22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kemacetan” Berpikir Para Pemimpin Bali

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
March 2, 2025
in Esai
Suburnya Politik Dinasti di Pulau Dewata

Teddy C Putra

MARI mulai tulisan ini dengan istilah yang dikenalkan Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya Kentut Kosmopolitan, sebuah istilah yang diperkenalkan adalah Homo Jakartensis. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan manusia-manusia yang tinggal di Jakarta, lengkap dengan serba-serbi kehidupannya di kota metropolitan yang perlahan beranjak menjadi kota kosmopolitan. Istilah ini juga dilekatkan kepada orang-orang yang tinggal dan berjuang untuk hidup di Jakarta.

Bicara soal Jakarta, maka kita akan bicara soal segala kemajuan dan potensi sebuah kota besar. Salah satunya adalah fasilitas transportasi, meski Jakarta telah dilengkapi begitu banyak ruas jalan dan transportasi umum, nyatanya persoalan kemacetan belum juga rampung. Bayangkan saja, kota besar dengan potensi yang juga besar saja belum mampu menuntaskan persoalan kemacetan, apalagi kota-kota kecil di sisi lain Indonesia.

Kini, Bali jadi salah satu daerah yang tengah dihadapkan dengan masalah kemacetan. Sebagai penyandang status The Last Paradise in the World, Bali jadi salah satu destinasi paling ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik hingga mancanegara. Dalam laporannya, Bali Torism Board menyebut bahwa kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali di bulan Januari 2025 mengalami peningkatan tinimbang pada bulan Januari 2024. Pada bulan Januari 2024, wisatawan mancanegara yang datang ke Bali berjumlah 480.464 jiwa, sedangkan pada Januari 2025 kunjungan melonjak menjadi 611.603 jiwa—peningkatan tersebut setara dengan 27 persen.

Peningkatan jumlah wisatawan ke Bali tentu berimplikasi positif kepada pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain, besarnya jumlah wisatawan yang datang ke Bali perlahan mendatangkan persoalan tata kelola dan sosial yang cukup serius bagi Bali. Kemacetan jadi salah satu persoalan serius yang harus ditangani oleh pemerintah daerah kini. Secara sederhana, kemacetan terjadi tatkala panjang jalan tidak lebih besar tinimbang jumlah kendaraan yang ada—dan kesenjangan pertumbuhan antara jumlah kendaraan dan jumlah ruas jalan di Bali benar-benar terjadi.

Pasca pandemi, jumlah kendaraan bermotor di Bali meningkat pesat dari 2,6 juta menjadi 4,4 juta unit—bahkan di akhir tahun 2023, jumlah kendaraan bermotor di Bali mencapai 4,7 juta unit. Peningkatan yang terjadi hampir dua kali lipat. Kesenjangan pun terlihat tatkala kita coba bandingkan peningkatan jumlah unit kendaraan yang beredar di jalanan dengan peningkatan jumlah ruas jalan baru.

Menurut BPS Provinsi Bali tercatat pada tahun 2023, Bali memiliki total ruas jalan sepanjang 8.702,80 km, hanya bertambah 7,1 km sejak tahun 2022 dengan total ruas jalan sepanjag 8.695,70 km. Artinya, sudah jelas bahwa salah satu penyebab utama kemacetan di Bali saat ini adalah kesenjangan antara pertumbuhan ruas jalan dan jumlah kendaraan di setiap tahunnya. Sehingga menjadi hal yang wajar bagi para pemimpin Bali untuk membangun ruas jalan untuk mengatasi masalah ini.

Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah fokus membangun ruas jalan adalah satu-satunya solusi yang tepat atasi kemacetan di Bali?

Membangun Jalan

Harus diakui bahwa kemacetan di Bali lebih banyak terjadi di Kawasan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita), hal ini dikarenakan kawasan ini terdapat pusat pemerintahan, pusat ekonomi, hingga pusat pariwisata di Bali. Dalam upaya menyelesaikan masalah kemacetan, pemerintah pun sudah banyak membangun jalan-jalan baru di wilayah ini. Sebut saja jalan tol Bali Mandara yang diresmikan pada tahun 2013. Jalan tol sepanjang 12,7 km ini merupakan jalan tol di atas air terpanjang di Indonesia yang menghubungkan segi tiga emas, yakni Nusa Dua, Ngurah Rai, dan Benoa—daerah pariwisata yang sudah mendunia.

