1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perbawa Pepohonan, “Purwa Jiwa” Hingga “Purna Jiwa”

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
July 11, 2021
in Opini
Perbawa Pepohonan, “Purwa Jiwa” Hingga “Purna Jiwa”

Foto ilustrasi: Peed Aya dalam Pesta Kesenian Bali 2021 | Foto Dok Disbud Bali

  • Artikel ini Juara 1 dalam Lomba Penulisan Opini pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2021

Dalam tata kehidupan Manusia Bali pepohonan seringkali dikaitkan dengan dunia pikiran (kayun). Barangkali karena pada pikiran terdapat begitu banyak citra yang menyerupai lebatnya vegetasi dalam hutan. Selain itu pikiran juga merupakan alat untuk mengidentifikasi dunia, dengan demikian tidaklah berlebihan jika kehidupan dinyatakan baru benar-benar paripurna apabila kayun berfungsi baik.

Sementara daun (don) pepohonandi Bali menyimbolkan tujuan-tujuan dari kehidupan. Dalam mitologi yang berkembang di Bali salah satu sumber mukjizat dilambangkan dengan juuk linglang. Mirip dengan kalpa-taru atau kalpa-vrksa dalam tradisi India yang juga ditafsirkan sebagai pohon hasrat. Pohon ini dilukiskan mampu memenuhi segala keinginan manusia, termasuk menghidupkan orang mati.

Dalam kesenian wayang yang berkembang di Jawa maupun Bali terdapat simbol berbentuk pohon bernama kayonan yang utamanya digunakan untuk mengawali atau mengakhiri suatu lakon. Penyimbolan ini tentu tidak sederhana, melainkan berasal dari penafsiran level tinggi. Insan hebat yang mengkonsepkan kayonan pastilah menyadari penuh bila dunia flora merupakan pendahulu sekaligus faktor penting yang dapat memicu akhir ekosfer.

 Apabila dugaan JLA Brandes sahih bahwa wayang kulit merupakan salah satu jenis peninggalan kebudayaan Indonesia asli, berarti pemuliaan pohon yang diwakili oleh kayonan juga merupakan tradisi yang sangat tua.

Bali memang bukan merupakan satu-satunya tempat yang memuliakan roh tumbuh-tumbuhan. Membanggakannya Bali menjadi salah satu tempat yang masih memberikan asuhan layak bagi hak-hak pepohonan, sebab pemuliaan tersebut merambah dimensi tata laku. Tentunya tempat yang memberikan penghormatan sepenuh hati semacam itu sudah tidak banyak lagi di muka bumi.

Hampir pada setiap tempat di Bali dapat dengan mudah ditemui pohon-pohon berbalutkan kain khusus, diperlengkapi dengan tempat pemujaan, serta dibanjiri persembahan dari hari ke hari. Dalam ajaran Hindu, agama yang dianut oleh mayoritas Manusia Bali memang terdapat keyakinan jika tumbuh-tumbuhan dipenuhi keterbatasan.

Tumbuh-tumbuhan hanya memiliki eka pramana (satu jenis kekuatan hidup), tidak seperti binatang yang memiliki dua kekuatan (dwi pramana) atau manusia yang memiliki tiga kekuatan (tri pramana). Meskipun semenjak belia Manusia Bali diajarkan tentang sifat ‘terbatas’ yang dimiliki dunia flora namun tidak menyurutkan ketekunan mereka untuk tetap melakukan pemuliaan.

Menjadi jelaslah bila ideologi yang dianut Manusia Bali telah melampaui tataran fisikal. Mereka tidak dengan ceroboh menganggap diri superior hanya karena merasa memiliki kekuatan hidup yang lebih lengkap. Bagi Orang Bali pramana cuma kekuatan hidup turunan karena masih memicu perbedaan-perbedaan.

Citra yang berbeda-beda sendiri hanyalah pengaruh dari azas-azas kebendaan (prakrti). Sebagaimana segmen Tuhan yang dinamai Jiwatman pada manusia dan Sthawara pada tumbuh-tumbuhan. Sedangkan dalam keberadaannya yang murni kekuatan-kekuatan hidup yang ada pada setiap makhluk dianggap berasal dari sumber tunggal.

Sesungguhnya ajaran filosofis tentang esensi daya hidup yang tunggal (purwa jiwa) merupakan sesuatu yang sangat rumit untuk diurai dan disebarluaskan di lingkungan awam. Menariknya di Bali ajaran tersebut telah membaku dalam rutinitas dan menyebar dengan masiv. Bahkan Orang Bali tiada pernah bergeming tatkala terus menerus menerima ejekan sebagai penyembah pohon. Tentunya keteguhan semacam itu tidak diperoleh dengan instan.

