7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertunjukan “Wanita Dalam Lukisan”: Ekspresi Perempuan dan Imajinasi yang Lain

Son Lomri by Son Lomri
July 24, 2024
in Panggung
Pertunjukan “Wanita Dalam Lukisan”: Ekspresi Perempuan dan Imajinasi yang Lain

Vio dalam pertunjukan "Wanita Dalam Lukisan" | Foto: Son

GURATAN tak beraturan, abstrak, dengan warna hitam dan merah, membentuk figur perempuan pada kanvas putih yang ditempel di pohon mangga itu, menarik perhatian saya. Pola-pola tak berbentuk dan garis-garis aneh itu diciptakan oleh seorang perempuan muda di depan saya secara langsung—dan spontan, improvisasi.

Pola-pola abstrak tersebut mempresentasikan bagaimana kehidupan telah mendera perempuan sejak ia dilahirkan—bahkan seperti tak ada hentinya. Perempuan itu, dengan gerak tubuhnya yang teatrikal, terus mengoleskan kuasnya pada empat kanvas putih berukuran besar itu.

Perempuan tersebut bernama Vincentia Tunjung Sari, seniman muda asal Yogyakarta yang kini bekerja di kantor Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng. Saat itu ia sedang melakukan pertunjukan dengan tajuk “Wanita Dalam Lukisan” dalam acara Festival Kebyar Kasih Pertiwi: Pagelaran dan Eksebisi Budaya Buleleng yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV Bali-NTB selama dua hari, 20-21 Juli 2024 di Taman Bung Karno, Singaraja.

Vincentia Tunjung Sari bersama lukisannya | Foto: Son

Vincent tak sendiri. Dalam performace art itu ia ditemani dua perempuan penari muda yang merespon secara langsung pola-pola ciptaannya. Dua penari itu meliuk-liuk, menguji diri sampai pada batas tubuh. Tubuh keduanya lentur dan liat.

Seorang penonton ikut serta dalam pertunjukan. Penonton itu mencoret lengan si penari dengan tinta hitam. Ia membentuk garis panjang yang tak putus. Ya, dalam pertunjukan ini, penonton bisa langsung terlibat. Ini memang sudah direncanakan. Penonton dapat langsung merespon apa yang Vincent tawarkan.

Walaupun tak semua isi pikiran dapat tertuang dalam kanvas tersebut, tetapi konsep yang sederhana itu telah membuat banyak mata menafsir, menduga-duga, apa makna yang hendak Vincent sampaikan? Atau yang lebih lugu dan mendasar, apa yang ia gambar?

Melalui bentuk titik yang menjadi satu garis utuh bergelombang, Vincent sedang membentuk tubuh perempuan. Itu juga merupakan simbol bahwa perempuan selalu berada dalam bayang-bayang (tantangan) yang kompleks.

Selama dua hari itu, katanya, ia ingin mengisahkan bagaimana perempuan bisa bertahan dari peluru-peluru masalah yang menghujaninya sejak ia lahir.

Dua perempuan yang menari di hari pertama, misalnya, hanya bisa pasrah ketika penonton melukis di tubuh mereka secara langsung dengan kuas—secara bebas. Hal ini menandakan bahwa tubuh perempuan atau perempuan secara sosial dihujam guratan hidup tak beraturan yang bengis—dan tak jarang mereka memilih pasrah daripada melawan.

Dua penari dalam pertunjukan “Wanita Dalam Lukisan” hari pertama | Foto: Son

“Perempuan selalu didera kehidupan, walaupun di dalamnya ada rahim yang selalu melahirkan kehidupan,” ucap Vincent setelah mengangkat kuasnya dari kanvas, Minggu (21/7/2024) sore.

Ya, rahim perempuan memang melahirkan banyak kehidupan. Tetapi tubuh yang dieksploitasi dan penilaian yang didominasi sudut pandang sosial-kultur patriarki, seperti menjebloskan perempuan ke dalam penjara tanpa pintu. Pengap. Dan jika perempuan babak belur, ke mana biasanya ia pergi menangis?

Tabula Rasa dan Imajinasi yang Lain

Seniman perempuan kelahiran Yogyakarta, 30 Maret 1996, itu memandang bahwa, secara tidak sadar, kenyataan di masyarakat perempuan itu bias bahkan nyaris tak dilihat. “Tapi semakin kita gak dilihat, ternyata banyak hal yang menguatkan kita sebagai perempuan. Karena kita perempuan, misalnya, menjadi seorang ibu dan kemudian kita punya anak, dan anak itulah yang menguatkan kita, begitupun sebaliknya,” ujar Vincent.

