“Sekarang, buat beli rokok aja susah, belum lagi kopinya, beli beras buat istri. Lima puluh ribu dapat apa? Dalam semenit ajasudah habis,” kata Wayan Suara tentang sulitnya pendapatan akhir-akhir ini dari jualan tuak manis.
Wayan Suara (68), sebagai penjaja tuak manis, ia tak menyerah. Dengan setia ia menyandarkan motornya di Jalan Ahmad Yani, Singaraja, atau di seberang toko hape, Planet Gadget, Sabtu, 28 Juni 2025 siang.
Ia duduk di trotoar nyambi menanti pembeli datang dari segala arah, maka ia senderkan tubuh rentanya di pagar Kantor PERADI No. 133 itu.
Sambil merokok, mendongak wajahnya agak menantang ke arah jalan, dengan topi capil-nya dari rautan bambu itu, ia tampak sekali tenang. Walaupun, tuaknya tidak selaris seperti dulu di tahun 1998.
Orang-orang lewat begitu saja di depan toko Planet Gadget. Dan orang-orang yang memarkir mobil di dekat motorya, seperti enggan membuka pintu dan keluar menghampiri Wayan Suara.
Namun Wayan Suara tetap duduk santai. Menunggu. Dan, menunggu.

Seseorang duduk di motornya menantikan tuak manis Wayan Suara | Foto tatkala.co/Son
Tidak lama kemudian, dari arah timur, seorang lelaki berkaos polo turun dari motor NMAX, datang menyodorkan uang lima ribu,
“Satu, Pak,” kata Arman, nama pelanggan Wayan Suara itu. Ia mahasiswa prodi pendidikan Bahasa Inggris di Undiksha Singaraja.
Arman memesan satu porsi tuak manis. Dibungkus. Ia hendak pulang ke rumahnya di Perumahan Jalak Putih selepas dari kampus.
Tangan Wayan Suara segera menyiuk tuak dari jerigen ke kantong plastik dan membubuhkan es cube dari wadah terpisah, agar si tuak jadi manis-dingin-seger.
Jalan masih santer kendaraan. Wayan Suara menatap kembali jalan sambil merokok dengan punggung bersender di tembok pagar rumah orang.

Wayan Suara dan Arman (pembeli) | Foto tatkala.co /Son
Ia bersender agaknya lelah, memang, stamina hidup tidak seperti waktu muda, kini wajahnya dipenuhi lipatan. Kulitnya liat-berserat oleh usia—68 tahun sekarang. Tampak warna gelap di lehernya, di antara lipatan-lipatan itu. Barangkali debu jalanan hinggap di leher, di wajah, di tangannya.
Tangannya warna coklat matang, tapi wajahnya berperangai baik. Ia senyum giginya ompong bawah dan atas, menularkan senyum ke yang lain.
“Banyakin ketawa aja, haha,” katanya humor.
Tidak lama setelah kepergiannya membawa pesanan, Arman membelokkan motornya balik kembali, dan menagih susuk (kembalian) yang tertinggal.
“Pak, susuk-nya belum. Tadi uang saya lima ribu,” kata Arman.
Wayan Suara langsung melongo. Mulutnya terbuka dengan gigi ompongnya itu, mengeluarkan sisa asap dari rokoknya yang baru saja disedot setelah tertawa. Air mukanya seketika berubah jadi kecut.
Tapi dengan tenang nyambil senyum kecut, tanpa mau bertengkar ia langsung mengkocek uang dua ribu dari tas kecilnya untuk susuk. Lalu ia menghela napas—seakan nerimo.
Arman belum tahu jika segelas tuak manis yang dibungkus dan dibawanya pulang, harganya sudah naik jadi lima ribu, bukan lagi tiga ribu.

I Wayan Suara | Foto: tatkala.co/Son
Agar suasana tidak genting menyoal—perasaan si pembeli agar tidak kecewa dan susah payah menagih; putar balik dari gapura “Selamat Jalan”, Wayan Suara seakan membiarkan itu sebagai pembelajaran dirinya, jika harga yang sudah berubah, mestilah ditempel menggantikan plat nomor di motor.
“Kalau dulu, harga satu porsinya bisa dua rebu, tiga rebu, tapi sekarang sudah lima rebu. Karena untungnya kecil, dan peminatnya juga sekarang berkurang. Dan sekarang, apa-apa sudah mahal,” kata Wayan Suara.
Dalam satu hari, ia jual tiga puluh liter tuak manis dari lontar atau disebut juga nira, modal awal 150 ribu, ia beli dari Bungkulan, dan keuntungannya bisa lima puluh ribu, itu pun, kalau semua habis.
Wayan Suara memiliki satu istri empat anak dan tinggal di Desa Suwug. Dengan mata merem melek, ia datang ke kota dari jam setengah 8. Maklum, katanya, matanya sudah minus—tidak kuat memandang ketika kena angin. Di jalan, angin menantang dirinya ketika memacu motor bebek.
30 Liter Tuak Manis dan 10 Kucit untuk Hidup
Setiap hari ia jualan, tak pernah libur, mau hujan atau tidak hujan, ia tetap jualan—datang ke kota. Dan menyoal peruntungan, masih dengan senyum kecut menghayal ke tahun-tahun belakang, sebelum Covid-19, Wayan Suara mengaku cukup banyak bawa duit kalau pulang, untungnya bisa seratus ribu dalam enam jam, 60 liter tuak bisa habis.
“Sekarang, buat beli rokok aja susah, belum lagi kopinya, beli berasanya buat istri. Lima puluh ribu dapat apa dalam sekejap aja sudah habis,” katanya. Dan, ia menunjuk bungkusan di motornya. “Ini saja saya bawa bekal dari rumah biar gak beli makan.”
Ketika tahun 1990-an, Wayan Suara dapat untung banyak, dalam satu hari ia bisa menghabiskan 70-80 liter tuak manis. Sebelum Covid-19, sama besarnya raib-laku terjual 60-70 liter.
Sekitar tahun 2019, misalnya, ada banyak mahasiswa yang mampir ke lapaknya. Mereka membeli tuak manis di tempat, dan duduk di bawah pohon dekat trotoar. Tapi sekarang pohon itu sudah tidak ada, sudah ditebang.
“Coba kalau pohon itu tidak ditebang, mungkin orang masih beli dan minum di tempat,” kata Wayan Suara menyayangkan pohon di trotoar di tebang.

Tuak manis jualan Wayan Suara | Foto: tatkala.co/Son
Sebelum atau setelah virus itu, pembeli jadi berkurang. Dalam satu hari (tiga tahun belakangan), ia hanya bisa menghabiskan 30 liter tuak manis, atau satu dirijen di bagi dua, itu pun selalu sisa. Dan jam dua siang, ia berhenti jualan, pulang ke rumah; dalam keadaan habis atau tidaknya tuak manis di motor.
Karena ia tahu, jika peminat berkurang dan saingan banyak di setiap trotoar sudut kota, Wayan Suara menabung jauh-jauh hari untuk membeli kucit, dan mengurus sapi, mengakali pemasukan.
Di rumahnya ada sepuluh kucit yang dibeli dari tabungan—hasil jualan tuak manis jauh-jauh bulan. Setelah besar itu si anak-anak babi jadi besar, ia jual, dan ia putar uangnya untuk membeli seekor sapi. Kini, ada satu ekor sapi di rumahnya.
“Tidak bisa hanya mengandalkan jualan tuak. Saya sekarang nyambi ngurus babi dan sapi!” kata Wayan Suara. Ia memberi contoh bahwa hidup harus diakali. [T]
Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























