6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian

Jaswanto by Jaswanto
October 23, 2023
in Ulas Pentas
“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian

Pertunjukan "Membaca Sanghyang" di Studio Produksi Film Negara | Foto: Dok. Amri

SERABUT KELAPA itu disusun setengah lingkaran, serupa bulan sabit, di lantai pertunjukan. Di belakangnya, terbentang layar panjang yang menampilkan lima perempuan tua dengan pakaian adat Bali—mereka terus bernyanyi, nembang, lagu-lagu Sanghyang. Video dengan durasi cukup panjang itu mengiringi dan menyambut penonton yang datang, satu per satu, ke tempat pertunjukan. Mendengar suara kumpulan perempuan tua itu, banyak orang tampak lupa kalau sedang di Jakarta.

Di samping kanan lantai pertunjukan, di luar ‘pagar’ atau batas yang terbuat dari serabut kelapa itu, terdapat dua nyiru—atau tampah (dalam bahasa Jawa), alat rumah tangga, berbentuk bundar, dibuat dari bambu yang dianyam, gunanya untuk menampi beras dan sebagainya. Satu nyiru berisi batu kerikil. Sedang lainnya berisi bongkahan batu sebesar kepala orang dewasa dan beberapa ikat helai padi.

Sementara itu, di sebelah kiri kedua nyiru tersebut, tergeletak seekor kuda penjalin dengan surai dan ekor yang terbuat dari janur kelapa. Benar, kuda itu terbuat dari penjalin (rotan) yang dililit dan dihiasi janur kuning muda. Kuda itu mengingatkan kita pada kuda lumping atau jaran kepang di Jawa.

Dan di bagian kiri lantai pementasan, masih di dalam kalangan serabut kelapa, sebuah meja—yang sudah dihias dengan rumput plastik—dan kursi berwarna putih di letakkan. Sedangkan di belakang meja-kursi, terlihat gundukan, seperti gunung, sabut kelapa. Oh, hampir lupa, di sebelah kiri, kali ini di luar batas serabut kelapa, juga terdapat sebuah nyiru yang berisi batu kerikil.

Tepat pukul 4 sore, penonton mulai memadati ruangan pementasan. Mereka lesehan, duduk di dekat—dekat sekali malahan—lantai pertunjukan. Jarak penonton dengan lantai pertunjukan tak kurang dari sepelemparan ludah. Penonton yang duduk lesehan ini bukan tanpa alasan, tapi memang sudah betul-betul dipikirkan oleh yang punya pertunjukkan, si sutradara.

Suasana penonton pertunjukan “Membaca Sanghyang” / Foto: Dok. Amri

Dan beberapa menit sebelum video kumpulan perempuan tua yang menyanyikan lagu-lagu Sanghyang itu berakhir, dua orang pemain—Kevin Muliarta dan I Gede Artana—dalam pertunjukan itu, mulai memasuki lantai pertunjukan dan memindahkan gundukan serabut kelapa—yang seperti gunung itu—di belakang meja-kursi tadi ke sisi kanan lantai pertunjukan.

Tak lama kemudian, dua pemain lain—Wulan Dewi Saraswati dan I Nyoman Subrata—membantu mereka memindahkan serabut kelapa. Sementara Wulan dan Nyoman Subrata sibuk memindahkan serabut kelapa, Kevin dan Gede Artana mulai menyusun kembali serabut-serabut kelapa itu menjadi gundukan yang baru di tempat yang telah ditentukan. Penonton memelototi adegan tersebut dengan pertanyaan yang sama: “untuk apa gundukan serabut kelapa itu?” dan “apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Pertanyaan di atas akhirnya terjawab lewat adegan berikutnya.

Setelah selesai membuat gundukan serabut kelapa, Kevin menempatkan dupa dan canang di atasnya. Dupa dan canang itu ia dapat dari Wulan. Sesaat setelah terdiam, Kevin mulai menari Sanghyang Jaran. Ia mengentakan kakinya yang diikat gongseng. Lalu pergi.

