12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasangan Tradisional : Cinta yang Abadi dengan Tanggungan Depresi

I Putu Angga Ardi Wilyandika by I Putu Angga Ardi Wilyandika
December 25, 2023
in Esai
Pasangan Tradisional : Cinta yang Abadi dengan Tanggungan Depresi

Foto ilustrasi; Google/Internet

PERNIKAHAN menjadi salah satu tolak ukur kedewasaan di pandangan masyarakat, utamanya di Indonesia. Sepanjang tahun 2022, tercatat 1,7 juta pernikahan terlaksana di Indonesia dengan Jawa Barat sebagai provinsi yang paling banyak melancarkan pernikahan, yakni 336.912 (Databooks, 2022).

Terdapat beberapa alasan yang menjadi pertimbangan masyarakat Indoenesia untuk menikah yang diantaranya adalah keamanan dan dukungan sosial. Tak jarang masyarakat Indonesia mempercayai bahwa dengan menikah akan memperbaiki perekonomian mereka (Febriyanti,2017).

Selain itu, faktor lain yang pengaruhi keputusan menikah masyarakat Indonesia yang cukup krusial adalah pertimbangan agama dan budaya. Kita ketahui bahwa Indonesia sebagai negara dengan adat, budaya, dan tradisi yang masih kental dan merupakan negara beragama menjadikan faktor ini merupakan pertimbangan utama dalam menjalin hubungan suami-istri.

Faktor-faktor tersebut merupakan faktor yang menjadi pertimbangan dari pernikahan tradisional. Budaya dan tradisi mengharuskan dua orang laki-laki dan perempuan untuk menikah untuk menghindari sanksi sosial dan Komitmen beragama, mengikuti nilai-nilai keagamaan utamanya dalam hal pernikahan dapat menjadi pencipta kestabilan yang baik dalam mempertahankan pernikahan (Latifa, 2019). Namun bertahan dalam pernikahan bukan menjadi arti bahwa pernikahan tersebut bahagia tanpa kemunculan distress.

Pasangan tradisional atau dalam bahasa Inggrisnya disebut traditional couples merupakan tipe pasangan yang memiliki kemungkinan kecil untuk berpisah/bercerai baik dikarenakan tuntutan sosial, adat, budaya, maupun agama yang dianut (Gottman, 2017). Pasangan mengikuti pola dan norma-norma tradisional yang ada pada masyarakat.

Di Indonesia sendiri, hampir keseluruhan warganya memilih untuk menikah dengan alasan agama dan norma adat tempat tinggal mereka. Contohnya adalah masyarakat Bali, yang mana menikah adalah sebuah kewajiban dikarenakan garis keturunan sebuah keluarga di Bali yang tidak boleh putus (Bilo & Hutahaean, 2023).

Apabila tidak menjalani norma, tradisi dan budaya tersebut, maka akan ada sanksi yang utamanya berupa sanksi sosial untuk mereka yang belum atau memutuskan untuk tidak menikah. Demi menghindari sanksi sosial yang diberikan, masyarakat cenderung akan memutuskan untuk menikah meskipun belum siap ataupun dengan orang yang tidak mereka cintai.

Pasangan seperti ini akan lebih sulit dalam mengatasi konflik rumah tangganya, baik dari segi ekonomi maupun hal lain dikarenakan ketidaksiapan. Ketidaksiapan secara mental juga perlu diperhatikan disini. Individu yang belum siap mengalami perubahan-perubahan yang terjadi pasca-pernikahan akan kesulitan dan menimbulkan konflik dalam diri. Belum lagi menjalani kehidupan perkawinan tidak dengan orang yang mereka cintai. Hal-hal diatas dapat menimbulkan rasa cemas dan depresi pada pernikahan suami-istri.

Tak jarang orang tua yang masih tradisional menilai kesesuaian pasangan dari anak mereka dengan menggunakan ramalan dan astrologi. Beberapa tradisi hingga saat ini masih menggunakan metode ramalan untuk menyatakan cocok tidaknya sepasang kekasih. Masyarakat Jawa tradisional masih menggunakan metode atau pun alat-alat tradisional yang dipercaya dapat meramal kesuksesan pasangan di masa mendatang setelah menikah.