Dalam pertunjukannya kali ini, pada hari pertama, Vincent mengaku sekadar membuat pola tanpa konsep, mengalir, tak berbentuk. Sebab, Vinsent menganalogikan perempuan pasca lahir layaknya kertas yang masih kosong.

Dian Ujiana, seniman komik “Beluluk”, ikut menggoreskan karya di kanvas Vincent | Foto: Son

“Kita sebagai manusia, sebagai perempuan, dilahirkan seperti kertas putih. Terus kemudian warna seperti hitam, abu-abu, dan garis kompleks, itu seperti alur kehidupan kita yang macam-macam yang kemudian membentuk kehidupan kita seperti apa di masa yang akan datang,” tuturnya.

Orang-orang berkumpul menonton dirinya melukis, seperti tak ada yang berat di kepalanya. Kuas terus mengalir dari satu kanvas ke kanvas lain, menggoreskan tafsiran cukup pelik. Warna-warna tercecer di kakinya tak beraturan. Dua penari itu, di sela-sela menari, penonton lain mencoret-coret tubuhnya, memberi kesan visual lukisan Vincent menjadi tambah hidup. Musik instrumental mengiringi mereka.

Benar-benar pertunjukan yang hidup. Perempuan tamatan ISI Jogja itu seakan melempar dadu rahasia pada satu arena kecil tempatnya melukis melalui gambar. Orang-orang dibuatnya beradu perkiraan sore hari di sana.

Pikiran Vincent berbeda dengan imajinasi laki-laki dalam melukis, yang klise ketika menggambarkan tubuh perempuan—yang nyaris (hanya) mengeksplorasi tubuh perempuan secara indah, mudah ditebak karena eksotis, misalnya.

Sepertu Salvador Dali yang tergila-gila dengan kemolekan—keindahan tubuh istrinya, Gala. Lantas ia melukis istrinya yang cantik itu. Juga sama dengan Picasso yang demikian, entah berapa banyak tubuh perempuan cantik ia penjarakan dalam kanvasnya.

Seorang anak perempuan sedang mencoret canvas | Foto: Son

Hardiman melalui esainya Perkara Tubuh Perempuan dalam buku berjudul “Eksplorasi Tubuh” (2015) memandang bahwa cara berpikir dalam seni—seperti Salvador Dali dan Picasso—adalah salah satu cerminan dari pada ideologi patriarki, yang disadari atau tidak, hal demikian (masih) dipelihara atas nama kebudayaan.

Dan Vincent seolah ingin mengejek cara pandang konvensional seperti itu jika masih ada. Dia berkata, karena hal demikian hanya membawa ke satu ranah seksualitas yang kering, menjatuhkan perempuan pada nilai yang rendah. Perempuan bukan objek seksual semata—juga bukan objek pariwisata tubuh barangkali. “Ada ranah sosial yang lebih berperan yang membentuk perempuan seperti apa, dan itu bukanlah kebebasan,” katanya.

Keselarasan Intuisi Pelukis dan Penari

Secara sosiologis, Vincent ingin mengisahkan sesuatu melalui caranya melukis yang teatrikal. Pula melalui gambarnya yang tak beraturan tetapi dengan warna-warna penuh simbolik, misalnya, ia benar-benar menyatakan sikapnya sebagai perempuan bahwa di balik keindahan seorang perempuan ada seribu penjara baginya.

“Belum lagi di tengah masyarakat perempuan kerap passif secara eksistensinya—tetapi secara kerja-kerja ritual atau sosial, seakan perempuan harus paling terdepan. Dogma-dogma memenjarakan kehidupan perempuan seutuhnya. Tak ada celah,” kata Vincent. “Lukisan ini satu wacana untuk mewakili perempuan dengan lingkungannya,” lanjutnya.

Dari garis-garis yang abstrak, pendek, atau panjang dan melengkung atau lurus ini, mencipta simbol seringkali ada batasan-batasan yang seolah harus diterima seorang perempuan. Perempuan itu harus begini, atau perempuan itu harus begitu. “Dogma dari orang-orang sekitar adalah sesutu yang terus dikonsumsi oleh perempuan, karena hanya itulah yang tersedia barangkali,” ucapnya lirih.

Vio saat menari dalam pertunjukan “Wanita Dalam Lukisan” hari kedua | Foto: Son

Di sudut kanvas di hari ke dua, penari muda bernama Vio (16) asal Denpasar, melempar wajah dingin tanpa senyum. Menatap sayu kehidupan di depannya, meraba kanvas, mendekap tangan yang kemudian tertunduk, ia menutup geraknya. Napasnya terengah seperti hendak menangis.

