24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Dari Meja Rene Descartes | Seri Pertama Soal Being

Ikrom F. by Ikrom F.
October 26, 2023
in Esai
Catatan Dari Meja Rene Descartes | Seri Pertama Soal Being

Rene Descartes Foto Google/Wikipedia

CATATAN INI bermula dari ketidaksengajaan saya membaca tulisan dua orang santri yang berusaha untuk berbicara filsafat Heidegger berikut kritiknya. Anehnya mereka sesekali menyinggung nama saya sebagai orang yang berlagak tahu soal filsafat. Bahkan, persinggungan seperti itu menuntut saya agar ikut-ikutan membahas filsafat Heidegger.

Jika boleh jujur, membedah produk filsafat Heidegger adalah pekerjaan yang begitu rumit dan tidak pernah menemukan ujung. Penyelidikan terhadap pemikiran Heidegger bakal membuat siapa saja terkantuk-kantuk dan tertidur. Salah satu alasan mengapa berjalan seperti itu di akhir penelitian, karena pembahasan filsafat Heidegger mengarah terhadap pembenaran suatu kalimat dari filsuf Rene Descrates yang berbunyi “Cogito Ergo Sum” (Ketika Aku Berpikir Maka Aku Ada).

Dua santri tersebut, Farhan dan Sururi ini mempersoalkan ke-ada-an yang ditawarkan Descrates dan dikritik oleh Heidegger. Sum (ada) itu dibedah dari beberapa cara pandang yang unik. Pandangan mereka berdua ini memperlihatkan pembacaan yang sangat masif terhadap produk Heidegger, juga Descrates. Barangkali, mereka masih bersikukuh dengan statement masing-masing yang berkesimpulan bahwa fenomenologi Heidegger justru berhasil menolak produk Descrates. Sebaliknya keberhasilan Heidegger menolak produk Descrates sama sekali tidak bisa dibuktikan kebenarannya.

Mungkin saya bakal membuat catatan ini dalam bentuk fragmen-fragmen kecil supaya lebih mudah dipahami—tanpa bermaksud menggurui.

Bertrand Russel dalam buku Persoalan-persoalan Filsafat pernah menanyakan seperti ini: seperti apa bentuk meja? Tentu bagi kita, bentuk meja itu berbentuk bujur, berwarna cokelat, dan berkilau; jika disentuh ia halus, dingin dan keras; ketika seseorang mengetuknya, ia pasti mengeluarkan bunyi kayu. Siapapun yang pernah menyaksikan dan mengalami uraian seperti itu, pasti tidak ada keraguan yang muncul. Tapi jika kita lebih cermat sedikit, ada gangguan kecil yang mengarah pada pertanyaan semacam ini: apakah pengalaman yang kita rasakan sama halnya dengan orang lain? Bagaimana ketika seseorang memandang sudut meja dengan sisi lain sehingga menimbulkan warna berbeda?

Bagi filsafat, ada perbedaan antara “penampakan” (appearance) dan “kenyataan” (reality). Manusia seringkali ingin mengetahui secara mendalam suatu kenyataan tersebut, di luar penampakannya. Maka seseorang akan mencari jawaban tentang sifat asli meja itu. Misalnya ketika kita melihat secara telanjang pada meja, ada butiran debu yang menempel, sebaliknya, meja itu jauh kelihatan lebih mulus dan rata seandainya dilihat melalui jalur mikroskop dan itu membuat perbedaan yang tidak sama saat menggunakan mata. Dari fakta itu, muncul praduga, manakah meja yang “nyata”? 

Justru perbedaan itu membuat kita tergoda untuk berasumsi bahwa apa yang dilihat melalui miskroskop jauh lebih nyata, tetapi pada gilirannya akan diubah oleh mikroskop yang lebih canggih. Jika kita tidak percaya dengan mata telanjang, mengapa kita harus mempercayai apa yang dilihat dari mikroskop?

