6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami

Kadek Tina Meliani by Kadek Tina Meliani
February 25, 2023
in Ulas Buku
Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami

Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami

KEHIDUPAN ZAMAN sekarang sudah amat-amat sangat modern. Kenapa aku bisa mengatakan seperti itu?

Lihatlah bagaimana manusia hidup dengan sangat mudah di zaman sekarang ini. Orang-orang yang ingin bepergian tinggal menancap gas untuk berjalan dan tinggal menginjak rem untuk berhenti.

Tidak seperti dulu, orang-orang yang hendak bepergian harus melangkahkan kakinya beribu ribu langkah dan menempuh jarak berkilo kilometer untuk sampai di tujuan yang disertai dengan cucuran keringat di dahinya. Bayangkan saja bagaimana pegalnya kaki mereka dan bagaimana lelahnya perjalanan tersebut.

Zaman dulu jika orang ingin menggunakan air mereka harus mengambil di sungai atau menimba di sumur. Tentu tidak dengan kehidupan sekarang, jika orang ingin menggunakan air, ya tinggal menghidupkan keran saja.

Kapankah kehidupan zaman dulu yang dimaksud tersebut? Apakah pada saat dinosaurus masih hidup di bumi ini? Atau pada saat manusia purba masih beraktivitas di dunia ini? Ataukah pada saat masa reformasi?

Jika kehidupan zaman dulu yang dimaksud adalah kehidupn ketika masa reformasi, maka kehidupan modern yang dimaksud adalah masa saat pascareformasi. Dengan adanya kehidupan modernisme tentu semua kehidupan manusia mulai berubah. Tidak hanya tingkah laku dan gaya hidup manusia, melainkan pemikiran manusia memandang suatu hal juga berbeda. 

Salah satu hal yang menjadi pembeda modernisme dan pascamodernisme adalah pandangan akan kebenaran. Dalam modernisme, kebenaran bersifat tunggal, mono, sedangkan dalam pasca modernisme kebenaran bersifat plural.

Sebagai konsekuensi logisnya, modernitas memiliki kecenderungan mengabaikan liyan, sedangkan pascamodernitas merangkul keberagaman.

Jika berbicara tentang kehidupan yang modern, seketika aku teringat dengan penggalan cerita dalam Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami.

Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami menceritakan tentang perjalanan kisah persahabatan tiga remaja yaitu Sandi Yuda, Parang Jati, dan Marja Manjali yang juga di antara persabahatan mereka ada cinta segitiga.

Sandi Yuda adalah pemuda yang mempunyai hoby memanjat tebing, ia adalah sosok yang sangat tidak mempercayai adanya mitos dan takhayul karena ia memiliki pemikiran modernisme.

Kemudian Ayu Utami menghadirkan sosok Parang Jati yang merupakan penduduk  Watugunung yaitu tempat Sandi Yuda memanjat bersama teman-temannya.

Sandi Yuda yang memiliki pemikiran modernisme dan tidak percaya takhayul akhirnya berubah ketika  ia bertemu dengan sosok Parang Jati. Semua berawal ketika ia kalah taruhan dengan Parang Jati, Yuda yang biasanya selalu menang taruhan kini ia kalah. Dan kekalahan taruhan itu membuat ia harus berpindah agama menjadi “clean climbing”.

Dan saat itu ia menyadari bahwa ia bukanlah pemanjat sejati, ia masih menggunakan paku, bor,  gantungan dan alat-alat untuk memanjat tebing. Secara tidak langsung, Parang Jati  memberi pelajaran kepada pembaca untuk tidak merusak alam. Maka dari itu ia meminta Sandi Yuda untuk menjadi pemanjat yang bersih.

Dalam novel itu Ayu Utami menjelaskan bahwa orang-orang di desa itu masih sangat percaya terhadap takhayul. Ini terbukti ketika seorang warga desa bernama Kabur bin Sasus meninggal karena digigit anjing liar. Namun pada saat pemakaman, seorang pemuda desa bernama  Kupu Kupu sangat tidak setuju jika Kabur bin Sasus dimakamkan secara wajar. Hal ini karena semasa hidupnya, Kabur bin Sasus sering melakukan sesajenan untuk menyembah setan. Hal inipun dianggap musyrik oleh pemuda tersebut.

Akhirnya semua warga setuju dan Kabur bin Sasus dimakamkan di tanah yang jauh dari desa. Lantas apakah mitos mitos tersebut benar adanya? Tentu kita tidak bisa menjawab pertanyaan ini sendiri. Karena ini berdasarkan pendapat dan kepercayaan.

