26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Arsip Seratus Tahun Silam: Singaraja Ibu Kota Kelahiran Puisi Indonesia di Bali 1925

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
August 28, 2025
in Esai
Dari Arsip Seratus Tahun Silam: Singaraja Ibu Kota Kelahiran Puisi Indonesia di Bali 1925

Arsip media massa di Bali zaman Kolonial | Foto: Dok. I Nyoman Darma Putra

KEBETULAN ada bukti tertulis atau arsip dari media massa, dengan penuh taksim saya ingin mengajukan klaim bahwa “Singaraja adalah ibu kota kelahiran puisi Indonesia di Bali”.

Secara historis, Singaraja pernah menjadi Ibu Kota Provinsi Sunda Kecil. Sebelum pindah ke Denpasar, ibu kota Bali adalah Singaraja. Dalam dunia sastra, Singaraja membuktikan diri sebagai ibu kota (kelahiran) puisi.

Puisi Indonesia yang pertama lahir di Singaraja berjudul “Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana” karya Gd.P. Kertanadi. Puisi yang berbentuk syair ini dimuat di halaman pertama kalawarta (koran stensilan) Bali Adnjana, tepat 1 Januari 1925.

Ada tiga puisi atau syair yang lahir tahun 1925 di Singaraja. Dua lainnya adalah puisi “Assalamualaikum” karya WD dimuat di kalawarta Surya Kanta (Oktober 1925, hlm. 7) dan “Ilmu” karya AWD juga dalam Surya Kanta (November 1925, hlm. 3).

Kalawarta Bali Adnjana dan Surya Kanta, keduanya terbit di Singaraja. Bali Adnjana dicetak stensilan dalam bentuk sangat sederhana, sedangkan Surya Kanta hadir dalam bentuk cetak modern, konon dicetak di Surabaya (lihat foto arsip).

Media massa memainkan peran penting dalam kelahiran dan kehidupan sastra di Bali zaman kolonial dan sesudahnya. Sama dengan era kemerdekaan dan bahkan sampai sekarang, media massa menjadi salah satu pilar perkembangan sastra.

Saya beruntung memiliki arsip media massa yang terbit di Bali sehingga bisa mengakses publikasi karya sastra zaman kolonial di Bali.

Arsip kalawarta Bali Adnjana dan Surya Kanta yang memuat puisi akrostik “Setia pada SK” | Foto: Dok. I Nyoman Darma Putra

Tabel daftar media massa yang terbit di Bali 1920-an hingga 1940-an

Inspirasi Klaim

Inspirasi membuat klaim ‘Singaraja sebagai Ibu Kota Kelahiran Puisi Indonesia di Bali’ ini datang pagi hari, Sabtu, 26 Juli 2025, saat saya bersiap menuju ke Singaraja (dari Denpasar), untuk menghadiri acara keren Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025.

Awalnya, saya ingin menulis esai pendek untuk tatkala.co yang dikelola Adnyana Ole dan Sonia Piscayanti yang sekaligus menjadi ayah dan ibu kandung SLF. Rasanya ada yang kurang jika menjadi tamu SLF tanpa menulis sesuatu tentang sastra. Syukur saya dengan cepat menemukan data puisi yang terbit di media massa di Singaraja 100 tahun lalu. Dari sana terpikir untuk membuat klaim, “Singaraja adalah ibu kota kelahiran puisi indonesia di Bali”.

Klaim ini kiranya bisa mendukung eksistensi SLF. Singaraja memang hebat. Cocok menjadi tempat SLF. Atau, SLF cocok digelar di Singaraja karena kota ini sudah sejak seabad lalu gegap gempita dengan kehidupan sastra modern.

Penasaran, seperti apa bentuk puisi yang lahir pertama di Singaraja? Berikut adalah kutipan utuh puisi yang pertama lahir di Singaraja.