Para pemain “Membaca Sanghyang” sedang menyusun sabut kelapa / Foto: Dok. Amri

Sebagai seorang penari, Kevin tampil layaknya jaran (kuda) yang kesurupan—untuk tidak mengatakan gila. Ia berputar-putar, melompat, menendang, berlari, meringkik, memekik, dan mendengus. Benar-benar seperti kuda. Bahkan, kadang-kadang ia juga mengeluarkan suara desahan, dengusan, dan rintihan. Semua itu seolah dilakukannya dengan spontanitas, seperti tanpa kesadaran: kesurupan (trance), layaknya penari Sanghyang Jaran betulan. Hal tersebut membuktikan bahwa dalam hal ini Kevin tidak main-main. Ia membutuhkan tenaga besar untuk melakukan adegan itu—dan latihan yang keras, tentu saja.

Sesaat setelah sosok Kevin yang menjelma jaran (kuda) itu menghilang dari pandangan penonton, lampu menyorot gundukan serabut kelapa yang di atasnya terdapat canang dengan dupa yang asapnya masih mengepul—meski sudah sampai pada batas nyala. Sedangkan, di layar panjang itu, muncul peta Desa Adat Geriana Kauh, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali.

Pada saat itu pula, Bendesa Adat Geriana, Jro I Nyoman Subrata, memasuki panggung pertunjukan. Lalu, ia bermonolog cukup panjang tentang alam, pertanian, dan ritual desa; tentang dirinya—yang lahir di Geriana tahun 1973; tentang Sanghyang yang tak lagi ditarikan.

…Setelah dua puluh tahunan Tari Sanghyang tak lagi digelar, sekitar tahun 90-an, saat saya menjabat sebagai Sekaa Yowana Desa, Tari Sanghyang kembali dimunculkan. Hal ini dikarenakan pada waktu itu pertanian di desa kami terus menerus mengalami penurunan panen.

Para penduduk percaya bahwa Sanghyang telah meninggalkan kami. Tak lagi memberikan berkah bagi padi-padi di sawah. Maka, diputuskanlah agar desa perlu untuk menggelar kembali ritual Tari Sanghyang.

Jro I Nyoman Subrata dan Wulan Dewi Saraswati saat mementaskan “Membaca Sanghyang” / Foto: Dok. Amri

Jro Bendesa duduk di atas kursi putih. Ia mulai menyusun satu per satu tangkai padi di atas meja yang telah dihiasi dengan rumput plastik. Bersamaan dengan adegan tersebut, layar memunculkan video anak-anak berhias Sanghyang. Dari sisi kanan, Wulan menari memasuki panggung. Wulan menceritakan biografi dirinya:

Saya Wulan, saya perempuan. Ibu saya berasal dari Tabanan, Bali Selatan, tempat yang terkenal akan lumbung padinya. Dulu, daerah sekitaran Tabanan dikenal banyak menggelar tarian Sanghyang. Namun kini sudah tak ada…

Pada babak keempat, I Gede Artana  datang membawa nyiru berisi batu kerikil. Ia membuangnya ke topi petani yang dipegang oleh Wulan dan Kevin. Lalu, Gede Artana menyunggi—nyuwun dalam bahasa Bali—nyiru di kepala berisi beberapa ikat helai padi dan batu besar. Ia menjatuhkan batu gunung itu ke atas meja yang, sekali lagi, telah dihiasi dengan rumput plastik. Gede Artana berkata:

Ini adalah salah satu batu dari muntahan Gunung Agung yang meletus di desa kami tahun 1963.

Bapak-bapak, Ibu-ibu, coba bayangkan. Jika batu-batu ini menimpa kepala bapak-bapak dan ibu-ibu. Bagaimanakah rasanya? Apa yang akan terjadi?

Saya bersyukur. Keluarga kami tak ada yang menjadi korban letusan saat itu.

Layar memunculkan peta lahar Gunung Agung.

