6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Like Father, Not Like Son

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
February 20, 2025
in Esai
Like Father, Not Like Son

Penulis dan sang anak | Foto: Dok. pribadi

“Ayah, kakak mau sekolah SMA di sini, di kota ini, di sekolah yang sama dengan ayah dulu!“ Begitu tiba-tiba sulung saya mengajukan permintaan kepada saya, bapaknya.

Hari itu kami baru saja usai menikmati acara Car Free Day di seputaran Taman Kota Singaraja. Saat seruas jalan utama ditutup saat minggu pagi, dan segenap masyarakat tumpah ruah di sana dengan segala aktivitasnya. Entah karena suasana kota yang memikat hatinya, atau cerita-cerita saya saat mempromosikan SMA saya dulu.

Setiap ada kesempatan waktu dia bingung akan sekolah di mana dia selepas SMP nanti. Untuk diketahui, saat ini kami berdiam di kota lain, menyesuaikan dengan tempat kerja ayah bundanya, sebuah kota lebih kecil yang berjarak 2,5 jam perjalanan dari Singaraja.

Sulung saya sosok yang disiplin, paling tidak di antara semua saudaranya yang lain. Tanpa perlu menunggu perintah dia akan belajar saat waktunya tiba. Dan hanya akan main HP saat tugas sekolah maupun tugas dari bundanya sudah selesai dikerjakan.

Saat semester awal SMP dia mendapat peringkat terbaik di sekolahnya. Yang sayangnya tak dapat dia pertahankan di tahun-tahun berikutnya. Padahal yang saya amati tak ada yang banyak berubah dari cara belajarnya, tetap disiplin tanpa godaan berlebih dari lingkungan terutama dari gadget.

Saat itulah saya sempat menantangnya, “Kakak, ayah merasa kurang sregg dengan iklim kompetisi di sekolahmu hari ini. Kalau kau ingin tantangan yang sebenarnya maukah kau nanti sekolah SMA di tempat ayah dulu SMANSA Singaraja?”

Lalu saya lanjutkan lagi, “Sekolah yang bercorak egaliter, sekolah yang hanya melihat kemampuan siswanya tak memandang kau anak petani ataupun seorang putra bupati!“

Begitu saya berbusa membanggakan almamater saya. Mungkin ucapan ini yang ditangkap oleh jiwanya, jiwa muda yang ingin tantangan, keras tapi penuh sportifitas seperti yang pernah dirasakan ayahnya berpuluh tahun yang telah lewat.

Ya, begitulah manusia, dia lebih banyak mengingat hal-hal baik dari sebuah situasi dan cenderung ingin melupakan hal buruknya. Masa sekolah saya dulu di Singaraja juga begitu, banyak hal indah untuk dikenang tapi tak sedikit situasi buruk yang ingin saya kubur dalam di sanubari.

Cerita kurang baik ini sudah pernah saya tulis dan kirimkan beberapa ke media online di kota kita dan sampai dimuat biar sempat dibaca oleh khalayak yang luas. Salah satunya berjudul Gegar Budaya Si Anak Udik.  Tulisan itu menceritakan kisah kami si anak kampung yang berasal dari desa nun jauh dari kota.

Kami merasa tak bisa cepat beradaptasi dengan suasana baru, lingkungan baru yang jauh berbeda dengan keseharian kami di kampong. Saya sendiri di awal masa sekolah dihantui perasaan homesick yang parah. Hampir setiap ada kesempatan saya pulang kampung ke pelukan orang tua.

Tingkat kehadiran saya di kelas juga memprihatinkan, hampir 18 kali saya absen tanpa alasan, begitu termuat di rapport semesteran saya. Satu hal yang saya bahas di tulisan itu adalah kondisi terkini hari ini, dari kami alumni SMANSA Singaraja yang kebetulan berasal dari kampung yang sama dengan saya dan usianya juga sebaya dengan saya.

Secara umum mereka yang bisa melanjutkan kuliah selepas SMA menikmati kehidupan yang sukses dan bisa meningkatkan taraf hidup mereka. Tapi pada mereka yang mentok tak melanjutkan pendidikan, mungkin nasibnya tak seberuntung kita.

Seorang teman, adik kelas pas SMA dulu saat ini pulang kampung menjadi petani dan tetap melajang. Satu yang lain sekarang menjadi pasien rutin saya, dengan kesehatan fisik dan mental yang kurang begitu baik.