Gd. P. Kertanadi

Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana

Bali Adnjana taman jauhari
Buat pengerah putra dan putri
Bersinar bagaikan matahari
Bagi suluh BALI negeri
Akan penerang di tempat gelap
Akan pembangun si tidur lelap
Anak negeri masih terlelap
Agar jangan selalu disulap
Lara rakyat telah diperhatikan
Laki perempuan tak disingkirkan
Lalim penindas disapukan
Laksana bola dapat sepakan
Inilah pertama pembela kita
Isinya penuh dengan mestika
Ikhtiar jujur tidak terkata
Ikatan AGAMA hendak direka
Agama SIWA-BUDA itu dianya
Akan disusun apa mestinya
Aksarawan menyetujuinya
Allah pun memberkatinya
Dicetaknya banyak pustaka
Di antaranya PARWA mestika
Dan RAMAYANA kanda purwaka
Dengan harga murah belaka
Nurnya mengkilat bagaikan mutu
Nasihat disebar sepanjang waktu
Negeri putra senanglah tentu
Nasibnya sudah ada membantu
Yakinlah kita akan jasanya
Yang telah disebarkannya
Yojana dibentang dengan luasnya
Yogia dibaca dengan rajinnya
Agar dapat timbang menimbang
Angan yang sesat lekas tertumbang
Arsa yang suci tentu berkembang
Akan penyuluh si hati bimbang
Nasihat itu laksana obat
Nafsu jahat tentu tersumbat
Nista caci juga terhambat
Nakal lenyap karenanya tobat
Amin tak putus kami ucapkan
Akhirulalam kami serukan
Agihan madah salah onggokan
Abang dan adik sudi maafkan

(Bali Adnjana, 1 Januari 1925, p. 1)

Bentuk Syair dan Akrostik

Puisi ini berbentuk syair [a,a,a,a], terdiri dari 11 bait, sama dengan jumlah kata dalam kata ‘Bali Adnjana’. Tiap bait diawali dengan baris-baris yang huruf awalnya adalah huruf ‘B-a-l-i  A-d-n-j-a-n-a’.

Puisi yang baris atau baitnya diawali dengan kalimat yang huruf awalnya huruf pertama dari judul atau sebagian dari judul disebut dengan puisi akrostik. Puisi akrostik menjadi ciri kebanyakan puisi penyair Bali di era kolonial. Sifat akrostik puisi ini mengandung penyesuaian, yakni huruf ‘J’ dalam puisi ini diganti dengan ‘Y’ (Yakinlah kita akan jasanya), menandakan bahwa penyair menerapkan licentia poetica atau kebebasan dalam berekspresi untuk mencapai keindahan bentuk dan isi.

Tema puisi “Selamat Tahun Baru untuk Bali Adnjana” ini berkaitan dengan misi koran-kalawarta Bali Adnjana, dan kontekstual dengan Tahun Baru saat terbitnya edisi Januari.

Propaganda mengenai Bali Adnjana tampak eksplisit sekali bahwa Bali Adnyana sebagai kumpulan orang pandai (taman jauhari) yang hadir menjadi ‘suluh bagi negeri’ untuk membantu memberikan pencerahan kepada masyarakat agar bebas dari kegelapan. Dalam usahanya memajukan itu, mereka memperhatikan semua, laki dan perempuan, tidak ada diskriminasi. Dalam memberikan pencerahan itu, Bali Adnjana berusaha untuk menyediakan bahan bacaan dengan harga murah.

Data Puisi, 39 Judul

Berdasarkan hasil pemeriksaan atas keempat majalah atau media massa yang terbit di Bali, Surya Kanta, Bali Adnjana, Bhawanegara, dan Djatajoe, dapat diidentifikasi cukup banyak puisi, tepatnya 39 judul. Puisi tersebut terbit antara tahun 1925-1939 (lihat tabel).

Ciri umum dari puisi penulis Bali dari era kolonial adalah berbentuk syair, namun bukan syair dalam pengertian puisi lama. Ciri syair terletak pada persamaan bunyi akhir dan bait umumnya terdiri dari empat baris. Dalam hal jumlah kata atau suku kata tidaklah sama dengan syair aslinya, yang biasanya sekitar empat kata atau 8-10 suku kata.

Selain menyerupai syair, puisi Indonesia dari Bali dari era kolonial juga tampil dengan bentuk bebas, dalam arti sudah menyerupai puisi modern yang bebas. Penyampaian pesan diutamakan, sementara persamaan bunyi dijadikan nomor dua.

