6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Garas Prahmantara dan Kawan-kawan Melukis Tempat Sampah di Denpasar Festival 2024, Jadi Live Mural yang Mengesankan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 24, 2024
in Khas
Garas Prahmantara dan Kawan-kawan Melukis Tempat Sampah di Denpasar Festival 2024, Jadi Live Mural yang Mengesankan

Garas dan kawan-kawannya saat melukis mural di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

BERKALENG-kaleng cat, bertangkai-tangkai kuas, serta beberapa gelas-gelas plastik setia menemani empat pemuda itu. Mereka sudah berjam-jam berada di tengah lapangan Puputan Badung untuk menggoreskan kreativitasnya. Mereka adalah Garas Prahmantara dan kawan-kawannya.

Jika Anda sempat berkunjung ke Denpasar Festival 2024, khususnya di areal Panggung Musik dan Panggung Budaya di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Anda akan menemukan tempat sampah berupa box besar bergambar mural di tiga titik. Mural tersebut dikerjakan oleh Garas dan kawan-kawannya, tepat saat hari pembukaan Denpasar Festival 2024.

Hari itu, Minggu, 22 Desember 2024, Garas dan kawan-kawannya tampak sibuk melukis mural, dari satu kotak ke kotak yang lain. Kala itu, saya tengah berkunjung ke Denpasar Festival 2024, saat festival tahunan kota Denpasar itu dibuka. Ketika berjalan-jalan di seputar areal Lapangan Puputan Badung, saya melihat empat orang pemuda tengah sibuk melukis sebuah kotak besar. Awalnya, saya mengira itu adalah sebuah photobox, kemudian terlintas dalam pikiran saya kalau mereka sedang melakukan live mural, namun kegiatannya tidak tercantum di agenda resmi Denpasar Festival 2024.

Ternyata, itu bukanlah sebuah photobox ataupun live mural, melainkan lukisan yang sedang dikejar waktu. Sang konseptor mural, Garas Prahmantara mengatakan, “Awalnya ini mau jadi surprise gitu. Kalau dari kemarin bisa dikerjakan, pagi hari pasti sudah selesai, agar saat hari pembukaan bisa dilihat oleh para pengunjung. Tapi karena situasi hujan yang gak karuan, mau gak mau malah jadi live mural. Jadinya bonus buat para pengunjung, bisa menyaksikan live mural gratis, hahaha!” Ia mengucapkan itu dengan sedikit tertawa.

Tempat sampah bergambar mural di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan masih sukar untuk dibendung, apalagi saat ada perhelatan festival, pasti sampah-sampah akan berceceran di mana-mana. Salah satu faktornya adalah karena tidak ada tempat sampah yang memadai, atau bahkan terlampau jauh jaraknya dari lokasi acara.

Problematika tersebut tentu menjadi perhatian khusus bagi panitia penyelenggara Denpasar Festival 2024. Menyikapi krisis sampah yang tengah masif menjadi perbincangan belakangan ini, perhelatan Denpasar Festival yang ke-17 kali ini punya cara unik untuk mengelola sampah, yaitu dengan menyediakan tempat sampah besar di tiga titik seputar areal festival, yang tentunya amat mudah dijangkau oleh para pengunjung.

Kotak-kotak besar itu tidak hanya sekadar tempat sampah biasa, tetapi juga menjadi salah satu spot yang menarik untuk dilirik, karena berisi mural yang mencuri perhatian. Tak sedikit pula para pengunjung yang mengabadikan diri dengan berswafoto di depan tempat sampah itu.

Keberadaan tempat sampah itu menjadi menarik karena terdapat mural berupa kartun bertemakan sampah dan peduli lingkungan. Selain menjadi suatu karya seni yang bagus, petugas kebersihan juga tidak terlalu penat berkeliling membersihkan sampah, karena sudah terkumpul dalam satu titik. Para pengunjung juga tak perlu khawatir jika tempat sampahnya penuh, karena ada tiga box besar yang siap menampung segala sampah mereka.

Tentu ini menjadi salah satu solusi agar para pengunjung lebih tertib membuang sampah pada tempatnya. Mengingat tempat sampah yang disediakan amat begitu besar, tidak mungkin jika tidak bisa dilihat oleh pandangan mata.

Garas Prahmantara saat melukis mural di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Garas Prahmantara menceritakan, “Proses pengerjaan mural ini termasuk mendadak, H-1 saya baru diinfo untuk mural di sini. Jadi saya langsung cari beberapa teman untuk membantu, kemudian kita langsung pikirkan konsepnya di lokasi setelah melihat medianya. Ternyata medianya begitu unik, tempat sampah. Bagi saya ini sangat menarik, dan ini pertama kalinya saya melukis tempat sampah!”

