22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Amanat Tuhan, Sungai Juga Perlu Diwariskan

Cherik Ayyash by Cherik Ayyash
April 27, 2023
in Esai
Amanat Tuhan, Sungai Juga Perlu Diwariskan

Anak-anak membersihkan sungai | Foto: Cherik Ayyash

MANUSIA DAN SUNGAI di masa lalu memiliki hubungan erat. Keduanya menjadi dua produk Tuhan yang saling berkaitan dan berdampingan serta saling membutuhkan. Manusia sebelum generasi Z, sudah menjadi rahasia umum, mereka memiliki pengalaman dengan sungai, misalnya bermain air dan melakukan aktifitas terjuan bebas di tebing sungai.

Namun, sejak pertumbuhan industri dan teknologi yang berkembang pesat, pembangunan sarana prasarana kota mulai tumbuh, gedung perkantoran dan tempat tinggal rimbun subur. Sungai belakangan terkesan kumuh dan kotor. Semakin banyak manusia enggan untuk bersinggungan dengan sungai, kecuali untuk membuang sesuatu, menjadi muara tempat pembuangan “segala hal buruk”.

Sungai seolah tidak lagi ramah untuk menjadi tempat bermain dan tempat manusia beraktifitas,  Padahal beberapa kebijakan sudah dibuat untuk menjaga sungai. Namun belum menunjukkan hasil yang maksimal.

Saat generasi Baby Boomers hingga generasi Y bercerita masa lalu yang indah tentang sungai, Generasi Z dan setelahnya, hanya bisa mendengar, mengangguk dan berimajinasi tentang masa kecil pendahulunya yang membahagiakan.

Sungai yang ramah dan indah tidak terwariskan, imbas dari pembangunan yang signifikan. Sehingga, ‘pendengar’ tidak bisa merasakan nuansa masa lalu yang digambarkan. Seolah menjadi tidak adil, jika generasi Baby Boombers hingga generasi Y yang saat ini menjadi pemangku kebijakan dan memiliki peran sebagai orang tua, tidak memberikan wahana belajar untuk memperkenalkan kejayaan sungai kepada generasi Z dan setelahnya. 

Secara personal, kami tergolong generasi Z, keresahan sungai yang sedang tidak baik-baik saja di perkotaan sudah ada. Namun menemukan momentum dan sinergi kolektif bertajuk Resik-Resik X baru tercipta di bulan September tahun 2019.

Kegiatan tersebut diselenggarakan Baby Boomers dan generasi Y, sebagai usaha sadar untuk mengantisipasi banjir saat musim hujan tiba. Pada saat itu, mumpung musim kemarau, sungai tidak terlalu dalam akibat pendangkalan, sampah sudah menumpuk.

Banyak pihak yang tidak terlibat dalam kegiatan tersebut, terkesan meragukan. “Ini sungai, di satu sisi akan bersih, tidak berselang lama akan kotor lagi, mendapat kiriman sampah dari sisi sungai bagian yang lain, jadi percuma!”. Ungkapan itu ada benarnya, tapi bagi kami, tidak sepenuhnya bisa dibenarkan.

Kegiatan pembersihan sungai | Foto: Cherik Ayyash

Bagi kami, generasi Z dan setelahnya, berenang dan bermain dengan air hanya dilakukan di tempat wisata dan kolam renang dengan standar kebersihan dan keamanan yang baik tentunya. Bersinggungan dengan sungai yang ‘liar’ menjadi pengalaman pertama. Sembari memunguti sampah, mengerjakan sesuai tugas dan arahan sebelumnya, sebagian dari kami berenang dan melompat ke sungai dari batu besar yang ada di tepian.

Kami melakukan dengan riang gembira, meskipun air sungai kala itu berwarna hitam pekat dan sampah beriringan berjalan melintasi tubuh kami. Generasi Boomers dan generasi Y yang melihat kelakuan kami antara harus bahagia atau sebaliknya, kondisi sungai tidak seperti yang mereka rasakan dahulu, yang bersih dan menyegarkan.

Tiga jam berlalu, waktu yang ditentukan telah selesai. Alat-alat sudah dibersihkan, karung-karung penuh sampah dengan berbagai macam sampah bekas pakai manusia, mobil pick up Dinas Lingkungan Hidup sudah dua sampai tiga kali hilir mudik membuang sampah yang berhasil dikumpulkan ke Tempat Pembuangan Akhir.

