27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Soekarno Lahir dari Drama Cinta Jawa-Bali yang Romantis

tatkala by tatkala
June 6, 2021
in Esai
Soekarno Lahir dari Drama Cinta Jawa-Bali yang Romantis

Soekarno dan ibundanya -- Rai Srimben

HARI baik, hari ayu, odalan di Pura Bale Agung, Buleleng. Waktu: sekitar 1887.  Dua perempuan dari Banjar Bale Agung, Nyoman Rai Srimben dan Made Lastri, menghias diri sembari bercanda. Sepasang sahabat itu, pada malam odalan yang suci, hendak menari rejang bersama perempuan muda lain di jaba tengah Pura.

Malam itu memang suci. Dan sejarah besar bangsa Indonesia seakan dimulai dari malam yang suci itu. Tubuh Nyoman Rai Srimben, saat menari dengan liuk muda yang gemulai, tiba-tiba ditimpa bunga jepun yang dilontarkan seseorang dari arah penonton.

Ia terkejut. Ia melihat dengan jelas, seorang pemuda dengan wajah yang tak sama dengan wajah teman-teman pemuda di Bale Agung, baru saja melontarkan bunga itu ke tengah arena dan mengenai tubuhnya. Entah kenapa, hatinya seketika tergetar. Ia melanjutkan tariannya dengan rasa gelisah. Ia jatuh hati pada pemuda itu.

Pemuda pelempar bunga itu, Soekemi Sosrodihardjo, adalah pemuda Jawa. Ia datang dari Surabaya, beberapa bulan sebelumnya, setelah ditugaskan mengajar di Sekolah Rakyat di Singaraja. Sekolah itu tepatnya berada di wilayah Paket Agung. Itu memang sekolah dasar pertama di Bali.

Tiba di Bali, pemuda itu langsung jatuh cinta pada Buleleng, pada Bali, pada kehidupan masyarakatnya, pada adat dan budayanya. Ia ternyata juga jatuh cinta pada seorang gadis dari Bale Agung. Sebelum odalan, gadis itu sempat ditemui ketika ia sedang jalan-jalan bersama I Kaler, warga setempat yang adalah teman setianya.

Karena tak yakin bahwa Rai Srimben adalah jodohnya, apalagi gadis itu berasal dari latar budaya yang berbeda, pemuda Soekemi pun bertimbang-timbang dalam hati, bertimbang antara cinta dan keyakinan. Atas petunjuk orang bijaksanalah ia kemudian melontarkan bunga ke arah gadis penari rejang di Pura Bale Agung. Siapa gadis yang tertimpa bunga, itulah jodohnya. Dan restu Tuhan, bunga itu menimpa gadis pujaannya, Rai Srimben.

Yakinlah pemuda itu akan jodohnya. Namun, bagaimana ia bisa menyuntingnya? Bale Agung punya adat yang kuat. Tak ada gadis yang boleh menikah dengan pemuda dari luar Bale Agung, apalagi dari luar Bali. Maka, drama kembali bergulir. Mereka kawin lari. Keluarga Bale Agung marah.

Urusannya pun sampai di polisi dan pengadilan. Tapi, keluarga kemudian menyadari bahwa sepasang manusia yang bersatu karena cinta tak bisa dicerai dengan cara apa pun. Kekuatan cinta itu meluruhkan hati keluarga Bale Agung, dan mereka menerima pernikahan dengan rasa lapang.

Kisah itu adalah kisah awal pertemuan Soekemi Sosrodihardjo dan Nyoman Rai Srimben, sepasang orang tua yang melahirkan Soekarno, 6 Juni 1901. Kisah itu pernah dipentaskan dalam bentuk teater dengan judul Kisah “Cinta Raden Soekemi dan Rai Srimben” oleh Sanggar Bale Agung dan Komunitas Mahima Singaraja di Ampiteater Perpustakaan Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, saat acara Haul Bung Karno, 21 Juni 2016. Selanjutnya, September 2016, dipentaskan lagi dalam format yang lebih kolosal di panggung Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar.

Kisah itu mungkin dibumbui sedikit fiksi. Namun ada fakta yang tak bisa dikarang-karang: bahwa sepasang manusia dengan beda adat, beda suku, beda budaya, dan beda agama, bisa bersatu oleh kekuatan cinta. Awalnya mungkin penuh halangan, namun tak ada yang bisa menebak akhir dari sebuah cinta yang rumit namun terus diperjuangkan.

Sejarah kemudian mencatat Soekemi dan Rai Srimben melahirkan anak pertama, Soekarmini. Setelah pindah tugas lagi ke Surabaya, pasangan itu melahirkan seorang anak laki-laki, tepat 6 Juni 1901. Nama awal bayi itu adalah Kusno, namun kemudian berganti menjadi Soekarno.

Dalam teater yang dipentaskan Sanggar Bale Agung dan Komunitas Mahima itu, kisah ditutup ketika keluarga Bale Agung mendapat surat Soekemi dan Rai Srimben dari Surabaya. Keluarga Bale Agung berkumpul mendengarkan isi surat yang dibaca ayah angkat Rai Srimben. Surat itu mengabarkan bahwa Rai Srimben melahirkan anak kedua, laki-laki, yang biasa dipanggil sebagai Putra Sang Fajar. Keluarga Bale Agung menyambut dengan gembira.

Kita tahu, Soekarno yang lahir dari kisah cinta beda suku dan agama, yang tentu saja agak rumit tapi romantis itulah yang membaca Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Ia disebut Proklamator RI dan Bapak Pendiri Bangsa. (T)

___

BACA ARTIKEL TENTANG SOEKARNO LAINNYA

Soekarno: Pemimpin yang Mendengarkan Ahli Bahasa dan Sastra

Tags: balibulelengcintaIndonesiajawaSoekarno
Share230TweetSendShareSend
Previous Post

“Manual Book” Berkesusasteraan dari Puri Kauhan: Cermin Kehidupan para Cendikia di Ubud

Next Post

Yang Dilakukan Mahasiswa Sebelum KKN: Survey, Rencana Proker, hingga Yakinkan Pacar

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post

Yang Dilakukan Mahasiswa Sebelum KKN: Survey, Rencana Proker, hingga Yakinkan Pacar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co