6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Ada Angin di Jakarta

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 21, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

JIKA dihitung-hitung, telah tujuh belas tahun saya tinggal dan menetap di Kota Denpasar. Semenjak tamat SMA hingga kuliah (ada yang selesai, ada yang tidak bisa saya selesaikan karena sakit). Pulang ke kampung halaman untuk pemulihan. Kembali lagi ke kota ini, sejak sepuluh tahun lalu sampai sekarang. Bekerja sebagai wartawan dan penulis.

Kemarin, saya menulis di akun media sosial saya tentang keinginan untuk bekerja dan mencari pengalaman baru di luar Bali, Jabodetabek. Beberapa kali melalui laman pencari kerja saya melamar pekerjaan sebagai jurnalis, copywriter atau content writer. Di Jabodetabek, jenis pekerjaan ini banyak dibutuhkan. Gajinya juga besar—oleh pertimbangan itulah ada niat untuk meninggalkan Bali, mencoba peruntungan di kota besar lain meskipun usia tidak muda lagi.

Saya lalu menghubungi teman psikolog yang kini telah menikah dan pindah ke Tangerang Selatan sejak dua tahun lalu. Niat untuk mencari penghidupan di luar Bali saya utarakan padanya, seraya meminta pertimbangan darinya sebagai orang yang ahli bidang ilmu jiwa.

Dia menulis seperti ini: Kalau Bli Angga melihat Jabodetabek seperti apa? Hmm, mungkin bagi orang yang suka dengan dinamika (hidup) yang cepat, atau mau tidak mau beradaptasi dengan itu, lama-lama (akan) terbiasa. Tapi kalau dijadikan sebagai kota pensiun, saya sendiri tidak merekomendasikan. Terlalu hiruk-pikuk dan semua serba cepat. Tetapi untuk mencari pengalaman bekerja, tidak ada salahnya, Bli. Hanya harus bertahan mungkin 3-6 bulan untuk menemukan yang cocok untuk menyamai ritme orang-orang di sini (Jabodetabek).

Jawaban teman saya itu membuat saya bertanya ulang pada diri sendiri: Apa yang membuat saya ingin pindah ke kota lain di luar Bali? Jika ingin gaji yang lebih besar, bukankah itu soal jenis pekerjaan dan bukan tentang pindah tempat menetap? Apa yang saya ingin cari, sebenarnya? Tiga pertanyaan itu pelan-pelan saya jawab dalam hati. Lalu saya mendapat jawaban ini:

Selama ini, saya bekerja sebagai wartawan dengan upah di bawah upah minimum (UMK). Gaji wartawan di Bali memang masih jauh dari standar, jika dibandingkan dengan wartawan di kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung, atau Jabodetabek.

Untuk bertahan hidup, wartawan di Bali selain menggandalkan gaji dari perusahaan media, mereka rajin mencari “ceperan”. Biasanya, jika kami meliput sebuah acara konferensi pers, juga misalkan seminar atau diskusi di kampus atau oleh lembaga pemerintah, panitia menyediakan uang transportasi atau uang pengganti pulsa internet. Dari berbagai kegiatan itulah wartawan mendapat penghasilan tambahan. Semakin sering mendapat undangan liputan seperti itu, tentu pendapatan semakin banyak. Apalagi bagi wartawan yang juga punya media online sendiri.

Belum lagi jika berita yang dibuat dihitung sebagai advertorial atau berita berbayar. Ada pembagian sekian persen untuk wartawan sebagai komisi. Wartawan kini mau tak mau juga merangkap sebagai “staf” marketing. Perusahaan media mengharapkan wartawan agar juga memberi kontribusi dengan membantu mencari iklan, untuk membuat media bisa bertahan.

Sebagai wartawan, saya memang pernah beberapa kali mendapatkan iklan. Namun, karakter idealis saya seakan meronta-ronta. Bekerja dalam dunia pers, yang telah juga kini menjadi industri, membuat saya banyak bertanya; bagaimana berita bisa berimbang wartawan menerima imbalan (uang atau barang)? Bukankah UU Pers melarang hal tersebut? Hal yang ideal itu tak ada, terlebih lagi di Indonesia. Itu kesimpulan saya. Dimana-mana orang mesti berkompromi dengan realitas hidup. Idealisme memang penting, tapi sering kali justru mesti dilupakan.

