24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertunjukan Seni Tradisi dan Seni Modern di Satu Panggung: Mempertemukan Ego Antarseniman

Gede Angga Prasaja by Gede Angga Prasaja
April 11, 2025
in Esai
Pertunjukan Seni Tradisi dan Seni Modern di Satu Panggung: Mempertemukan Ego Antarseniman

Pentas gong kebyar dan musik di Taman Bung Karno Singaraja | Foto: tatkala.co/Rusdy

DENGAN berkembangnya industri kreatif di era globalisasi ini, dunia seni terus bergerak cepat dengan penuh semangat yang membuat kolaborasi antar genre seni menjadi hal yang sudah biasa.

Panggung pertunjukan saat ini tidak lagi kaku dalam menyajikan satu jenis seni saja, melainkan lebih terbuka untuk dapat menyandingkan genre seni yang berbeda dalam satu ruang yang sama.

Salah satu kolaborasi yang sangat sering disuguhkan pada acara-acara adalah menggabungkan seni pertunjukan tradisional dengan seni pertunjukan modern, terutama pertunjukan musik, dalam satu panggung. Sesungguhnya tidak tepat disebut kolaborasi, karena tak ada penggabungan antara dua unsur kesenian itu. Tepatnya, bisa disebut tampil dalam satu acara di atas panggung secara bergiliran.

Tapi, apa pun namanya, dua jenis seni pertunjukan dari dua zaman yang berbeda itu selalu menarik untuk diperbincangkan. Sangat menarik, bagaikan bulan dan matahari bertemu, saling mengisi serta memperkaya suasana.

Namun apakah pertemuan selalu semulus konsep di atas kertas?

Seringkali, kolaborasi ini justru terhambat oleh satu hal yang paling mendasar yaitu ego antar pelaku seni.

Seni pertunjukan tradisional dan seni modern masing-masing pastinya memiliki filosofi, bentuk, hingga cara penyampaian yang berbeda. Seni tradisional bermula dari nilai-nilai adat tradisi dan budaya yang diwariskan turun-temurun. Indahnya seni tradisional tidak hanya terlihat dari ekspresi gerak atau bunyi, tetapi juga terlihat dari maknanya yang begitu dalam, serta kesakralan yang terdapat di dalamnya.

Seni modern tumbuh dari semangat kebebasan mengekspresikan diri, bebas mencoba hal-hal baru, serta sering juga bisa berani keluar dari kebiasaan , lebih cair dan lebih dapat menyesuaikan keadaan.

Ketika dua seni ini disatukan dalam satu ruang, sering muncul permasalahan. Salah satu contoh yang sering terjadi pada acara seni adalah pembagian panggung. Seniman tradisional sering merasa keberatan jika alat-alat musik modern seperti drum set, gitar, keyboard, hingga amplifier ditempatkan di atas panggung yang sama.

Mereka, seniman tradisional itu, berpendapat bahwa alat-alat tersebut mengganggu keindahan visual panggung tradisional, bahkan bisa juga dianggap mengganggu nilai kesakralan, Yang akhirnya beberapa di antaranya di setiap acara meminta agar alat-alat tersebut tidak dikeluarkan dulu (tidak diposisikan di panggung)  atau ditutup tirai sepenuhnya saat pertunjukan tradisional berlangsung.

Sebaliknya, seniman modern sering merasa permintaan itu adalah bentuk pembatasan dalam berekspresi dan juga harus menunggu lama untuk bisa memasang perlengkapan mereka, yang menurut mereka, akan mengganggu saat mereka pentas.  

Dalam beberapa kasus, ego ini menjadi konflik. Misalnya, dalam satu acara, terjadi kericuhan kecil yang membuat semangat kolaboratif berubah menjadi persaingan diam-diam antar kelompok seni.

Permasalahan ini sesungguhnya bermula pada beberapa hal.

Pertama, ketakutan hilangnya identitas budaya. Kedua, kurangnya ruang dialog kreatif yang mempertemukan antara dua seni yang berbeda tersebut. Dan, ketiga, superioritas gaya dan nilai seni.

Namun, semua permasalahan ini bisa diatasi jika semua pihak mampu membuka ruang komunikasi, saling mendengarkan, dan bersedia untuk mencari jalan tengah yang adil. Desain panggung bisa dirancang secara fleksibel dan berlapis.

Alat musik modern bisa ditempatkan di area yang bisa ditutup saat tidak digunakan, meskipun pada acara yang sama. Misalnya dalam acara menyambut Hari Sumpah Pemuda akan dilaksanakan kegiatan seni yang melibatkan pemuda-pemudi daerah, tentu saja dalam kegiatan tersebut akan ada seni tradisional dan seni modern. Nah tempatnya (venue) bisa dibedakan, seni tradisional dipentaskan di taman budaya  dan seni modern bisa dipentaskan di lapangan terbuka.

Bagaimana dengan penonton? Apakah nanti tidak terbagi? Iya jelas, yang menonton juga pasti akan memilih pertunjukan seni sesuai dengan yang mereka suka, jadi yang suka seni tradisional pastinya akan lebih memilih menjadi penonton di taman budaya, begitupun sebaliknya.

Atau bisa juga di satu lapangan atau tempat pertunjukan dibuat dua panggung yang berbeda, panggung tradisional dan panggung modern. Hal tersebut dapat terlihat indah, karena kita bersama bisa melihat penonton berbaur dalam satu lapangan meskipun dengan minat yang berbeda. Namun, dengan catatan, sound system yang dihasilkan tentu juga juga harus diperhitungkan agar tak saling menganggu.

Yang paling penting juga adalah harus ada pertemuan antara dua seni yang berbeda tersebut sejak awal proses persiapan. Setiap kelompok seni harus diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan harapan mereka, dari sana, panitia lebih bisa menyusun skemanya dengan rapi yang membuat kolaborasi antara dua seni tersebut indah.

Pemahaman juga sangat perlu disampaikan bahwa kolaborasi bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap tradisi, melainkan bentuk keberlanjutan yang menyesuaikan kondisi dan situasi. Seni tradisional tidak akan kehilangan maknanya jika dikemas dengan cermat dan tetap menghormati nilai dasarnya. Seni modern pun bisa menjadi jembatan agar nilai-nilai tradisional lebih bisa diterima generasi muda.

Bulan dan Matahari pastinya tidak akan bisa bertemu namun bulan dan matahari bisa dirasakan manfaatnya oleh mahluk hidup di Bumi. Artinya seni tradisional dan seni modern tidak bisa kita samakan dari segi maknanya, namun bisa dinikmati keindahannya oleh penonton. Akhirnya, seni bisa menyatukan manusia, bukan memisahkannya. Ego antar pelaku seni hanyalah hambatan yang bisa diselesaikan dengan niat dan komunikasi yang baik. [T]

Penulis: Gede Angga Prasaja
Editor: Adnyana Ole

“Tamasya Tak Biasa”, Mengenang Kepergian Cok Sawitri dengan Pentas Seni Tak Biasa
Menuju PKB, Gong Kebyar Anglocita Suara “Sparring Partner” dengan Dwi Mekar — Keduanya Top
Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” — Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja
Konser Ake Buleleng: “Timpal Ake, Timpal Ente,” Semua Top…
“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB
Tags: baligong kebyarmusikseni modernseni tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali, Label dan Ogoh-ogoh

Next Post

Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar

Gede Angga Prasaja

Gede Angga Prasaja

Musisi. Kini bekerja di Pemkab Buleleng

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar

Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co