23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mencintai Munir” Adalah Peduli Terhadap HAM

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
September 17, 2022
in Ulas Buku
“Mencintai Munir” Adalah Peduli Terhadap HAM

Suciwati bersama saya (penulis) dan buku Mencintai Munir

Hasil autopsi itu menjelaskan dengan gamblang bahwa kematianmu akibat arsenik! Jelas di bagian atas laporan: Death by arsenic poisoning.

Itu sebuah kalimat pada halaman 295 yang dibacakan oleh salah satu peserta dalam acara peluncuran buku “Mencintai Munir” karya Suciwati. Kalimat itu membuat saya bergidik ngeri.

Saya tak bisa membayangkan betapa remuknya hati keluarga dan kerabat saat menerima kenyataan bahwa Munir kehilangan nyawa karena diracun. Racun yang bisa membunuh dua gajah dewasa sekaligus.

Suatu hal yang keji. Dan, herannya, kasus ini masih dibiarkan mengambang begitu saja—mengambang oleh negara.

Pertemuan dengan Suciwati

Keikutsertaan saya dalam diskusi Kwitangologi Vol. 09 yang diselenggarakan KontraS, benar-benar membuka ruang diskusi lain untuk saya sendiri.

Diskusi itu bertempat di Dia.Lo.Gue di daerah Kemang, Jakarta Selatan, Rabu 14 September 2022. Saat itu KontraS bekerja sama dengan Museum Hak Asasi Manusia Munir dan Imparsial menyelenggarakan peluncuran buku berjudul “Mencintai Munir” yang ditulis langsung oleh Suciwati—Istri Munir.

Pertemuan pertama saya dengan Suciwati terjadi saat Museum Hak Asasi Munir  menyelenggarakan pembacaan hasil kerja dari Tim Pencari Fakta Kematian Munir beberapa waktu lalu. Saat itu saya diminta untuk menjadi notulen. Usman Hamid juga hadir pada kegiatan itu.

Suciwati (nomor dua dari kiri) bersama para pembicara dalam diskusi buku Mencintai Munir yang diselenggarakan KontraS di Jakarta | Foto: Teddy

Pada kesempatan itu, jujur, saya tidak sempat berbincang dengan Mbak Suci. Jadi kesempatan kedua ini harus saya manfaatkan. Setidaknya saya harus sempat mengucapkan selamat dan memintanya membubuhkan tanda tangan dalam buku “Mencintai Munir” yang sudah ada di tangan saya.

Peluncuran buku “Mencintai Munir” yang terdiri dari xii + 372 halaman ini dihadiri langsung oleh Mbak Suci. Buku ini dibahas oleh dua orang, Fatia Maulidiyanti (Koordinator KontraS) dan Lukman Hakim S. (Menteri Agama RI Periode 2014-2019).

Dalam diskusi ini juga hadir beberapa tokoh, seperti: Ibu Sumarsih (Ibu dari Benardinus Realino Norma Irawan yang tewas saat tragedi Semanggi I), Usman Hamid (Direktur Eksekutif Amnesty Indonesia), Haris Azhar (Direktur Lokataru), Bivitri Susanti (Salah satu pendiri PSHK).

Tokoh-tokoh itu biasanya hanya saya lihat dari layar kaca, kini saya bisa lihat secara langsung. Mimpi apa ya saya kemarin, hahaha.

Perjalanan “Mencintai Munir”

Emosional. Satu kata itu saya rasa bisa mewakili proses penulisan buku “Mencintai Munir”, setidaknya itu yang saya tangkap dari penjelasan Mbak Suci dalam diskusi peluncuran bukunya.

Bahkan di beberapa momen Mbak Suci mengatakan ia harus meninggalkan laptopnya dan harus memulihkan diri agar siap menulis kembali. Tentu sangatlah berat bagi Mbak Suci.

Saat saya coba membaca sekilas bagian pertama, saya mengetahui bahwa Mbak Suci menulis dengan melibatkan seluruh perasaannya yang bertujuan agar pembaca juga merasa tak berjarak dengan Munir.

Menyampaikan aktivitas Munir semasa hidup menjadi misi utama Mbak Suci dalam buku ini. Meluruskan berbagai berita miring soal Munir juga menjadi tugas buku yang ditulis Mbak Suci.

“Sering kali Munir dikatakan sebagai Antek Asing, bahkan KontraS sempat diserang gara-gara isu itu. Tapi semua itu tidak benar, Munir itu sangat mencintai Indonesia,” tegas Mbak Suci.

Ya saya pun berpikiran demikian, mengingat Munir berangkat dari aktivis mahasiswa yang saya pikir kesehariannya tak pernah luput membicarakan soal kelangsungan bangsa dan negara.

Tidak jauh berbeda dengan Mbak Suci. Fatia Maulidiyanti sebagai Koordinator KontraS hingga tahun 2023 ini mengungkapkan meski sekali pun belum pernah berjumpa dengan Munir, tapi seorang Munir telah menjadi patron dalam menjalankan tugas selamaa di KontraS.

