Sa Lhéë Sa Duwa
pelupuk mataku pedih, melihat
orang-orang tanpa tulang belakang
lantang mengatakan kalimat tanpa
isi yang berat
sukar rasanya untuk menelan
kabar yang mereka sampaikan
ketahuilah, perut kami lelah menelan
orang-orang kami jadi korban
naungan yang tidak pernah ada
tindakan keji dari mereka yang memilih senjata
o, bisakah kami meminta nurani?
lelah kami menjerit dan merana
Buleleng, akhir Agustus 2025.
Keu Rakyat
di sudut-sudut kota, mataku menangkap
sang saka dipasung paksa
dinodai logo berwarna serupa berak
dan kalimat yang membuat sesak
“untuk masyarakat”, katanya
untuk apa? benakku bertanya-tanya!
untuk menyekap mahasiswa?
untuk melindas buruh berjaket hijau?
untuk membunuh orang-orang di dalam stadion?
untuk menindas hutan adat?
untuk memiting kepala petani?
“bukan! untuk melindungi!”
melindungi tikus-tikus yang kenyang melahap Bulog?
melindungi kecoak-kecoak yang masyuk melalap upeti?
melindungi mereka yang hanya berani mengirim kepala babi?
melindungi kaki-kaki yang brutal menendang kami?
melindungi rayap-rayap yang sukses membalak hutan-hutan kami?
melindungi cecunguk-cecunguk berbadan besi dan bermata strobo?
menelan pemaksaan itu,
terpelik tenggorokanku masuk udara
menahan saliva agar tidak menyembur
juga lisanku, agar ia tidak melacur
meski tubuhku dapat kucegat,
agar ia tidak bermaksiat
lipatan otakku terus menggeliat
apa makna “untuk masyarakat”?
Buleleng, akhir Agustus 2025
Wilujeng Sumping Di Bumi Sawarga
selamat datang di tanah surgawi!
di mana makadam adalah jalan utama kami
sawah-sawah kami dipenuhi wereng
serta sungai-sungai kami disesaki mineral tinggi
selamat datang di tanah surgawi!
di mana celurut-celurut bebas berpesta,
di dalam istana atau pedati emas
mengajak kecoak dan cecak
untuk berdendang bersama
selamat datang di tanah surgawi!
di mana malaikat dipaksa mati
bulu-bulu pada sayapnya dibalak habis
diinjak-injak tumit demit
selamat datang di tanah surgawi!
di mana air dan kerikil
ditarif upeti setengah mati
bagi ia yang bertunas asli
selamat datang di tanah surgawi!
yang tidak pernah bisa melindungi
dari panas bola api
yang membara dari balik bumi
selamat!
datang!
di
tanah surgawi!
di mana panah akan tajam ke bawah
karena busur,
melindungi yang di atas
Buleleng, akhir Agustus 2025
Jakét Héjo
di balik jaket hijau itu,
ada tulang punggung remuk
yang mungkin harus menopang banyak kepala
mengasakan ia bisa kembali pulang
di balik baja itu,
ada kartilago-kartilago bego
yang sukses membopong laras
atas pengorbanan bapak menjual ladang beras
di balik layar ponsel itu,
masih ada berpasang-pasang mata
yang berpura-pura buta
melarang jemari untuk bersuara
di balik gedung itu,
perjamuan makan digelar mewah
sosok-sosok masyuk berdendang
menolak mendengar apa yang bergetar
di balik sajak ini,
tersimpan caci maki dan emosi
berharap semua ini tak terjadi
tetapi sudah tidak bisa dimungkiri
hanya ini yang bisa kami lakukan
karena nyanyian kami dianggap sumbang
maka, nikmatilah hidangan ini
yang kami beri nama
perlawanan
Buleleng, akhir Agustus 2025
.
Penulis: Rizan Panda
Editor: Adnyana Ole



