Keteguhan tersebut bisa jadi merupakan penanda sifat pemaaf dan tenggang rasa yang tertempa dengan matang. Jikalau latihan melihat pepohonan sebagai bagian yang tiada berbeda dari dirinya saja telah tuntas, pastinya menganggap manusia lain sebagai saudara jauh lebih mudah. Atas dasar homogenitas kekuatan hidup yang hakiki pula Manusia Bali tidak memandang pepohonan hanya sebagai komoditas yang bisa dieksploitasi sekehendak hati.

Dalam beberapa kasus Orang Bali demikian segan mengakui pepohonan bahkan yang ditanamnya sendiri sebagai miliknya. Pada beberapa kasus si penanam tiba-tiba mengambil jarak tegas dengan pohon yang ditanam dan dipelihara dengan kerja kerasnya semenjak benih. Penyebab pengambilan jarak lazimnya karena suatu pohon diyakini telah ditempati oleh kuasa-kuasa adikodrati. Umumnya pohon-pohon yang menimbulkan sensasi semacam itu sejenis pule, bingin, kepah, kepuh, kuda, dan semacamnya.

Dalam tuturan lokal di Bali pohon-pohon tersebut dikisahkan terlahir dari kreasi Dewa Siwa dan Shakti (kekuatannya). Kalaupun penebangan atau pemindahan akhirnya harus dilakukan maka mestilah mengikuti tatacara yang rumit seperti menyertakan sarana ritual dan pemimpin upacara yang mumpuni. Para tetua seringkali berpantang untuk menanam pepohonan keramat di areal pekarangan. Tentunya karena mereka tidak ingin mendapatkan masalah di kemudian hari. Pada kepercayaan Orang Bali masalah itu dilukiskan sebagai pemali.

Berbeda halnya jika pepohonan keramat tersebut tumbuh di luar pekarangan maka akan ditafsirkan sebagai berkat yang mesti disambut dengan sukacita. Pada keadaan demikian pula pepohonan dapat berkembang dengan maksimal tanpa banyak terganggu oleh aktivitas-aktivitas manusia. Bahkan Orang Bali memandang keberadaan pohon-pohon keramat sebagai indikator kemakmuran dan keamanan suatu wilayah.

Kisah-kisah tentang matinya pasar dan lumpuhnya ekonomi masyarakat pasca ditebangnya pohon beringin yang tumbuh disana tidak hanya tersiar dari satu tempat. Demikian pula meranggas atau matinya pohon beringin yang berada di dekat suatu pusat pemerintahan tradisional (puri) acapkali dijadikan pertanda jelang mangkatnya pemimpin-pemimpin yang dicintai rakyatnya.   

Pemahaman akan modal pokok kehidupan (purwa jiwa) dalam Masyarakat Bali yang bergantung pada pepohonan ternyata kompatibel dengan temuan-temuan sains, kendatipun cara pengungkapannya berbeda. Sains memandang jika pohon adalah penghasil oksigen yang merupakan kebutuhan manusia paling vital. Manusia normal hanya sanggup berpuasa napas sekitar satu menit. Apabila kekurangan oksigen maka manusia akan mengalami hipoksia yang dapat berlanjut pada kematian.

Dalam kondisi normal saja manusia membutuhkan sekitar 0,5  kg oksigen perhari. Sementara sebatang pohon mampu menghasilkan 1,2 kg oksigen per hari. Berarti sebatang pohon mampu mencukupi kebutuhan oksigen setidaknya untuk dua orang. Oksigen yang memadai menyebabkan pembakaran gula pada sel dapat berjalan dengan baik. Para ahli menemukan bila pertemuan antara gula dan oksigen akan menghasilkan Adenosine Tri Phospate yang selanjutnya menjadi sumber kekuatan utama bagi kinerja sel.

Sementara sel sendiri merupakan awal sekaligus penjaga bentuk tubuh. Janin terbentuk ketika satu sel sperma berhasil menembus sel telur. Ketika pembuahan terjadi sel-sel tersebut dengan cepat membelah diri hingga berkembang mencapai triliunan pada manusia dewasa.Oksigen yang diperlukan manusia tidak saja dalam kuantitas namun juga kualitasnya. Pencemaran pada udara dapat pula menyebabkan penurunan kinerja tubuh. Dalam hal ini pepohonan mampu mengurangi pencemaran terutama dengan menyerap karbon dioksida (CO2).

Belakangan budaya pemuliaan pohon di Bali mulai didera regresi yang signifikan. Penyebabnya mulai dari yang bernuansa ideologis hingga praktis. Bali hanyalah pulau kecil kurang dari 6.000 kilometer persegi, tentu kepungan perubahan dari berbagai arah merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sebagai pembanding, pada empat dasa warsa yang lampau proses kremasi dalam Masyarakat Bali masih memanfaatkan kayu bakar. Terdapat beberapa kayu penting dalam proses tersebut seperti jroti, dapdap wong, kemit, dan sebagainya.