Tapi kerjaan di sungai belum sepenuhnya selesai, dengan lebar sungai lebih kurang 10 meter, bersih-bersih sungai yang dikerjakan tidak terlihat hasilnya, seolah masih sama, kali ini ungkapan dari para pencemooh ada benarnya, percuma!

Namun, sebagai peserta bersih-bersih sungai, ungkapan tersebut salah. Secara personal, kami sedang introspeksi diri, merasakan mengais dosa-dosa yang mungkin pernah dilakukan terhadap sungai. Dari awalnya kami hanya melihat tumpukan sampah dari atas bantaran sungai, sudah enggan dengan baunya dan sangat menjijikkan.

Namun, kali ini, dengan sadar, kami terjun ke sungai melawan stigma bau tidak sedap dan menjijikkan, merasakan gejolak rasa untuk mengambil sampah dengan motif membersihkan sungai. Bau busuk menembus masker yang kami kenakan dari sampah yang mengendap berbulan-bulan, ribuan belatung menggeliat di antara sampah-sampah yang kami ambil, berkali-kali mengusir lalat dan nyamuk yang berterbangan di bandan dan muka, dan merasakan hal tak terduga lainnya.

Kegiatan ini merupakan pengalaman yang luar biasa bagi kami, sebagai bentuk dzikir penghambaan pada Tuhan, merefleksikan diri pada nilai kemanusiaan yang bersinggungan dengan alam, lebih mawas diri dalam langkah dan tindakan. Sebagai proses menciptakan pemaknaan, menjalin kembali bagaimana manusia berhubungan baik dengan sungai, menciptakan romansa kejayaan sungai di masa lalu. Terlebih bisa menciptakan wahana “out bound” untuk belajar dan tumbuh berteman dengan sungai bagi setiap generasi. Meskipun secara sadar membutuhkan kerja ekstra dan konsistensi waktu yang panjang serta sinergi kolektif banyak pihak. 

Pada akhirnya, kami mulai berkaca, mengapa sungai hari ini, dianggap menjadi dalang terjadinya banjir? Apa jangan-jangan banjir yang kerap terjadi, sebagai usaha sungai memperingatkan manusia, bahwa sungai tidak mampu menampung air hujan disebabkan terjadinya pendangkalan dan banyaknya sampah yang menjadikan sumbatan?

Apa benar banjir itu bencana alam? Bukankah sifat alami air harusnya bisa terserap oleh tanah? Lantas mengapa terjadi banjir, apa jangan-jangan saat ini tidak bisa terserap akibat pembangunan infrastruktur yang mengabaikan sifat alamiah unsur alam?

Apa bisa, banjir disebut bencana manusia? Atas dasar manusia yang mulai lalai amanat Tuhan untuk tidak membuat kerusakan?

Pertanyaan itu bukan maksud menuntut sadar dan menyalahkan, lebih kepada pemaknaan bahwa ada mahakarya Tuhan berupa sungai yang perlu dijaga dan diwariskan. [T]

Konsep dan Kepercayaan Orang Bali Dalam Film Avatar; The Way Of Water
Sumpah Pemuda, Sumpah Pelestari Lingkungan di Pedawa
Bambu, Penggerak Sosial Ekonomi dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup
Tags: lingkungansungai
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melalui Sigit Susanto Kami Mengenal Franz Kafka Secara Lebih Akrab

Next Post

Sajak-sajak IBG Parwita | Kerta Ghosa: Aksara yang Terjaga

Cherik Ayyash

Cherik Ayyash

Saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswa di salah satu kampus di Surakarta. Memiliki hobi membaca, menulis dan berdiskusi tentang berbagai hal. Menjalankan rutinitas hobi sebagai bentuk belajar memahami rumusan alam dan karakteristik manusia yang telah Tuhan ciptakan. Karena banyak episode kisah dari orang lain yang perlu didengar, dibaca, ditulis dan didiskusikan untuk diambil hikmah.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Sajak-sajak IBG Parwita | Kerta Ghosa: Aksara yang Terjaga

Sajak-sajak IBG Parwita | Kerta Ghosa: Aksara yang Terjaga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co