14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demokrasi dan Tantularisme

I Wayan Westa by I Wayan Westa
January 29, 2025
in Esai
“Tajen”:  Dari I Pudak, Marakata, hingga  Geertz

I Wayan Westa

         // Tantular, dialah sesungguhnya Bapak Pluralisme  dari zaman Majapahit yang melahirkan kata tua Nusantara, menggoreskan sesanti perajut keragaman: bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa//   

SUATU hari, di sebuah jejaring sosial saya menemukan sebuah pamflet “nirmaya”, ajakan untuk satu “perjuangan” yang monolitik, yang amat keras untuk menyatakan perang pada pluralisme. Seakan-akan pluralisme itu barang haram. Saya tidak terkejut di sebuah negara yang menganut paham demokrasi,  ini pastilah suara yang sah-sah saja.

Namun bukankah senyatanya asas dasar persatuan  Nusantara itu dibangun  dalam  semangat pluralisme. Dan peradaban kita juga dirajut   dari  geo-kultur   begitu  beragam. Mosaik dengan warna-warni memesona. Nusantara dibangun dari  ratusan suku, ratusan bahasa daerah, puluhan keyakinan “animisme Nusantara’, yang sampai kini tetap hidup, dengan kekhasan adat yang unik. Satu indigenous yang kelak kemudian  menjadi gen  peradaban Nusantara.

Masih terang kita ingat, kejadian  di Balinuraga, Lampung , perusakan rumah ibadah di Jogjakarta, perusakan Pura di kaki Gunung Rinjani, hingga rasisme yang membuat darah mendidih. Korban pun berjatuhan, dan negara kerap terlambat hadir. Rasa takut  entah dilindungi  oleh siapa?   Rasa aman entah didapat dari mana?

Ini pertanyaan besar yang mesti segera dicarikan solusi.  Karena di situ,  rasa “kekitaan”  telah apus, tanpa sadar  kita menyandarkan  diri pada doktrin-doktrin kaku,  tidak lentur menghadapi perubahan zaman, menjadi pengalang bagi nyala jiwa. Kita tidak sadar bahwa akar dari peradaban yang  terus betumbuh adalah pluralisme yang hidup. Di situ, dalam keanekaragaman kultur  lahir semangat untuk merawat, merangkul semua, sebagai bagian hidup bersama. Semangat untuk menegakkan, memuliakan ayat-ayat kemanusian. Dan jadilah Nusantara sebagai langit bersama di mana semua keyakinan, seluruh identitas kultural  dan agama  menjadi anyaman mosaik daya budi kebangsaan nan megah.

Apa yang kita perlu pelajari kemudian  dari Bali? Bali adalah persemaian pluralisme yang mesti kita rawat terus-menerus, karena  denyut sejati Nusantara kecil itu cuma bisa dirasakan di pulau mungil ini. Di sini segala ras, suku, agama bisa hidup berdampingan. Kelenturan serta sifat adaptif kebudayaannya memungkinkan Bali melakukan semua itu. Kendati setelah dua kali dentuman bom, orang Bali terpaksa “diajari” curiga pada pendatang.  Slogan perlawanan  dengan motto “ajeg Bali” pun muncul, bak lagu “hit”  melambung popular, di mana akhirnya redup dalam hiruk-pikuk pesta, upacara, lingkungan yang rusak,  deraan korban HIV AIDS, korupsi, kemiskinan, serta kian langkanya lapangan kerja di Bali.

Tentang toleransi, kerukunan, penghormatan pada mereka yang berbeda  bukanlah sesuatu yang dilakoni setengah hati orang Bali. Ungkapan “manusa pada”, yang dimaknai sebagai manusia sebumi memberi rujukan penting tentang arus utama cita-cita orang Bali. Cakrawala ini melampaui pandangan sempit tentang “penjara-penjara” ras, agama, dan suku dan ego kultural lainnya. Simak jua madah-madah pujian yang dilantunkan para pendeta saat memuja surya saban pagi, bukankah mereka mendoa untuk kerahayuan tiga dunia; bumi-langit-akasa.

