22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ilusi Citra ‘Gemoy’ Dalam Politik Elektoral Indonesia

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
November 30, 2023
in Esai
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Gambar ilustrasi: tatkala.co

BUAT sebagian besar masyarakat Indonesia, nama Prabowo Subianto adalah nama yang tidak asing. Sosok yang dipercaya memimpin Kementerian Pertahanan RI di dalam Kabinet Indonesia Maju di bawah kepemimpinan Presiden RI, Joko Widodo.

Nama Prabowo kembali jadi pembicaraan publik di tengah perhelatan demokrasi elektoral di Indonesia. Oleh Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI), Prabowo Subianto kembali ditetapkan sebagai calon presiden yang akan berkontestasi dalam Pemilu 2024 mendatang—benar sekali, ini sudah menjadi kali ketiga Prabowo Subianto menjadi calon presiden dalam pemilu.

Berbeda dengan pemilu sebelum-sebelumnya, Prabowo lebih lekat dikenal dengan sosok yang tegas, memiliki pendirian yang teguh, hingga pantang menyerah. Hal ini tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai purnawirawan tentara. Namun dalam menghadapi pemilu hari ini, tampak Prabowo menggunakan strategi yang berbeda.

Jika dalam pemilu sebelumnya kesan tegas sangat ditonjolkan, kini justru sebaliknya. Prabowo memilih untuk mencoba mengikuti perkembangan zaman, sesuai apa yang diminati oleh gen Z hari ini. Istilah ‘gemoy’ pun menjadi salah satu strategi dalam rangka pemenangan Prabowo Subianto yang bisa dikatakan sudah sangat berpengalaman sebagai peserta pilpres.

‘Gemoy’ adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu hal yang menggemaskan—celakanya pihak Prabowo telah berhasil mengkooptasi sekaligus menyebarluaskan citra ini di masyarakat. Citra ini pun diperkukuh dengan menyebarkan gambar diri yang dimodifikasi menggunakan teknologi AI, makin kokohlah citra gemoy dilekatkan pada diri Prabowo Subianto.

Citra ini sedikit tidaknya telah berhasil membuat generasi sekarang lupa bahwa capres satu ini memiliki latar belakang militer. Namun, di balik keberhasilan pihak Prabowo dalam membangun citra gemoy di tengah masyarakat, terdapat pergeseran yang terjadi dalam ruang-ruang demokrasi bangsa.

Politik Pasar

Pergeseran yang terjadi bukan mengarah menuju hal-hal lebih baik, justru sebaliknya. Menonjolkan citra diri melalui perubahan kepribadian yang mulanya dikenal sebagai sosok yang tegas, kemudian merebranding diri menjadi seorang yang menggemaskan tentu tidak memberikan kabar baik kepada alam demokrasi Indonesia. Dalam politik elektoral, rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu menyampaikan visi dan misinya kepada masyarakat secara meyakinkan.

Tidak hanya itu, calon pemimpin bangsa diharapkan dapat terlibat aktif dalam diskursus-diskursus publik yang kemudian dapat dielaborasi oleh calon-calon pemimpin bangsa. Apabila calon-calon pemimpin bangsa mampu melakukan itu, maka demokrasi Indonesia berhasil mewujudkan partisipasi bermakna, tidak hanya sekadar memandang rakyat sebagai objek saja.

Namun, realitas politik hari ini yang ditunjukkan pihak Prabowo justru sebaliknya. Citra gemoy yang diglorifikasi di banyak media tentu tidak menimbulkan diskursus yang memberi dampak konstruktif bagi bangsa. Sebaliknya oleh pihak Prabowo, citra gemoy justru diidentikkan kepada sosok yang cocok dan layak memimpin bangsa Indonesia.

Tentu ini merusak substansi dari partisipasi bermakna, karena calon pemimpin hanya menyajikan tontonan yang menarik dan kekinian kepada rakyat tanpa melibatkan rakyat lebih jauh lagi—misalnya elaborasi aspirasi rakyat. Pertanyaan selanjutnya, apakah sosok yang gemoy dapat langsung dikatakan sebagai sosok yang layak memimpin Indonesia dengan ruet-nya permasalahan yang dimiliki? Ayolah jangan tertipu citra yang semu, karena citra hanyalah lapisan dangkal dari proses politik elektoral.

Peran Sentral Pemilih

Penggunaan istilah ‘gemoy’ dan dipercantik melalui teknologi AI sebagai materi kampanye pihak Prabowo sudah pasti menyasar pemilih muda. Menurut data KPU RI jumlah pemilih muda sebesar 115.629.247 jiwa atau sekitar 56 persen dari total jumlah pemilih dalam Pemilu 2024.

Menggunakan strategi semacam ini tentu bukanlah hal yang salah, menurut saya justru pihak Prabowo selangkah lebih jauh dibanding calon lainnya, setidaknya dalam membaca demografi pemilih. Tetapi, apabila pembacaannya hanya berakhir pada generasi muda hanya sebagai pemilih yang tidak perlu dilibatkan lebih jauh, tentu ini adalah hal yang sangat keliru.

Berangkat dari jumlah, sudah tentu generasi memiliki kekuatan yang besar dalam menggalang wacana-wacana politik yang dapat digunakan menguji calon-calon pemimpin bangsa yang kini tengah berkampanye keliling Indonesia. Keresahan-keresahan yang dirasakan oleh generasi perlu untuk dielaborasi bersama, kemudian disuarakan sehingga para calon pemimpin bangsa memahami bahwasannya citra politik hingga konten joged-joget sama sekali tidak menjawab permasalahan.

Generasi muda yang memiliki hak pilih hingga 56 persen ini harus menyadari bahwa citra yang dibangun oleh calon-calon pemimpin bangsa hanyalah gincu belaka, perlahan akan lenyap seiring dengan kekuasaan yang sudah berada di genggaman—belajarlah dari pengalaman bahwa kekuasaan sering bikin orang lupa diri, hehe. [T]

  • Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI
Sulit Membayangkan Anies Menang di Bali
Membicarakan Kekuasaan di Indonesia: Timur Apa Barat?
Partisipasi Politik Dalam Negara Demokrasi
Menjelang 2024, Prabowo Sudah Sampai Mana, Bli Teddy?
Tags: PilpresPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Transformasi Guru dalam Merdeka Belajar, Dorong Siswa Maju di Era Adaptasi Digital

Next Post

15 Perbekel di Buleleng Dilantik: Ini Sebagai Tonggak Baru Kemajuan Desa

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
15 Perbekel di Buleleng Dilantik: Ini Sebagai Tonggak Baru Kemajuan Desa

15 Perbekel di Buleleng Dilantik: Ini Sebagai Tonggak Baru Kemajuan Desa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co