Tidak hanya jalan tol, pemerintah pun membangun dua under pass, yakni di Simpang Dewa Ruci dan Simpang Ngurah Rai. Baru-baru ini, pemerintah kabupaten Badung telah meresmikan shortcut Canggu – Tibubeneng, jalan dengan panjang 335 meter dan lebar 8 meter dengan harapan dapat mengurai kemacetan di daerah pariwisata. Alih-alih mampu mengurai kemacetan, nyatanya penambahan ruas jalan saja tidak mampu menyelesaikan masalah klasik ini—bahkan cenderung makin parah saja.

Meski realitas berkata demikian, pemerintah tampak yakin dan percaya diri bahwa membangun jalan. Terkini, pemerintah akan membangun jalan tol kedua di Bali, sekaligus akan menjadi yang terpanjang. Jalan tersebut akan menghubungkan Jembrana dan Badung—konon akan mempersingkat waktu tempuh hingga 1,5 jam. Namun dalam konteks pengambilan kebijakan, pemerintah sebagai policy maker tidak hanya memikiran entry strategy—pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dari sebuah kebijakan. Pemerintah juga wajib memikirkan exit strategy—pihak-pihak yang akan kehilangan sesuatu akibat kebijakan. Termasuk di dalamnya adalah kebijakan membangun jalan tol.

Beberapa waktu lalu saya mendapat sebuah cerita dari seorang tokoh yang berasal dari Jembrana. Tokoh tersebut menceritakan kalau pembangunan jalan tol sepanjang 96,84 km ini harus mengorbankan banyak hal, seperti Sanggah Gede, Merajan, hingga pura. Hal ini tentu sangat memprihatinkan sekaligus menggambarkan bahwa keputusan ini tidak didasari dengan pertimbangan-pertimbangan yang bijak.

Mengubah Paradigma

Membangun jalan tentu satu hal penting yang mesti dilakukan, tetapi di sisi lain, ada hal penting yang mestinya dipikirkan dan dilakukan oleh pemerintah—yakni membangun ekosistem transportasi umum. Sayangnya, membangun transportasi umum tidak bisa dilakukan secara parsial. Setidaknya, pemerintah daerah yang berada di wilayah Sarbagita harus dilibatkan—ini dilakukan guna mewujudkan transportasi umum yang terkoneksi antar daerah.

Selanjutnya, memastikan ketersediaan anggaran, termasuk di dalamnya skema pembiayaan seluruh sumber daya yang terlibat di dalamnya. Ketersediaan halte yang representatif, rute yang mampu meng-cover seluruh wilayah, adanya jalur khusus untuk transportasi umum, hingga jumlah armada yang selalu tersedia tanpa harus memaksa konsumen menunggu lama juga benar-benar harus dipikirkan.

Jadi PR berikutnya adalah “political will”. Saya pikir, Bali tidak pernah kekurangan sumber daya intelektual yang dapat dilibatkan untuk merealisasikan ekosistem transportasi umum. Jika benar konektivitas dan integrasi mobilisasi warga berada di bawah manajemen yang baik, maka dapat dipastikan terjadi migrasi besar-besaran pengguna kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

Melihat pernyataan pemimpin-pemimpin yang baru saja dilantik, tampaknya warga Bali harus rajin-rajin mengingatkan para pemimpinnya bahwa selain membangun jalan, penting juga untuk membangun fasilitas transportasi umum dalam rangka mewujudkan Bali yang nyaman ditinggali oleh warga dunia. [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole

  • Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI
Candu Kekuasaan dan Upaya Kangkangi Konstitusi
Perempuan Dalam Politik Indonesia
Meninggalkan “Ngayah”, Melupakan Identitas
Tags: balipemimpin balitransportasitransportasi publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aspek-aspek Penting dalam Tata Kelola Manuskrip Lontar

Next Post

Cepat Terampil “Sor” dan “Singgih” Bahasa Bali

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Cepat Terampil “Sor” dan “Singgih” Bahasa Bali

Cepat Terampil “Sor” dan “Singgih” Bahasa Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co