pokok merangkak setiap hari.

Upaya pemberantasan korupsi di lembaga pemerintahan hanya isapan jempol belaka. Korupsi masih saja terjadi di instansi pemerintah dan legislatif. Lembaga antirasuah KPK serius melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT), tetapi upaya ini justru mendapat kritik dari elite di pemerintahan dan partai politik.

Efisiensi anggaran negara dilakukan dengan dalih untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun alih-alih melakukan penghematan, pemerintah justru menyetujui kenaikan tunjangan anggota DPR di tengah kondisi ekonomi rakyat yang melemah. Di tengah efisiensi, para pejabat dan anggota DPR malah mempertontonkan gaya hidup hedon. Apa artinya efisiensi jika pemerintah justru menambah jumlah kementerian dan badan-badan negara yang buntutnya menambah anggaran pemerintah.

Wajar jika kemudian mahasiswa dan rakyat melakukan unjuk rasa, aksi, atau demonstrasi sebagai reaksi terhadap berbagai kondisi di atas. Hanya sayang, tatkala aksi awal yang murni menyalurkan aspirasi politik kepada kekuasaan berujung tragedi. Unjuk rasa menimbulkan jatuhnya korban jiwa di Jakarta, Yogya, Semarang, dan Makassar.

Unjuk rasa, aksi, dan demonstrasi yang terjadi beberapa hari lalu adalah merupakan kekecewaan yang terakumulasi dan termobilisasi. Sebagaimana proses komunikasi, secara linier ada stimulus pasti ada respons. Ada pemerintahan yang abai terhadap rakyatnya, dan ada aksi yang menuntut tanggung jawab pemerintah.

Tragedi yang terjadi di tengah aksi mahasiswa dan rakyat tidak lantas dijadikan dalih untuk membungkam aspirasi politik. Jika terjadi pembungkaman, sama artinya menciptakan tragedi baru. Selain itu, manakala terjadi kericuhan dalam aksi tersebut, mengapa mahasiswa dan rakyat selalu dituding sebagai pelaku kekerasan? Mengapa polisi dan aparat keamanan yang juga melakukan tindakan represif tak pernah diakui sebagai pelaku kekerasan?

Kekerasan Struktural

Kekerasan yang baru saja terjadi memang mengundang keprihatinan. Terlepas dari analisis, tudingan, dan spekulasi bahwa aksi massa tersebut disusupi, ditunggangi, didanai, atau pun diprovokasi. Dalam berbagai aksi pun tudingan tersebut selalu sulit untuk dibuktikan. Seolah pemerintah sibuk mencari kambing hitam, sementara akar masalah tidak terselesaikan dengan tuntas.

Kekerasan mestinya tidak terjadi dalam negara yang yang demokratis, adil, tenteram, dan sejahtera. Kekerasan bukan semata rakyat yang marah dan melakukan perusakan maupun penjarahan. Kekerasan juga dapat terjadi secara struktural, tidak terlihat pelakunya secara langsung, tetapi dampaknya sangat dirasakan oleh rakyat banyak.

Adalah Johan Galtung, yang tahun 1969 sudah berbicara tentang kekerasan struktural. Bentuk kekerasan ini sangat samar, karena bisa berada di ranah sosial, ekonomi, dan politik. Sulit dikenali secara langsung, tak seperti kekerasan massa. Bentuknya macam-macam, seperti korupsi, ketidaksetaraan akses pendidikan dan kesehatan, serta kebijakan hukum yang diskriminatif.

Mestinya kekerasan tidak terjadi di Indonesia, karena setiap orang dengan bangga mengatakan Indonesia sebagai negara demokratis. Bupati, walikota, gubernur, presiden, dan anggota legislatif dipilih secara langsung oleh rakyat secara demokratis. Buat apa lagi ada kekerasan bila semua terpilih secara demokratis.

Masalahnya, ketika sudah terpilih, kepada siapa mereka berpihak? Kepada rakyat atau pada kekuasaan yang telah diperolehnya? Betapa pun majunya demokrasi sebagai sistem politik, tidak akan pernah mencapai kesempurnaan. Selalu ada peluang untuk manipulasi atau merekayasa demokrasi untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya (Djiwandono, 1996). Jadi, elite politik yang mengklaim telah mendukung demokrasi sejatinya sedang berjuang untuk kepentingan politik pribadi dan kelompoknya belaka.

Dalam masyarakat yang berkeadilan seharusnya tidak terjadi kekerasan. Pertanyaannya, keadilan untuk siapa? Sulit dijelaskan, karena nyatanya rakyat memang sulit mendapat keadilan. Ibaratnya, maling ayam digebuki warga satu kampung, koruptor tidur nyaman dengan berbagai fasilitas di rumah tahanan. Rakyat lapor kehilangan ayam, tetapi keluar biaya seharga kambing.

Rakyat semestinya hidup tenteram dalam negara demokrasi. Akan tetapi, bagaimana dapat hidup tenteram bila tiap hari berpikir akan makan apa, berpikir biaya sekolah anak-anak, dan selalu bertanya besok harga apa lagi yang akan naik. Pemerintah yang tidak mampu menyediakan pendidikan, pangan, dan kesehatan yang murah bagi rakyatnya sebenarnya juga melakukan kekerasan struktural.

Kekerasan struktural bukan hanya menampar kehidupan rakyat, namun dapat membunuh secara perlahan. Bagaimana akan hidup tenteram jika selalu dibayangi oleh hantu yang bernama pajak. Bagi yang berpunya, pajak kendaraan roda dua dan roda empat lumayan mencekik leher. Bagi rakyat yang tak berpunya, pajak bumi dan bangunan juga membuat hidup tak tenteram. Orang lantas bilang, mulai dari makan hingga tidur pun terkena pajak.

