24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teaterisu #2 | Feminisme, Mitos, dan Panggung Perempuan

Agus Wiratama by Agus Wiratama
May 16, 2021
in Esai
Teaterisu #2 | Feminisme, Mitos, dan Panggung Perempuan

Ilustrasi: potongan poster Diskusi bertema “Pekik Perempuan di Panggung yang Maskulin

Suatu kali, saya mendengar kisah bahwa sungai di suatu negara mendapat hak asasi; sungai tersebut berhak tetap mengalir, tetap bersih. Orang melanggar hak-hak sungai itu bila membuang sampah ke sana, salah satunya. Dalam perspektif antroposentris, alam adalah yang minor dan manusialah yang mayor, pusat, dan pemegang tunggal otoritas. Dan rupanya, diskusi pada Teaterisu #2, yang digelar secara daring oleh Penastri (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia), membuat jembatan antara informasi awal saya tersebut terhadap pandangan soal feminisme.

Teaterisu merupakan forum diskusi dwibulanan sepanjang 2021, dirancang sebagai ruang dialogis untuk mengurai permasalahan sekaligus potensi-potensi teater. Diskusi bertema “Pekik Perempuan di Panggung yang Maskulin: Feminisme dan Teater di Indonesia” ini berlangsung pada 30 April 2021 dengan dua orang pembicara: Intan Paramaditha, seorang penulis dan dosen kajian media dan film di Macquarie University, Sydney; yang terlibat dalam kerja-kerja budaya lintas disiplin berperspektif feminis, dan Tya Setiawati yang merupakan aktor, penulis lakon, dan sutradara pada Teater Sakata, Padang Panjang.

Diskusi ini dilatarbelakangi pemikiran bahwa, pada masa keemasan teater Indonesia, rentang 1968-1988, tak tercatat nama pegiat teater perempuan. Pada masa yang oleh Jakob Sumardjo disebut sebagai “zaman emas kedua teater Indonesia” ini setidaknya dipentaskan 102 lakon Indonesia, namun tak satu pun di antaranya ditulis perempuan atau tampil dengan sudut pandang perempuan. Kondisi ini masih berlanjut hingga masa bubarnya Orde Baru. Barulah setelah itu suara perempuan mulai terdengar di atas panggung teater Indonesia: mulanya samar, kian jelas, lalu memekik.

Poster Diskusi bertema “Pekik Perempuan di Panggung yang Maskulin

Kemunculan gerakan teater dengan perspketif feminis setidaknya dipengaruhi oleh gerakan-gerakan yang menyuarakan kesetaraan gender tersebut. Tetapi, pada perjalanannya, feminisme tidak hanya dibutuhkan perempuan, lelaki pun membutuhkannya, buruh, mahasiswa, alam, bahkan pekerja teater itu sendiri. Intan Paramaditha menjelaskan bahwa feminisme bukan perihal perempuan mesti setara dengan lelaki. “Kenapa lelaki yang dijadikan standar?” katanya.

Tetapi lebih luas dari itu, feminisme yang ia maksud adalah adanya relasi kuasa yang mesti dibicarakan. Hal ini persis menunjukkan bahwa feminisme juga memperhatikan perihal warna kulit, kelompok masyarakat, kaum mayor dan minor, kuat dan lemah, pusat dan daerah, dan sebagainya.

Hal ini mengingatkan saya pada konsep dekonstruksi Derrida, di mana—ketika melakukan pembacaan suatu teks—yang menerangkan bahwa seharusnya, yang minor pun mendapat ruang untuk berbicara. Barangkali dalam konteks pembacaan suatu teks, hal itu akan membuka cakrawala pembacaan realitas sehingga lebih luas hasilnya. Tetapi, dalam konteks ketimpangan, bukankah hal itu mestinya diputar, bahkan dijungkirbalikkan?

Satu hal dalam diskusi ini yang kemudian membuat saya tergelitik adalah ketika Intan Paramaditha menanggapi sebuah komentar dari peserta yang kurang lebih sebagai berikut: jangan-jangan perempuan tidak berteater karena dirinya sendiri, dan bukan karena orang lain atau masyarakat atau lelaki. Pernyataan peserta itu ditanggapi Intan dengan pertanyaan balik, “Apa itu diri?” Pertanyaan itu tak kurang merupakan sebuah permenungan atas konstruksi diri. Diri adalah sebuah konstruksi masyarakat, jalinan relasi-relasi, dan ketika bangunan itu telah mendarah-daging, maka kebiasaan yang paling kejam sekalipun seolah-olah adalah hal yang biasa-biasa saja, sebagaimana Vito Corleone dalam The Godfather dengan santai berkata, “Berikan ia penawaran yang tak bisa ditolak.”

Pada 28 Mei 2013, dalam “Musyawarah Buku” di Komunitas Salihara, hal serupa sempat diterangkan oleh F. Budi Hardiman atau akrab disapa Mas Frengki. Frengki menjelaskan konsep diri layaknya bawang. “Bawang, bila dikupas tidak memiliki inti, kosong, semua berupa kulit: manusia juga demikian, terdiri dari relasi-relasi,” ungkapnya dalam diskusi tersebut. Dalam konteks itu, Frengki memberi contoh nama-nama orang Bali yang terdiri dari nama-nama kelompok kelas masyarakat tertentu, urutan kelahiran, dan nama diri ada di belakang nama-nama itu.