Oleh sebab itu, kita sering menyederhanakan bahwa segala sesuatu yang kita lihat melalui indra mata adalah kenyataan. Penerimaan itu diterima secara akal sehat dan tak perlu dipersoalkan lebih jauh, sehingga kita sudah terbiasa menilai sesuatu yang benar-benar tampak itu sebagai bentuk kebenaran. 

Disinilah sebenarnya letak keraguan yang ditawarkan oleh Descartes (1596-1950) pendiri filsafat modern, atas sebuah metodenya yang masih bermanfaat sampai hari ini—the method of systematic doubt; metode keraguan sistematik. Secara prinsip, metode ini berorentasi kepada keraguan terhadap segala apa pun sampai sikap ragu itu runtuh dengan sendirinya. Contohnya jika Descartes ragu, maka ia ada atau jika Descartes punya pengalaman secara utuh, ia pasti ada. Dengan demikian, keberadaan Descartes sendiri merupakan kepastian mutlak baginya.   

Agaknya Sururi dalam tulisannya terlalu terburu-buru menyimpulkan Descartes sebagai penganut filsafat “ide“ plato. Sikap tergesa-gesa ini menghasilkan asumsi bahwa Descartes mengakui bahwa segala bentuk kebenaran dalam dunia ini hanyalah ada di dunia ide saja. Mari saya kutipkan pernyataannya:

Berbicara tentang cogito (berfikir) oleh Descartes dijadikan fondasi transendental tanpa menyingkap misteri ada, dimana sebenarnya bukan segala-galanya, melainkan hanyalah salah satu cara menjadikan sesuatu itu ada dan menampakkan dirinya, jadi sebuah perbicangan amat rumit kali ini. Sebab seorang Moh. Farhan Maulana telah mengupasnya dengan amat teliti, tapi melupakan konsep dasar Descartes masih berbau filsafat Plato yang di kenal dengan dunia ide. Maka pastinya sebuah materi sebagai suatu yang tampak di mata, bukan jadi perbincangan kembali atas keberadaanya, akan tetapi jadi sesuatu yang diolah untuk hal baru.

Saya tidak perlu panjang lebar soal itu. Masalah Ide yang coba ditampilkan oleh Sururi sebenarnya tidak punya dasar sama sekali, bahkan gagasan itu telah mengaburkan fakta bahwa bentuk filsafat dari Descartes adalah Primas Cogitans. Primas Cogitans ala Cartesian yang kita kenal sejauh ini hanyalah cart Claire et distincta (jelas dan terpilah-pilah).

Dalam pengertian, sebelum memasuki area cogito, terlebih dahulu Descartes membagi suatu keadaan ke bentuk yang jelas dan terpilah-pilah. Contoh sederhana dari warna merah pensil. Pensil yang berwarna merah tidak bisa menjelaskan dirinya secara jelas karena warna pensil dapat berganti-ganti. Namun diri pensil tetap menjadi pensil.  

Dari primas ini, setidaknya Descartes menawarkan proposisi baru: segala bentuk  benda apapun justru punya ukuran sendiri, sehingga ia secara tidak langsung menolak kebenaran plato terhadap dunia ide. Penolakan ini yang belum dijelaskan oleh Sururi dan pada akhirnya memberikan informasi keliru pada kita.

Lebih keliru lagi dari gagasan Farhan. Saya kira Farhan akan melakukan teropong lebih jauh dan berupaya semaksimal mungkin menemukan kesalahan dari filsafat Descartes. Justru yang kita dapat—sama sepeti Sururi—penyimpulan terlalu dini dan bahkan terkesan gegabah. Misalnya di kalimat ini:

Melalui Cartesian lalu hadir method of doubt yang kemudian mengerucut pada lahirnya cogito ergo sum, dari situlah kemudian Heidegger melalui fenomenologi meruntuhkan posisi cogito yang transendental di dalamnya. Berbeda dari Descartes yang menyakini kesadaran akan aku adalah sama dengan adaku, Heidegger menawarkan strategi baru melalui fenomenologi (fenomen) : membuka diri selebar lebar-lebarnya dan mencandra realitas sedalam-dalamnya sebagai suatu peristiwa pewahyuan diri ada (Heideger dan Mistik Keseharian Sebuah Pengantar Menuju Sein und Zeit. 2020:37), tak menampik, proposisi atau strategi di dalam proposisi tersabet yang menjadi hal baru.

