1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cara Sejumlah Orang Bali Menyingkir dari Keriuhan Tahun Baru

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Feature

Foto: koleksi penulis

BAGI orang Bali (Hindu) tentu saja tak ada masalah dengan perayaan Tahun Baru, meski sesungguhnya Hindu memiliki Tahun Baru sendiri yang dirayakan dengan Nyepi. Tak masalah juga Bali dikerubuti turis asing dan kebanyakan lokal, hingga sampai jalan-jalan macet, parkir objek wisata penuh sesak, dan hotel kehabisan kamar meski tarifnya sudah dinaikkan 100 persen.

“Pada setiap perayaan Tahun Baru, Pulau Bali ini kita kontrakkan saja,” kata seorang teman, sebut saja namanya Made Ada, beberapa hari menjelang Tahun Baru.

“Dikontrakkan? Maksudnya?” tanya saya.

“Iya, selama perayaan Tahun Baru biarkan orang-orang di luar Bali datang ke Bali, merubung di objek wisata, menyesaki hotel dan merayap di jalan-jalan besar. Kita yang orang Bali menyingkir saja!” ujarnya.

“Menyingkir?”

“Ya, kita jangan ikut-ikutan ke objek wisata, jangan ikut-ikutan memenuhi jalanan, dan jangan ikut-ikutan memenuhi kamar-kamar hotel!”

“Artinya, kita tak ikut merayakan Tahun Baru, seperti orang-orang yang melarang terompet, melarang pesta, melarang bakar ikan, melarang bakar jagung?”

“Bukan! Beh, kau tak paham maksudku!”

“Aku paham sedikit, tapi belum ngerti, he he he!”

“Justru kita, sebagai orang Bali, membiarkan orang-orang merayakan Tahun Baru di pulau kita, biarkan mereka bebas, kita sendiri tak usah mengganggu mereka. Sebagaimana orang yang mengontrak rumah kita, biarkan mereka nyaman tinggal di rumah kita, toh hanya sementara, jangan ikut menumpang tidur di dalam rumah yang sudah dikontrakkan!”

“Ide aneh.”

“Ya, aneh!”

“Jika kita menyingkir, siapa yang melayani para turis itu?”

“Semua sudah punya tugas. Semua punya pekerjaan. Yang bekerja di hotel ya tetap bekerja, yang jualan di objek wisata ya tetap jualan. Yang jadi sopir bus, ya, antarkan tamu dengan baik. Maksudnya, kita-kita ini, orang-orang yang dapat cipratan libur, ya, jangan ikut seperti turis di pulau sendiri. Biarkan turis tetap nyaman, karena objek-objek wisata dan jalanan sudah kita kontrakkan. Kita menyingkir!”

“Menyingkir ke mana?”

“Terserah, asalkan jangan menganggu turis dengan ikut-ikutan menjadi turis!”

Lama saya mencoba untuk memahami jalan pikiran Made Ada, teman saya itu. Sampai akhirnya saya benar-benar bertemu dengan sejumlah orang Bali yang sungguh-sungguh menyingkir dari keriuhan perayaan Tahun Baru.

Sabtu, 31 Desember 2016, sehari menjelang Tahun Baru 2017, saya bersama keluarga sembahyang ke Pura Segara Rupek, di ujung barat Buleleng, Pulau Bali. Pura itu terletak di tepi laut, di tengah hutan cukup lebat yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat.

Dari jalan raya Gilimanuk-Singaraja, dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam untuk mencapai lokasi pura, dengan melewati jalan gladag batu yang bergelombang. Belum lagi di tengah jalan dihadang kawanan kera yang mengiba minta makanan hingga membuat kita terhenti untuk melempar sekadar bekal buah-buahan.

Di Pura itu saya bertemu sejumlah orang. Mereka bukan sekadar bersembahyang, tapi mekemit (menginap) di Pura terpencil itu. Beberapa di antaranya bahkan sudah berada di Pura sejak Jumat 30 Desember, dan berencana untuk mepamit (pulang) setelah Tahun Baru 1 Januari 2017.

