25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan, Pariwisata, dan Sampah Kiriman   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
January 22, 2025
in Esai
Hujan, Pariwisata, dan Sampah Kiriman   

Aksi bersih pantai di kawasan Gumi Delod Ceking | Foto: Nyoman Tingkat

MUSIM hujan tiba. Banjir mengejar ke mana-mana. Bahkan di Gumi Delod Ceking di kaki Pulau Bali, tidak pernah terbayangkan akan banjir. Paling tidak keyakinan itu bertahan sampai 1990-an. Pada 1996, saya menulis kolom berjudul, “Berlangganan Banjir” di Bali Post untuk merespon banjir di kota Metropolitan Jakarta dan banjir di Kawasan Pariwisata Kuta.  Tidak sedikit pun terlintas di pikiran saya kala itu, bila di Gumi Delod Ceking di Kuta Selatan, yang biasa disebut bukit itu sampai kebanjiran. Yang terlintas di benak saya kala itu adalah banjir urban yang tanda-tandanya dimulai dari pemblokiran tanah dan masifnya pembangunan perumahan yang melambungkan harga tanah sampai ke leke-leke.

Dampak lain dari banjirnya urban ke Delod Ceking yang juga terlintas di pikiran saya kala itu adalah banjirnya sampah yang kian tidak terkendali, seiring dengan makin banyak penduduk pendatang yang membawa budayanya sendiri dan kadang-kadang lupa dengan petuah, “Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”.

Banjirnya pendatang ke Kuta Selatan seiring dengan bergulirnya reformasi dengan produk Pemilu Langsung sejak 2004. Data pemilih 2024, melahirkan 10 legislator di Kecamatan Kuta Selatan, yang sebelumnya hanya 8 orang. Itu artinya banjirnya pendatang ke Kuta Selatan bisa menyumbang suara bagi petualang politik  dan mengundang persoalan sampah yang hingga kini belum tertangani maksimal.

Begitulah musim hujan, selain menyebabkan banjir dan  menyumbang banjir sampah kiriman dari berbagai daerah di hulu menuju objek wisata Pantai Kuta, Legian, Kedonganan, Jimbaran, termasuk Melasti dan Pandawa. Sebagai anak seorang nelayan amatir yang sejak kecil dibesarkan dari laut, saya ingat betul musim hujan selalu banjir sampah aneka rupa. Hal itu juga membuat saya jengkel bila memasang jaring, yang terjaring bukannya ikan, tetapi sampah yang melilit jaring bikin kusut, susah dibersihkan. Cuma saja, kala itu sebanyak-banyak sampah kiriman tidak sampai melibatkan pejabat turun tangan mencari solusi karena memang volume sampahnya masih normal dan umumnya potongan kayu atau bambu dan hanya beberapa botol plastik minuman.

Sampah sehabis hujan di kawasan pariwisata | Foto: Nyoman Tingkat

Banjir sampah ke objek-objek wisata pantai telah membuat sampah Pantai Kuta viral di media sosial yang tampaknya  membuat Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq  bersama Wamen Pariwisata Luh Puspa hadir pada aksi bersih pantai di Pantai Kelan, Kedonganan, dan Jimbaran pada Minggu, 19 Januari 2024.  

Saat itu, masyarakat dari berbagai kalangan umumnya dari birokrat di bawah OPD terkait, termasuk warga sekolah, membanjiri pantai melakukan aksi bersih pantai bersama. Aksi ini tentu tidak berarti secara berkesinambungan, bila kesadaran masyarakat akan budaya hidup bersih belum terbangun terutama dalam membuang sampah. Di sinilah pentingnya pemerintah sebagai guru wisesa hadir dengan kesadaran dan kesabaran mendidik masyarakat yang kian kritis tetapi terkadang cuek dengan masalah di sekitarnya.

Penting direnungkan ajakan WS Rendra oleh guru wisesa sebagai pendidik masyarakat. “Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”.

Ajakan WS Rendra itu menjadi bermakna di tengah masyarakat yang makin  materialistik, hedonis, instan dan makin tunaetika dengan  pola didikan yang masih  paternalistik. Di sinilah pemimpin teladan diperlukan sehingga mengalirkan pikiran jernih sampai  ke hilir. Ibarat air hujan, bila di hulu airnya jernih maka sampai hilir pun juga jernih asalkan tidak ada residu dalam perjalanan air menuju laut. Hulu yang bersih bertemu dengan muara laut yang jernih. Dalam konteks ini, pemimpin  politik  yang dihasilkan melalui pemungutan suara, tidak cukup dengan jaya suara tanpa kekuatan jaya laksana. Satunya pikiran perkataan, dan perbuatan, sesuai dengan ajaran trikaya parisuda. Semesta mendukung.

Aksi bersih pantai di kawasan Gumi Delod Ceking | Foto: Nyoman Tingkat

Begitulah kawasan pantai pariwisata terkenal ketika musim hujan tiba selalu membawa kabar tidak baik akibat sampah kiriman yang menodai citra pariwisata, lebih-lebih dengan adanya video viral tentang kotornya pantai di Kuta Bali. Di satu sisi, hujan menjanjikan kesejukan dan kesuburan bagi pertanian, di sisi lain mengirimi kabar buruk yang tidak terkendali. Mengapa?

