26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Matirtayatra” ke Kawasan Pariwisata Religius Agraris: Pura Batukaru dan  Jatiluwih  

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
January 20, 2025
in Tualang
“Matirtayatra” ke Kawasan Pariwisata Religius Agraris: Pura Batukaru dan  Jatiluwih  

Matirtayatra ke Kawasan Pariwisata Religius Agraris: Pura Batukaru dan Jatiluwih

SEORANG teman dari Jawayang sudah berkali-kali ke Bali, berujar, “Setiap sudut Bali istimewa. Ada saja sudut lain istimewa setiap saya datang ke Bali”. Ujaran itu tidak saja datang dari mereka yang berasal dari luar Bali, tetapi juga datang dari orang Bali sendiri yang belakangan tampak makin banyak bertualang dan mengeksplorasi alam Bali. Hal itu bisa dimaklumi karena Bali punya kearifan lokal berbasis desa, kala, patra yang melahirkan tradisi dan budaya yang berbeda.  Oleh karena orang Bali tidak punya tradisi berwisata, mereka menjadikan tradisi bertirtayatra sebagai ajang mengeksplorasi alam dan budaya Bali. Inilah kelebihan orang Bali berwisata, bersenang-senang sekaligus memburu ketenangan, menyeimbangkan sekala-niskala.

Begitu pula saya rasakan ketika bertirtayatra bersama keluarga besar SMAN 2 Kuta Selatan ke Pura Batukaru di Kecamatan Penebel Tabanan, Jumat 17 Januari 2025. Walaupun beberapa kali ke Pura ini, ada hal-hal keistimewaan yang sebelumnya belum sempat saya rasakan. Barangkali karena cuaca cerah, saya dapat menikmati perjalanan dengan pengamatan  lebih intens termasuk melihat wilatah tempat kami tinggal di Gumi Delod Ceking (wilayah perbukitan di Kuta Selatan, Badung) dari kawasan Gunung Batukaru. Hal itu mengingatkan saya pada  perjalanan dan perjuangan  ayah dan ibu  sebagai pengalu, maurup-urup ke gunung membawa garam dan gerang. Sampai akhirnya kearifan Melayu membetot pikiran ; Asam di gunung, garam di laut bertemu dalam belanga.

Memasuki Desa Wanasari menuju Pura, suasana alam pedesaan mulai terasa lebih-lebih mendekat ke Pura, Gunung Batukaru tampak menyapa dengan ramah penuh berkah cuaca cerah. Sungguh indah hijau memukau. Udara bersih dan kicau burung bersahut-sahutan menyapa. Saat menuju Beji disajikan kolam indah nan tenang dengan ikan aneka warna besar kecil tampak riang gembira, seolah berujar, “Selamat Datang Pemedek di Tamanku”.  

Di kawasan Pura Batukaru | Foto: Nyoman Tingkat

Pancuran tempat melukat sejuk menyegarkan sebelum rombongan bersembahyang ke Utama Mandala yang dipimpin Jro Mangku Taksu. Beliau sudah ngayah sebagai pemangku selama 22 tahun. Sebelumnya, ia adalah undagi yang karyanya sampai juga ke Delod Ceking.

“Tiang pernah mengerjakan jineng, di Bukit  Pecatu,” katanya.

Begitulah, pemangku yang mengampu para bakta dari berbagai daerah di Bali dan luar Bali, memiliki ilmu undagi yang diperolehnya secara alami otodidak dan bertaksu. Tanpa melewati fase pendidikan formal berbasis SKS. Ia lakoni dengan tulus, seken pasaja sajan.

Sebagaimana diketahui umat Hindu pada umumnya, Pura Batukaru adalah salah satu Pura Sad Kahyangan. Lima pura yang lain yang masuk Sad Kahyangan adalah Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Uluwatu, dan Pura Pusering Jagat Pejeng. Sebagaimana Pura Sad Kahyangan lainnya, Pura Batukaru yang terletak di Desa Wangaya Gede juga punya keistimewaan.

Pertama, di  posisi barat laut dalam arah mata angin versi Pulau Bali dalam konteks Padma Bhuana secara turun-temurun diyakini tempat pemujaan dan pemuliaan pada tetumbuhan dengan Dewa  Sangkara. Pujawali di Pura ini bertepatan dengan Kamis Umanis Dungulan (Umanis Galungan). Upacara pujawai di Pura ini dipuput “ atau ‘dipimpin’ oleh Pemangku Jro Kubayan, bukan Ida Pedanda seperti umumnya desa-desa lain di Bali.

Kedua, sebagai tempat pemujaan, Pura Batukaru sama dengan nama gunung tertinggi di Kabupaten Tabanan, Gunung Batukaru dengan segara-nya Tanah Lot yang terkenal dan monumental menjadi pusat spiritual Hindu sekaligus menjadi objek kunjungan utama wisatawan luar Bali.