Adegan I Gede Artana menjatuhkan batu ke atas meja / Foto: Dok. Amri

Pada adegan ketujuh, Kevin kembali merepetisi gerak Sanghyang Jaran. Layar belakang memunculkan video Sanghyang Jaran. Kevin kembali seperti orang kesetanan. Ia melompat ke sana kemari, menendang gundukan serabut kelapa yang disusunnya—yang di atasnya terdapat canang dan dupa yang telah lama kehilangan nyala—persis seperti video di belakangnya. Serabut-serabut kelapa itu berhamburan, terlempar ke mana-mana, acak-acakan, tak beraturan, lantai pertunjukan seketika tampak berantakan seperti kontrakan mahasiswa paling malas. Gedung pertunjukkan menjadi tegang seketika.

Memasuki babak akhir, Wulan membacakan puisi yang kita tunggu pada malam hari dan Jro Bendesa membacakan nama-nama penari Sanghyang dari tahun ke tahun yang berhasil dicatat oleh Desa Adat Geriana Kauh. Begitulah pertunjukan Membaca Sanghyang karya Wayan Sumahardika menamatkan skenarionya.

Membaca Sanghyang, untuk pertama kalinya, dipentaskan di Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dalam program “Membaca Pakem Kuratorial Laku Hidup” di IMXR Studio (Black Box/Studio 1), Studio Produksi Film Negara, Jakarta, Sabtu, (21/10/2023) sore.

Sekadar informasi, sebelum Membaca Sanghyang, Suma telah melahirkan seni pertunjukan yang bertajuk “The (Famous) Squatting Dance: Jung Jung te Jung” pada tahun 2022. Dan seperti The (Famous), selain berangkat dari seni tari tradisional di Bali—Suma menyebutnya “berangkat dari lokalitas”—Membaca Sanghyang juga menggunakan arsip dan layar sebagai media pendukung pertunjukan. Jika The (Famous) menampilkan video-video arsip Igel Jongkok, Membaca Sanghyang mempertontonkan ritual Sanghyang di Desa Adat Geriana Kauh.  

Adegan Kevin sedang memporak-porandakan gundukan sabut kelapa / Foto: Dok. Amri

Sebagaimana telah dinarasikan Mulawali Institute—pihak yang memproduksi pertunjukan tersebut, yang berkolaborasi dengan Museum Sanghyang Dedari Giri Amertha Desa Adat Geriana Kauh dan beberapa komunitas seperti Aghumi, Jelana Creative Movement, Kelompok Sekali Pentas, Napak Tuju dan Sandhikala Films—di akun media sosialnya, Membaca Sanghyang—pertunjukan yang diproduseri oleh Agus Wiratama itu—merupakan pertunjukan yang berangkat dari studi kasus ritual Sanghyang dalam hubungannya dengan kehidupan pertanian di Desa Adat Geriana Kauh.

“Saya memilih Sanghyang karena ini seolah takdir. Dalam beberapa kesempatan, saya selalu bersinggungan dengan Sanghyang,” ujar Wayan Sumahardika kepada tatkala.co, Kamis, (19/10/2023).

Tak hanya sekadar pertunjukan, lebih dari itu, Membaca Sanghyang berupaya menelusuri dinamika Sanghyang dan masyarakat penyangganya serta relasinya dengan biografi para penari dan aktor hari ini. Menyingkap berbagai isu belakang panggung Sanghyang yang umumnya tak pernah dihadirkan di ruang profan, di mana Sanghyang kerap dikreasikan sebagai tari yang umumnya dipentaskan untuk kepentingan pariwisata Bali.

Pada dekade belakangan ini, sebagaimana telah disampaikan Wulan dalam pertunjukan Membaca Sanghyang, “Sanghyang kembali hadir sebagai sorotan. Tarinya pun dihadirkan secara gamblang di panggung profan sebagai hiburan. Dimainkan oleh para penari kelas atas. Sanghyang dicabut dari desa tempat tinggalnya berada. Dimainkan begitu megah, begitu mewah. Meski, dalam konteks lain, tentu kita sangat menghargai praktik semacam ini.”

Namun, sore itu, menjelang pertunjukkan berakhir, sebagai sutradara, tampaknya Suma ingin mengajak kita semua menyelami kembali Sanghyang dari ruang dan waktu asalnya. Suma, melalui Wulan sebagai performer, mengajak penonton untuk bersama-sama menyanyikan tembang Sanghyang—nyanyian dengan bahasa sehari-hari orang Bali, yang tampak sangat dekat kaitannya dengan kenyataan padi dan sawah.