Penulis bersama anak dan istri di SMAN 1 Singaraja | Foto: Dok. pribadi

Mungkin cerita-cerita begini yang terlewat dari radar kita saat mengadakan reuni besar dulu. Mereka yang tak seberuntung kita, tak mampu lanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi karena kendala ekonomi padahal secara akademis cukup mumpuni. Mereka yang berasal dari pedalaman, yang tiba-tiba mengalami gegar budaya saat pertama tinggal di kota. Hal ini mau tak mau, suka tak suka akan mempengaruhi perkembangan psikologis nantinya, di sisa hidup mereka, betapapun kecilnya.

Barangkali ada baiknya, sebelum kita memilih sekolah kita mempertimbangkan hal-hal begini juga. Selain potensi akademis, kita juga perlu pertimbangkan kondisi perkembangan kejiwaan anak, tingkat kemandirian mereka. Dan yang tak kalah pentingnya juga kondisi ekonomi orang tuanya.

Sayang sekali anak-anak SMANSA yang berotak cerdas dan tak mampu melanjutkan ke bangku kuliah, kenapa tak dari awal mereka memilih sekolah vokasional misalnya. Dan hal hal begini jadi tanggung jawab siapa sebenarnya, orang tua, gurunya di sekolah? Lalu dimana peran pemerintah?

Mungkin terlalu melebar cerita saya. Singkatnya, sulung saya akhirnya sekolah di SMANSA Singaraja, menapaktilasi jejak bapaknya dengan memakai jalur nilai rapport SMP. Dan karena ini adalah permintaannya sendiri, jadi saya anggap saya sudah mempertimbangkan masak-masak untuk mengijinkannya sekolah di sini, dengan konsekuensi tinggal sendiri jauh dari kami kedua orang tuanya.

Setelah berjalan hampir 6 bulan, rasanya semua kekhawatiran saya tak terbukti. Enam bulan dilalui dengan baik, termasuk betah dia tinggal di sini. Dia tak mau sering ditengok orangtua ke sana, dan dalam sebulan tak mesti dapat pulang ke rumah  di Negara, tempat kami tinggal.

Sangat jauh berbeda dengan situasi yang dihadapi bapaknya  seperti tertulis di awal cerita ini.  Dan kalau ada teman-teman yang baca tulisan ini dan kebetulan bertemu dia di almamater kita, mungkin tak menyangka bahwa dia adalah anak saya.

Begitu masuk tahun ajaran baru, dia terpilih menjadi ketua kelas, sesuatu yang tak mungkin berani dilakukan bapaknya dulu. Beberapa saat kemudian dia mewakili kelasnya acara fashion show dalam rangka ulang tahun sekolah. Lalu terpilih lagi jadi ketua regu saat kemah akhir pekan sekolah di Desa Menyali. Beberapa hal yang rasanya mimpi untuk bisa saya lakukan saat SMA dulu.

Dan  terakhir yang membuat saya tak merasa cukup punya nasehat lagi untuknya adalah cerita istri beberapa hari yang lalu.

“Bunda, Kak Abi kemaren nembak teman cewek, tapi sayangnya ditolak!” Begitu curhatnya pada sang ibu.

Ya Tuhan, anak saya sudah jauh lebih progressif dibanding saya saat seusia dengannya. Bapaknya jangankan nembak cewek, ngomong sama teman wanita sudah gemetaran. Akhirnya memang begitu, like father, not like son. Kita kadang terlalu under-estimated pada anak-anak kita. Padahal kita belum tentu mampu lakukan apa yang mereka kerjakan saat seumuran mereka. Mudah-mudahan para sahabat banyak yang bernasib baik seperti saya. Tabikkk. [T]

Penulis: dr. Ketut Suantara
Editor: Adnyana Ole

Nasehat Seorang Kutu Buku Kepada Anak Lelakinya (Yang juga Mencintai Buku)
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa
Cerita Inspiratif Tentang Guru (Guru Saya)
Tags: anak-anakPendidikanSMAN 1 Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam

Next Post

Lontar, Generasi Muda, dan BBB 2025

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Lontar, Generasi Muda, dan BBB 2025

Lontar, Generasi Muda, dan BBB 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co