2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia, Predator Puncak yang (Mencoba) Bertahan Hidup

Krisna Aji by Krisna Aji
December 6, 2021
in Esai
Manusia, Predator Puncak yang (Mencoba) Bertahan Hidup

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Sejatinya, setiap entitas hidup di dunia ini dapat bertahan hingga detik ini karena memiliki insting untuk tetap bertahap hidup dan meneruskan keturunan. Banyak entitas hidup yang pada akhirnya tergerus waktu dan punah karena insting saja tidak cukup: perlu dilanjutkan dengan luaran nyata yang dapat melawan seleksi alam; perlu ada tindakan nyata yang sesuai dengan tuntutan tempat hidup–dan berujung pada pola adaptasi terhadap tekanan. Selanjutnya, pola bertahan hidup yang sukses dari individu pada akhirnya akan diturunkan kepada generasi penerus. Hasil akhirnya, suatu entitas dapat terhindar dari kepunahan.

Dari tuntutan untuk menyelamatkan entitas diri secara individu, tidak jarang pola tersebut membentuk sikap egois yang mendahulukan kepentingan sendiri: saling mengalahkan antara satu entitas dengan entitas lainnya–dari persaingan antar spesies yang berusaha mencapai posisi sebagai pemangsa puncak, persaingan antar entitas di dalam satu spesies, dan bahkan bahkan dalam satu kelompok. Pada titik ini, akan terbentuk rantai makanan yang secara alamiah terjadi. Pola saling mengalahkan pada rantai makanan tidak hanya terjadi antar spesies, tetapi juga dalam satu spesies dan kelompok: seperti terjadinya strata politik, budaya, dan ekonomi pada manusia.

Walaupun kepentingan diri “tampaknya” adalah hal yang utama, pada akhirnya keseimbangan harus tetap terjaga. Siklus rantai makanan hanya akan berjalan dengan harmonis jika “pemangsa” tetap mendapatkan “mangsa” dalam jumlah yang cukup. Jika pemangsa terlalu banyak atau jumlah mangsa terlalu sedikit, maka kelangsungan hidup pemangsa pun akan terancam.

Secara alami, keseimbangan jumlah “pemangsa” dan “mangsa” sejatinya telah diatur oleh alam. Saat terjadi ketimpangan, maka semesta yang misterius akan memberikan intervensi sehingga keseimbangan awal dapat terjadi kembali: populasi “pemangsa” akan terkontrol dengan sendirinya jika tidak mendapatkan makanan yang cukup.

Terkontrolnya populasi “pemangsa” akibat makanan yang kurang sering terlihat pada hewan dan tumbuhan yang tidak memiliki kecerdasan untuk memanipulasi sumber daya yang ada. Tetapi, bagaimana jika “pemangsa” tersebut memiliki kecerdasan untuk bertindak lebih jauh? Homo sapiens bisa jadi adalah contoh yang paling nyata.

Homo sapiens atau manusia dapat bertahan hingga saat ini karena kecerdasannya dalam memanipulasi sumber daya yang ada. Saat sumber makanan sudah mulai jarang ditemui di era berburu, manusia dengan cerdas mengolah tanah dan memanipulasi sumber protein hewani: bercocok tanam dan berternak. Pada fase ini, masalah akan kebutuhan makanan dapat teratasi. Fase ini juga merupakan awal mula konsep “kepemilikan” semakin menguat.

Di masa bercocok tanam, masalah akan kebutuhan makanan terhadap populasi manusia yang terus bertambah dapat teratasi untuk sementara waktu. Walaupun demikian, jumlah pertambahan populasi yang terus meningkat membuat lahan dan hewan ternak yang dipakai untuk bercocok tanam tidak cukup lagi untuk dikonsumsi.

Pada tahap ini, manusia mengakali masalah dengan memperluas wilayah bercocok tanam dan memperbanyak ternak yang dimiliki. Perluasan wilayah ini tentu berbenturan dengan manusia lain yang memiliki kepentingan yang sama. Saat kemampuan wilayah yang dimiliki tidak mampu memenuhi kebutuhan, manusia akan melakukan ekspansi ke area lain yang kosong, dan akhirnya melakukan perluasan ke wilayah manusia lainnya: dengan melakukan perebutan dan perang terhadap kepemilikan orang lain.

