2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memuja Tuhan dan Logika Untung dan Rugi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
April 16, 2025
in Esai
Memuja Tuhan dan Logika Untung dan Rugi

Foto ilustrasi" Dok tatkala.co

KEBERADAAN, Kemahakuasaan, Kemahasegalaan Tuhan diyakini, disetiai, diimani oleh umat beragama. Umat Hindu menyebutnya sebagai srada. Yang disebut mahluk hidup, adalah mahluk yang berjiwa raga, yang terikat oleh napas (udara/bayu).

Kuaalitas mahkuk hidup sangat ditentukan oleh kualitas napas yang menjiwaragainya.

Selain unsur napas/bayu/udara, ada unsur ruang/akasa, yang membingkai mahkluk, dan unsur pertiwi/tanah/ material padat, unsur apah/air/zat cair, dan unsur teja/api/temperatur yang menjadikan bentuk, sifat, dan fungsi sesuatu mahluk.

Bentuk keyakinan manusia, di Indonesia khususnya, disebut agama. Agama yang konon diyakini, dijiwaragai manusia di Bali disebut agama Hindu.

Walaupun mengaku beragama Hindu, yang disebutkan berasal dari India, tetapi sebagian besar warga Bali (juga Indonesia bahkan dunia) meyakini dan mengimani, berbagai manisfestasi Tuhan dalam bentuk, sifat dan fungsinya, sebagai Sanghyang (Sang Keilahian/spirit/esensi tanpa tubuh), Dewa (sinar/terang,cahaya) Bhatara (pelindung/aktivitas/perbuatan) dalam sifat dan fungsinya sebagai:  leluhur/asal muasal/kawitan, guru/pembimbing/pendamping/pembantu, manusia untuk mencapai kesentausaan (kepuasan, kebahagian, rasa syukur lahir dan batin).

Hyang (aksara Bali: ᬳ᭄ᬬᬂ; aksara Jawa: ꦲꦾꦁ; aksara Sunda: ᮠᮡᮀ; Osing: Iyang) adalah sebutan keilahiah dalam  agama pribumi di Jawa dan Bali khususnya, yang juga dimaknai spirit/esensi.

Dewa (Dewanagari: देव; IAST: Deva) berasal dari akar kata dev  dalam  bahasa Sanskerta yang berarti ‘sinar atau “terang”,

Bhatara berasal dari kata “bhatr” yang berarti pelindung. Bhatara berarti “pelindung” atau aktivitas yang ilahi, sinar atau terang. Tuhan maupun manifestasinya.

“Kawitan”  berasal dari bahasa Sansekerta “wit” yang berarti asal mula/awal mula atau garis keturunan/leluhur, lebih jauh dan luas bisa berati Tuhan

Leluhur Bali masa lalu, meyakini, mengimani secara lahir batin bahwa tumbuh-tumbuhan adalah saudara tertua, binatang adalah kakak dan manusia adalah yang terkecil.

Alam Bali ternyata telah terlalu sama memanjakan si anak bungsu, sehingga lupa menghargai dan menghormati yang lebih tua, kakak-kakaknya (Pohon dan Binatang) sebagai leluhur/kawitan. Tidak adanya rasa hormat pada yang lebih tua, leluhur, berarti juga telah kehilangan rasa hormat pada dirinya sendiri.

Hilangnya keyakinan, iman diri, sementara karakter manusia sebagai mahluk sosial menjadikan manusia kehilangan eksistensinya (tak percaya diri).

Rasa rendah diri yang ditutupi akan membuat seseorang tak nyaman. Rasa tak nyaman yang ditutupi, dipelihara, dibiakan akan membuat rasa tak aman, tanpa rasa aman, sulit rasanya seorang manusia bisa mendapatkan kebahagiaan.

Sebagai manusia biasa yang punya segala keterbatasan, rasa tak nyaman sering kita tutupi, dengan pikiran kata dan tindakan berlebih (melampaui kapasitas diri) yang mengingkari satya (kejujuran, kebenaran)

Misalnya kita berencana bertemu kakek nenek yang sangat kita hormati, karena keadaan, situasi dan kondisi yang tidak mengijinkan, kita hanya menelpon, melakukan videocall.

Suatu ketika pikiran, kata-kata dan perbuatan kita masih bersepakat, ada saatnya pikiran dan kata-kata kita tak bisa disatukan dengan perbuatan.

Kunci sebagai manusia berjiwa raga sebagai mahluk sosial adalah perbuatan, yang bisa dicerap indria, dan dirasakan oleh diri sendiri dan akan dirasakan juga oleh orang lain, dah lingkungan.

Saat kita tak bisa melakukan perbuatan yang kita yakini dan imani, pikiran yang tajam dan cerdas berusaha beragurmen, mencari pembenaran.