Dipandu langsung Jro I Nyoman Subrata, selaku Bendesa Adat Geriana Kauh, sore itu penonton menyanyikan tembang Sanghyang dengan khidmat dan magis.

Dan, terlepas dari itu, salah satu hal yang menarik dari proses kreatif Membaca Sanghyang adalah terlibatnya masyarakat Desa Adat Geriana Kauh dalam pertunjukan tersebut. Bayangkan, dua di antara masyarakat Geriana bahkan tidak cukup hanya sebagai informan, tapi juga performer. Ya, Jro I Nyoman Subrata dan I Gede Artana adalah penduduk asli Geriana—yang tentu notabene bukan seorang aktor. Hal ini yang membuat saya kagum dengan pola pikir Wayan Sumahardika.

Jro I Nyoman Subrata (tengah) sedang memandu penonton menyanyikan lagu Sanghyang / Foto: Dok. Amri

 Jro I Nyoman Subrata adalah pemimpin Desa Adat Geriana Kauh. Sedangkan I Gede Artana merupakan sosok petani yang masih menanam dan melestarikan padi masa—padi unggul dari Geriana. Kedua sosok tersebut, meski bukan seorang aktor, tetap tampil memukau sore itu. Bahkan, Jro Nyoman, dengan usianya yang tak lagi muda, masih sanggup menghafal monolog cukup panjang tentang alam, pertanian, dan ritual desa; tentang dirinya—yang lahir di Geriana tahun 1973; tentang Sanghyang yang tak lagi ditarikan. Dan Gede Artana, juga tampil mengesahkan—meskipun ia tak mendapat banyak hafalan.

Nyoman Subrata mengatakan bahwa ini adalah pengalaman pertamanya menjadi aktor. Pada awalnya ia sempat ragu, hanya saja, sebagai sutradara, Suma selalu menguatkan. “Untungnya, Pak Suma itu orangnya enak kalau menjelaskan. Dia juga tidak mengharuskan kami tampil seperti aktor beneran—yang alamiah saja, katanya. Jadi, berkat kebebasan yang diberikan Pak Suma itulah akhirnya saya dan Gede menjadi yakin dan percaya diri untuk ikut berangkat ke Jakarta,” terangnya.

Dipilihnya dua orang Geriana sebagai pelaku tamu dalam pertunjukan ini, sekali lagi, merupakan salah satu hal yang menarik sekaligus keberanian—mungkin juga eksperimen—dari sang sutradara. Namun, di situlah justru letak estetikanya. Suma mengatakan, “Estetika dalam pertunjukan ini justru terletak pada interaksi kami dengan masyarakat Geriana.” Artinya, dalam konteks ini, sebagai sutradara, Suma lebih menebalkan estetika di belakang panggung pertunjukkan Sanghyang alih-alih di depan panggung. Ini sudut pandang yang menarik.

Dengan hadirnya dua warga Geriana sebagai pelaku tamu, menurut pembacaan awam saya, menjadikan Membaca Sanghyang tak jauh dari akarnya.

Sebuah Pembacaan yang Serius

Sanghyang adalah tarian tradisional Bali yang dimaknai sebagai tari upacara untuk memohon keselamatan (menolak bala) bagi masyarakat setempat. Sebagai sebuah tari upacara, Sanghyang memiliki konsep pertunjukan yang bersifat sakral (wali). Hal itu dapat dilihat dari bentuk pertunjukan, konteks, lokasi, waktu, pelaku, proses pertunjukan, dan lain sebagainya—yang keseluruhannya itu dimaknai sebagai sebuah ritual.

Sanghyang erat kaitannya dengan masyarakat agraris di Bali. Kemunculannya dikaitkan dengan hasil panen para petani. Dalam pertunjukkan Membaca Sanghyang, Jro I Nyoman Subrata mengatakan bahwa fungsi Sanghyang bagi masyarakat Bali—khususnya Desa Adat Geriana Kauh—dianggap sebagai ritual, selain menolak bala, juga mencegah hama pertanian seperti wereng, walang sangit, burung, dll.

