6 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perjanjian Pohon Kopi dengan Semut Hitam

Wayan Purne by Wayan Purne
August 23, 2021
in Dongeng
Perjanjian Pohon Kopi dengan Semut Hitam

Ilustrasi tatkala.co | Putik Padi

Di sebuah desa yang sejuk, hiduplah seorang petani yang sangat rajin. Ia petani yang sangat tekun menanam pohon kopi di ladangnya. Kini, kopi-kopi yang ia tanam sudah mulai tumbuh besar menjadi pohon-pohon kopi yang rindang. Pohon-pohon kopi itu sudah siap melahirkan biji-biji yang beraroma menyegarkan.

Musim berbunga telah tiba, pohon-pohon kopi memekarkan bunga-bunganya. Keharuman wewangian bunga kopi mulai menelusuri setiap sudut ladang Pak Tani itu. Wewangian yang menarik perhatian cinta kasih para sang lebah. Hati Pak Tani itu pun ikut berbunga-bunga melihat pohon-pohon kopinya berbunga lebat. Ia membayangkan setiap ranting pohon-pohon kopinya penuh dengan buah kopi. Keharuman kopi-kopi itu akan banyak dinikmati oleh para penikmat kopi di seluruh dunia.

Sang Surya di upuk timur menyambut Pak Tani yang sedang bersiap berangkat ke kebun kopinya. Ia bersemangat membayangkan dirinya disambut bunga-bunga kopi yang bermekaran diantara beberapa buah kopi mulai muncul sedikit malu-malu. Ia sampai di tengah hamparan kebun kopinya. Ia berdiri sejenak memandangi seluruh hamparan kebun kopinya, tetapi raut wajahnya berubah terlihat marah, kecewa, dan penuh kebingungan.

“Ke mana bunga-bunga kopiku? Bakal biji kopiku tak kan lahir!” Pak Tani menggerutu sendiri.

Pak Tani menelusuri dan mengamati setiap pohon kopinya. Ia mengamati dengan teliti mencari penyebab bunga-bunga kopinya menghilang.

“Ternyata kamu, Cendawan[1] yang melilit di ranting-ranting kopiku,” gumam Pak Tani melihat-lihat setiap ranting kopinya.

Pak Tani pindah dari satu pohon kopi ke pohon kopi yang lain, ”Oooh Kutu Daun! Kamu juga menyerang kopiku.”

“Lihat saja besok! Apa kalian tetap bisa menggerogoti kopiku,” gerutu Pak Tani penuh amarah.

Pak Tani, ia semakin marah. Sekali lagi, ia berkeliling menelusuri setiap pohon kopinya. Ia perhatikan dengan teliti pengganggu-peganggu bunga kopinya yang telah gagal melahirkan buah kopi.

“Lihat nanti, aku akan semprot kalian dengan racun yang sangat mematikan. Sebuah racun yang diciptakan oleh manusia-manusia genius. Dengan racun itu, pasti semua kopiku bisa berbunga lebat dan akan banyak melahirkan buah kopi,” gumam Pak Tani megalihkan amarah dan rasa kesalnya.

Pak Tani lekas pergi ke gubuknya yang terletak di tengah-tengah perkebunan kopinya. Ia mengambil rantang perbekalannya yang masih terbungkus rapi. Rantang perbekalan itu dibawa pulang begitu saja, ia sudah melupakan rasa laparnya. Ia meninggalkan perkebunan kopinya dengan kepala penuh rencana. Sebuah rencana pembasmian masal sebagai bentuk dukungan terhadap bunga-bunga kopi yang akan bisa bebas bermekaran.

Suasana amarah Pak Tani menghilang dari kebun-kebun kopi. Namun, keadaan kebun kopi menjadi bergemuruh.

“Apa yang akan terjadi denganku? Sampai kapan aku harus menelan racun-racun itu? Racun yang dipikirkan oleh manusia sebagai obat bagi tubuhku,” keluh tangis para pohon kopi.

Membayangkan yang akan terjadi, pohon-pohon kopi ketakutan akan tubuhnya yang tidak berdaya. Ia semakin sedih. Ia tidak akan lagi memiliki semangat memekarkan bunga-bunganya dengan sempurna. Para lebah akan enggan menghisap nektar di dalam bunga-bunganya.

“Apa yang kamu sedihkan? Bukannya senang dirawat oleh petani?” tegur Komandan Semut Hitam yang kebetulan lewat. Komandan Semut itu sedang memimpin pasukannya mengangkut makanan dari kebun sebelah.

“Memang aku dirawat dengan baik, tetapi aku juga harus berlatih menelan racun yang disemprotkan oleh petani. Kamu dan pasukan semut hitammu akan mati keracunan jika melewati tubuhku ataupun mencari makanan di bunga-bungaku,” ucap Pohon Kopi sedih.

