23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilematika Bali Kontemporer Dalam Matra Ideologi Tri Hita Karana

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
August 13, 2021
in Opini
Dilematika Bali Kontemporer Dalam Matra Ideologi Tri Hita Karana

Anggota DPR RI dari Bali, Bapak I Nyoman Parta S.H., bersama penulis

Tulisan ini merupakan artikel yang disampaikan pada acara Pabligbagan Bale Banjar Tri Hita Karana dan Tantangan Bali Kini yang diadakan oleh Komunitas Teman Parta pada hari Sabtu, 31 Juli 2021. Bertempat di Rumah Aspirasi Nyoman, Desa Guwang Gianyar. Turut hadir adalah Anggota DPR RI dari Bali, Bapak I Nyoman Parta S.H sekaligus tuan rumah, serta dua puluhan tamu undangan yang berasal dari elemen partai politik, pegiat media sosial, pemerhati seni, dan aktivis kemanusiaan dan lingkungan.    

Apa masalah Bali hari ini ? Di luar konteks pandemi Covid 19 yang telah berlangsung hampir dua tahun, saya pikir akan sulit menjawab pertanyaan tersebut dalam hubungannya dengan ideologi Tri Hita Karana. Meski demikian, perlu kiranya menemukenali masalah Bali hari ini dengan harapan dapat membayangkan wajah Bali di masa depan. Oleh sebab itu, pertama-tama, sebagai pengantar, paling tidak kita bisa mencari deskripsi negosiatif tentang apa itu Bali.

Sebelum sampai pada deskripsi negosiatif tentang apa itu Bali, akan muncul berbagai pertanyaan ; Bali yang akan kita bicarakan apakah yang realitas ataukah angan-angan?, yang seharusnya ataukah yang sebaiknya?. Perlukah ditentukan format tentang Bali ?, jika perlu, lalu apakah bisa ? Dan kalau perlu dan bisa, akan masihkah Bali itu tetap Bali ?, atau jangan-jangan malah menjadi semacam definisi yang tidak jelas struktur dan kerangka teorinya.

Bermodal keterangan di atas, saya menyimpulkan bahwa deskripsi negosiatif tentang Bali terlalu kompleks dan sulit ditangkap ke dalam sebuah kebulatan pengertian. Ia berada di luar definisi. Lebih-lebih untuk mereka yang hati dan pikirannya telah secara baku dan kaku terikat dengan pola keseragaman (uniformitas) dalam memandang setiap persoalan dan terbiasa memonopoli atau dimonopoli oleh setiap interpretasi. Akibatnya, sangat sulit menentukan dasar pijakan di alam mana sesungguhya Bali sedang dibicarakan.

Jean Francois Guermonprez, penulis Prancis dalam karyanya “les pande de Bali la formation d’une “caste” et la veleur titre” mengatakan bahwa masyarakat Bali memiliki karakter akumulatif  dan museum imajiner yang membingungkan, membiarkannya menggosok benda dari segala usia dalam kesemrawautan nyata. Citra museum tersebut juga harus menambahkan kehidupan, artinya ada gerakan dan temuan, kinetika yang berlimpah bentuk dan simbol yang terus menerus mempesona dan membutakan pengamat Barat.

Boon J.A dalam “The Antropological Romance in Bali” menyebut Bali sebagai oase yang unik di mana orang-orang asing berdatangan selama lebih dari seabad, dipotong-potong sesuai motivasi dan tujuan pribadi mereka, seiris mimpi atau kajian yang berakumulasi dalam pembuatan kleidoskop roman antropologi pulau Bali.

Michel Picard mengatakan kesulitan menangkap realitas masyarakat Bali bukan ilusi dan kesulitan tersebut bukan hanya hasil dari keberadaan suatu kesemrawutan citra dan klise, terutama pada masyarakat era pariwisata dan datang kembali menginformasikan wacana tertentu tentang masyarakat Bali. Ia melihat turisfikasi telah mengubah struktur dan wajah Bali dari dalam.

Henk Scholte Nordholt membaca perubahan itu dari kacamata identitas dan mengatakan bahwa Bali adalah  sebuah benteng terbuka bagi kekuatan-kekuatan luar yang beroperasi di dalamnya sehingga akan sangat sulit mencari benang merah tentang Bali yang “asli”. Oleh karenanya, perdebatan tentang Bali yang asli harus ditiadakan dan memberikan ruang negosiasi kebudayaan untuk Bali menentukan nasibnya sendiri.  