Tetapi wajah sedihnya itu, wajah dinginnya, ia lempar bersamaan dengan warna-warna tercecer di kaki sang pelukis. Ia menari begitu kincah, tubuhnya yang lentur menghidupkan simbol yang tergurat di kanvas.

Vio menari-nari dengan indah. Mengisyaratkan bahwa dirinya sebagai perempuan sangat kuat, “Apalagi ada seorang ibu yang menyayangi saya, saya semakin kuat walaupun kadangkala hidup ada gak asyiknya,” ucap Vio setelah menari, Minggu (21/7/2024) sore.

Vincent, pelukis asal Jogja itu, mengakui jika Vio telah menjadi vibes positif bagi dirinya dalam melukis di hari itu. Awalnya Vincent akan menggambar begitu kompleks permasalahan hidup perempuan. Cacian warna merah akan mendominasi guratan garis, pula warna hitam itu. Tetapi ia terbawa permainan Vio, gadis SMA asal Denpasar itu, dalam menari.

“Saya baru sadar, walaupun masalah perempuan itu datang bertubi-tubi, ternyata ada cinta sebenarnya. Vio membawa alasan saya untuk mengakhiri pertunjukan ini dengan cinta. Simbol untuk keluarga, anak, suami, ibu, dan lainnya yang memberi dukungan agar perempuan menjadi semakin kuat. Jadi, saya tambahkan warna pink—untuk cinta,” tutup Vincent.[T]

Editor: Jaswanto

Ayu Laksmi dan Nyanyian-nyanyian Pemuja Semesta
Gong Mebarung Wahana Santhi dan Santhi Budaya di Singaraja: Wiranjaya yang Masih Tetap Memberi Pertanyaan
Festival Kebyar Kasih Pertiwi: Ajang Kolaborasi, Ekspresi, dan Apresiasi Kebudayaan
Tags: Balai Pelestarian KebudayaanBPK Wilayah XV Bali-NTBFestival Kebyar Kasih Pertiwi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menepis Simplifikasi MBKM di Perguruan Tinggi

Next Post

Jangan Lihat Sajak Angga Wijaya dari Sisi Dia Penyintas Skizofrenia! — Dari Peluncuran Buku “[Bukan] Anjing Malam”

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

Sasolahan “I Sigir Jlema Tuah Asibak” bakal menutup perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII yang telah berlangsung selama sebukan penuh, 1-28...

Read moreDetails

Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

by Nyoman Budarsana
February 26, 2026
0
Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

LAMPU panggung menyala. Seorang penari perempuan masuk panggung. Ia membaca puisi bahasa Bali. Suaranya menggema dari panggung ke seluruh ruangan....

Read moreDetails

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

MESKI tetap menampilkan suasana magis ala Bali, Drama "Basur" yang dipentaskan Teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan (Smasta) sesungguhnya lebih...

Read moreDetails

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

SANGGAR Nong Nong Kling adalah kelompok seni pertunjukan yang lebih sering mementaskan drama gong, misalnya di ajang Pesta Kesenian Bali...

Read moreDetails

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 21, 2026
0
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

SELASA pagi, 10 Februari 2026, ruang rapat Gedung A lantai 2 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) mendadak berubah fungsi....

Read moreDetails

Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

by Dede Putra Wiguna
February 19, 2026
0
Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

SORE itu, di atas panggung utama, lima penari perempuan berdiri dalam sikap anggun nan tegas. Jemari mereka lentik, sorot mata...

Read moreDetails

Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 17, 2026
0
Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

PESERTA Wimbakara (Lomba) Musikalisasi Puisi Bali serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 di Gedung Ksirarnbawa, Taman Budaya Bali,...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

by tatkala
February 16, 2026
0
Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

DI Bali, seni tumbuh seperti napas: alami, dekat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun tidak semua seni mendapat panggung...

Read moreDetails

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

by Radha Dwi Pradnyani
February 15, 2026
0
Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

DI tengah arus modernisasi dan industri hiburan yang masif, upaya pelestarian kesenian terus dihidupkan melalui berbagai ruang kolaborasi. Salah satunya...

Read moreDetails

‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

by Nyoman Budarsana
February 11, 2026
0
‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

PANGGUNG gelap, kecuali panggung di sisi kiri. Di situ cahaya jatuh pada bangunan berbentuk pondok beratap alang-alang. Di teras pondok...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Lihat Sajak Angga Wijaya dari Sisi Dia Penyintas Skizofrenia! — Dari Peluncuran Buku “[Bukan] Anjing Malam”

Jangan Lihat Sajak Angga Wijaya dari Sisi Dia Penyintas Skizofrenia! -- Dari Peluncuran Buku “[Bukan] Anjing Malam”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co