Saya dan keluarga tidak menginap di Pura itu. Petang dalam perjalanan pulang, saya berpapasan dengan banyak mobil menuju Pura. Di dalamnya terdapat sekeluarga atau mungkin kelompok sekawan. Mereka berpakaian adat putih poleng, putih-putih atau putih kuning.

Saya berani pastikan, mereka akan berada di Pura itu ketika malam saat orang lain merayakan penyambutan Tahun Baru dengan gegap-gempita. Beberapa mungkin mekemit dan pulang setelah tanggal 1 Januari, atau melanjutkan perjalanan ke sejumlah pura lain yang lebih terpencil.

Mungkin, sebagaimana dimaksud teman saya Made Ada, laku orang-orang itulah yang disebut menyingkir dari keriuhan Tahun Baru. Mereka “mencuri” momentum perayaan (yang bukan tradisi agama mereka) lalu digunakan untuk “merayakan” kedekatan mereka dengan Tuhan sesuai agama mereka.

Saya jamin, tempat “penyingkiran” bukan hanya Pura Segara Rupek. Banyak Pura lain di lokasi ekstrem juga digunakan sebagai tempat mekemit sekaligus berdoa demi keselamatan diri dan dunia. Semisal sejumlah Pura di puncak Lempuyang, atau Pura di lereng-lereng gurung kawasan Batukaru, atau Pura di tengah hutan di sekitar Tamblingan dan Buyan.

Laku menyingkir itu tampaknya bukan hanya terjadi saat perayaan Tahun Baru. Sejumlah pemangku yang sempat saya ajak ngobrol mengatakan, Pura-Pura yang jauh dari keramaian biasanya banyak didatangi umat Hindu saat hari-hari raya agama lain semisal Hari Natal, Idul Fitri dan Waisak. Mereka biasanya datang bersama keluarga, rombongan teman, atau rombongan sesama rekan kerja.

Laku ini bisa disebut sebagai toleransi bentuk lain. Saat Idul Fitri mereka tak ingin mengganggu umat Muslim sholat Id di lapangan terbuka. Saat Natal, mereka memberi ruang bagi umat Kristiani merayakannya dengan khusuk di gedung publik maupun di ruang terbuka. Mereka menyingkir, melakukan perjalanan suci atau tirtayatra ke Pura yang jauh dari pusat-pusat perayaan.

Itu mungkin salah satu tujuan kenapa saat hari raya agama tertentu, umat dari agama lain juga ikut diliburkan. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap umat dari agama lain, libur juga memberi kesempatan umat yang tak merayakannya untuk ikut mendekatkan diri dengan Tuhan sesuai agama masing-masing.

Ngomong-ngomong, usai perayaan Tahun Baru 2017, saya telepon Made Ada, teman saya itu. Saya tanya ke mana ia menyingkir saat Tahun Baru. Jawabannya sungguh tak enak.

“Kau nyindir ya. Kau tahu, aku tak perlu menyingkir. Rumahku sudah sangat terpencil, jauh dari peradaban kembang api, jalan ke desaku rusak berat, tak ada turis yang mau ke sini. Aku di rumah saja, sembahyang di Pura tepi sungai dekat rumahku. Bagaimana? Kau puas?”

Saya tutup telepon sambil tersenyum… (T)

Tags: orang balitahun barutoleransi
Share619TweetSendShareSend
Previous Post

Bicara “Topi Saya Bundar”, Bicara Definisi Kehormatan

Next Post

Pameran Buku Ala Kadar – Catatan Kecil untuk Denpasar Festival 2016

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

by Dede Putra Wiguna
May 1, 2026
0
SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band...

Read moreDetails

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
0
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

by Angga Wijaya
April 29, 2026
0
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

Read moreDetails

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
0
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

Read moreDetails
Next Post

Pameran Buku Ala Kadar - Catatan Kecil untuk Denpasar Festival 2016

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru
Pop

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band...

by Dede Putra Wiguna
May 1, 2026
‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co