Namun, meski dianggap sakral, di Desa Adat Geriana Kauh, pada kenyataannya Sanghyang pernah hampir ditinggalkan. Sanghyang kembali ditarikan di Geriana pada tahun 90-an, dua puluh tahun setelah meletusnya Gunung Agung pada tahun 1963. Artinya, dalam konteks ini, Membaca Sanghyang bisa dikatakan sebagai pertunjukan yang tak hanya sekadar hiburan, lebih dari itu, juga mengandung muatan sejarah Sanghyang di Geriana itu sendiri. Dan, menurut awam saya, hal ini tidak akan terjadi jika Wayan Sumahardika bersama Mulawali Institute tidak melakukan pendekatan pembacaan dangan jarak sangat dekat.

Dalam telaah sastra—apakah bentuknya kita sebut “kritik sastra” atau “kajian budaya”—misalnya, sebagaimana tertulis dalam laman tengara.id, tidak cukup membutuhkan imajinasi, tetapi juga ketajaman pembacaan, kecocokan pendekatan (teoretis)—dan tidak boleh dilupakan: keterampilan menulis. Dalam konteks penciptaan karya pertunjukan, saya pikir juga demikian.

Meskipun, mungkin, terciptanya pertunjukan Membaca Sanghyang tidak cukup hanya dengan menggunakan pendekatan pembacaan dekat. Saya rasa, sebagai sutradara, Suma tentu lebih paham soal itu. Namun, maaf jika saya salah, saya pikir Membaca Sanghyang lahir dari sebuah pembacaan yang serius.

Pada kenyataannya Membaca Sanghyang dapat mengungkap dan menyampaikan banyak hal tentang Sanghyang dan kaitanya dengan laku hidup masyarakat di Geriana Kauh—yang mungkin selama ini luput dari pandangan atau pembacaan kita. Melalui pertunjukkan tersebut, sebagai penonton, kita menjadi tahu bahwa pada tahun 2003 Sanghyang sempat kembali tak digelar lantaran tak ada anak perempuan yang lahir. Dalam hal ini, dalam konteks masyarakat patriarki, betapa perempuan memiliki posisi dan peranan sangat penting.

Melalui pembacaan yang serius, Membaca Sanghyang juga menyampaikan bahwa bagi masyarakat Adat Geriana, Sanghyang itu bukan hanya soal debus, menendang api atau kerasukan saja. Bukan, lebih dari itu, Sanghyang adalah cara masyarakat Geriana untuk menghubungkan diri dengan alam dan keseharian masyarakat di sana; menghubungkan diri dengan padi-padi masa yang tumbuh dengan subur—dengan hutan bambu yang begitu banyak tumbuh di desa tersebut; dengan pohon salak, yang semuanya ini menjadi sarana ritual desa menggelar Sanghyang.

“Jadi ada semacam perputaran siklus di sana. Di mana alam kami rawat, memberikan kami kehidupan, lalu kami memanen dan menggelar ritual sebagai persembahan syukur kepada alam. Semuanya dilakukan melalui tarian Sanghyang ini,” ujar Jro Bendesa dalam pertunjukkan.

Tak hanya itu, melalui pertunjukan ini pula, kita dapat mengetahui bahwa di Desa Adat Geriana Kauh, tercatat ada tiga Tari Sanghyang: Sanghyang Dedari, Jaran Gading, dan Jaran Putih. Sayangnya, sebagaimana yang dikatakan Jro Bendesa, yang masih ada sampai sekarang hanya tinggal dua, yaitu Sanghyang Dedari dan Jaran Gading. “Sementara Sanghyang Jaran Putih sudah tidak bisa ditarikan lagi karena sekitaran tahun 90-an, penari dan jro gendingnya sudah meninggal dan tak sempat diwariskan pada generasi muda kami,” ujar Jro I Nyoman Subrata.