Dari kerumitan-kerumitan di atas, saya memutuskan untuk melihat deskripsi negosiatif tentang Bali dari perspektif kelas menengah. Selain karena saya adalah bagian dari kelas menengah, beberapa alasan menimpali. Pertama, dalam kacamata Weber, kelas menengah ini adalah pelopor revolusi-revolusi besar dunia. Kajian Weber tentang kelas menengah sekaligus menjadi kuburan bagi pemuja Marx dan turunan-turunannya. Dalam konteks Bali dengan industri pariwisatanya, kelas menengah adalah kelompok sosial yang dengan gigih menangkap peluang turisme pariwisata melalui kemampuan intelektual yang diorganisasikan secara massal dan didiseminasikan melalui kekuatan media informasi. Mereka adalah potret social urban yang terdiri dari kaum intelektual, pebisnis media, agamawan, politisi, birokrat dan elit-elit lokal di desa.

Kepemilikan identitas yang cair dan heterogen menjadikannya kelas elit dengan beragam kepentingan dan kekuasaan. Hal tersebut didapatkan melalui persekutuannya dengan negara dan modal untuk berkolaborasi menguasai jaringan ekonomi makro yang meringsek ekonomi rakyat. Kefasihan dan sikap oportunis yang dimiliki ketika mengartikulasikan identitasnya dibandingkan orang Bali pedesaan mengakibatkan permainan kesadaran pengetahuan.

Masalah Bali kontemporer dalam kacamata kelas menengah pada konteks ideologi Tri Hita Karana akan saya bagi menjadi tiga hal pokok. Pertama parahyangan, yakni hubungan manusia dengan Tuhan, kedua pawongan yakni hubungan manusia dengan manusia dan ketiga adalah palemahan, yakni hubungan manusia dengan lingkungan. Secara khusus saya ingin memberikan kredit poin pada dimensi pawongan dan palemahan, atau isu kemanusiaan dan lingkungan, yang pada konteks nasional belum atau tidak digarap dengan maksimal.  

Kita mulai dari masalah parahyangan yang dihadapi oleh manusia Bali dewasa ini. Sebagai sejarawan, saya melihat adanya pergeseran orientasi pada bagaimana manusia Bali memperlakukan sakralitas agama mereka di tengah infiltrasi nilai-nilai neoliberalisme dan kapitalisme yang ikut tersemai melalui industri pariwisata. Neoliberalisme yang menyatu dengan globalisasi mengakibatkan masyarakat Bali berubah dari masyarakat tradisional (pramodern) ke masyarakat modern (posmodern). Neoliberalisme memiliki ciri berupa status ontologi manusia adalah homo economicus, epistimologinya adalah consumenicus, seluruh bidang kehidupan adalah komoditas, relasi manusia adalah transaksi untung rugi, efektivitas dan efisiensi diukur berdasarkan kinerja ekonomi pasar sehingga manusia dikuasai oleh etika konsumsi.

Persinggungan neoliberalisme dengan spiritualitas masyarakat Bali melahirkan fenomena pergeseran karakteristik masyarakat Bali yang teosofistik ke masyarakat yang teknosofistik dan  berlanjut pada masyarakat yang libidosofistik. Penempatan libido sebagai pusat dunia, bukan roh atau agama sebagaimana yang berlaku pada masyarakat pramodern, melahirkan sekulerisme spiritualitas. Akibatnya, manusia Bali tidak lagi menganggap Tuhan atau mansifestasi-mansifestasinya sebagai yang ultima, melainkan ada lagi ultima lainnya, yakni uang dan benda-benda konsumsi. Kondisi tersebut merupakan cermin di mana uang dan materi tidak lagi sebagai alat pemenuhan hastrat, melainkan subjek yang menguasai akal budi dan roh.

Dilematika kedua tentang pawongan merupakan dampak dari praktik hipokrit masyarakat Bali yang telah terkooptasi nilai-nilai neoliberalisme, yang secara tidak langsung mempengaruhi pandangan mereka tentang hubungan sosial di masyarakat. Saya meminjam gagasan ilmuan alam dan memetaforkannya ke dalam konteks sosial dengan istilah darwinisme sosial. Charles Darwin yang dikenal dengan teori seleksi alam yang berintikan pada gagasan bahwa alam akan menyeleksi hanya bagi mereka yang cocok dan mampu beradaptasi paling baik dengan keadaan-keadaan lingkungannya sehingga bisa bertahan hidup dan melanjutkan keturunannya.