Ketika itu Orang Bali masih demikian tekun menanam dan menjaga kayu-kayu tersebut sebab jelang kremasi masing-masing warga banjar dibebani urunan kayu. Tatkala kremasi digantikan kompor, jenis-jenis kayu ini kian sulit ditemui meskipun sejatinya masih dibutuhkan sebagai pelengkap ritual. Dalam doanya Orang Balipun jadi kian sering memohon permakluman atas kurangnya sarana upacara tersebut. Sayangnya mereka lupa menginsafi perbuatan-perbuatannya ketika mengeksploitasi pepohonan secara berlebihan.

Malahan pohon-pohon usia dini semakin masiv ditebang terutama untuk membeli hasil-hasil produksi kaum kapitalis yang menawarkan rekreasi semu seperti smartphone. Anak-anak muda lebih sering berdiam dalam kamarnya, asyik menonton pohon-pohon virtual yang hanya menjadi pelengkap tampilan e-sports. Sementara yang lainnya mengobati rasa rindunya kepada hutan dengan merawat bonsai tanaman langka dalam rumahnya yang dirasakan semakin sempit. Bisa jadi bonsai yang mereka tanam adalah jenis yang dahulu ditabukan oleh para tetuanya.     

Pada kaki Gunung Batur, Kintamani, suatu kawasan yang disebut-sebut menjadi tempat bermukimnya golongan penduduk Bali Pendahulu (Bali Mula) lazim dijumpai orang-orang yang dengan rendah hati menamai klannya dengan nama-nama pepohonan. Lagi-lagi mereka seolah-olah merasakan pepohonan sebagai sumber kelahiran sekaligus pengasuh segenap dirinya. Hal ini juga menandakan budaya menghormati pepohonan telah dimiliki oleh penghuni awal Pulau Bali. Tentu saja keputusan untuk memelihara pepohonan tinimbang merusaknya berakar dari proses belajar yang sangat panjang.

Selain itu di Bali hutan disebut-sebut menjadi tempat utama bagi persemayaman keangkeran (madurgama). Pada masa lampau hanya orang-orang berhati suci dan pelaku pengendalian dirilah yang diperkenankan untuk bermukim dalam hutan. Hal ini mengindikasikan adanya upaya serius untuk melindungi unsur-unsur berharga dalam hutan yang memicu keserakahan pada diri orang-orang yang tidak memiliki keteguhan pikiran.

Sementara orang-orang dengan pikiran terkendali yang diperkenankan memasuki hutan pastilah telah memiliki empati terhadap dunia flora. Terkait dengan empati kepada pepohonan termuat kisah dalam Lontar Taru Pramana ketika Mpu Kuturan mesti merendahkan hati, penuh kesantunan membangun dialog dengan beragam flora.

Apa yang dilakukan Mpu Kuturan memang masih diteruskan oleh Orang Bali melalui prosesi ngatag. Disana seolah terjadi dialog antara manusia dengan pepohonan. Sayangnya kini nuansa dialogis itu dominan bertahan dalam tataran ritual simbolik belaka. Buktinya sebagian besar ‘lawan bicara’ Mpu Kuturan dalam Lontar Taru Pramana sudah sangat sulit untuk ditemui.

Kiranya demikian mendesak dialog penuh empati dengan pepohonan untuk kembali dibudayakan. Melalui dialog semacam itu manusia menjadi urung untuk membinasakan pepohonan bila tak ingin turut binasa. Sebagaimana simbol pikiran dan pemenuhan segala keinginan yang tercermin dalam pohon-pohon mitologis.

Menariknya di Bali menyebar luas alur cerita yang memiliki kemiripan tentang orang-orang yang gagal mendapatkan juuk linglang. Dalam semua versi cerita penyebabnya disebutkan karena keserakahan. Versi-versi cerita itu sejatinya membawa pesan jika yang harus dipikirkan manusia ketika melihat pepohonan bukanlah memanfaatkannya sebagai alat penukar segala keinginan, melainkan menyadari bahwa segala kedamaian pikiran bersandar pada kelestarian dunia flora.

Apabila dunia flora punah tentu unsur vital untuk bertahan hidup (purwa jiwa) juga turut musnah. Pastinya ketika manusia memiliki keterkendalian pikiran laksana telah terpenuhi segala keinginannya. Bila telah didasari oleh pemahaman yang demikian, kesempurnaan hidup (purna jiwa) akan dapat dicapai. [T]

Tags: lingkunganPesta Kesenian BalipohonSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Narkoba, Kerajaan Neraka dengan Gerbang Surga

Next Post

Membaca Soekarno dari Sudut Kontrakan [1]

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Soekarno dari Sudut Kontrakan [1]

Membaca Soekarno dari Sudut Kontrakan [1]

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru
Pop

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band...

by Dede Putra Wiguna
May 1, 2026
‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co