Kesejahteraan yang diharapkan mampu membawa rakyat pada kehidupan aman, sentosa, makmur, dan selamat juga dapat sirna oleh kekerasan struktural. Guru yang mestinya hidup sejahtera malah dianggap beban negara. Buruh yang semestinya dapat hidup sehat dan sejahtera terpukul oleh kekerasan struktural tatkala terjadi korupsi BPJS Ketanagakerjaan. Konsepsi tentang aman menjadi absurd ketika aparat keamanan sendiri bertindak brutal kepada rakyat.

Reorientasi Demokrasi

Demokrasi perlu ditinjau kembali. Tidak ada yang salah dari demokrasi. Namun demokrasi perlu ditinjau ulang agar rakyat memiliki ruang untuk bersikap kritis kepada pengambil kebijakan. Perlu ada evaluasi dan reorientasi demokrasi, utamanya dalam praktiknya. Indonesia selalu merasa bangga sebagai negara demokrasi. Namun praktiknya jauh dari konsep demokrasi. Pemerintah berbicara kebebasan berpendapat, tetapi mahasiswa dan aktivis yang terlibat aksi ditangkap polisi.

Rezim dan elit politik selalu berkoar-koar tentang demokrasi, namun yang terjadi justru involusi kehidupan politik. Demokrasi yang seolah-olah. Demokrasi yang bukan ini, bukan itu. Involusi demokrasi terjadi saat rezim secara berulang mengatakan memperjuangkan kepentingan rakyat, tetapi secara substansial tidak melakukan perubahan apa pun.

Demokrasi adalah daulat rakyat, bukan daulat penguasa. Maka ketika tentara dilibatkan dalam persoalan unjuk rasa rakyat, sesungguhnya pemerintah telah melakukan pembangkangan dan pengkhianatan demokrasi. Seruan mahasiswa agar tentara kembali ke barak adalah kehendak daulat rakyat, kehendak demokrasi sesungguhnya.

 Harus diakui, relativisme kultural telah menutup semua peluang kekuatan demokratik, partai politik, maupun individu untuk memberi kontribusi pada pemeliharaan sistem politik ( Anggoro, 1996). Kesempatan rakyat mengartikulasikan kepentingannya untuk menyampaikan aspirasinya tidak pernah terbentuk secara mantap. Di tengah partai politik yang menyebut diri modern, namun tetap saja tradisional dalam memainkan peran. Inilah involusi kehidupan politik. Rakyat hendak menyampaikan aspirasi, namun lembaga politik sibuk berbagi kekuasaan dan kue ekonomi.

Demokrasi Indonesia memang perlu ditinjau kembali. Perlu reorientasi. Demokrasi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Demokrasi tidak lagi menciptakan masyarakat egaliter, tetapi eliter. Kedaulatan bukan di tangan rakyat, namun di tangan elite. Sikap opisisi dan kritis selalu dimaknai sebagai ancaman terhadap otoritas rezim. Karenanya, cara-cara represif akan dilakukan bagi mereka yang bersikap kritis kepada rezim.

Hegemoni dan sentralisasi kekuasaan begitu besar pada satu orang atau sekelompok kecil orang. Rakyat seolah tak memiliki andil dan akses dalam pengambilan kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Rakyat tak perlu ditanya siapa menteri dan wakil menteri, siapa kepala badan yang akan dipilih penguasa. Bahkan rakyat tak punya peluang untuk menilai kinerja orang-orang di lingkaran kekuasaan. Sentralisasi kekuasaan memang pada akhirnya membuat orgasme politik para elite.

Partai politik yang merepresentasikan demokrasi tidak mampu menghasilkan orang-orang yang benar-benar memperjuangkan nasib rakyat pemilihnya. Terjadi disartikulasi kepentingan. Karena kepentingan wakil rakyat bukan lagi perbaikan nasib rakyatnya, namun perbaikan ekonomi dirinya setelah menjadi wakil rakyat. Itu bisa terjadi lantaran kapitalisasi politik. Menjadi anggota DPR dan DPRD perlu biaya banyak. Maka setelah duduk di parlemen, mereka harus mengembalikan biaya politik itu, bila perlu menambah pundi-pundi rupiahnya.

Reorientasi demokrasi perlu menyasar partai politik dan lembaga legislatif. Partai politik sebagai pemasok sumber daya manusia di parlemen perlu reorientasi. Rekrutmen anggota legislatif di pusat dan di daerah perlu ditinjau kembali. Selama ini partai politik dipandang berkontribusi terhadap munculnya anggota DPR dan DPRD yang snob serta selebriti politik yang hedon.

Tragedi sudah terjadi. Mahasiswa yang menyampaikan aspirasi secara kritis lewat unjuk rasa dituding melakukan kekerasan. Rakyat yang frustrasi merusak dan menjarah dituduh melakukan kekerasan. Polisi yang represif menciptakan kekerasan. Pemerintah yang menindas rakyat dengan pajak yang berat adalah bentuk kekerasan. Lantas siapa sesungguhnya yang melakukan kekerasan? [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Jaswanto

Tags: demokrasikekerasan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

Next Post

Dari Tatapan Rangga ke “Screenshot” Kekerasan: Transformasi Ruang Sosial Remaja dalam Sinema Indonesia (2002 – 2022)

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Dari Tatapan Rangga ke “Screenshot” Kekerasan: Transformasi Ruang Sosial Remaja dalam Sinema Indonesia (2002 – 2022)

Dari Tatapan Rangga ke "Screenshot" Kekerasan: Transformasi Ruang Sosial Remaja dalam Sinema Indonesia (2002 – 2022)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co