Melihat Bali  lebih intim, segara tergambar di benak,  bahwa dalam spirit itu orang Bali memandang yang  berbeda itu sebagai “nyama” bertemali doa-doa yang dilantunkan saban hari itu. Kata “nyama” bukanlah ungkapan bersayap,  sekadar tata krama, alih-alih  basa-basi semata. Kendati belakangan diakui, kosa kata ini dinodai pikiran teramat  kumal, anti kerukunan, anti kebhinekaan. Dan jujur Bali juga tak kurang gelap dirajam tragedi kemanusian yang  kerap amat akut  ̶  mulai dari konflik raja-raja setelah  monarki Gelgel melemah hingga tragedi tahun 1965.

Namun ada yang tak pernah  padam di Bali,  ia tak membiarkan dirinya menjadi paria dengan cara menolak perbedaan, tentu. Pulau ini sudah sejak zaman silam menjadi rumah para penjunjung nilai kemanusiaan. Di sebuah dusun kecil, Budakeling, desa yang terletak di ujung timur Kabupaten Karangasem, orang bisa mencatat banyak hal tentang semangat ke-Nusantara-an.

Di situ terperlihara semangat yang tidak dibalut  kepentingan  suku, ras, dan agama. Bahkan ada cerita paska Gunung Agung meletus, para brahmin di Budakeling ikut menyokong pembangunan rumah ibadah saudara Muslim yang rusak.

Namun dalam perjalanan sejarah, monoteisme bolehlah dituduh  sebagai pandangan yang  merengut banyak korban. Bagaimana tidak, agama formal misalnya;  turut menscrening agama-agama asli Nusantara untuk “dimodernkan”  dengan agama yang lebih realistik, monoteistik,  di mana negara berperan besar meregulasi jadi serba seragam.

Meski diingat bahwa spirit Nusantara yang dibangun raja-raja Majapahit, yang menghasilkan sinkritisme Siwa-Buddha, begitu juga Nusantara yang dibangun raja-raja Islam Mataram tidaklah atas dasar agama. Sebagaimana Nusantara kecil yang masih hidup kini di Bali, ia tidak dibangun atas landasan agama. Nusantara itu sebagaimana disaksikan kini di Bali dibangun dari spirit geo-historis, geo-kultural dengan pengutamaan menghormati manusia sebumi, “manusa pada.” Ini adalah ajaran yang dialirkan para leluhur.

Inilah demokrasi ala Bali, demokrasi yang tak cuma menuntut hak, demokrasi di mana semua orang merasa dihargai sekaligus  didudukan setara. Demokrasi di mana setiap person dihargai sama rata. Praktik real ini bisa kita simak dalam paruman  atau rapat-rapat desa, di mana keputusan ditentukan dari yang terbaik, bukan karena kepentingan penguasa, atau perorangan. Demokrasi ala Bali sesungguhnya demokrasi yang bertujuan menemukan kebenaran tertinggi, kebenaran yang bisa memayungi kepentingan sumua orang, karena di situ tidak ada kepentingan pribadi yang dipolitisi, lalu memaksakan  kebenaran pribadi untuk orang banyak. Lalu muncul demokrasi kepentingan, yang pada akhirnya melahirkan dehumanisasi, penghilangan harkat manusia.

Betapa inti dari demokrasi, bila meminjam kata-kata Nehru, mantan Perdana Mentri India, dalam buku bertajuk, The Legacy Of Nehru (1984); “Demokrasi menyangkut kesamaan kesempatan bagi semua orang, seluas-luasnya, dalam hal penguasaan politik dan ekonomi. Ini juga menyangkut kebebasan perorangan untuk tumbuh dan menjadi yang terbaik menurut kecakapan dan kemampuannya.

