23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menimba Ilmu Lele di ”Uma Lele”: Ini Bukan Lele Biasa

Dewi Yudiarmika by Dewi Yudiarmika
September 20, 2024
in Khas
Menimba Ilmu Lele di ”Uma Lele”: Ini Bukan Lele Biasa

Gede Suta Suryantaya, bos lele di Uma Lele, jalan menuju pantai Penimbangan Singaraja | Foto: Dewi

COBA dijawab, pecel lele yang biasa kalian makan di warung tenda tepi jalan itu berasal dari mana? Makanannya apa? Perkembangbiayakannya seperti apa?

Kemukinan besar kalian tak bisa jawab. Yang penting pecel lele itu enak, biasanya tak peduli kita lele-nya berasal dari mana, dan apa makanannya.

Saya juga begitu. Namun, belakangan saya tahu, setelah saya secara kebetulan berkunjung ke sebuah kolam lele di Buleleng.

Mungkin  ini yang dinamakan sekali  mendayung, dua-tiga pulau terlampaui. Niat hati sebenarnya ingin membeli benih lele, malah include dengan pengetahuan tentang lele.

Iya, lele dagingnya lembut dan kaya protein. Bahkan jika mengonsumsinya, kita sudah memenuhi 18 gram protein setiap harinya, yang setara dengan 26% kebutuhan harian. Jarang dan mahal pasti ini.

Jadi, saya dan tiga teman lainnya menyambangi peternak lele di wilayah kota Singaraja. Tepatnya jalan menuju Pantai Penimbangan.

Jujur, kalau bukan karena P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila), saya tidak akan tahu lokasi peternak lele, bagaimana caranya merawat, jenis, dan kasiat lainnya.

Oya, sebenarnya projek kali ini (yang dilakukan di SMP Negeri 4 Singaraja) adalah budidaya lele, hidroponik, kompos, ecoenzym, ecobrik, dan wajah plastik. Nah, karena saya dan tiga teman ini bagian dari penanggungjawab budidaya lele dan hidroponik, maka kamilah yang survey langsung ke lokasi.

Berpose berama bos lele di Uma Lele | Foto: Dewi

Kita kembali ke topik. Saat ini saya hanya ingin bercerita tentang lele. Ingat, le-le. Bukan yang lain.

Kenapa hanya lele? Karena hanya peternak lele-lah yang berhasil saya datangi, yang lain belum. Haha.

Tapi, teman-teman. Saya bukan promosi. Melainkan ingin membagikan pengetahuan yang barangkali kalian butuhkan juga. Atau mungkin kalian lebih dulu tahu dibandingkan saya? Jika iya, saya nobatkan kalian sebagai ”Duta Lele”.

Oke, lupakan soal perdutaan. Jadi begini. Dulu hingga sekarang, ketika mendengarkan kata lele, yang ada di pikiran saya (khususnya) adalah hewan yang hidup di sepiteng. Kalian tahu sepiteng, ’kan? Iya, tempat pembuangan akhir tinja.

Pikiran itu berawal dari video-video tak bertanggungjawab yang tidak sengaja saya tonton di media sosial. Video itu memperlihatkan hewan ini dengan ganasnya memangsa sebuah benda kuning yang mengambang. Bahkan parahnya, saya pernah tak sengaja menonton video bentuk WC jongkok yang di bawahnya terbuka dan memperlihatkan ribuan lele.

Saya lupa video itu sumbernya dari mana. Dulu hanya melihat lalu saya lewati. Sekali lagi saya mohon maaf jika salah karena memang begitulah  yang saya lihat.

Nah, itu baru lele yang hidup. Bagaimana dengan pecel lele yang ada di warung-warung itu? Saya tidak meng­-judge lele yang dimasak itu adalah lele yang tadi saya ceritakan. Tapi mohon maaf, secara naluriah, pikiran saya terdoktrin ke sana. Lihat, betapa tidak bertanggungjawabnya video-video tadi itu. Padahal siapa tahu jika saya makan lele, saya jadi pintar.

Hal baik yang saya dapatkan dari peternak lele adalah edukasi. Peternak lele itu memberitahu tentang jenis lele, cara merawatnya, dan printilan-printilan lain yang berhubungan dengan lele. Lele yang ia pelihara bukanlah sembarang lele. Ini patut untuk dikonsumsi.

Nah, kalau lele yang saya ceritakan, yang saya tonton di video-video itu adalah lele sampah. Jadi, sebaiknya itu jangan dikonsumsi. Tapi kalau sudah terlanjur, yasudahlah. Sebelum lanjut ada baiknya saya ceritakan pula kenapa di sebut lele sampah.

Menurut informasi yang saya dapat, lele sampah adalah lele yang memakan kotoran, sayur, bahkan bangkai tikus yang digeprek atau dicincang terlebih dahulu.

Padahal sebenarnya, makanan lele adalah kosentrat. Itulah sebabnya ada lele grade 1 dan grade 3. Yang termasuk lele grade 3 adalah lele pemangsa kotoran, sayur, dan sejenisnya. Sedangkan lele grade 1 adalah lele yang memakan kosentrat dan dirawat dengan prosedur yang sebenarnya.

Kualitas dagingnya pun berbeda. Lele grade 3 memiliki tekstur daging yang tebal, banyak lemak, dan akan menciut jika sudah digoreng. Sementara lele grade 1 memiliki kualitas daging yang tebal, keset, dan memiliki protein yang tinggi.