“Oh, kalau begitu aku harus memperingatkan semua pasukanku agar tidak lewat ataupun mencari makanan di kebun kopi ini,” sahut Komandan Semut Hitam.

“Kumohon tolong aku! Aku tidak akan sanggup lagi terus menerus menelan racun,” pinta Pohon Kopi.

“Bagaimana kami harus menolongmu? Tidak mungkin kami harus ikut menelan racun-racun itu, kami bisa mati,” jawab Komandan Semut Hitam.

“Bukan itu yang aku maksud, tapi kamu dan semua pasukan semut hitammu mencari makanan di kebun kopi ini. Secara tidak langsung, kamu dan semua pasukan semut hitammu telah menjaga kami dari musuh seperti cendawan ataupun ulat-ulat lainnya,” terang Pohon kopi.

“Bagaimana Ketika sedang sibuk mengumpulkan makanan di kebun kopi ini, tiba-tiba kami disemprot racun oleh Pak Tani? Kami bisa mati semua di sini,” tanya Komandan Semut Hitam.

“Pak Tani tidak akan menyemprotkan racun jika kami berbunga dengan sempurna dan akhirnya berbuah lebat. Itu terjadi jika kamu dan pasukan semut hitammu bisa penyingkirkan pengganggu-pengganggu yang ada di kebun kopi ini. Kami pun bisa dengan nyaman bisa berbunga,” terang Pohon Kopi.

“Ya, kalau itu jaminanmu. Aku akan mengumpulkan semua pasukan semut hitam yang ada di daerah ini sehingga sehingga setiap pohonmu dipenuhi dengan semut hitam,” ucap Komandan Semut Hitam.

Komandan Semut Hitam meniup trompet. Para pasuka semut mulai berkumpul di kebun Pak Tani. Komandan Semut Hitam membentuk pasukan semutnya menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok bekerja di setiap satu pohon kopi.

“Pasukan semut hitam, siap?” tanya Komandan Semut Hitam.

“Siappp, Komandan!” jawab serentak pasukan semut hitam.

Komandan Semut Hitam kembali meniup trompetnya sebagai pertanda pasukan semut hitam segera bergerak bekerja mengumpulkan makanan. Suara trompet Komandan Semut Hitam terhenti, para pasukan semut hitam sudah bergerak mengumpulkan makanan di setiap pohon kopi.

“Terimakasih, Komandan Semut Hitam mau percaya dengan kami,” kata Pohon Kopi.

“Sama-sama Pohon Kopi. Aku harap keyakinanmu benar kalau Pak Tani tidak akan menyemprotkan racun mematikan itu,” sahut Komandan Semut Hitam.

***

Sampailah Pak Tani di rumah dengan penuh rasa kesal dan marah. Ia meletakkan di teras rumah. Ia duduk melepaskan sepatunya.

“Pak, menggerutu marah-marah datang dari kebun?” tanya istri Pak Tani.

“Bu, bagaimana aku tidak marah? Sampai di kebun. Bunga-bunga kopi rusak tidak bisa melahirkan buah biji kopi yang lebat. Semua akibat hama pengganggu itu,” kata Pak Tani kesal.

“Sabar Pak! Mungkin sekarang bukan rejeki kita,” kata istri Pak Tani menenangkan suaminya.

“Jika panen kali ini gagal, bagaimana kita makan nanti?” Pak Tani masih menggrutu.

“Ya Pak. Bapak mandi dulu agar tidak gatel abis datang dari kebun,” jawab istri Pak Tani.

“Bu, besok pagi Bapak akan pergi ke kota membeli racun pembasmi hama perusak kebun kopi kita. Tolong Ibu siapkan uangnya untuk membeli obat itu,” pinta Pak Tani.

Pak Tani bangun dari tempat duduknya. Ia pergi ke kamar mandi membersihkan diri. Ia beristirahat ditemani istrinya, tetapi  permasahan di kebun kopi tidak membuat dirinya tenang.

Keesokannya, Pagi-pagi, Pak Tani sudah berpakaian rapi dan istrinya sudah menyiapkan sarapan singkong rebus.

“Pak, sarapan dulu sebelum barangkat ke kota!” pinta istri Pak Tani.

“Ya Bu, kita sarapan sama-sama!” kata Pak Tani.

Pak Tani menikmati singkong rebus itu dengan sedikit terburu-buru.

“Bu, Bapak berangkat sekarang ke kota,” ucap Pak Tani.

“Ya Pak, hati-hati di jalan,” jawab istri Pak Tani.

Pak Tani lekas berangkat ke kota untuk membeli racun hama untuk kebun kopi miliknya.