Ketiga,  tradisi ngaben di Desa Wangaya Gede seputar Batukaru tanpa pembakaran mayat, sebagaimana desa adat di Bali pada umumnya. Tidak hanya di seputar Batukaru orang ngaben tanpa pembakaran mayat, tetapi juga orang-orang di Gumi Delod Ceking. Secara turun-temurun diyakini oleh orang-orang Delod Ceking, asap pembakaran mayat itu dapat membuat leteh lebih-lebih dekat dengan Pura Sad Kahyangan Uluwatu, di posisi barat daya dalam perspektif Padma Bhuana. Barangkali demikian pula alasan umat Hindu seputar Batukaru tidak membakar mayat saat ngaben.

Para pemedek yang bersembahyang ke Pura Batukaru dapat mengeksplorasi wilayah yang juga memukau sebagai objek wisata yaitu Subak Jatiluwih yang sudah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya dunia  oleh Unesco sejak 2012. Jarak tempuh sekitar 15 menit dari Pura Batukaru melewati jalan desa dengan suasana pegunungan sejuk dan segar. Tidak bising tidak macet tidak ramai. Cocok untuk healing memperkuat rasa syukur dan  eling. Bahwa setiap sudut Bali inspiratif dan istimewa benar adanya.

Sebagai objek wisata alam, Desa Jatiluwih menawarkan alam persawahan yang luas berterasiring dengan panorama alam pegunungan Batukaru. Desa wisata ini  meraih predikat salah satu desa wisata terbaik Best Tourism Vallage 2024 oleh United National Tourism Lembaga di bawah PBB. Hamparan sawahnya yang hijau memukau menyajikan pemandangan yang indah memanjakan membuat tetamu betah.

Saat kami bersama rombongan ke Jatiluwih menikmati kopi sore, misalnya tampak sejumlah bule tracking di pematang sawah. Mereka tampak menikmati dengan senang hati. Beberapa penginapan di seputar sawah tampak menyatu secara alami dan sejumlah pendukung fasilitas pariwisata (kuliner tradisional dan modern) juga sudah tersedia. Kuliner dengan cita rasa tradisional Bali dengan karcis masuk perorang sebesar Rp 15.000,00. Harga yang terjangkau untuk berbagai kalangan.

Berpose bersama di depan plang nama obyek wisata Jatiluwih | Foto: Nyoman Tingkat

Jalan menuju kawasan wisata Jatiluwih dari Pura Batukaru cukup bagus walaupun bus besar tidak bisa masuk tetapi lancar dan nyaman. Apalagi cuaca cerah tidak gerah. Segar dan inspiratif untuk refreshing memanjakan pikiran melepaskan sesaat kesibukan rutin di tempat kerja. Sesuai dengan namanya, Jatiluwih memang luih penuh wibawa. Wibawanya perlu dijaga dengan tetap melestarikan alam persawahan sebagai ikon dan menjadi ciri pemerlain yang selalu dirindu para pelancong.

Destinasi wisata spiritual Pura Batukaru dan Jatiluwih dapat disebut sebagai objek wisata religius agraris dengan semangat bertani sebagai akar spiritual masyarakat Hindu Bali. Adanya  ritual mapag toya, mabiukukung, nangluk merana dan ritual lain yang menyertainya dapat menjadi daya tarik wisata yang unik untuk melihat masyarakat Bali memertahankan adat dan tradisinya. Subak dengan tradisi menanam padi sawah juga menguatkan mitos tentang Dewi Sri yang berelasi dengan tradisi ngusaba nini. Pemandu wisata dapat memperkenalkan narasi ini untuk membangun pengetahuan buat para pelancong. Healing-nya dapat, pengetahuan lokalnya masuk. Semangat berpikir global bertindak lokal sebagai bagian konvergensi budaya teraplikasi.

Begitulah Pura Batukaru yang berdekatan dengan Subak Jatiluwih saling dukung dan saling menguatkan. Dengan semangat cenik lantang dalam pengelolaan Subak Jatiluwih sebagai objek wisata kelas dunia dipadukan dengan semangat religius menguatkan spirit para pemedek tangkil ke Pura Batukaru akam memberikan vibrasi yang positif. Pada akhirnya akan meninggalkan kenangan positif dan rindu untuk kembali. Sayangnya, di sekitar kawasan Pura Batukaru belum tersedia kantin untuk melayani kebutuhan pemedek/pengunjung untuk sekadar minum kopi. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain tentang JATILUWIH
  • BACA artikel lain dari penulis  NYOMAN TINGKAT
Laklak Beras Merah Jatiluwih: Tradisi dan Inovasi dalam Satu Gigitan
Jatiluwih, Ritus Padi, dan Hal-Hal di Baliknya
Parade Panen Padi, Sebuah Teatrikal Hidup di Subak Tingkihkerep, Tengkudak-Tabanan
Tags: Desa JatiluwihGunung BatukarujatiluwihPariwisatapariwisata balipariwisata religiPura BatukaruSMAN 2 Kuta Selatantabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pendidikan adalah Ibu dari Ilmu Pengetahuan

Next Post

“Green PR” : Strategi Branding Kontemporer yang  Ramah Lingkungan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
0
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails
Next Post
Fenomena Pelari “Kalcer” : FOMO atau Kebutuhan?

“Green PR” : Strategi Branding Kontemporer yang  Ramah Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co