24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Bahasa Bali dari Komik Beluluk

Jaswanto by Jaswanto
November 4, 2024
in Esai
Belajar Bahasa Bali dari Komik Beluluk

Karakter Beluluk karya Putu Dian | Foto: Putu Dian

PERIHAL membaca komik Indonesia mutakhir, setidaknya ada empat nama yang saya sukai—tanpa berniat membandingkan komikus satu dengan yang lainnya. Pertama ada nama Aji Prasetyo dengan komik-komik sejarah dan isu-isu sosialnya; kedua, Vbi Djenggotten dengan komik-komik Islaminya, khususnya Islam Sehari-hari, seri 33 Pesan Nabi, 5 Pesan Damai, dan Aku Ber-Facebook Maka Aku Ada; ketiga, Benny Rachmadi dengan seri Tiga Manula-nya; dan keempat, Kurnia Harta Winata dengan Yesus dan Aku-nya.

Dan belakangan, setelah lama tinggal di Bali, saya mulai menyukai komik Beluluk—atau komik Celuluk Bali. Putu Dian Ujiana—saya memanggilnya Bli Dian—adalah otak di balik komik strip yang lucu dan ganjil itu.

Bli Dian memproduksi Beluluk di akun Instagram @beluluk. Di sana kita dapat menikmati banyak hal tentang Bali sehari-hari. Beluluk, tokoh sentral dalam komik Bli Dian, selalu memantik tawa atau setidaknya senyum simpul dan merenung sejenak setelah menggeser-geser cerita yang biasanya terbagi menjadi beberapa slide di Instagram itu. Sebab, tidak saja humoris, tapi Beluluk juga kritis terhadap banyak persoalan manusia Bali. Itu semacam “kenakalan” khas Bli Dian.

Namun, terlepas dari kekonyolan dan kekritisan Beluluk, satu hal yang menurut saya tidak boleh diacuhkan dari komik ini adalah bahasa yang digunakannya. Ya, alih-alih menggunakan bahasa Indonesia macam keempat komikus yang saya sebut di awal, Bli Dian justru memilih menggunakan bahasa Bali sebagai denyut nadinya. Tapi, saya pikir, ini yang justru membuat Beluluk menjadi khas—walaupun mungkin bukan satu-satunya kreator yang melakukan hal tersebut.

Komik Beluluk | Foto: Putu Dian

Tetapi, sebagai, katakanlah, media baru (yang populer), Beluluk dengan bahasa lokalnya ternyata juga cukup membantu saya—mungkin juga banyak orang di luar Bali yang mengikutinya—dalam belajar bahasa Bali—lebih tepatnya bahasa blelengan (Buleleng), sebagaimana Bli Dian menyebutnya—meski tak sepenuhnya bisa dikatakan sebagai satu-satunya sumber belajar.

Tapi belajar bahasa Bali lewat komik Beluluk rasanya lebih mudah daripada belajar mendengar secara langsung, walau setiap orang tentu memiliki kecenderungan yang berbeda mengenai hal ini. Kenapa lebih mudah? Karena tak hanya kata-kata, ada visual (ilustrasi, gambar) yang mendukungnya di situ.

Satu contoh saat Beluluk jualan boneka di pinggir jalan ada kata “garus” yang disebut dalam balon kata. Seandainya tak ada visual Beluluk mengibas-ngibaskan uang di atas boneka yang dijajakannya setelah seorang celuluk tua membeli dagangannya, tentu saja saya tidak akan tahu bahwa garus adalah kata yang merujuk pada frasa “penglaris”.

Adegan tersebut tentu sangat familiar di negeri ini, di mana setelah ada pembeli pertama, penjual akan mengibas-ngibaskan uangnya di atas barang dagangan. “Garus… garus…” atau “Laris… laris…” biasanya juga diikuti ungkapan “laris manis tanjung kimpul—dagangan laris, uang terkumpul”.

Itu hanya satu contoh. Masih banyak hal serupa yang membantu pembaca Beluluk belajar bahasa Bali. Lihat saja sendiri. Misalnya, dalam satu adegan Beluluk kecil dengan teman sekolahnya yang berkata, “Adi mebo puun baju cai ne?”.