Sajak akrostik “Setia pada SK” berisi propaganda kepada Surya Kanta, baik sebagai organisasi maupun sebagai nama surat kabar/majalah. Bait pertama menegaskan bahwa Surya Kanta mengajak anggotanya untuk bersatu (Satunya bangsa selalu dicari). Hanya saja, ajakan ini disampaikan khusus untuk golongan jaba, warga stratifikasi terbawah dalam catur wangsa (kasta).

Pesan kepada jaba ini sangat ‘politis’ kalau dibaca dalam konteks polemik keras antara Bali Adnjana dengan Surya Kanta mengenai status kewangsaan. Kelompok Surya Kanta menganggap manusia sama dan dihormati berdasarkan prestasi dan pencapaian, sementara Bali Adnjana mempertahankan perbedaan status kasta berdasarkan kelahiran. Pertentangan kasta di Bali Utara tahun 1920-an/1930-an ini sudah ditulis oleh para ahli, seperti Putra Agung (2001), Bagus (1996), dan Picard (1999).

Promosi Surya Kanta sudah terasa di judul seperti promosi agar pembaca berlangganan. Di sini jelas puisi merupakan sarana promosi atau alat propaganda organisasi. Jika dilihat dari konteks media yang memuatnya, wajar saja penulis dan wajar saja Surya Kanta memuat puisi yang menguntungkan Surya Kanta. Banyak puisi lain yang terbit di Surya Kanta juga berisi pesan promosi visi misi dari koran atau majalah yang memuatnya seperti puisi “Hiduplah SK” karya MAR dan “Berlanggananlah Surat Bulanan SK” karya  KK.

Kecenderungan sama juga terdapat dalam Djatajoe, seperti terlihat dalam sajak “Ke Taman BDL” karya Ktut Gde Maroete dan “Hiduplah Badala” karya K. Djeloen. Kata-kata BDL di judul adalah singkatan dari Bali Darma Laksana, demikian juga akronim “Badala” yang berarti “Bali Darma Laksana”.

Arsip media massa di Bali zaman Kolonial | Foto: Dok. I Nyoman Darma Putra

Tema lain dari puisi Djatajoe adalah masalah yang dihadapi Bali sebagai daerah tujuan wisata, identitas kasta, dan pentingnya pendidikan untuk perempuan. Saat itu, pendidikan dianggap penting untuk laki-laki, perempuan dianggap akan menjadi ibu rumah tangga, tidak perlu pendidikan. Pesan ini terungkap dalam “O Putriku” karya Ni Wayan Sami dan “Seruan” karya Ni Made Tjatri. Puisi ‘O Putriku” (Djatajoe, 23 Maret 1937, p. 226) mendorong kaum perempuan untuk aktif (Gerakkan tangan yang berpangku/ Gerakkan jiwa yang lebih bebas).

Dilihat dari segi bentuknya, puisi ini sudah tampil sebagaimana puisi modern, tidak menggunakan pola pantun atau syair. Konteksnya adalah mengajak perempuan bergerak maju, mencapai kesetaraan dengan laki-laki. Puisi tentang perempuan yang ditulis perempuan ini menunjukkan bahwa perempuan Bali sudah aktif berekspresi menyampaikan aspiras di media massa era 1930-an.

Ada satu puisi yang kiranya menarik dikaji dilihat dari temanya tentang isu sosial aktual. Puisi “Och Ratna” karya M. Oke tidak saja melukiskan dampak pariwisata terhadap Bali, tetapi juga mengaitkan Bali dalam peta global sehingga dalam puisi ini terasa bahwa Bali sudah ada dalam pusaran globalisasi. Sajak “Och Ratna” (Djatajoe, 25 May 1938, pp. 317-8) terdiri dari 11 bait. Dua bait berikut secara intens melukiskan popularitas Bali sebagai destinasi wisata.