Jika kita percaya terhadap mitos tersebut, maka mitos mitos itu benar adanya. Namun, jika kita tidak percaya dengan mitos, maka hal itu hanyalah sebuah takhayul. Melalui novel ini kita tahu dan bisa merasakan bagaimana kondisi Indonesia saat itu.

Dalam novel ini diceritakan kisah politik di Indonesia yang dimana saat itu Indonesia mengalami “Krisis Moneter” yang terjadi pada tahun 1998,yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur.

Pada saat krisis moneter harga barang sangat melambung sedangkan pendapatan masyarakat sangat minim.  Saat itu juga diktator yang telah memerintah selama 32 tahun turun dari kepresidenan yaitu Jenderal Soeharto. Ini terjadi karena mahasiswa mendemo dan kabinet mogok. Peristiwa ini dikenal dengan “Lengser Keprabon”, kemudian B.J. Habibie naik menjadi presiden pada saat itu.

Dan pada saat itulah disebut masa pascareformasi. Semenjak adanya peristiwa lengser keprabon tersebut banyak kekerasan terjadi, kerusuhan antar suku, kerusuhan antar agama, juga hal-hal mengerikan yang terjadi di pasar, maling dibakar hidup-hidup.

Dalam suasana kekerasan ini, ada satu gejala yang mencekang. Ialah serentetan pembunuhan misterius terhadap orang-orang yang dituduh sebagai dukun santet. Kerusuhan itu diteror oleh sekelompok ninja yang memburu para tetua agama. Meski sudah dicegah, ternyata tetua agama tetap berhasil dibunuh oleh kelompok misterius tersebut. Mayat yang dikubur pun mendadak ikut menghilang, menambah nuansa mencekam di antara penduduk desa.

Ya, begitulah kehidupan modernisme, walaupun kehidupan menjadi lebih mudah namun banyak masalah yang menghampiri. Kota juga bisa membuktikannya pada kehidupan sekarang.

Dalam novel ini juga diceritakan dalam menyelamatkan kawasan karst di bukit watugunung, yuda bersama parang jati dan juga marja membuat strategi budaya yang dimana mereka memiliki harapan strategi tersebut dapat menyelamatkan kawasan karst di bukit watugunung akibat perusahaan batu kapur setempat.

Dalam menyiapkan strategi budaya mereka melalui banyak peristiwa dan kendala, salah satunya bentrok polri dan TNI akibat rebutan wewenang. Dalam usahanya mempertahankan kawasan karst bukit warugunung parang jati juga membuat aliran baru yaitu kejawan Baru yang dimana sudah berhasil diregistrasikan di departeman kebudayaan.

Melalui Bilangan Fu, Ayu Utami secara keras menentang pertambangan besar-besaran yang menguntungkan sebelah pihak, yang tidak mempertimbangkan bahkan memberikan solusi untuk kebaikan masyarakat sekitar perbukitan yang ditambangi. Bukti bahwa kegiatan penambangan besar-besaran berdampak buruk pada masyarakat terdapat pada kutipan berikut,

 “Jika karst dikelola dengan salah, hal itu dapat mengakibatkan kekeringan, konflik sosial budaya, dan kehilangan biodivitas unik yang belum diteliti. Jika terus dibiarkan, dampaknya yang cukup serius dalam pertambangan karst akan terjadi, terutama bagi petani yang mengandalkan pengairan melalui sungai-sungai yang mengalir dari pegunungan karst”

 Pada pernyatan tersebut jelas bahwa penambangan kapur yang dilakukan secara besar-besaran, akan berdampak buruk pada kehidupan sosial masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Dalam suasana ekonomi dan politik yang masih labil ini, banyak peristiwa peristiwa yang tak terduga. Pak penghulu yang sering disebut semar oleh yuda tewas terbunuh di rumahnya setelah kembali dari padepokan suhubudi bapak angkat dari Parang Jati. Yuda dan parang jati terdiam merasakn kekosongan yang mengerikan itu.

Setelah kejadian itu, Parang Jati menulis sebuah tulisan yang berjudul “3M” yang berpotensi merusak bumi yaitu Modernisme, Militerisme, Monoteisme. Yang dimana dalam tulisannya itu menceritakan kekerasan dalam reformasi dalam bentuk penjarahan alam, juga kekerasan dalam dengan latar suku agama, di balik kekerasan itu diduga ada peran militer. Indikasinya : operasi yang sangat terencana, dan di beberapa kasus, adanya pasokan senjata. [T]

Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari
Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini
Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, Relasi Kuasa dan Perlawanan
Tags: Ayu UtamisastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini

Next Post

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Kadek Tina Meliani

Kadek Tina Meliani

Lahir di Singaraja, 2003. Sekarang sedang menempuh pendidikan S1 dengan program studi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, di Kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Memiliki hobi memasak

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Next Post
Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co