25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

Son Lomri by Son Lomri
April 21, 2024
in Opini
Nasib Buruh Kita: Menelan Syukur, Menelan Pil Pahit

Ilustrasi tatkala.co

DISADARI atau tidak, fenomena kalimat syukur yang terucap setelah melewati kejadian-kejadian mengerikan, itu biasanya sangat mudah keluar dari mulut seseorang. Semisal, “Syukur hanya tersenggol truk, bukan tertabrak!”. “Syukur anakmu hanya jatuh ke empang, bukan ke laut!” Atau, “Syukur kamu hanya tidak dapat THR, bukan dipecat!”

Padahal hidupnya nyaris celaka. Tapi kalimat-kalimat seperti itu, seakan ternormalisasikan begitu saja dalam kehidupan sehari-hari, dan dianggap sopan tanpa mesti dipertanyakan siapa yang salah? Atau mengapa bisa begitu?

Bagi sebagian orang, pertanyaan-pertanyaan itu barangkali itu kurang enak didengar. Tapi, jika itu tak ditanyakan, setidaknya itu jadi renungan.

Tentang kalimat syukur, bagi temanku, justru dirasakan sebagai derita panjang.  Peristiwa yang berisi kata syukur itu, setahun lalu, meninggalkan begitu dalam trauma dan kebencian kepada dirinya hingga sekarang. Sehingga ia kadang mengganti kalimat syukur menjadi kalimat umpatan di tahun itu—pula sampai sekarang.

Cerita berawal setelah M, temanku, selesai bekerja di salah satu warung serba seafood yang bernuansa kaki lima—tapi harga dan rasa hampir sama dengan restoran ala-ala Cina. Mahal tapi enak. Sehingga setiap hari warung itu tak pernah sepi. Dari sore hingga malam selalu ramai. Tidak terbayang berapa untungnya usaha restoran berkedok lesehan, dan tentu sebuah teknik yang bagus barangkali untuk terhindar dari pajak? Tapi gaji pelit!

Dari jam tiga siang M bekerja, hingga jam dua pagi dini hari barulah warung ditutup. Ia lakukan aktivitas itu seminggu penuh. Memang hari yang sangat berat. Tapi M lakukan dengan suka cita, sebab, pikirnya, sebentar lagi hari raya, sebentar lagi dirinya akan punya cukup uang untuk merayakan Idul Fitri bersama teman-temannya waktu itu.

Setelah seminggu bekerja dan lusa sudah masuk hari raya, diupahlah M temanku sekitar dua ratus ribu. Dengan dingin tangannya menerima uang. Satu hari setelahnya, curhatlah ia kepada teman yang membawanya bekerja setengah mati tersebut, “Kleng! Cuman segini aku dapat!” tulisnya melalui pesan WA.

“Haha..” kelakar temannya membalas pesan.

“Syukuri itu. Kan lumayan buat beli amer, kau, wkwk..” lanjutnya.

“Naskleengg!” umpatnya dengan perasaan kecewa.

Tak hanya itu. Rasa dilema juga datang dari cerita temanku yang lain, tapi dua tahun yang lalu, F, di Banten. Ketika itu lima ratus buruh kontrak terkena PHK secara bertahap di salah satu pabrik di sana. PHK dilakukan secara sepihak oleh perusahaan atas dasar aturan outsourcing.

Lebih kecutnya, temanku F masuk dalam catatan orang-orang yang akan dipecat tanpa pesangon tersebut. Sebelum tanggal tujuh belas Agustus tahun 2022, nasibnya ambyar bersama dengan buruh kontrak lainnya di tengah persiapan pesta bangsanya sendiri.

Padahal, ia termasuk orang yang serius dalam bekerja, seperti datang tepat waktu dan senang berbagi kewarasan ke sesama buruh. Bahkan sesekali ikut di barisan para pendemo untuk menyuarakan nasibnya dan nasib teman-temannya agar dinaikannya upah, dan diberikan THR jika hari raya menjelang. Walau selalu nihil hasilnya itu, tapi setidaknya ia telah berdedikasi kepada bangsa ini: memberi perhatian yang lebih pada pekerja kontrak melalui protes, adalah sebuah bentuk nasionalisme. Walaupun tak pernah dimengerti oleh para pejabat.

Hingga ketika nasibnya sudah di ujung tanduk itu pun, ia masih peduli untuk masuk ke dalam barisan para pendemo—meminta keadilan agar kembali bisa bekerja. Tapi nasib buruk tetaplah nasib buruk. Perusahaan tidak mau tahu. Pemerintah juga tidak mau peduli. Hingga kiamat minor bernama PHK itu tetap saja datang kepadanya dan teman-temannya yang lain.

“Kami menepi dari lautan massa kemudian!” Begitu kata F. Wajahnya begitu muram—berpasrah ketika itu. “Kami memutuskan pergi saja untuk pulang, keluar dari barisan massa, dan nongkrong sebentar melepas penat di tempat biasa kami lakukan jika sore!”