Hidup pas-pasan sebagai wartawan “idealis”, membuat saya kemudian memilih pada sistem kerja freelance atau lepas. Agar saya tak terikat dengan target berita harian atau target iklan yang diharapkan bisa saya dapat sebagai wartawan oleh perusahaan. Konsekuensi tentu ada.

Upah saya dihitung per berita. Meskipun jika ditotal dalam sebulan jumlahnya jauh dari gaji bulanan, saya merasa lebih tenang. Punya banyak waktu untuk menulis esai atau puisi, yang saya kirim ke media online dan koran, dulu, ketika masih banyak ada rubrik sastra di media cetak. Kini hanya sedikit yang bertahan. Media massa di Indonesia banyak yang beralih ke jenis digital. Koran dan majalah punya versi digital juga selain versi cetak. Mau tak mau mereka beradaptasi.

Esai dan puisi yang terkumpul saya jadikan buku. Sudah 15 buku saya tulis sejak enam tahun lalu, pada 2018. Selain mendapat pengakuan, keuntungan finansial saya dapatkan juga meskipun tidak banyak. Semua itu menjadi berkah tersendiri bagi saya. Tidak hanya menjadi wartawan, saya juga dikenal sebagai penyair dan esais yang produktif dan punya banyak prestasi.

Maksud hati jika saya pindah ke luar Bali, akses untuk bisa berkarya lebih intens bisa saya dapatkan. Teman saya berkomentar pada unggahan saya di media sosial terkait hal tersebut: “Apakah di sana nanti masih bisa menulis puisi dan minum kopi?” Saya terdiam membacanya. Tiba-tiba saya teringat sebuah sajak dari mendiang Umbu Landu Paranggi, penyair legendaris Indonesia yang pernah hidup di berbagai kota. Sajak itu berjudul “Apa Ada Angin di Jakarta”.

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

“Desa” dalam larik “pulanglah ke desa” seperti menertawai saya —jarang pulang kampung ke Jembrana, dengan alasan “sibuk” atau “mengejar karir” di Denpasar. Terdengar hanya sebagai pembenaran, mungkin, bagi sebagian keluarga besar saya. Masih satu pulau saja jarang pulang, apalagi nanti kalau pindah ke luar Bali, mungkin akan selamanya tidak pulang—terlebih lagi tunangan saya berasal dari Jakarta, walau sejak beberapa tahun lalu ia telah menetap di Bali.

“Membangun esok hari”, tulis Pak Umbu, satu-satunya adalah “pulang ke desa”, untuk “kembali ke huma berhati”. Apakah tak ada “hati” di kota besar? Mungkin saja. Hidup yang serba cepat dan kompleks membuat warganya makin kehilangan sisi kemanusiannya. Kota besar “kejam”.

Semesta seperti mendengar “keluhan” saya. Kemarin, beberapa jam setelah saya menulis di akun media sosial saya tentang niat untuk bekerja di luar Bali, sebuah pesan masuk di ponsel saya. Undangan wawancara kerja sebagai copywriter pada perusahaan besar di Denpasar. Sekitar lima hari lalu saya mengirimkan lamaran itu. Doakan saya semoga wawancara kerja tahap pertama  lancar dan bisa berlanjut ke tahap rekrutmen berikutnya. Agar saya bisa bekerja dengan upah yang layak, sehingga bisa bebas—tidak lagi berutang untuk bisa terus bertahan hidup. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bahkan Mencintai Dicurigai
Dilema Orang Kritis di Bali
Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi
“Brain Rot” Atawa Otak Busuk
Tags: baliJakartapenuliswartawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hindu Towani  Tolotang di Sulawesi Selatan, Wajah Hindu Nusantara Berbalut Adat Bugis Kuno

Next Post

Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co