Pria lulusan Arsitektur di Universitas Warmadewa ini juga menjelaskan kendala utama dalam pengerjaan mural ini adalah hujan yang tidak menentu. Menurutnya, jika dikerjakan dari H-1 seharusnya mural ini bisa jadi lebih cepat, tetapi karena cuaca yang tidak bersahabat, jadi terpaksa terselesaikan lebih lama, bahkan sampai acara telah berlangsung.

“Ini juga hitam putih karena waktunya terbatas, kalau dapat waktu lebih, ini bisa dibuat berwarna,” ujar Garas sembari menggores kuasnya di tempat sampah itu.

“Satu box ini menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam, jadi hari ini harus segera kami selesaikan semuanya. Sayangnya karena kemarin terkendala hujan, jadinya agak lebih lambat pengerjaannya. Mau gak mau harus ditunda dulu karena hujan, untungnya hari ini hujan hanya sebentar di pagi hari, jadi semoga bisa selesai lebih cepat,” ucapnya dengan penuh harap.

Dalam satu hari, Garas dan kawan-kawannya berhasil menyelesaikan tiga box dengan total melukis 12 sisi. Mereka mengerjakannya sampai larut malam, bahkan sampai hari berganti. Mereka juga mengalami insiden yang tidak terduga, yaitu ketumpahan cat saat melukis. Tetapi, Mereka tak kehabisan akal begitu saja, dengan daya kreativitasnya, mereka mampu mengatasi semua itu dengan sigap. Tumpahan cat itu bisa menjadi seni yang indah di tangan mereka.

Garas menjelaskan, inti dari konsep mural yang dibuatnya adalah bagaimana menarik orang agar mau membuang sampah dengan tertib. Selain itu, ia juga merasa bangga bisa terlibat dalam Denpasar Festival tahun ini. “Walaupun banyak hambatan yang dilalui, jujur saya merasa senang dan bangga bisa terlibat di festival sebesar ini, sekaligus menjadi ajang untuk memperkenalkan karya ke masyarakat,” ujar Garas.

 

Tempat sampah bergambar mural di Denpasar Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Denpasar Festival memang selalu menjadi pesta rakyat yang ramah keluarga. Terutama di hari libur, banyak para pengunjung yang datang untuk menikmati akhir pekan bersama teman, pacar, maupun keluarga. Mereka memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang di perhelatan tahunan kebanggaan Denpasar itu. Apalagi di penghujung bulan Desember dipenuhi dengan banyak liburan. Mulai dari libur pasca rapotan, libur natal, hingga libur tahun baru.

Oleh karena itu, tentu saja volume pengunjung ke Denpasar Festival 2024 bisa dipastikan akan padat setiap harinya. Meskipun curah hujan terkadang tidak bersahabat, tak lantas menyurutkan semangat mereka untuk menikmati festival di akhir tahun. Selain itu, akibat dari ramainya pengunjung yang datang, tentu volume sampah yang dihasilkan perhari dari festival tersebut juga akan melonjak.

Pastinya hal tersebut telah diprediksi oleh panitia penyelenggara. Salah satu upaya pengelolaannya adalah dengan menyiapkan tiga box sampah besar di areal Lapangan Puputan Badung. Selain itu, tempat sampah normal yang lainnya juga disiapkan di berbagai sudut festival, mulai dari Kawasan Catur Muka, seputar Jalan Veteran, hingga seputar kawasan Gajah Mada Heritage.

Bagi Anda yang ingin berkunjung, Anda masih bisa menyambangi Denpasar Festival 2024 sampai tanggal 25 Desember nanti. Akan ada berbagai pertunjukkan budaya, pertunjukan musik, UMKM lokal, kuliner, fesyen, dan masih banyak lagi. Tetapi yang paling penting dari kunjungan Anda adalah, ingat jangan nyampah ya! [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Denpasar Festival: Semangat Warga di Antara Hujan dan Fenomena Solstis
Rentet, Rejang Amustikarana dan Damar Kurung | Sajian Ebano Bali di Denpasar Festival 2021
Gegulakan Gusta Dalam Membaca Layangan Ciptaannya | Diskusi Layang-layang Denpasar Festival 2021
Pameran Buku Ala Kadar – Catatan Kecil untuk Denpasar Festival 2016

Tags: denpasar festivalMuralSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kantin Sela Pohon di Kampus Unnes Semarang, Sebuah Space untuk Bernapas dan Berpikir

Next Post

Karya Ngenteg Linggih Pura Geger Dalem Pemutih     

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Karya Ngenteg Linggih Pura Geger Dalem Pemutih     

Karya Ngenteg Linggih Pura Geger Dalem Pemutih     

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co