Och Ratna jika saya tak salah sangka
Rambutmu terurai ditiup angin tiba di Amerika
Suaramu dibawa radio ke Eropa, Jepang dan Afrika
Pula kelain-lain benua, itulah mudah diterka
Kecantikanmu menarik penduduk itu negeri
Kemolekanmu meresap di dalam sanubari
Tiap-tiap tahun berduyun-duyun datang menghampiri
Jerih, lelah dan bermilyun harta hamburkan tak dipikiri

Yang dimaksudkan dengan Ratna di sini adalah Bali, yang dipanggil Ibu, Ibu Pertiwi. Bali di sini adalah Bali yang cantik dan molek, Bali yang menjadi daya tarik wisata, yang memikat hati, menarik warga dari berbagai dunia, yaitu Amerika, Eropa, Jepang, dan Afrika. Dalam baris-baris yang dikutip di atas terasa Bali terkenal ke mancanegara.

Dalam puisi ini, Bali bukan lagi pulau kecil yang terletak di tengah-tengah atau terjepit di antara pulau-pulau besar Indonesia. Namun, Bali yang populer di mancanegara. Banyak orang datang berkunjung ke Bali setiap tahun (Tiap-tiap tahun berduyun-duyun datang menghampiri). Kunjungan inilah yang kemudian menjadi saluran masuknya budaya global yang membuat Bali ‘gelisah’ karena harus menyesuaikan diri (Diribaanmu gelisah, beribu-ribu putra dan putrimu/ Sakit mata menentang cahaya natuur dan dunia sekitarmu).

Puisi ini bisa dibaca sebagai keresahan Bali atas berbagai pengaruh luar yang masuk ke pulau ini lewat saluran pariwisata. Puisi in bisa dibaca sebagai kiasan akan pentingnya Bali menyiapkan diri agar jangan hanyut dalam kemajuan pariwisata, sebaliknya bisa maju bersama sesuai dengan perkembangan zaman.

Jika dikaitkan dengan puisi lainnya yang mempromosikan kehebatan media yang memuatnya yaitu Bali Adnjana dan Surya Kanta, puisi ini pun merupakan propaganda kemuliaan usaha Djatajoe untuk memajukan Bali. Ciri puisi propaganda sangat kuat dalam puisi-puisi penyair Bali pada era kolonial.

Penutup

Seperti jelas dalam uraian dari awal, bahwa puisi Indonesia sudah hadir semarak di Singaraja melalui media massa, sehingga tidak berlebihan untuk mengklaim bahwa Singaraja adalah ibu kota kelahiran puisi Indonesia di Bali.

Klaim ini tentu juga benar untuk kelahiran novel (karya-karya Panji Tisna), naskah drama, dan cerita pendek, tetapi karena jumlahnya sedikit (bahkan untuk drama hanya ada satu naskah drama “Kesetiaan Perempuan” dimuat di Surya Kanta, 1927), kiranya kurang kuat membuat klaim Singaraja sebagai kota kelahiran naskah drama di Bali. Untuk puisi selain karena banyak, kehadirannya jelas paling pertama, yaitu Januari 1925.

Tak hanya sebagai tempat kelahiran, Singaraja juga menjadi tempat berlanjut berkembangnya sastra Indonesia modern sampai sekarang, sampai akhirnya menjadi tempat pelaksanaan Singaraja Literary Festival.[T]

NOTE: Dalam versi lain, materi tulisan ini saya sudah sajikan di publikasi berikut:

Putra, IND (2011). A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century. KITLV/Brill  [open access: https://library.oapen.org/handle/20.500.12657/34680%5D

Putra, IND. (2017). Eksistensi Puisi Indonesia di Bali Pada Era Kolonial, Aksara, Vol. 29, No. 2, Desember 2017.

Putra, IND (2021). Heterogenitas Sastra di Bali. Pustaka Larasan; Penerbit BRIN (https://penerbit.brin.go.id/press/catalog/book/552)

Penulis: I Nyoman Darma Putra
Editor: Jaswanto

Tags: Bali AdnjanaBhawanegaraDjatajoemedia massaPuisisastraShanti AdnjanaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Surya Kanta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [30]: Kencan Magis di Aplikasi Pertemanan

Next Post

Wayan Wardana dan Segiri Kopi: Eksperimen Rasa yang Bikin Robusta Berbeda

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Wayan Wardana dan Segiri Kopi: Eksperimen Rasa yang Bikin Robusta Berbeda

Wayan Wardana dan Segiri Kopi: Eksperimen Rasa yang Bikin Robusta Berbeda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co