Di masa – masa kuna, ekspansi atas hak milik individu lain dilakukan dengan kekerasan dan perang. Saat kekerasan disepakati sebagai hal yang buruk, ekspansi tersebut ternyata tidak berhenti. Ekspansi tetap dilakukan dengan cara yang lebih halus dan terstruktur dengan teknologi bernama uang: benda semu yang tidak memiliki harga tetapi menjadi sangat mahal karena kesepakatan bersama.

Dalam perkembangannya, uang akhirnya dijadikan simbol kemapanan. Walaupun pada hakikatnya sumber daya ada batasnya, para kapital yang memiliki modal dan berkuasa atas uang terus memberikan delusi mengenai sumber daya yang tidak akan habis–dengan cara berinvestasi pada ilmu pengetahuan. Sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, pada akhirnya “disulap” menjadi kebutuhan primer bagi para konsumen. Konsumen akan bekerja–dan memperkaya pemiliki modal–kemudian berlomba membeli barang dari pemilik modal tersebut walaupun barang dan jasa tersebut bukanlah kebutuhan primer. Simbol kemapanan akibat kepemilikan dari produk – produk berkelas dan bermerk terus dikampanyekan. Efek lanjutannya sangat mudah ditebak: perputaran uang yang semu terus bergerak.

Dengan dalih “penemuan baru akan membuat barang konsumsi menjadi tidak terbatas”, kondisi tersebut jelas akan menetramkan manusia yang berada pada pusaran roda penggerak perekonomian. Tetapi, benarkah demikian? Bagaimana jika hal tersebut dilihat secara lebih luas?

Bahan konsumsi manusia tentu saja akan terus tersedia akibat penemuan – penemuan baru. Tetapi, proses produksi barang konsumsi tentu tidak akan lepas dari pemanfaatan alam. Pemanfaatan sumber energi yang semakin marak, pembukaan lahan baru untuk mendirikan pabrik, dan polusi yang terus meningkat adalah contoh yang paling sering terjadi.

Penggalian tambang di darat dan penanaman sawit dalam jumlah besar memerlukan pembebaskan hutan. Belum lagi polusi lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas tersebut. Pemakaian sumber energi juga akan menghasilkan polusi: mesin mengeluarkan karbon monoksida yang berbahaya bagi lingkungan. Walaupun pada perjalannya hal tersebut diakali dengan menggunakan sumber daya sinar matahari dengan panel surya, tetap saja diperlukan sumber daya bumi dalam proses pembuatan alat panel surya yang memiliki kemungkinan perusakan alam yang mirip dengan penggalian sumber energi lainnya: litium.

Manusia akan tetap menggeser entitas lainnya dalam bertahan hidup, baik itu secara individu atau kolektif. Pencarian sumber energi akan menggeser keberlangsungan hidup dari penyedia oksigen–hutan–dan semua makhluk hidup di dalamnya. Cepat atau lambat ketimpangan ekosistem pendukung kehidupan manusia akan terjadi.

Disadari atau tidak, ketimpangan itu pada akhirnya akan membuat keberlangsungan hidup manusia itu sendiri terancam. Jelas, ketimpangan itu berawal pada keserakahan manusia. Keserakahan yang mengaburkan pandangan terhadap keseimbangan; keserakahan yang mengaburkan pandangan bahwa entitas lain pun perlu hidup agar keharmonisan bersama tetap terjadi.

Manusia pada akhirnya tidak bisa hidup sendiri dan perlu menghargai kepentingan entitas lain untuk bertahan hidup. Saat entitas lain tetap hidup dengan nyaman, manusia pun akan hidup dengan tenang. Keserakahan pada akhirnya akan membuat manusia sebagai predator puncak akan musnah bersamaan dengan hilangnya lingkungan tempatnya tinggal. [T]

_____

KLIK UNTUK BACA ARTIKEL DOKTER KRISNA YANG LAIN

Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan
Tags: kemanusiaanmempertahankan hiduppredator
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Budi Darma dalam Bayang-bayang Tokoh | Catatan Diskusi Semenjana #3

Next Post

Arak Bali Belum Sepenuhnya Legal, Tapi Tenang Saja…

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Arak Bali Belum Sepenuhnya Legal, Tapi Tenang Saja…

Arak Bali Belum Sepenuhnya Legal, Tapi Tenang Saja...

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co