1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia, Predator Puncak yang (Mencoba) Bertahan Hidup

Krisna Aji by Krisna Aji
December 6, 2021
in Esai
Manusia, Predator Puncak yang (Mencoba) Bertahan Hidup

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Sejatinya, setiap entitas hidup di dunia ini dapat bertahan hingga detik ini karena memiliki insting untuk tetap bertahap hidup dan meneruskan keturunan. Banyak entitas hidup yang pada akhirnya tergerus waktu dan punah karena insting saja tidak cukup: perlu dilanjutkan dengan luaran nyata yang dapat melawan seleksi alam; perlu ada tindakan nyata yang sesuai dengan tuntutan tempat hidup–dan berujung pada pola adaptasi terhadap tekanan. Selanjutnya, pola bertahan hidup yang sukses dari individu pada akhirnya akan diturunkan kepada generasi penerus. Hasil akhirnya, suatu entitas dapat terhindar dari kepunahan.

Dari tuntutan untuk menyelamatkan entitas diri secara individu, tidak jarang pola tersebut membentuk sikap egois yang mendahulukan kepentingan sendiri: saling mengalahkan antara satu entitas dengan entitas lainnya–dari persaingan antar spesies yang berusaha mencapai posisi sebagai pemangsa puncak, persaingan antar entitas di dalam satu spesies, dan bahkan bahkan dalam satu kelompok. Pada titik ini, akan terbentuk rantai makanan yang secara alamiah terjadi. Pola saling mengalahkan pada rantai makanan tidak hanya terjadi antar spesies, tetapi juga dalam satu spesies dan kelompok: seperti terjadinya strata politik, budaya, dan ekonomi pada manusia.

Walaupun kepentingan diri “tampaknya” adalah hal yang utama, pada akhirnya keseimbangan harus tetap terjaga. Siklus rantai makanan hanya akan berjalan dengan harmonis jika “pemangsa” tetap mendapatkan “mangsa” dalam jumlah yang cukup. Jika pemangsa terlalu banyak atau jumlah mangsa terlalu sedikit, maka kelangsungan hidup pemangsa pun akan terancam.

Secara alami, keseimbangan jumlah “pemangsa” dan “mangsa” sejatinya telah diatur oleh alam. Saat terjadi ketimpangan, maka semesta yang misterius akan memberikan intervensi sehingga keseimbangan awal dapat terjadi kembali: populasi “pemangsa” akan terkontrol dengan sendirinya jika tidak mendapatkan makanan yang cukup.

Terkontrolnya populasi “pemangsa” akibat makanan yang kurang sering terlihat pada hewan dan tumbuhan yang tidak memiliki kecerdasan untuk memanipulasi sumber daya yang ada. Tetapi, bagaimana jika “pemangsa” tersebut memiliki kecerdasan untuk bertindak lebih jauh? Homo sapiens bisa jadi adalah contoh yang paling nyata.

Homo sapiens atau manusia dapat bertahan hingga saat ini karena kecerdasannya dalam memanipulasi sumber daya yang ada. Saat sumber makanan sudah mulai jarang ditemui di era berburu, manusia dengan cerdas mengolah tanah dan memanipulasi sumber protein hewani: bercocok tanam dan berternak. Pada fase ini, masalah akan kebutuhan makanan dapat teratasi. Fase ini juga merupakan awal mula konsep “kepemilikan” semakin menguat.

Di masa bercocok tanam, masalah akan kebutuhan makanan terhadap populasi manusia yang terus bertambah dapat teratasi untuk sementara waktu. Walaupun demikian, jumlah pertambahan populasi yang terus meningkat membuat lahan dan hewan ternak yang dipakai untuk bercocok tanam tidak cukup lagi untuk dikonsumsi.

Pada tahap ini, manusia mengakali masalah dengan memperluas wilayah bercocok tanam dan memperbanyak ternak yang dimiliki. Perluasan wilayah ini tentu berbenturan dengan manusia lain yang memiliki kepentingan yang sama. Saat kemampuan wilayah yang dimiliki tidak mampu memenuhi kebutuhan, manusia akan melakukan ekspansi ke area lain yang kosong, dan akhirnya melakukan perluasan ke wilayah manusia lainnya: dengan melakukan perebutan dan perang terhadap kepemilikan orang lain.