Dari ujung arah timur seorang teman penganggur datang. Aku masih ingat betul jika ia datang seperti biasa menenteng es cekik dan rokok eceran di tangan kanan jika kami sedang berkumpul. Karena tahu persoalan, berkicaulah dirinya dalam obrolan.

 “Halo! Kawanku (penganggur baru), selamat datang di dunia menganggur haha..” katanya setengah bercanda kepada F. “Kamu sih suka ikut tuntat-tuntut, tuntat-tuntut, haduuh.. sudah syukur bisa kerja aja. Dahlah, lain kali. Tak usah idealis-idealis jadi buruh!”

Aku tahu ia mengucapkan itu tak hanya sekadar bercanda, tapi juga sedikit serius. Sebab sudah lima tahun dia menganggur, dan menganggur itu tidak enak. Tapi seakan ada persamaan perasaan antara temanku itu dengan pemerintah melalui kebijakan outsourcing. Seolah-olah ingin memberi wejangan hidup yang sama seperti temanku yang menganggur—tentang sikap bersyukur: jika sudah dapat kerjaan itu, sebaiknya disyukuri saja, jangan demo-demo, dinikmati saja. Bila perlu teruslah, “Kerja, kerja, kerja,,,”.

Sepertinya, kebudayaan “mengucap syukur” di tengah hidup sedang jungkir balik—celaka, secara struktural telah terverifikasi centang biru. Etos kerja yang digaungkan pemerintah melalui kebijakan-kebijakan itu dirasa sangat berhasil—berdampak buruknya bagi buruh kita.

Bagaimana  rasa dan sikap kritis pada setiap buruh kontrak untuk mempertanyakan nasib: kapan ia harus berhenti bekerja karena sudah cukup atau terpenuhi hidup jangka panjangnya; aset, tabungan, dan lain-lain. Menjadi hal yang mustahil dapat ditanyakan mereka karena terhalang kebijakan yang  toxic itu. Sebelum bertanya, mungkin, mereka akan dipecat duluan.

Bahkan belum lama ini, kabar duka datang dari 249 Tenaga Kesehatan (Nakes) yang dipecat oleh seorang bupati atas dasar aturan yang sama; outsourcing. Nakes itu awalnya menuntut kenaikan gaji. Mereka yang dipecat itu tentu non Aparatur Sipil Negara (Non ASN). Yang kisaran gajinya hanya 400 ribu sampai 600 ribu per bulan itu. Alih-alih ditanggapi baik—diubahnya gaji dan nasib menjadi layak, justru gerakan tersebut menjadi petaka bagi mereka.

Bapak Bupati terhormat seakan tidak ingin tahu-menahu tentang kemalaratan nasib para nakesnya yang jika terus kerja kerja kerja itu bisa tipes atau stres.

Dapatlah kita bayangkan begitu horornya kebijakan outsourcing bagi mereka para penyandang pekerja kontrak. Sebab, jika rewel sedikit karena gaji tidak sesuai atau jam kerja yang tidak nyaman. Sang Pimpinan bisa gaskan memecat kapan saja. Tak peduli yang dipecat memiliki tanggungan anak kucing, anak ayam, atau anak manusia yang masih kecil sekakipun. Tetap tak peduli barangkali.

Pada persoalan-persoalan seperti ini pemerintah memang terkesan abai. Selaras dengan Penceramah—yang selalu mengajarkan rasa syukur kepada jemaahnya di samping dirinya memiliki rumah besar, dan seabrek mobil mewah dari berbagai merek. Tapi tidak pernah memikirkan alasan dasar, mengapa seseorang harus bersyukur dan menerima kemalaratan hidupnya begitu saja!?

Suasana dengan sistem kerja yang kian kapitalistik akhir-akhir ini tentu sangat berisiko menghilangkan harkat martabat manusia lain. Lebih-lebih kepada para buruh kontrak, yang rentan—terancam hidupnya tidak memiliki harga diri lagi sebagai manusia. Terjebak pada keadaan “kerja” yang tidak menyenangkan, karena menganggap tidak ada lagi dasar penghidupan yang lain. Harus diterima apa adanya.

Tentu, jika dikaitkan dengan sikap bersyukur: menelan syukur bagi mereka seperti menelan pil pahit tanpa air minum. Kebayang? [T]

  • BACA artikel opini lain dari penulis SONHAJI ABDULLAH
Relevansi Kritik Sosial Lagu “Didi Benjol” Karya Doel Sumbang Pada Era  Pasca Reformasi
Memikirkan Delik dan Hukum Jika Ganja Dipakai Campuran Perkedel, Soto, atau Sambal
Mengaku Dekat Gus Dur, Tapi Menjauhi Pemikirannya
Tags: buruh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Habis Gelap Belum Juga Terang

Next Post

Ketut Buderasih, 81 Tahun, Masih Baca Buku, Tuntaskan Tetralogi Pramudya dan Buku Seno

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Ketut Buderasih, 81 Tahun, Masih Baca Buku, Tuntaskan Tetralogi Pramudya dan Buku Seno

Ketut Buderasih, 81 Tahun, Masih Baca Buku, Tuntaskan Tetralogi Pramudya dan Buku Seno

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co