Adegan Kevin menarikan Sanghyang Jaran menggunakan kuda dari rotan yang dihias janur kelapa / Foto: Dok. Amri

Sampai di sini, menurut Suma, selain menciptakan seni pertunjukan, sebenarnya Mulawali Institute juga sedang melakukan pemetaan tentang ekosistem Sanghyang di Desa Adat Geriana Kauh. Dalam proses penciptaan Membaca Sanghyang, selain menggali informasi dari literatur, ia juga melakukan wawancara dengan tokoh dan masyarakat di Geriana. “Karena bagi saya, informasi dari arsip hidup itu juga penting,” jelas Suma.

Arsip. Ya, Membaca Sanghyang, selain memanfaatkan arsip sebagai sumber penciptaan, juga melakukan kerja pengarsipan. Video panjang yang menampilkan lima perempuan tua dengan pakaian adat Bali yang menyanyikan lagu-lagu Sanghyang, adalah bentuk nyata kerja pengarsipan. Suma seolah tak mau mengulangi kejadian yang menimpa Tari Sanghyang Jaran Putih. Selain itu, pencatatan nama-nama penari Sanghyang dari tahun ke tahun, adalah langkah yang patut diapresiasi.

Membaca Sanghyang semakin menguatkan betapa pentingnya kerja pengarsipan. Sebab memori manusia itu rapuh, mudah diubah, dan mudah dibentuk; maka manusia akhirnya menciptakan pengganti yang dapat menyimpan dan menyediakan media memori ke bentuk yang tidak berubah.

Memang, kerja-kerja pengarsipan di negara ini tampak tidak lebih penting dan populer dari membersihkan sampah di pantai dan di sungai. Muhidin M. Dahlan dalam bukunya Politik Tanpa Dokumen (2018) menyebut “Indonesia bangsa perusak. Bangsa yang tak punya mental merawat. Apa pun akan dirusaknya jika itu tak memberi keuntungan pragmatis. Tak peduli, bahkan milik berharga Proklamator Indonesia. Dua warisan dari dua bapak pendiri bangsa itu, sepanjang reformasi, terkubur satu-satu.”

Banyak dari kita yang memandang arsip bukanlah barang yang menghasilkan keuntungan materi atau bukan barang yang memiliki timbal balik. Sehingga, arsip mendapat posisi antrean paling belakang. Arsip, sebagaimana telah tertulis di lama Era.id, dianggap benda mati semata. Tidak hidup dan menghidupi. Sesuai pendapat Muhidin, bahwa “Arsip bagian dari kehidupan dengan cara terus-menerus dirawat melalui tafsiran untuk kehidupan yang akan datang, bersandar pada kepentingan-kepentingan masa kini dengan tolok ukur peristiwa yang sudah-sudah.”

Di sebuah acara, Pramoedya Ananta Toer mengatakan tentang pentingnya mengarsip atau mendokumentasi. “Andai anak-anak remaja itu punya kebiasaan mengkliping pastilah mereka tak bisa dibohongi karena tahu masalah sampai akar-akarnya. Sayang sekali pendidikan Indonesia tak pernah mendidik muridnya tekun menggali fakta,” ujarnya.

Pertanian dan Patriarki

Sebagai sebuah pertunjukan yang dipentaskan di panggung prestisius seperti Pekan Kebudaayan Nasional, Membaca Sanghyang memuat isu yang menarik untuk dibahas dan dibicarakan—meski sebenarnya sudah pasaran. Tetapi, meski sudah berserakan di mana-mana, bukan berarti isu tentang pertanian dan patriarki sudah selesai begitu saja. Selama persoalannya masih rumit untuk dipecahkan, dua isu tersebut akan tetap menarik untuk dibicarakan.

Seperti yang sudah disampaikan di awal, Sanghyang erat kaitannya dengan masyarakat agraris di Bali. Kemunculannya bahkan dikaitkan dengan hasil panen para petani. Tahun 90-an, bapak-bapak di Desa Adat Geriana Kauh kian resah karena padi tak kunjung berbuah. Sanghyang diingat-ingat. Bapak-bapak mulai memanggil Sanghyang turun ke Bumi.