Komik Beluluk | Foto: Putu Dian

Sebagai orang Jawa, agak sulit rasanya menerjemahkan ungkapan tersebut jika saja tidak ada ilustrasi yang mendukungnya. Maka gambar yang memperlihatkan ekspresi heran dan aktivitas menutup hidung dalam adegan tersebut menjadi petunjuk terang bahwa “mebo” pastilah merujuk pada kata “bau”. Sedangkan “puun” dijelaskan oleh jawaban Beluluk kecil, “Ee… anu… Mare suud nunu sate.”

Awalnya saya tidak tahu terjemahan “puun” sebelum membaca jawaban dalam balon kata selanjutnya. Setelah mengetahui ada kata “nunu sate”—yang saya ketahui sebagai “memasak” atau dalam konteks ini “membakar”—dalam jawaban Beluluk, saat itulah saya mulai menduga bahwa “puun” merupakan istilah bau yang berkaitan dengan api, bara, atau asap. Puun, bisa jadi sangit dalam bahasa Jawa—atau bau terbakar, hangus, gosong.

Dan ya, di halaman selanjutnya dalam komik strip tersebut, Bli Dian mengunggah video seorang ibu yang ngomel-ngomel sambil mengasapi seragam SD anaknya yang masih basah sementara besok harus segera dipakai sekolah. Untuk kata “puun”, tampaknya tebakan saya benar, atau paling tidak mendekati.

Satu lagi. Ketika Beluluk digambarkan sedang memasak mie, sambil menyangga piring penuh nasi, ibunya bertanya, “Adi sing naar be celeng, Cai?” Dengan santai Beluluk menjawab, “Med, Mek… Sube uling aminggu naar be celeng terus…”. Kata “med” dalam dialog tersebut adalah hal baru bagi saya. Saya tak tahu apa itu med. Tapi karena disambung dengan ucapan “sube uling aminggu naar be celeng terus”, saya menduga bahwa “med” adalah “bosan”—atau semacamnya—dalam bahasa Indonesia.

Jadi, nyaris dalam setiap unggahan di Instagram Beluluk, saya mendapat, setidaknya, satu kosakata Bali. Dan itu lumayan menambah perbendaharaan kata Bali dalam memori saya.

Komik Beluluk | Foto: Putu Dian

Sampai di sini, terlepas dari bahasa yang digunakan, elemen-elemen dalam Beluluk telah menyediakan penceritaan tingkat menengah dan hiburan visual yang dapat memberikan kegembiraan dan informasi kepada siapa saja tanpa memandang usia di seluruh dunia.

Kehadiran komik seperti Beluluk—dan komik-komik lain di luaran sana—saya rasa, diakui atau tidak, bisa dikatakan telah menjadi salah satu media komunikasi yang ikut berperan, langsung maupun tidak, sebagai sarana dalam memberikan informasi-pengetahuan maupun pesan-pesan kritis yang barangkali dapat membuat kita meyadari bahwa masih terdapat beberapa PR di Bali yang perlu diselesaikan—soal lingkungan, misalnya.

Beluluk sebagai media hiburan juga berkembang menjadi media pesan lainnya, seperti iklan promosi, media pendidikan, dan media kritik, dan lain-lain, yang memberikan sebuah suasana baru dalam menyampaikan sebuah pesan.

Selain itu, belakangan Beluluk juga menyuarakan pesan-pesan tentang kebudayaan (warisan dunia seperti subak dan keris) dan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Bali-NTB. Hal tersebut mengingatkan kita pada komik-komiknya R.A Kosasih era 60-70-an yang mempopulerkan warisan dunia wayang lewat cerita komik.

Untuk itu saya berterima kasih kepada Bli Dian—kepada Beluluk, dkk.[T]

Putu Dian Ujiana, Kapal Pesiar, dan Komik Beluluk yang Ikonik
Di Bali, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Menjadikan Subak Sebagai Game Inovatif
Tags: Bahasa BaliBelulukKomik BelulukPutu Dian Ujiana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dharma Wiweka Sang Guru Menuju Jaya Sadhu    

Next Post

Serunya Lomba Ngibing PSB Buleleng: Dari Gaya Merayu Cewek, Odong-odong, hingga Macan Tutul

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Serunya Lomba Ngibing PSB Buleleng: Dari Gaya Merayu Cewek, Odong-odong, hingga Macan Tutul

Serunya Lomba Ngibing PSB Buleleng: Dari Gaya Merayu Cewek, Odong-odong, hingga Macan Tutul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co