Dalam penyampaian Fatia, saya memperoleh hal-hal menarik. Sejak masa kecil, nama Munir dan KontraS tidaklah asing bagi Fatia—meski hal yang didengarnya adalah hal-hal negatif. Bahkan orangtuanya pun mempercayai bahwa Munir dan KontraS adalah bagian dari antek asing yang merusak jalannya kehidupan bangsa Indonesia.

Namun narasi-narasi negatif tersebut justru mendekatkan Fatia dengan KontraS, bahkan menjadi Koordinator hari ini.

Menginjak 18 tahun kematian Munir, KontraS mendorong Komnas HAM untuk menjadikan kasus kematian Munir menjadi pelanggaran HAM berat. Saat ini pun Komnas HAM disebut sudah membuat tim khusus yang hanya memiliki waktu dua bulan untuk bekerja.

Meski dianggap terlambat, tapi pihak KontraS mengajak semua pihak untuk mengawal hal ini, apa lagi masa jabatan Komisioner Komnas HAM periode ini hampir habis.

BACA JUGA:

  • Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta
  • Matinya Kritisme: Ancaman Nyata Bali Hari Ini

Sebagai salah satu orang dekat Munir, Lukman Hakim Saifuddin yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama RI menyebutkan bahwa sosok Munir adalah sosok yang komplit sebagai aktivis HAM. Kesederhanaan menjadi hal yang paling melekat dalam diri Munir.

Tahun 2000 Munir mendapatkan penghargaan dari luar negeri dengan hadiah uang sebesar Rp 500 juta. Hadiah tersebut justru seluruhnya ia serahkan ke KontraS. Menurut Munir, semua hal yang berkaitan dengan pekerjaannya sudah disediakan oleh kantor.

Wah kalau saya jadi Munir sudah saya ambil hadiah itu untuk keperluan keluarga,. Tapi sudah jelas Munir beda dengan saya. Hehe.

Melanjutkan Jalan Perjuangan Munir

Nyawa seorang Munir—seseorang yang dikenal oleh banyak orang, seseorang yang punya banyak teman yang dianggap sebagai orang dekat dan berpengaruh di negeri ini—ssaja bisa dihilangkan dengan mudah dan kasusnya pun tak jelas hingga sekarang. Bagaimana dengan saya yang tidak masuk kriteria di atas?

Kurang lebih pikiran tersebut terbersit dalam kepala saya selama peluncuran buku “Mencintai Munir”.

Masihkah kita bisa abai terhadap pelanggaran HAM yang hampir setiap hari terjadi? Mirisnya lagi pelanggaran tersebut dilakukan oleh tangan-tangan kuasa atas nama stabilitas negara (geleng-geleng kepala).

Meski saya belum membaca buku ini secara lengkap, tapi secara garis besar saya sepakat dengan perjuangan Munir. Memperjuangkan HAM warga negara Indonesia menjadi kewajiban orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih soal HAM.

Peluncuran buku “Mencintai Munir” | Foto: Teddy

Saya kira Indonesia masih memiliki banyak dosa masa lalu yang belum ditebus hingga hari ini. Gerakan 30 September, penghilangan paksa aktivis medio 1997-1998, Semanggi I dan II, dan pembunuhan Munir menjadi beberapa pelanggaran HAM yang dibiarkan oleh negara.

Apakah negara mengharapkan warganya lupa bahwa bangsa ini memiliki masa lalu yang gelap? Mungkin saja.

Tapi saya pikir warga Indonesia tidak semudah itu melupakan dosa-dosa berat itu. Jangankan melupakan dosa-dosa berat semacam itu, hutang Rp 5.000 saja pasti ingat. Atau mungkin negara pura-pura lupa? Biasanya kan orang punya hutang itu pasti lupa kalau dirinya punya hutang. Hahaha.

Saya anjurkan teman-teman membaca buku ini, dan mari setelahnya kita menulis kembali isi dari “Mencintai Munir” akan pesannya dapat terbaca oleh banyak orang di Indonesia.

Sekali lagi saya ucapkan selamat buat Mbak Suci atas buku “Mencintai Munir” semoga siapa pun yang membaca buku ini ikut merasakan perjuangan Munir, getirnya perasaan Mbak Suci saat ditinggalkan, dan yang pasti adalah pembaca dapat mencintai sosok Munir. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis Teddy Chrisprimanata Putra
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta
Cerpen “Sumur” Eka Kurniawan | Air Dengan Segala Persoalan yang Ditimbulkan
Memikirkan Kembali Tradisi, Adat Istiadat dan Budaya Bali dalam “Wanita Amerika Dibunuh di Ubud”
Tags: BukuKontraSMunirUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Koreografi Pijat dan Pencarian Gede Agus Krisna Dwipayana dalam Tubuh Tari Tradisi

Next Post

Celepuk | Cerpen Arnata Pakangraras

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Celepuk | Cerpen Arnata Pakangraras

Celepuk | Cerpen Arnata Pakangraras

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co