Pada 2019, menurut catatan Kementerian Pertanian, Bali memiliki luas baku sawah (LBS) 70.996 ha. Sedangkan kebutuhan lahan untuk pangan masyarakat Bali pada tahun 2019 idealnya seluas 81.195 ha, angka ini diperhitungkan meningkat menjadi 87.639 ha pada 2025, naik lagi menjadi 93.541 ha pada 2030, dan menjadi 99.981 ha pada tahun 2035.

Kevin merepetisi gerakan Sanghyang / Foto: Dok. Amri

Dengan perhitungan seperti ini, neraca kebutuhan lahan pangan di Bali mulai tahun 2019 sudah mengalami defisit. Untuk mengatasi hal ini, sekaligus tak hanya menggantungkan perekonomian kepada sektor pariwisata, pemerintah Bali berkomitmen untuk meningkatkan luas baku sawah (LBS) untuk LP2B dengan mencetak sawah baru di Buleleng dan Karangasem seiring selesainya pembangunan bendungan di kedua kabupaten tersebut.

Seorang Analis Pengendalian Lahan Direktorat Perluasan dan Perlindungan Lahan Kementerian Pertanian, Budi Saputro, saat menjadi narasumber dalam Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Penetapan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Bekelanjutan (LP2B) dalam Perda RTRW/LP2B Kabupaten/Kota, Rabu, (25/8/2021), mengingatkan alasan utama perlunya melindungi lahan pangan adalah tidak semua lahan cocok untuk pangan.

Lahan yang cocok untuk pangan biasanya disiapkan sudah sejak lama. Karena itu, dalam penataan ruang, kebijakan daerah dan nasional, perlu memprioritaskan untuk melindungi lahan pangan. “Lahan-lahan yang saat ini sudah cocok dan berproduksi untuk pangan jangan dialihfungsikan,” kata Budi.

Saya masih ingat, menanggapi persoalan ini, pada dialog Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan 2021 yang diselenggarakan KNPI di Amisewaka di Desa Les, Tejakula, mantan Wakil Gubernur Bali, Prof. Dr. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), mendorong upaya penguatan sektor pertanian. Menurut Cok Ace, pada saat Covid-19 Bali mengalami kontraksi ekonomi paling hebat jika dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Kenapa? “Karena kita sangat tergantung pada sektor pariwisata,” katanya.

Memang benar, sektor pariwisata telah menyumbang 54% PDRB, sehingga di masa pandemi, Bali kehilangan devisa hingga 9,7 triliun rupiah setiap bulan. Maka dari itu, lanjut Cok Ace, “Bali harus segera menggenjot sektor alternatif selain periwisata” untuk menumbuhkan kembali perekonomian. Dan salah satu alternatif yang harus segera digarap menurutnya adalah sektor pertanian. Ke depan, ia berharap sektor pertanian bisa memberi kontribusi sama besarnya dengan pariwisata. Namun, rasanya itu seperti jauh panggang dari api.

Pada kenyataannya, sampai saat ini, berdasarkan laporan Bisnis.com, setiap tahun, 600 hektare hingga 1000 hektare lahan pertanian Bali beralih fungsi menjadi perumahan, hotel, restoran maupun bangunan lain yang menopang industri pariwisata dan industri lainnya. Dampak dari itu, tidak ada petani di Bali yang memiliki lahan yang luas. Akibatnya, seperti yang dikhawatirkan Jro I Nyoman Subrata, jika sawah dan petani punah, Sanghyang akan menghilang. Membaca Sanghyang, secara tidak langsung, hendak menyuarakan betapa krusialnya masalah pertanian.

Selain isu agraris, melalui Wulan, Membaca Sanghyang juga menyuarakan posisi perempuan dalam masyarakat Bali. Wulan, dalam monolognya, dengan jelas, tanpa tedeng aling-aling, mengungkapkan bahwa perempuan di Bali, dalam beberapa hal, masih dinomorduakan.

Tak ada lelaki yang lahir dari rahim ibu saya yang seorang perempuan. Ya. Adik saya pun, juga adalah perempuan. Kami adalah perempuan yang tak punya hak untuk memiliki lahan tanah warisan.