Demokrasi melibatkan suatu toleransi terhadap orang lain, dan bahkan terhadap pendapat orang lain apabila mereka berbeda dengan Anda. Demokrasi mencakup suatu pencarian intensif untuk kebenaran tertinggi serta harkat menghargai, memuliakan insan hidup semesta.

Kembali pada pluralisme Nusantara yang sudah dijarit sedemikan indah menjadi mosaik dan pandangan hidup bangsa, kita kemudian teringat Mpu Tantular, dialah sesungguhnya Bapak Pluralisme dari jaman lampau, dari zaman Majapahit yang melahirkan kata tua Nusantara.

Tantularisme menjadi penting kita gemakan kini. Darinyalah pendiri republik ini menggali ungkapan  untuk keragaman bangsa:  bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Tapi perlu dicatat, lebih dari sepuluh tahun Mpu Tantular memikirkan ramuan kalimat ajaib ini. Dari karya pertamanya yang sempat kita baca, Kakawin Arjuna Wijaya, ia baru menemukan formulasi; kalih sameka [ dua itu sama]. Kutipan lengkapnya  tertulis begini:

Ndan kantênanya haji tan hana bheda sang hyang/ hyang Buddha rakwa kalawan Śiwarājadewa/ kālih samêka sira sang pinakeșți dharma/ ring dharma sīma tuwi yan lêpas adwitiya/ [27.2]

Intinya tidak ada perbedaan di antara beliau/ Sang Hyang Buddha dengan Sang Hyang Siwarajadewa/ keduanya sama, itu yang menjadi tujuan dharma/ baik dalam dharma sima maupun dharma lepas, tidak ada bedanya.//

Tapi sepuluh tahun kemudian, saat  pujangga ini menulis Kakawin Sutasoma, Mpu Tantular menyempurnakan kembali hakikat yang berbeda itu, karena pada intinya yang tunggal itu berasal dari yang banyak, dan yang banyak berasal dari yang tunggal, maka tunggallah itu semua.

Begini Mpu Tantular menuliskan:

hyang  Buddha tan pahi lawan Śiwarājadewa// rwâneka dhatu winuwus wara Buddhawiśwa/ bhinêka rakwa ring apan kêna parwanôsen/ mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal/ bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa//

Hyang Buddha itu tak berbeda dengan Śiwarājadewa// Sejatinya dua perwujudan beliau  Buddha dan Siwa/ berbeda konon, tapi kapan dapat dibagi dua/ demikianlah hakikat Buddha dan Siwa, tunggal adanya/ berbeda itu tunggal, tidak ada kebenaran mendua//

Demokrasi Pancasila, demokrasi yang berdasarkan sila-sila Pancasila yang dilihat sebagai suatu keseluruhan yang utuh, boleh jadi diinspirasi oleh semangat egaliterisme dan humanisme modern, namun semangat pluralisme itu sendiri telahir dari  semangat sinkritisme Mpu Tantular, dari satu zaman gemilang bernama : Majapahit, hingga di satu titik  sang pujangga mengingatkan dengan amat sangat; panca sila ya gégén den teki hawya lupa. Pancasila itu patut dipegang teguh, jangan sampai dilupakan.

Tantularisme adalah gen kecerdasan kognisi bangsa ini, cahaya ilmu pemersatu bangsa. Ia tidak mengikat, tapi memayungi seluruh entitas bangsa dalam keragaman yang hidup, dalam jaritan nilai, semangat saling memuliakan, di jalan tunggal zat  maha agung, Ketuhanan Yang Maha Esa. [T]

Penulis: I Wayan Westa
Editor: Adnyana Ole

Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi
“Tajen”:  Dari I Pudak, Marakata, hingga  Geertz
Kumbhakarņa Tattwa
Tags: demokrasiMpu Tantularsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni Menjawab Pertanyaan Kapan Nikah Ala Imlek

Next Post

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Taman Mumbul dan Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Taman Mumbul dan Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking :  Pura Taman Mumbul dan Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co