Gagasan ini juga berlaku pada sistem sosial yang libidosofistik tadi, sehingga melahirkan asumsi bahwa manusia dalam masyarakat memerlukan kemampuan beradaptasi. Kompetisi pada masyarakat libidosifistik mengakibatkan adanya pihak yang kalah dan ada pihak yang menang. Pemenang dalam sebuah persaingan adalah orang yang kuat secara finansial, ekonomi, politik, budaya dan intelektual disertai dengan kemampuan beradaptasi secara sosiobudaya. Sebaliknya, yang kalah adalah orang yang lermah karena miskin modal dan tidak mampu beradaptasi dalam lingkungan sosial budayanya sehingga sudah sewajarnya tersingkir dan tidak perlu diperdebatkan secara serius.

Gagasan darwinisme sosial ini dianut oleh para pemilik modal. Masyarakat menjual tanahnya karena ingin unggul secara ekonomi, sosial budaya dan politk. Dengan perantara para calo tanah yang perannya tidak bisa dikesampingkan, para pemilik modal berhasil untuk menguasai tanah-tanah incarannya. Pemodal dan calo tanah bersatu  untuk mengalahkan pesaingnya dan menundukkan pemilik tanah dengan  kekuatan uang. Uang dijadikan sebagai  alat tukar dengan cara memperdagangkan kewenangan dan kekuasaan. Karena itu, uang adalah wujud cindera mata yang telah ditranspolitisasi.

Desakralisasi terhadap spiritualitas  orang Bali pada akhirnya berdampak pada cara mereka memperlakukan alam, atau palemahan. Aneka kasus perusakan lingkungan atas nama pariwisata sering kita dengar. Misalnya saja fenomena pembangunan vila yang berdekatan dengan kawasan suci, pembangunan lapangan golf yang melanggar radius zona suci Pura Besakih di Karangasem. Dan terakhir adalah kasus reklamasi Teluk Benoa.

Contoh-contoh kasus seperti itu nampaknya terus mengalami peningkatan sebab pengembangan pariwisata Bali mengarah kepada pariwisata spiritual, agrowisata atau wisata alam. Hal ini memerlukan kawasan bernilai ekologis atau spiritual tinggi yang pada umumnya terkait dengan keberadaan suatu pura atau kepercayaan lokal tentang kawasan angker. Begitu pula pembangunan vila yang menuntut areal yang sepi sehingga memberikan jaminan privacy yang tinggi kepada penghuninya. Maka peluang adanya pembangunan vila di kawasan yang sakral, angker dan sepi,  baik di masa kini maupun di masa yang akan datang akan terus bertambah.

Diskusi di dalam acara pabligbagan ini ditutup dengan epilog dari tuan rumah, Bapak I Nyoman Parta, bahwa Tri Hita Karana merupakan teks ideal yang selalu menjadi rujukan manusia Bali dalam bertindak. Masalah adanya penyimpangan di dalam tindakan yang tidak mengindahkan teks ideal itu disebabkan karena pemahaman terhadap konsep Tri Hita Karana yang terfragmentasi. Artinya, baik parahyangan, pawongan dan palemahan dipahami bukan sebagai kesatuan yang utuh, melainkan sepihak.

Misalnya, orang dengan tingkat spiritualitas yang tinggi seharusnya berkorelasi dengan respon yang memadai terhadap dimensi kemanusiaan. Begitu juga kecintaannya terhadap alam. Namun yang terjadi di lapangan justru sebaliknya, orang yang memperlihatkan spiritualisme di dalam citra dirinya justru melakukan tindakan-tindakan non etis yang sesungguhnya sangat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang beradab. Misalnya suka marah-marah, mencaci maki, berkata kasar, bahkan terlibat ke dalam tindakan-tindakan asusila cum pidana.  [T]

Tags: baliTri Hita Karana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ngurah Agung Sukertayasa | Kapal Pesiar, Bonsai, dan Media Tanam Organik

Next Post

Baju Karung | Pernah Populer di Bali, Kini Tinggal Kenangan

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Baju Karung | Pernah Populer di Bali, Kini Tinggal Kenangan

Baju Karung | Pernah Populer di Bali, Kini Tinggal Kenangan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co