Pada saat pikiran kita merasa benar dengan argumentasinya, tetapi jiwa dan raga kita belum bersepakat, ada rasa tak nyaman yang mengganjal. Untuk menghilangan ganjalan di hati, si cucu, mengirimkan kakek neneknya makanan dan kain.

Kakek-Nenek menghargai pemberian sang cucu, sang cucu pun merasa nyaman.

Di saat yang lain, mungkin sang cucu tak punya uang untuk mengirimkan kakek neneknya makanan dan kain,   hanya bisa menelpon tetangga sebelah rumah kakek nenek untuk menyampaikan kabar, kakak neneknya senang menerima kabar dari cucunya, dan si cucu merasa nyaman, aman dan bahagia karena tahu kakek neneknya nyaman aman dan bahagia.

Hubungan cucu dengan kakek neneknya sesungguhnya serupa dengan hubungan seorang manusia dengan Tuhan yang  yang diyakini dan dimaninya.

Jika kakek nenek adalah manusia dengan kemanusiannya yang berjiwaraga dengan segala jenis kebutuhan yang membuatnya nyaman, mrasa aman dan bahagia, maka Tuhan adalah Maha Segala, Maha Nyaman, Maha Aman, Maha Bahagia, dan Maha itu sendiri.

Inti sebuah hubungan adalah  kenyaman yang menciptakan rasa aman dan bahagia.

Kemajuan pengetahuan  ternyata tidak membuat manusia merasa nyaman, aman dan bahagia, karena hanya difokuskan pada logika (perhintungan-perhitungan) bukan rasa.

Di Bali juga makin berkembang terstruktur dan masif karena terorganisasi oleh sistem sosial keyakinan pada Tuhan, dalam segala manifestasi, didasarkan pada logika manusia/hitung-hitungan.

Melakukan upacara besar (jumlah orang, biaya) akan diberikan hasil yang besar, mengajarkan meyakini Tuhan pada lebih banyak orang akan mendapatkan fee besar, dan lain-lain.

Logika untung rugi, fee dan sejenisnya ini kini dengan semangat dan tanpa malu-malu terus digiatkan, dan dikembangbiakkan oleh orang mengaku dan diakui sebagai pemimpin agama.

Kini Tuhan  dan  segala manusfestasinya (leluhur, manusia, pohon, binatang, tanah, air, api, udara dan ruang kosong) hanya dijadikan obyek semata, tanpa penghormatan, penghormatan dan penjagaan.

Manusia tak lagi menghormati dirinya sendiri, menghormati kemanusiaannya.

Kalau ada niat, kemauan dan usaha belum terlambat untuk kembali menyadari keberadaan diri sebagai manusia, agar tak terombang-ambing oleh keadaan situasi dan kondisi , agar tak mudah menjadi kambing hitam.

Jadi kalau benar, tujuan hidup beragama (khususnya beragama Hindu Bali) bertujuan untuk mencapai kebahagian lahir batin, dunia hakerat, mari sadari kembali diri kita sendiri.

Tenangkan diri sejenak, pusatkan konsentrasi di hulu hati/Padma Hrdaya/ Puri Atma/rumah Atman/Brahnan yang terhubung langsung dengan Paratman/Tuhan. Telisik segala hal yang sudah, sedang dan akan kita lakukan. Termasuk segala bentuk keyakinan pada Tuhan yang telah, sedang dan akan kita lakukan.

Jika ada yang salah di masa lalu, mari terima kesalahan, minta maaflah pada diri, pada leluhur, dan semuanya.

Manusia yang tak sempurna, yakinilah  Tuhan Yang Maha Sempurna pasti tahu ketidaksempurnaan umatnya. Meminta maaf pada Tuhan dan diri tak perlu  diketahui oleh orang lain, cukup dari hati yang paling dalam yang berkesadaran.

Kalaupun ingin melakukan permintaan maaf dengan media/sarana, lakukan kejujuran akan keadaan, situasi dan kondisi dengan media yang ada yang membuat kita merasa nyaman, sehingga tercipta rasa aman dan bahagia.

Tuhan Maha Sempurna, memuja Tuhan, adalah usaha kita dalam hidup untuk lebih menyempurnakan diri, dengan menghormati, menghargai, menjaga leluhur, manusia, binatang, pohon, dan alam dengan setia, jujur,  riang gembira agar tercipta rasa nyaman, aman, dan damai.

Salam,

Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru. [T]

Kesiman Denpasar,14/04/2025

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Kelapa, Kepala, Warna dan Permainan Makelar
Bali, Label dan Ogoh-ogoh

Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Harmonisasi Material-Spiritual | Sebuah Renungan

Virus, Masker dan Minyak – [Sebuah Renungan]

Tags: KetuhananTuhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

”Married by Accident” Bukan Pernikahan Manis Cinderella

Next Post

Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails
Next Post
Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials

Nostalgia dan Modernitas “Kumpul Bocah”: Perjalanan Abadi dari Vina Panduwinata ke Maliq & D’Essentials

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co