Di masa – masa kuna, ekspansi atas hak milik individu lain dilakukan dengan kekerasan dan perang. Saat kekerasan disepakati sebagai hal yang buruk, ekspansi tersebut ternyata tidak berhenti. Ekspansi tetap dilakukan dengan cara yang lebih halus dan terstruktur dengan teknologi bernama uang: benda semu yang tidak memiliki harga tetapi menjadi sangat mahal karena kesepakatan bersama.

Dalam perkembangannya, uang akhirnya dijadikan simbol kemapanan. Walaupun pada hakikatnya sumber daya ada batasnya, para kapital yang memiliki modal dan berkuasa atas uang terus memberikan delusi mengenai sumber daya yang tidak akan habis–dengan cara berinvestasi pada ilmu pengetahuan. Sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, pada akhirnya “disulap” menjadi kebutuhan primer bagi para konsumen. Konsumen akan bekerja–dan memperkaya pemiliki modal–kemudian berlomba membeli barang dari pemilik modal tersebut walaupun barang dan jasa tersebut bukanlah kebutuhan primer. Simbol kemapanan akibat kepemilikan dari produk – produk berkelas dan bermerk terus dikampanyekan. Efek lanjutannya sangat mudah ditebak: perputaran uang yang semu terus bergerak.

Dengan dalih “penemuan baru akan membuat barang konsumsi menjadi tidak terbatas”, kondisi tersebut jelas akan menetramkan manusia yang berada pada pusaran roda penggerak perekonomian. Tetapi, benarkah demikian? Bagaimana jika hal tersebut dilihat secara lebih luas?

Bahan konsumsi manusia tentu saja akan terus tersedia akibat penemuan – penemuan baru. Tetapi, proses produksi barang konsumsi tentu tidak akan lepas dari pemanfaatan alam. Pemanfaatan sumber energi yang semakin marak, pembukaan lahan baru untuk mendirikan pabrik, dan polusi yang terus meningkat adalah contoh yang paling sering terjadi.

Penggalian tambang di darat dan penanaman sawit dalam jumlah besar memerlukan pembebaskan hutan. Belum lagi polusi lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas tersebut. Pemakaian sumber energi juga akan menghasilkan polusi: mesin mengeluarkan karbon monoksida yang berbahaya bagi lingkungan. Walaupun pada perjalannya hal tersebut diakali dengan menggunakan sumber daya sinar matahari dengan panel surya, tetap saja diperlukan sumber daya bumi dalam proses pembuatan alat panel surya yang memiliki kemungkinan perusakan alam yang mirip dengan penggalian sumber energi lainnya: litium.

Manusia akan tetap menggeser entitas lainnya dalam bertahan hidup, baik itu secara individu atau kolektif. Pencarian sumber energi akan menggeser keberlangsungan hidup dari penyedia oksigen–hutan–dan semua makhluk hidup di dalamnya. Cepat atau lambat ketimpangan ekosistem pendukung kehidupan manusia akan terjadi.

Disadari atau tidak, ketimpangan itu pada akhirnya akan membuat keberlangsungan hidup manusia itu sendiri terancam. Jelas, ketimpangan itu berawal pada keserakahan manusia. Keserakahan yang mengaburkan pandangan terhadap keseimbangan; keserakahan yang mengaburkan pandangan bahwa entitas lain pun perlu hidup agar keharmonisan bersama tetap terjadi.

Manusia pada akhirnya tidak bisa hidup sendiri dan perlu menghargai kepentingan entitas lain untuk bertahan hidup. Saat entitas lain tetap hidup dengan nyaman, manusia pun akan hidup dengan tenang. Keserakahan pada akhirnya akan membuat manusia sebagai predator puncak akan musnah bersamaan dengan hilangnya lingkungan tempatnya tinggal. [T]

_____

KLIK UNTUK BACA ARTIKEL DOKTER KRISNA YANG LAIN

Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan
Tags: kemanusiaanmempertahankan hiduppredator
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Budi Darma dalam Bayang-bayang Tokoh | Catatan Diskusi Semenjana #3

Next Post

Arak Bali Belum Sepenuhnya Legal, Tapi Tenang Saja…

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

by Sugi Lanus
April 30, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

Read moreDetails

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
0
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

Read moreDetails

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
0
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

Read moreDetails

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

by Angga Wijaya
April 28, 2026
0
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

Read moreDetails

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

by Isran Kamal
April 27, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

Read moreDetails
Next Post
Arak Bali Belum Sepenuhnya Legal, Tapi Tenang Saja…

Arak Bali Belum Sepenuhnya Legal, Tapi Tenang Saja...

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co