Padahal, dari puja-puji kepada Dewi Sri, Wulan “tahu perempuan dan laki-laki sesungguhnya berada pada posisi dan kedudukan yang setara di tengah sawah. Laki-laki membibit padi, perempuan juga membibit padi. Laki-laki menanam padi, perempuan juga demikian. Laki-laki memanen padi, pun juga perempuan. Demikian bapak mengajari saya bahwa laki-laki dan perempuan tak ada bedanya. Semuanya sama di mata padi. Semua sama-sama makan nasi.”

Dalam hal ini, I Gusti Made Arya Suta Wirawan dalam esainya Melampaui Domestikasi Perempuan (2017) memberikan uraian menarik. Tidak bisa dimungkiri, katanya, bahwa sejarah peradaban manusia didominasi oleh peradaban patriarki. Peradaban ini telah menggiring dan menjadikan perempuan tak ubahnya sebuah properti.

Sebagai sebuah properti kebudayaan, perempuan “dituntut” agar tumbuh berkembang sesuai kehendak laki-laki. Laki-laki dianggap memiliki otoritas mutlak dalam menentukan spesifikasi terhadap pembentukan fisik dan moral perempuan. Hal tersebut seolah-olah mengisyaratkan perempuan sebagai sosok yang tidak mampu membentuk kebudayaannya sendiri.

Yang lebih mengerikan, lanjutnya, peradaban menganggap bahwa kesadaran perempuan tidak lebih dari kesadaran laki-laki itu sendiri. Sebuah kesadaran yang telah—meminjam istilah Arya Suta—“terkamuflase” baik secara kognitif maupun psikologis.

“Dengan kata lain, ketika perempuan dianggap mampu mendefinisikan dirinya, baik itu sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai seorang gadis anggun yang lihai dan sopa bertutur kata, berbusana tertutup, dan segala hal tentang dirinya, ternyata tidak lebih dari hasil konstruksi dan konsensus peradaban patriarki,” kata Arya dalam esainya.

Kaum feminis mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah laki-laki. Semua basis kehidupan dibentuk lewat fondasi maskulinisme. Sebagaimana Aristoteles menyebut perempuan sebagai “laki-laki yang tidak lengkap”. Publik adalah muara laki-laki.

Menurut Arya Suta, segala hal yang publik bisa mengintervensi yang domestik, tetapi tidak sebaliknya, dan prinsip ini menjadi dasar berpikir laki-laki dalam menempatkan perempuan sebagai gender nomor dua—atau yang oleh Simon de Beauvoir disebut dengan istilah The Second Sex.

Pada akhirnya, Membaca Sanghyang adalah usaha sungguh-sungguh untuk mengungkap, menyuarakan, menyadarkan, dan memperjuangkan banyak hal. Sebuah pertunjukan yang menarasikan tradisi dengan cara kontemporer ala Wayan Sumahardika. Dan mengutip Michael H.B. Raditya, “Hasil dari riset yang panjang tidak pernah ingkar.”[T]

Membaca Sanghyang: Catatan Sebelum  Pentas
“Nge-GLITCH?”: Pertempuran antara Tubuh Digital dan Tubuh Manusia
Menjelajahi Laku Jongkok dalam Koreografi “The (Famous) Squatting Dance : Jung Jung te Jung” di Teater Salihara
Ritus Tari Seblang di Olehsari : Menari Bersama Leluhur dan Merayakan Dialog Antarbudaya Bali-Blambangan
Tags: Mulawali InstituteSanghyang DedariTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Darwin x Bali Neighborhood: Cultural Exchange

Next Post

Tara Listiawan, Kesetiaan Membina Anak-anak Menari di Desa Padang Bulia

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
0
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal...

Read moreDetails

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

by I Putu Ardiyasa
January 23, 2026
0
Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di...

Read moreDetails

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

by Agus Arta Wiguna
December 25, 2025
0
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan...

Read moreDetails
Next Post
Tara Listiawan, Kesetiaan Membina Anak-anak Menari di Desa Padang Bulia

Tara Listiawan, Kesetiaan Membina Anak-anak Menari di Desa Padang Bulia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co