Anggapan munculnya fenomenologi Heidegger mampu meruntuhkan posisi cogito itu ilusi belaka. Saya mencoba menawarkan apa yang dipikirkan oleh Descartes tentang kesadaran agar penyimpulan ini tidak terlalu norak.

Bagi kalian yang masih belum membaca buku atau ulasan Meditations on First Philosophy (Pencerahan/Meditasi Pertama Filsafat) Rene Descartes, di sana dijelaskan bahwa manusia punya kesadaran dalam ruang seluas-luasnya sekalipun mereka terjebak kepada ketidakpastian atau ilusi:

“Manusia boleh tertipu oleh berbagai ketidakpastian ilusif persepsi, namun satu-satunya hal yang pasti adalah ia sedang menyadari ketidakpastian itu atau setidaknya menyadari satu hal kendai pun sebuah persepsi tidak dianggap sebagai ketidakpastian.”

Descartes menganggap aspek kesadaran itu adalah meragukan, memahami, menyatakan, menolak, berkehendak, berimajinasi dsbt. Oleh sebab itu menganggap proposisi Heidegger mampu menolak sepenuhnya Cogito karena berangkat dari radikalisasi atas fenomenologi Husserl adalah bukti pemahaman yang salah.

Mungkin Farhan belum tahu, Edmund Husserl adalah filsuf yang sama sekali tidak melanjutkan tradisi dari Rene Descartes maupun tradisi sebelumnya. Ia hanya menyarankan sebuah sikap yang nantinya bakal dikenal sebagai dasar dari fenomenologi : Zuruck zu den Sachen selbst (kembali pada fenomena itu sendiri).

Saran itu malah ditolak oleh Heidegger dan bahkan ia merombak total Primas Cogitans. Perombakan ini terbilang hanya mengubah sistem yang menurut Heidegger, Descartes gagal menyentuh keberadaan dalam ruang. Tetapi, perubahan yang dilakukan Heidegger sebenarnya memperluas sedikit saja atas Primas Cogitans itu sendiri. Sehingga muncul pertanyaan benarkah filsafat Heidegger tersebut?

 Tentu jawabannya tidak. Perluasaan dari yang ada (being) ketika dipecah menjadi dua bagian, yakni yang ontis dan yang ontologis hanya mengakusisi keangkuhan Heidegger untuk menabrak tradisi sebelumnya. Maka Heidegger membikin tandingan soal jadi diri manusia itu sebenarnya penampakan saja. Penampakan itu belum bisa menjelaskan secara kenyataan apa itu sebenarnya being.

Justru Bertrand Russel punya prosisi yang tidak langsung mampu mendeskripsikan pengalaman seseorang menuju kebenaran yang hakiki. Ia meyakini bahwa manusia memiliki perkenalan (acquaintance) dengan apa pun yang ia sadari secara langsung, tanpa perantara proses kesimpulan atau pengetahuan apa pun tentang kebenaran. Proses ini menghantarkan kita untuk yakin menjadi orang yang sama hari ini seperti kita kemarin. Dengan menemukan metode skeptis, dan menunjukkan hal-hal subjektif adalah pasti, Descartes bisa melayani metode filsafat yang sampai saat ini tetap digunakan oleh manusia.  [T]  

Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Fyodor Dostoyevsky: Prolegomena tentang Penderitaan, Kegilaan, dan Kekonyolan
Tags: filsafat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 “Low Tide”, Keindahan Pasang-Surut Laut dalam Fotografi

Next Post

Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas

Ikrom F.

Ikrom F.

Pemuda kelahiran Jember. Saat ini sedang mengabdi di pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Aktif di beberapa komunitas, seperti Komunitas Penulis Kreatif (KPK) Iksaj, IPJ, LPM Fajar dan PMII. IG @ikrom_f1234.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas

Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co