***

Sedangkan di kebun kopi Pak Tani, pasukan semut hitam masih sibuk bekerja di setiap pohon kopi. Pasukan semut hitam membersihkan semua pengganggu yang ada di pohon kopi.

“Poot poot poot poot poot poot,” terdengar suara terompet Komandan Semut Hitam menandakan pasukan semut hitam harus menghentikan pekerjaan mereka sejenak.

“Sudah aman semuanya?” tanya Komandan Semut Hitam.

“Amannnnnnnnnnnnnn, Komandan,” jawab pasukan semut serentak.

“Lanjutkan, tetap menjadi penjaga di pohon-pohon kopi ini,” perintah Komandan Semut Hitam.

Pasukan semut hitam Kembali bekerja mengamankan setiap pohon kopi yang ada di kebun itu. Mereka tidak membiarkan satu pun pengganggu bisa hidup di pohon kopi itu.

“Pohon kopi, kamu sudah aman dari perusak dan pengganggu. Sekarang kamu sudah bisa berbunga hingga berbuah dengan nyaman,” ucap Komandan Semut Hitam.

“Terimakasih, sekarang sudah bisa menumbuhkan bunga-bunga kami hingga melahirkan buah-buah yang lebat,” jawab Pohon Kopi.

***

Sampailah Pak Tani di kota. Ia masuk ke sebuah toko penyedia racun hama untuk petani. Toko itu merupakan toko satu-satunya yang ada di kota itu.

“Permisi Pak Tok, ada racun pemasmi hama kopi? Aku ingin menyematkan buah-buah kopiku di kebun,” ucap Pak Tani penuh harap.

“Mohon maaf Pak, racun hama kopi yang Bapak minta sudah habis. Satu bulan lagi baru ada barangnya,” jawab Pak Tok si pemilik toko.

Pemilik toko yang sudah terbiasa di panggil Pak Tok oleh para pembelinya karena nama tokonya pun diberi nama Toko Pak Tok.

“Terimakasih Pak Tok. Aku pesan dua botol. Satu bulan lagi, aku datang mengambil racun hama itu,” kata Pak Tani.

“Siap Pak,” jawab Pak Tok.

Pak Tani meninggalkan toko Pak Tok. Ia harus menunggu satu bulan lagi untuk mendapatkan racun hama itu. Ia pun pulang dengan penuh rasa kekecewaan dan penuh kekesalan.

“Pak, sudah dapat racun hama kopinya?” tanya istri Pak Tani ketika suaminya telah sampai di rumah.

“Bu, Bapak tak akan datang ke kebun kopi selama sebulan. Aku tak mau semakin kesal karena melihat kebun yang tidak berbuah bagus,” jawab Pak Tani.

“Ya sudah Pak. Kalau gitu, kita tidak usah ke kebun kopi selama sebulan ini,” ucap istri Pak Tani lebut.

Sudah mendekati satu bulan, Pak Tani tidak pergi ke kebun kopinya. Pak Tani hanya diam di rumah tanpa melakukan apa-apa. Istri Pak Tani mulai kuatir dengan keadaan kebun kopi mereka. Ia pun tidak berani meminta suaminya pergi melihat kebun kopi.

“Lebih baik aku pergi sendiri ke kebun kopi diam-diam. Jangan-jangan kebun kopi semakin rusak,” pikir istri Pak Tani.

Istri Pak Tani diam-diam pergi ke kebun kopi.

“Aku hanya sebentar melihat kebu kopi agar tidak ketahuan suamiku,” pikir istri Pak Tani.

Ketika sampai di kebun kopi, istri Pak Tani terbongong-bengong melihat keadaan kebun kopi. Ia mendekati pohon-pohon kopi itu untuk memastikan yang lihat sungguh buah-buah kopi.

“Sungguh luar biasa lebat buah pohon-pohon kopi ini. Aku harus segera memberi tahu bapak. Bapak pasti senang melihat kebun kopi ini berbuah lebat,” gumam istri Pak Tani.

Istri Pak Tani buru-buru meninggalkan kebun kopi. Ia berlari bahagia menuju rumah. Dengan napas terengah-engah, istri Pak Tani sampai di rumah.

“Ibu dari mana ini? Bapak cari-cari tidak ada.,” tanya Pak Tani.

“Pak, Ayo ikut Ibu! Ada kejutan,” ajak istri Pak Tani mengabaikan pertanyaan suaminya.

“Kemana? Tanya Pak Tani bingung.

“Ke kebun kopi, Pak,” jawab istri Pak Tani menarik tangan suaminya.

“Ah, Bapak tidak mau ke kebun kopi. Pohon-pohon kopi itu pasti tidak ada yang berbuah,” ucap Pak Tani menahan tarikan tangan istrinya.