Metode yang biasanya digunakan adalah perhitungan weton. Apabila setelah diperhitungkan weton dari pasangan tersebut tidak pas, maka jika dipaksakan menikah, usia pernikahannya tidak akan bertahan lama dan dapat berujung perpisahan (Setiawan, 2022). Hal ini kerap menjadi bahan pertimbangan utama pada masyarakat tradisional. Meskipun terbilang sudah saling mencintai, sepasang kekasih harus berpisah karena ketakutan ini.

Dibandingkan dengan orang yang mereka cintai, tradisi ini fokus memandang bagaimana pasangan cocok berdasarkan perhitungan weton mereka. Individu akan merasa kehilangan jika dipisahkan dengan orang yang mereka cintai. Perasaan tersebut menjadikan timbulnya depresi (Rosnaini, 2023). Belum lagi individu diharuskan untuk menikah dengan yang memiliki perhitungan weton sesuai, yang mana hal ini biasanya dilakukan oleh orang tua semacam konsep perjodohan.

Dalam rumah tangga, konflik tidak bisa kita hindari. Namun lain halnya apabila konflik tersebut terus muncul hingga mengganggu keberfungsian individu maupun kelompok yang dalam hal ini adalah keluarga. Kasus semacam ini biasanya akan diselesaikan dengan perceraian. Namun, Indonesia adalah negara beragama, dengan memiliki 6 agama yang diakui secara resmi.

Setiap agama memandang pernikahan sebagai hal yang sakral dan merupakan sebuah hal yang sangat dianjurkan untuk mecapai tujuan-tujuan keagamaan. Tak jarang pula pemuka Agama yang mengatakan bahwa perceraian itu buruk, dan hingga saat ini orang tua masih menganut hal tersebut.

Oleh karena itu, pasangan tradisional yang dalam rumah tangganya terdapat konflik, entah itu kekerasan dalam rumah tangga atau lainnya yang tak kunjung usai sulit untuk berpisah karena satu faktor ini (Bell dkk., 2018). Mereka mempertahankan hubungan mereka demi komitmen beragama dan pemenuhan ekspektasi keluarga terhadap pernikahan anak.

Hal ini dapat terjadi karena pemikiran mengenai kebenaran moral, pengaruh relasi sosial beragama dan dilema beragama itu sendiri.  Stressor dan tekanan yang terus menerus datang akan menumpuk hingga akhirnya menyebabkan depresi pada seseorang. Begitu pula halnya jika dalam sebuah rumah tangga terdapat pihak yang tertekan, jika tidak diatasi dengan segera maka akan menumpuk. Dan apabila memang tidak dapat ditahan atau pasangan tidak bisa diajak kompromi, hal ini akan mempermudah datangnya depresi dan bila tetap bertahan akan terus memperkeruh keadaan.

Masyarakat di Indonesia sendiri memiliki pandangan terhadap peran gender, bagaimana seharusnya seorang laki-laki atau suami dan bagaimana seharusnya seorang perempuan atau istri. Pandangan ini masih melekat hingga kini pada masyarakat.

Sebagian besar daerah di Indonesia menganut asas patriarki, dimana laki-laki memiliki kuasa tunggal dan sentral, dan terdapat pula definisi yang menyatakan bahwa patriarki adalah sebuah sistem yang menganggap laki-laki ditakdirkan untuk mengatur kaum perempuan (Anto dkk., 2023). Konsep ini masih dipegang oleh orang tua baby boomer, sehingga dengan ini tidak dapat dikatakan setara antara laki-laki dan perempuan di dalam rumah tangga.

Dalam kasus ini, perempuan tidak bisa sepenuhnya mengekspresikan diri mereka, ditahan untuk hanya diam di rumah, mengurus anak, dan bersih-bersih. Tidak ada kesempatan untuk mengenyam Pendidikan lebih tinggi apalagi izin untuk bekerja meninggalkan rumah. Tak hanya perempuan,, laki-laki pun akan terkena dampak dari patriarki ini, Budaya patriarki menuntut peran laki-laki untuk tegas, dominan, dan lainnya sesuai dengan peran gender yang sudah terbentuk dalam masyarakat.

Secara tidak langsung, budaya ini mengekang individu untuk mengaktualisasikan diri mereka secara penuh. Aktualisasi diri merupakan puncak dari hierarki kebutuhan Maslow. Tanpa terpenuhinya aktualisasi diri, individu tidak akan berkembang secara utuh dan berpengaruh terhadap jati diri mereka (Effendi, 2020).