“Bagaimana cara memberi makannya?”

Ternyata dan ternyata, waktu makan lele sama seperti manusia.  Ada waktu sarapan pukul 08.00, makan siang pukul 13.00, makan malam (maksimal) pukul 20.00, dan snack time pukul 16.00.

Sebelum memberikan makan ke lele, kosentrat harus ”dibibis” dulu. Direndam dengan air selama 5 menit agar mengembang. Jika langsung diberikan, perut lele akan meledak karena makanan mengembang di dalam perut.

Jangan salah, lele juga rakus, loh. Maka ketika snack time makanan yang diberikan jangan terlelu banyak. Namanya juga snack, ’kan?

Lele di kolam Uma Lele | Foto: Dewi

Hal lain yang baru saya ketahui juga adalah bahwa lele itu tipikal hewan yang gampang stres. Mereka tidak bisa dipindah sembarangan. Cukup diamkan di satu tempat dan kuras airnya paling tidak seminggu sekali. ”Kenapa harus dikuras? Bukannya lele makan lumut-lumut kolam?”

Nah, ini keliru. Air endapan itulah yang bahaya dan menyebabkan bau busuk. Kenapa busuk? Karena ada moniak yan harus dibersihkan paling tidak seminggu sekali. Jangan sampai lele berdiri seperti orang yang sedang upacara baru dibersihkan, ya! Tentu itu sangat tidak baik.

Berbicara soal air. Air yang digunakan pun bukan sembarang air. Dibandingkan air keran, lebih baik air tanah. Tetapi, zaman sekarang jarang ada air tanah/sumur. Lebih banyak mengalir air PDAM. 

Apakah itu akan menjadi sebuah hambatan? Tentu tidak. Lele tetap bisa diperlihara di rumah. Hanya saja jika itu adalah air PDAM, maka butuh waktu satu minggu untuk menetralisir kaporit yang larut di dalamnya. Jika itu air tanah, butuh waktu tiga hari untuk menetralisir. Berbicara air terbaik, tentu air sungai. Kenapa? Karena air sungai bersirkulasi (mengalir dari sumbernya).

“Lalu jika tidak ada air tanah dan air sungai bagaimana dong?”

Caranya larutkan garam ikan pada ember atau tempat penampungan lelenya nanti. Tunggu tiga hari, air sudah siap digunakan. Nah, ketika memindahkan lele pun tidak sembarang waktu.

Seperti yang disampaikan sebelumnya, bahwa lele adalah tipikal hewan yang gampang stress dan butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Maka, waktu yang baik dalam memindahkan lele (dari penjual ke pembeli) adalah pagi atau malam hari. Pastikan lele tidak diberi makan dulu karena akan dimuntahkan lagi ketika berada di tempat yang baru.

Tidak cukup sampai di sana. Setelah dipindahkan, jangan langsung diberi makan. Lele baru bisa diberi makan esok harinya. Lumayan lama ya puasanya. Hihi. Itu jugalah yang menjadi alasan ketika membersihkan kolam lele yang dituang adalah airnya, sedangkan lelenya biarkan ada di tempat (jangan dipindah-pindah).

Lalu banyak yang bilang, di atas kolam/bak itu harus ditutup. Kalau tidak nanti akan kepanasan dan menyebabkan penyakit pada lele tersebut. Ternyata, itu juga keliru. Justru lele suka terkena sinar matahari langsung. Kalaupun di atas lele itu akan ditanam sayuran kangkung hidroponik, tetap harus di bawah sinar matahari.

Nah, begitulah kira-kira owner ”Uma Lele”, Gede Suta Suryantaya, memberikan edukasi seputar lele yang bisa saya cerna. Kalau ada yang keliru, tolong direvisi.

Gede Suta Suryantaya sangat ramah dan tidak pelit ilmu. Sekali lagi Ini bukan ajang promosi, ya. Tapi kalau beli lele di tempat Bapak Suta ini sepertinya tidak akan rugi. Kalian cukup membawa uang Rp. 26.000 kalian bisa mendapatkan 5 ekor lele dengan kualitas terbaik. Itu kalau beli 1 kg. Kalau beli banyak, mungkin bisa didiskusikan lebih lanjut. Haha.

Dan bocorannya, dalam waktu dekat Gede Suta Suryantaya akan membuka kedai dengan olahan dasar lele. Apa saja itu? Tunggu  tanggal mainnya. [T]

Kelompok Petani Muda “Boom Sakalaka”, Menjadikan Lele Sebagai Tuan Rumah di Bali
Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Saluran Air dan Ikan Lele
Ramainya Lomba Mancing Air Deras di Desa Padangbulia
Tags: ikan leleperikananpertanianternak lele
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan

Next Post

Membaca Ulang “Ronggeng Dukuh Paruk, Catatan Buat Emak”, Pergulatan Batin Rasus Dalam Menemukan Ibunya

Dewi Yudiarmika

Dewi Yudiarmika

Pernah bergiat di Komunitas Mahima dan kini menjadi guru di SMPN 4 Singaraja sekaligus sebagai sutradara teater sekolah

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Ulang “Ronggeng Dukuh Paruk, Catatan Buat Emak”, Pergulatan Batin Rasus Dalam Menemukan Ibunya

Membaca Ulang “Ronggeng Dukuh Paruk, Catatan Buat Emak”, Pergulatan Batin Rasus Dalam Menemukan Ibunya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co