11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasangan Tradisional : Cinta yang Abadi dengan Tanggungan Depresi

I Putu Angga Ardi Wilyandika by I Putu Angga Ardi Wilyandika
December 25, 2023
in Esai
Pasangan Tradisional : Cinta yang Abadi dengan Tanggungan Depresi

Foto ilustrasi; Google/Internet

PERNIKAHAN menjadi salah satu tolak ukur kedewasaan di pandangan masyarakat, utamanya di Indonesia. Sepanjang tahun 2022, tercatat 1,7 juta pernikahan terlaksana di Indonesia dengan Jawa Barat sebagai provinsi yang paling banyak melancarkan pernikahan, yakni 336.912 (Databooks, 2022).

Terdapat beberapa alasan yang menjadi pertimbangan masyarakat Indoenesia untuk menikah yang diantaranya adalah keamanan dan dukungan sosial. Tak jarang masyarakat Indonesia mempercayai bahwa dengan menikah akan memperbaiki perekonomian mereka (Febriyanti,2017).

Selain itu, faktor lain yang pengaruhi keputusan menikah masyarakat Indonesia yang cukup krusial adalah pertimbangan agama dan budaya. Kita ketahui bahwa Indonesia sebagai negara dengan adat, budaya, dan tradisi yang masih kental dan merupakan negara beragama menjadikan faktor ini merupakan pertimbangan utama dalam menjalin hubungan suami-istri.

Faktor-faktor tersebut merupakan faktor yang menjadi pertimbangan dari pernikahan tradisional. Budaya dan tradisi mengharuskan dua orang laki-laki dan perempuan untuk menikah untuk menghindari sanksi sosial dan Komitmen beragama, mengikuti nilai-nilai keagamaan utamanya dalam hal pernikahan dapat menjadi pencipta kestabilan yang baik dalam mempertahankan pernikahan (Latifa, 2019). Namun bertahan dalam pernikahan bukan menjadi arti bahwa pernikahan tersebut bahagia tanpa kemunculan distress.

Pasangan tradisional atau dalam bahasa Inggrisnya disebut traditional couples merupakan tipe pasangan yang memiliki kemungkinan kecil untuk berpisah/bercerai baik dikarenakan tuntutan sosial, adat, budaya, maupun agama yang dianut (Gottman, 2017). Pasangan mengikuti pola dan norma-norma tradisional yang ada pada masyarakat.

Di Indonesia sendiri, hampir keseluruhan warganya memilih untuk menikah dengan alasan agama dan norma adat tempat tinggal mereka. Contohnya adalah masyarakat Bali, yang mana menikah adalah sebuah kewajiban dikarenakan garis keturunan sebuah keluarga di Bali yang tidak boleh putus (Bilo & Hutahaean, 2023).

Apabila tidak menjalani norma, tradisi dan budaya tersebut, maka akan ada sanksi yang utamanya berupa sanksi sosial untuk mereka yang belum atau memutuskan untuk tidak menikah. Demi menghindari sanksi sosial yang diberikan, masyarakat cenderung akan memutuskan untuk menikah meskipun belum siap ataupun dengan orang yang tidak mereka cintai.

Pasangan seperti ini akan lebih sulit dalam mengatasi konflik rumah tangganya, baik dari segi ekonomi maupun hal lain dikarenakan ketidaksiapan. Ketidaksiapan secara mental juga perlu diperhatikan disini. Individu yang belum siap mengalami perubahan-perubahan yang terjadi pasca-pernikahan akan kesulitan dan menimbulkan konflik dalam diri. Belum lagi menjalani kehidupan perkawinan tidak dengan orang yang mereka cintai. Hal-hal diatas dapat menimbulkan rasa cemas dan depresi pada pernikahan suami-istri.

Tak jarang orang tua yang masih tradisional menilai kesesuaian pasangan dari anak mereka dengan menggunakan ramalan dan astrologi. Beberapa tradisi hingga saat ini masih menggunakan metode ramalan untuk menyatakan cocok tidaknya sepasang kekasih. Masyarakat Jawa tradisional masih menggunakan metode atau pun alat-alat tradisional yang dipercaya dapat meramal kesuksesan pasangan di masa mendatang setelah menikah.