Dapat disimpulkan bahwa pasangan tradisional di Indonesia membawa aspek-aspek seperti adat istiadat, budaya, dan agama, memainkan peran sentral dalam pengambilan keputusan pernikahan. Pernikahan dianggap sebagai indikator kedewasaan, dan pasangan tradisional cenderung mengikuti norma-norma yang ada dalam masyarakat, terkadang dengan mengorbankan kebahagiaan pribadi.

Faktor-faktor seperti ramalan, astrologi, dan perhitungan weton masih memiliki pengaruh signifikan, bahkan dalam mengatasi konflik rumah tangga. Pentingnya komitmen beragama dan pemahaman nilai-nilai keagamaan menjadi pendorong utama dalam mempertahankan pernikahan, meskipun adanya tekanan sosial dan konflik yang dapat menyebabkan dampak psikologis seperti depresi.

Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pendidikan dan kesadaran, memberikan dukungan psikososial, mendorong kesetaraan gender, mengintegrasikan nilai tradisional dengan modern, dan mengembangkan keterampilan manajemen konflik untuk memperkuat keberlanjutan dan kesehatan hubungan pernikahan di masyarakat Indonesia. [T]

[Daftar Pustaka]

databoks.katadata.co.id. (2023, 02 Maret). Angka Pernikahan di Indonesia pada 2022 Terendah dalam Satu Dekade Terakhir. Diakses pada 16 Desember 2023, darihttps://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/03/02/angka-pernikahan-di-indonesia-pada-2022-terendah-dalam-satu-dekade-terakhir

Febriyanti, N. P. V., & Dewi, M. H. U. (2017). Pengaruh faktor sosial ekonomi dan demografi terhadap keputusan perempuan menikah muda di Indonesia. PIRAMIDA, 13(2), 108-117.

Latifa, R. (2019). Komitmen Beragama Islam Memprediksi Stabilitas Pernikahan. TAZKIYA: Journal of Psychology, 3(1). https://doi.org/10.15408/tazkiya.v20i1.9191

Gottman, J. M. (2017). The roles of conflict engagement, escalation, and avoidance in marital interaction: A longitudinal view of five types of couples. In Interpersonal Development (pp. 359-368). Routledge.

Bilo, D. T., & Hutahaean, H. (2023). Implementasi Pemahaman Teologi Pernikahan Umat Hindu dan Kristen Di Pintubesi Bagi Kerukunan. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 7(2), 121-134.

Setiawan, E. (2022). Larangan Pernikahan Weton Geyeng Dalam Adat Jawa. Journal of Urban Sociology, 5(2), 81-90.

Rosnaini, L. (2023). Pengaruh Kehilangan Pasangan Hidup Terhadap Kejadian Depresi Di Desa Meunasah Meucat. Darussalam Indonesian Journal fo Nursing and Midwifery, 5(1), 74-81.

Bell, N. K., Harris, S. M., Crabtree, S. A., Allen, S. M., & Roberts, K. M. (2018). Divorce decision-making and the divine. Journal of Divorce & Remarriage, 59(1), 37-50.

Anto, R. P., Harahap, T. K., Sastrini, Y. E., Trisnawati, S. N. I., Ayu, J. D., Sariati, Y., … & Mendo, A. Y. (2023). Perempuan, Masyarakat, Dan Budaya Patriarki. Penerbit Tahta Media.

Effendi, Y. (2020). Pola Asuh dan Aktualisasi Diri: Suatu Upaya Internalisasi Konsep Humanistik dalam Pola Pengasuhan Anak. SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Dan Humaniora, 6(2), 13-24.

Tags: cintaperkawinanpernikahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

LK II HMI Cabang Singaraja: Usaha Merawat dan Meneruskan Mata Air Pengaderan

Next Post

Perbaiki Kualitas Air, Pegiat Lingkungan Tuangkan Ecoenzyme di Danau Buyan

I Putu Angga Ardi Wilyandika

I Putu Angga Ardi Wilyandika

Biasa disapa Angga. Angga merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Merdeka Malang. Saat ini Angga sedang mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Andalas Sumatera Barat dengan program studi yang sama, yakni Psikologi. IG : @gaardika

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Perbaiki Kualitas Air, Pegiat Lingkungan Tuangkan Ecoenzyme di Danau Buyan

Perbaiki Kualitas Air, Pegiat Lingkungan Tuangkan Ecoenzyme di Danau Buyan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co