23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertunjukan Seni Tradisi dan Seni Modern di Satu Panggung: Mempertemukan Ego Antarseniman

Gede Angga Prasaja by Gede Angga Prasaja
April 11, 2025
in Esai
Pertunjukan Seni Tradisi dan Seni Modern di Satu Panggung: Mempertemukan Ego Antarseniman

Pentas gong kebyar dan musik di Taman Bung Karno Singaraja | Foto: tatkala.co/Rusdy

DENGAN berkembangnya industri kreatif di era globalisasi ini, dunia seni terus bergerak cepat dengan penuh semangat yang membuat kolaborasi antar genre seni menjadi hal yang sudah biasa.

Panggung pertunjukan saat ini tidak lagi kaku dalam menyajikan satu jenis seni saja, melainkan lebih terbuka untuk dapat menyandingkan genre seni yang berbeda dalam satu ruang yang sama.

Salah satu kolaborasi yang sangat sering disuguhkan pada acara-acara adalah menggabungkan seni pertunjukan tradisional dengan seni pertunjukan modern, terutama pertunjukan musik, dalam satu panggung. Sesungguhnya tidak tepat disebut kolaborasi, karena tak ada penggabungan antara dua unsur kesenian itu. Tepatnya, bisa disebut tampil dalam satu acara di atas panggung secara bergiliran.

Tapi, apa pun namanya, dua jenis seni pertunjukan dari dua zaman yang berbeda itu selalu menarik untuk diperbincangkan. Sangat menarik, bagaikan bulan dan matahari bertemu, saling mengisi serta memperkaya suasana.

Namun apakah pertemuan selalu semulus konsep di atas kertas?

Seringkali, kolaborasi ini justru terhambat oleh satu hal yang paling mendasar yaitu ego antar pelaku seni.

Seni pertunjukan tradisional dan seni modern masing-masing pastinya memiliki filosofi, bentuk, hingga cara penyampaian yang berbeda. Seni tradisional bermula dari nilai-nilai adat tradisi dan budaya yang diwariskan turun-temurun. Indahnya seni tradisional tidak hanya terlihat dari ekspresi gerak atau bunyi, tetapi juga terlihat dari maknanya yang begitu dalam, serta kesakralan yang terdapat di dalamnya.

Seni modern tumbuh dari semangat kebebasan mengekspresikan diri, bebas mencoba hal-hal baru, serta sering juga bisa berani keluar dari kebiasaan , lebih cair dan lebih dapat menyesuaikan keadaan.

Ketika dua seni ini disatukan dalam satu ruang, sering muncul permasalahan. Salah satu contoh yang sering terjadi pada acara seni adalah pembagian panggung. Seniman tradisional sering merasa keberatan jika alat-alat musik modern seperti drum set, gitar, keyboard, hingga amplifier ditempatkan di atas panggung yang sama.

Mereka, seniman tradisional itu, berpendapat bahwa alat-alat tersebut mengganggu keindahan visual panggung tradisional, bahkan bisa juga dianggap mengganggu nilai kesakralan, Yang akhirnya beberapa di antaranya di setiap acara meminta agar alat-alat tersebut tidak dikeluarkan dulu (tidak diposisikan di panggung)  atau ditutup tirai sepenuhnya saat pertunjukan tradisional berlangsung.

Sebaliknya, seniman modern sering merasa permintaan itu adalah bentuk pembatasan dalam berekspresi dan juga harus menunggu lama untuk bisa memasang perlengkapan mereka, yang menurut mereka, akan mengganggu saat mereka pentas.  

Dalam beberapa kasus, ego ini menjadi konflik. Misalnya, dalam satu acara, terjadi kericuhan kecil yang membuat semangat kolaboratif berubah menjadi persaingan diam-diam antar kelompok seni.

Permasalahan ini sesungguhnya bermula pada beberapa hal.

Pertama, ketakutan hilangnya identitas budaya. Kedua, kurangnya ruang dialog kreatif yang mempertemukan antara dua seni yang berbeda tersebut. Dan, ketiga, superioritas gaya dan nilai seni.

Namun, semua permasalahan ini bisa diatasi jika semua pihak mampu membuka ruang komunikasi, saling mendengarkan, dan bersedia untuk mencari jalan tengah yang adil. Desain panggung bisa dirancang secara fleksibel dan berlapis.

Alat musik modern bisa ditempatkan di area yang bisa ditutup saat tidak digunakan, meskipun pada acara yang sama. Misalnya dalam acara menyambut Hari Sumpah Pemuda akan dilaksanakan kegiatan seni yang melibatkan pemuda-pemudi daerah, tentu saja dalam kegiatan tersebut akan ada seni tradisional dan seni modern. Nah tempatnya (venue) bisa dibedakan, seni tradisional dipentaskan di taman budaya  dan seni modern bisa dipentaskan di lapangan terbuka.

Bagaimana dengan penonton? Apakah nanti tidak terbagi? Iya jelas, yang menonton juga pasti akan memilih pertunjukan seni sesuai dengan yang mereka suka, jadi yang suka seni tradisional pastinya akan lebih memilih menjadi penonton di taman budaya, begitupun sebaliknya.

Atau bisa juga di satu lapangan atau tempat pertunjukan dibuat dua panggung yang berbeda, panggung tradisional dan panggung modern. Hal tersebut dapat terlihat indah, karena kita bersama bisa melihat penonton berbaur dalam satu lapangan meskipun dengan minat yang berbeda. Namun, dengan catatan, sound system yang dihasilkan tentu juga juga harus diperhitungkan agar tak saling menganggu.

Yang paling penting juga adalah harus ada pertemuan antara dua seni yang berbeda tersebut sejak awal proses persiapan. Setiap kelompok seni harus diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan harapan mereka, dari sana, panitia lebih bisa menyusun skemanya dengan rapi yang membuat kolaborasi antara dua seni tersebut indah.

Pemahaman juga sangat perlu disampaikan bahwa kolaborasi bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap tradisi, melainkan bentuk keberlanjutan yang menyesuaikan kondisi dan situasi. Seni tradisional tidak akan kehilangan maknanya jika dikemas dengan cermat dan tetap menghormati nilai dasarnya. Seni modern pun bisa menjadi jembatan agar nilai-nilai tradisional lebih bisa diterima generasi muda.

Bulan dan Matahari pastinya tidak akan bisa bertemu namun bulan dan matahari bisa dirasakan manfaatnya oleh mahluk hidup di Bumi. Artinya seni tradisional dan seni modern tidak bisa kita samakan dari segi maknanya, namun bisa dinikmati keindahannya oleh penonton. Akhirnya, seni bisa menyatukan manusia, bukan memisahkannya. Ego antar pelaku seni hanyalah hambatan yang bisa diselesaikan dengan niat dan komunikasi yang baik. [T]

Penulis: Gede Angga Prasaja
Editor: Adnyana Ole

“Tamasya Tak Biasa”, Mengenang Kepergian Cok Sawitri dengan Pentas Seni Tak Biasa
Menuju PKB, Gong Kebyar Anglocita Suara “Sparring Partner” dengan Dwi Mekar — Keduanya Top
Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” — Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja
Konser Ake Buleleng: “Timpal Ake, Timpal Ente,” Semua Top…
“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB
Tags: baligong kebyarmusikseni modernseni tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali, Label dan Ogoh-ogoh

Next Post

Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar

Gede Angga Prasaja

Gede Angga Prasaja

Musisi. Kini bekerja di Pemkab Buleleng

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar

Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co