Metode yang biasanya digunakan adalah perhitungan weton. Apabila setelah diperhitungkan weton dari pasangan tersebut tidak pas, maka jika dipaksakan menikah, usia pernikahannya tidak akan bertahan lama dan dapat berujung perpisahan (Setiawan, 2022). Hal ini kerap menjadi bahan pertimbangan utama pada masyarakat tradisional. Meskipun terbilang sudah saling mencintai, sepasang kekasih harus berpisah karena ketakutan ini.

Dibandingkan dengan orang yang mereka cintai, tradisi ini fokus memandang bagaimana pasangan cocok berdasarkan perhitungan weton mereka. Individu akan merasa kehilangan jika dipisahkan dengan orang yang mereka cintai. Perasaan tersebut menjadikan timbulnya depresi (Rosnaini, 2023). Belum lagi individu diharuskan untuk menikah dengan yang memiliki perhitungan weton sesuai, yang mana hal ini biasanya dilakukan oleh orang tua semacam konsep perjodohan.

Dalam rumah tangga, konflik tidak bisa kita hindari. Namun lain halnya apabila konflik tersebut terus muncul hingga mengganggu keberfungsian individu maupun kelompok yang dalam hal ini adalah keluarga. Kasus semacam ini biasanya akan diselesaikan dengan perceraian. Namun, Indonesia adalah negara beragama, dengan memiliki 6 agama yang diakui secara resmi.

Setiap agama memandang pernikahan sebagai hal yang sakral dan merupakan sebuah hal yang sangat dianjurkan untuk mecapai tujuan-tujuan keagamaan. Tak jarang pula pemuka Agama yang mengatakan bahwa perceraian itu buruk, dan hingga saat ini orang tua masih menganut hal tersebut.

Oleh karena itu, pasangan tradisional yang dalam rumah tangganya terdapat konflik, entah itu kekerasan dalam rumah tangga atau lainnya yang tak kunjung usai sulit untuk berpisah karena satu faktor ini (Bell dkk., 2018). Mereka mempertahankan hubungan mereka demi komitmen beragama dan pemenuhan ekspektasi keluarga terhadap pernikahan anak.

Hal ini dapat terjadi karena pemikiran mengenai kebenaran moral, pengaruh relasi sosial beragama dan dilema beragama itu sendiri.  Stressor dan tekanan yang terus menerus datang akan menumpuk hingga akhirnya menyebabkan depresi pada seseorang. Begitu pula halnya jika dalam sebuah rumah tangga terdapat pihak yang tertekan, jika tidak diatasi dengan segera maka akan menumpuk. Dan apabila memang tidak dapat ditahan atau pasangan tidak bisa diajak kompromi, hal ini akan mempermudah datangnya depresi dan bila tetap bertahan akan terus memperkeruh keadaan.

Masyarakat di Indonesia sendiri memiliki pandangan terhadap peran gender, bagaimana seharusnya seorang laki-laki atau suami dan bagaimana seharusnya seorang perempuan atau istri. Pandangan ini masih melekat hingga kini pada masyarakat.

Sebagian besar daerah di Indonesia menganut asas patriarki, dimana laki-laki memiliki kuasa tunggal dan sentral, dan terdapat pula definisi yang menyatakan bahwa patriarki adalah sebuah sistem yang menganggap laki-laki ditakdirkan untuk mengatur kaum perempuan (Anto dkk., 2023). Konsep ini masih dipegang oleh orang tua baby boomer, sehingga dengan ini tidak dapat dikatakan setara antara laki-laki dan perempuan di dalam rumah tangga.

Dalam kasus ini, perempuan tidak bisa sepenuhnya mengekspresikan diri mereka, ditahan untuk hanya diam di rumah, mengurus anak, dan bersih-bersih. Tidak ada kesempatan untuk mengenyam Pendidikan lebih tinggi apalagi izin untuk bekerja meninggalkan rumah. Tak hanya perempuan,, laki-laki pun akan terkena dampak dari patriarki ini, Budaya patriarki menuntut peran laki-laki untuk tegas, dominan, dan lainnya sesuai dengan peran gender yang sudah terbentuk dalam masyarakat.

Secara tidak langsung, budaya ini mengekang individu untuk mengaktualisasikan diri mereka secara penuh. Aktualisasi diri merupakan puncak dari hierarki kebutuhan Maslow. Tanpa terpenuhinya aktualisasi diri, individu tidak akan berkembang secara utuh dan berpengaruh terhadap jati diri mereka (Effendi, 2020).