Produk sampah rumah tangga dan perusahaan yang bergerak di sektor pariwisata saja sulit dikelola, apalagi sampah kiriman yang jumlahnya dari tahun ke tahun selalu meningkat. Jasa angkutan sampah di sebuah desa adat di bawah payung Baga Utsaha Padruen Desa Adat (BUPDA) pun merasa kewalahan menangani sampah, seperti dikeluhkan Ketua BUPDA Bualu I Wayan Arya yang menangani sampah di Kawasan Nusa Dua dan sekitarnya. “Tempat pembuangan sampah di TPA Suwung tidak memadai lagi, sedangkan produk sampah makin banyak. Lebih-lebih pada musim hujan, sampah kiriman makin tidak terkendali,”  kata I Wayan Arya.

Darurat sampah sesungguhnya tidak hanya terjadi karena musim hujan dengan sampah kiriman, tetapi sudah menjadi keluhan sehari-hari di daerah pariwisata. Ditambah lagi kurangnya kesadaran masyarakat akan arti kebersihan dan kesehatan, maka makin tidak terkendalilah penumpukan sampah. Hal demikian jelas terlihat dan terpotret ketika berbagai hajatan dilaksanakan secara masal dan ramai, setelahnya sampah berserakan. Petugas kewalahan. 

Hujan, pariwisata, dan sampah kiriman saling berkelindan saling menguatkan sekaligus saling melemahkan. Disebut saling menguatkan, karena musim hujan membawa sampah kiriman makin menggunung berkoloni menyatu membuat persatuan sampah ibarat wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai secara komunal.

Bersatunya sampah-sampah itu telah mengundang petinggi negeri untuk turun bersama masyarakat merapatkan barisan memperlakukan sampah dengan perikesampahan sebagaimana manusia dengan perikemanusiaannya. Walaupun sampah itu benda mati, ia pun  perlu disampahkan dengan baik dan benar sehingga tidak menimbulkan disharmonis yang mengundang berbagai jenis penyakit. Waspadalah !

Disebut melemahkan karena kehadiran sampah-sampah itu menodai keindahan kawasan yang membuat wisatawan tidak nyaman. Jika wisatawan tidak datang, kekhawatiran pun menghantui. Pendapatan Asli Daerah (PAD) turun. Kesejahteraan makin utopis. Begitulah, pariwisata ibarat pedang bermata dua dan rentan dengan pencitraan. 

Aksi bersih pantai di kawasan Gumi Delod Ceking | Foto: Nyoman Tingkat

Diperlukan kesadaran dan kesabaran bersama mengedukasi masyarakat dari atas ke bawah secara bersama-sama. Soal sampah tidak perlu teori dan diskusi sampai berbuih-buih seperti ombak yang buihnya tidak akan pernah hilang. Yang diperlukan adalah tindakan nyata, bukan serimonial yang formalitas. Budaya formalitas sebagai bagian dari budaya ABS (Asal Bapak Senang) bukan solusi di tengah masipnya aneka persoalan : sampah, banjir, kemacetan, kerusakan lingkungan, robohnya langit akhlak.

Sekali lagi diperlukan matahari kesadaran dan bumi kesabaran sebagaimana WS Rendra mengingatkan. Kuncinya bergantung pada pendidikan. Bukankah hujan adalah materi pelajaran untuk melihat fenomena alam yang bersiklus? Bukankah pariwisata adalah kajian dalam pendidikan untuk melihat perjalanan healing yang mestinya membuat makin eling? Bukankah sampah kiriman adalah materi pelajaran yang mengasyikkan bagi siswa yang kreatif inovatif mencari solusi? Bukankah pendidikan adalah solusi terhadap persoalan masyarakat dan lingkungannya?

Pertanyaan reflektif itu memerlukan  jawaban para pembelajar yang berkecerdasan. Cerdas memahami hujan, pariwisata, dan sampah kiriman. Tanpa demikian, yang tersisa hanya sampah masyarakat. Jangan sampai! [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain tentang JATILUWIH
  • BACA artikel lain dari penulis  NYOMAN TINGKAT
Segitiga Emas Pariwisata Bali Era Baru 
“Matirtayatra” ke Kawasan Pariwisata Religius Agraris: Pura Batukaru dan  Jatiluwih  
Mengintegrasikan Pertanian dan Pariwisata, Kurikulum Agrowisata Berkelanjutan untuk Masa Depan
Tags: banjirPariwisatapariwisata baliSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pelukan Orang Tua kepada Anaknya, Sederhana dengan Dampak Luar Biasa

Next Post

Mengenal Politik Uang Dalam Demokrasi Elektoral di Indonesia

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Mengenal Politik Uang Dalam Demokrasi Elektoral di Indonesia

Mengenal Politik Uang Dalam Demokrasi Elektoral di Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co