“Bapak harus ikut! Kalau lihat kebun kopi kita sekarang, Bapak pasti terkejut dan bahagia,” ucap istri Pak Tani meyakinkan suaminya.

Pak Tani akhirnya menyerah dan mau mendengarkan perkataan istrinya. Ia mengikuti istrinya ke kebun kopi. Ia masih ragu dengan kebenaran yang dikatak oleh istrinya.

“Pak, lihat kebun kopi kita sekarang! Bapak pasti kaget?” ucap istri Pak Tani ketika baru sampai di kebun kopi.

Pak Tani tidak menanggapi ucapan istrinya. Ia benar-benar kaget bahagia melihat kebun kopinya berbuah lebat. Di setiap ranting-ranting pohon kopi, ia melihat penuh dengan buah kopi.

“Benar katamu, Bu. Kebun kopi kita benar-benar berbuah lebat,” ucap Pak Tani bahagia.

“Ya, Pak. Bapak sekarang tidak perlu lagi menyemprotkan racun hama di kebun kopi kita ini,”sahut istri Pak Tani yang juga sibuk lihat-lihat pohon kopi lebih dekat.

“Ooh ya, Bapak jadi ingat. Kemana perginya hama-hama perusak kebun kopi kita, Bu? Kok bisa hilang?” kata Pak Tani

“Ya juga Pak. Jangan-jangan semut-semut hitam ini penyebab para hama takut,” jawab istri Pak Tani menunjuk-nunjuk semut hitam yang sedang berbaris di ranting pohon kopi.

Pak Tani meperhatikan lagi setiap pohon kopi yang ada di kebun itu. Ia melihat banyak semut hitam di antara buah-buah kopi yang ada di setiap ranting pohon kopi. Ia semakin serius memperhatikan semut-semut hitam itu di setiap pohon kopi.

“Kenapa aku perhatikan, kalau ada banyak buah kopi di ranting pohon kopi ini juga ada banyak semut hitam? Pasti semua semut hitam ini menyebabkan kebun kopiku berbuah lebat,” pikir Pak Tani.

Pak Tani mendekati istrinya yang juga sedang asik melihat-lihat pohon kopi.

“Bu, ayo kita pulang! Bapak sudah tahu kalau semua semut hitam ini yang mengusir hama-hama perusak kebun kopi kita. Kita tak perlu lagi racun hama. Kita cukup membiarkan semut-semut hitam ini tetap ada di kebun kopi kita,” kata Pak Tani.

“Wow, hebat semut-semut hitam itu  Pak. Kita bakal panen banyak biji kopi, Pak,” ucap istri Pak Tani.

“Ya, Bu. Terimakasih Bu. Ibu sudah memaksa Bapak ke kebun kopi kita. Kalau tidak, bapak tidak akan sebahagia ini,” ucap Pak Tani.

Pak Tani dan istrinya pulang dengan penuh kebahagiaan akan hasil panen biji kopi yang melimpah.

***

“Kalian dengar percakapan Pak Tani dengan istrinya?” tanya Komandan Semut.

“Ya, kami dengar semuanya,” jawab para pohon kopi serentak.

“Benar katamu, Pohon Kopi. Kalau kamu berbuah sangat lebat, kita tidak akan disemprot racun yang menakutkan itu,” kata Komandan Semut Hitam.

“Terimakasih Komandan dan para pasukanmu telah berhasil melindungi kami,” ucap Pohon Kopi.

“Ya, Pohon Kopi. Kita memang sudah seharusnya bekerja sama,” kata Komandan Semut Hitam.

Dari peristiwa itu, Pohon Kopi dan Komandan Semut Hitam saling berjanji saling menjaga di antara mereka. Tetapi, jika suatu hari ada Pak Tani yang menyemprotkan racun mematikan itu, para semut hitam akan pergi meninggal pohon kopi. Itulah, perjanjian mereka hingga sekarang. [T]


[1] jamur

Tags: dongengfaunafloraPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Goenawan Mohamad: Benahi Ekosistem Kepenulisan, Bukan Sekadar Beri Penghargaan

Next Post

Tips Aman Membeli Jam Tangan Lewat Marketplace Online

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 5, 2025
0
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

ADA satu danau  berbentuk hati. Danau itu punya air biru jernih. Di sekitar danau tinggallah seekor capung bersama keluarga serangga:...

Read moreDetails
Next Post
Tips Aman Membeli Jam Tangan Lewat Marketplace Online

Tips Aman Membeli Jam Tangan Lewat Marketplace Online

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi
Ulas Film

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

by Made Adnyana
May 6, 2026
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh
Persona

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas
Panggung

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant
Gaya

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

by tatkala
May 4, 2026
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan
Ulas Rupa

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

by Made Chandra
May 4, 2026
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
Esai

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

by Angga Wijaya
May 4, 2026
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 4, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co