Dapat disimpulkan bahwa pasangan tradisional di Indonesia membawa aspek-aspek seperti adat istiadat, budaya, dan agama, memainkan peran sentral dalam pengambilan keputusan pernikahan. Pernikahan dianggap sebagai indikator kedewasaan, dan pasangan tradisional cenderung mengikuti norma-norma yang ada dalam masyarakat, terkadang dengan mengorbankan kebahagiaan pribadi.

Faktor-faktor seperti ramalan, astrologi, dan perhitungan weton masih memiliki pengaruh signifikan, bahkan dalam mengatasi konflik rumah tangga. Pentingnya komitmen beragama dan pemahaman nilai-nilai keagamaan menjadi pendorong utama dalam mempertahankan pernikahan, meskipun adanya tekanan sosial dan konflik yang dapat menyebabkan dampak psikologis seperti depresi.

Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pendidikan dan kesadaran, memberikan dukungan psikososial, mendorong kesetaraan gender, mengintegrasikan nilai tradisional dengan modern, dan mengembangkan keterampilan manajemen konflik untuk memperkuat keberlanjutan dan kesehatan hubungan pernikahan di masyarakat Indonesia. [T]

[Daftar Pustaka]

databoks.katadata.co.id. (2023, 02 Maret). Angka Pernikahan di Indonesia pada 2022 Terendah dalam Satu Dekade Terakhir. Diakses pada 16 Desember 2023, darihttps://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/03/02/angka-pernikahan-di-indonesia-pada-2022-terendah-dalam-satu-dekade-terakhir

Febriyanti, N. P. V., & Dewi, M. H. U. (2017). Pengaruh faktor sosial ekonomi dan demografi terhadap keputusan perempuan menikah muda di Indonesia. PIRAMIDA, 13(2), 108-117.

Latifa, R. (2019). Komitmen Beragama Islam Memprediksi Stabilitas Pernikahan. TAZKIYA: Journal of Psychology, 3(1). https://doi.org/10.15408/tazkiya.v20i1.9191

Gottman, J. M. (2017). The roles of conflict engagement, escalation, and avoidance in marital interaction: A longitudinal view of five types of couples. In Interpersonal Development (pp. 359-368). Routledge.

Bilo, D. T., & Hutahaean, H. (2023). Implementasi Pemahaman Teologi Pernikahan Umat Hindu dan Kristen Di Pintubesi Bagi Kerukunan. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 7(2), 121-134.

Setiawan, E. (2022). Larangan Pernikahan Weton Geyeng Dalam Adat Jawa. Journal of Urban Sociology, 5(2), 81-90.

Rosnaini, L. (2023). Pengaruh Kehilangan Pasangan Hidup Terhadap Kejadian Depresi Di Desa Meunasah Meucat. Darussalam Indonesian Journal fo Nursing and Midwifery, 5(1), 74-81.

Bell, N. K., Harris, S. M., Crabtree, S. A., Allen, S. M., & Roberts, K. M. (2018). Divorce decision-making and the divine. Journal of Divorce & Remarriage, 59(1), 37-50.

Anto, R. P., Harahap, T. K., Sastrini, Y. E., Trisnawati, S. N. I., Ayu, J. D., Sariati, Y., … & Mendo, A. Y. (2023). Perempuan, Masyarakat, Dan Budaya Patriarki. Penerbit Tahta Media.

Effendi, Y. (2020). Pola Asuh dan Aktualisasi Diri: Suatu Upaya Internalisasi Konsep Humanistik dalam Pola Pengasuhan Anak. SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Dan Humaniora, 6(2), 13-24.

Tags: cintaperkawinanpernikahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

LK II HMI Cabang Singaraja: Usaha Merawat dan Meneruskan Mata Air Pengaderan

Next Post

Perbaiki Kualitas Air, Pegiat Lingkungan Tuangkan Ecoenzyme di Danau Buyan

I Putu Angga Ardi Wilyandika

I Putu Angga Ardi Wilyandika

Biasa disapa Angga. Angga merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Merdeka Malang. Saat ini Angga sedang mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Andalas Sumatera Barat dengan program studi yang sama, yakni Psikologi. IG : @gaardika

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Perbaiki Kualitas Air, Pegiat Lingkungan Tuangkan Ecoenzyme di Danau Buyan

Perbaiki Kualitas Air, Pegiat Lingkungan Tuangkan Ecoenzyme di Danau Buyan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co