Dalam kebiasaan orang Bali, lelaki akan dianggap lemah bila tunduk pada perempuan. Hal seperti ini tidak hanya diungkapkan oleh lelaki, perempuan pun turut berpegang pada jargon tersebut. Misalnya, seorang lelaki meninggalkan rumah, lalu membangun rumah baru karena si istri selalu berseberangan dengan mertua, dan lelaki akan mendapat cap buruk itu. Dalam masyarakat Bali khususnya, istilah “diembat perempuan” memiliki konotasi yang dua kali buruk: pertama, kehilangan kuasa, dan kedua, mencabut paksa tanggung jawab. Dan, dua hal itu bukan hanya menjadi masalah horizontal, tetapi juga vertikal.

Namun, perempuan Bali memiliki panggung utama yang tidak bisa digoyahkan. Pada sebuah upacara menjelang hari raya Nyepi, saya dan semua lelaki—yang gigi susunya telah tanggal—diupacarai. Semua laki-laki berdiri dan membuat setengah lingkaran. Di depan kami, telah disiapkan sarana upacara, dan laki-laki hanya menunggu perintah perempuan yang menjadi instruktur. Ibu-ibu ini memerintahkan kami: sesekali berputar, menelungkupkan tangan, dan sebagainya. Perempuan memiliki panggung dan lelaki tak berdaya dalam hal ini. Meski secara sederhana terlihat bahwa lelakilah yang utama, tetapi berhubung semua lelaki diupacarai dan perempuan pelakunya, tentu upacara tak akan berlangsung tanpa kehadiran perempuan, begitu juga laki-laki.

Para pembicara dalam Diskusi bertema “Pekik Perempuan di Panggung yang Maskulin

Sementara itu, Tya Setiawati mempertanyakan tentang mitos-mitos yang mesti ditanggung perempuan. Ia menceritakan bahwa, pada 2007, ia menginisiasi sebuah laboratorium teater dengan perspektif gender. Kegiatan di laboratorium itu melibatkan aktor, penata artistik, penata lighting, penata musik, dan pimpinan produksi yang semuanya perempuan.

Dalam makalahnya yang berjudul “Isu Gender di Panggung Teater Sakata”, Tya berkisah salah satu produksi dalam laboratoriumnya itu. “Bumi Perempuan merupakan upaya dekonstruksi atas makna (ke)perawan(an) dan menggugat citra seksualitas kecantikan perempuan dari perspektif maskulin; rambut panjang menderai, kulit putih, postur tinggi semampai, hidung mancung, dagu lancip dan tuntutan penampilan fisik sempurna lainnya. Dimainkan aktor perempuan dengan kepala plontos, menghadirkan setting dan hand property yang mewakili masyarakat agraris, seperti: hamparan sekam padi, tapian, belanga dan dua drum besar yang berfungsi sebagai alat musik sekaligus simbol ‘kekerasan’ yang memekik,” tulis Tya.

Saya sempat menengok isi meja hias perempuan, dan meja itu dipenuhi oleh alat-alat kecantikan. Seseorang bahkan pernah menceritakan kegiatannya pada saya: baru bangun, setelah mandi pagi, berkegiatan, mandi, hingga menjelang tidur, adalah waktunya memoles wajah, memperhatikan kecantikannya. Tentu hal ini tidak semata-mata hanya karena perempuan ingin seperti itu, tetapi ada suatu power yang membuatnya harus demikian.

Teater menjadi ruang yang strategis untuk mengungkapkan hal-hal semacam itu; di samping dalam perjalanannya, teater memerankan fungsi penting sebagai pertahanan masyarakat sipil terhadap segala bentuk represi. Lebih dari itu, teater memberi kemungkinan para pelaku dan penonton untuk mempertanyakan ulang mitos tersebut, sebagaimana Tya Setiawati dalam pertunjukkannya. Bagi saya, rambut perempuan yang dipelontos merupakan sebuah pemberontakan terhadap mitos dengan suara yang keras. Tidak jarang kita jumpai perempuan memotong pendek rambutnya, dan hal itu seolah ingin berbicara bahwa perempuan dengan tampilan seperti itu bukan pemegang jargon rambut adalah mahkota; sebagaimana diajekkan iklan dan masyarakatnya.

Teater dengan perspektif feminis setidaknya mesti memperhatikan dua hal: pertama, perempuan dalam teater itu sendiri, sebagaimana yang dilakukan Tya Setiawati dengan gerakan perempuannya; dan satu lagi adalah isu perempuan di luar panggung, dalam keseharian, dan konstruksi makna atas keperempuanan. Meski feminisme dapat dipandang dengan begitu luasnya, tetapi saya masih ingat akan satu ungkapan, “Semasih perempuan merasa terancam berjalan di trotoar, semasih perempuan tidak aman keluar malam-malam, selama itu pula isu tentangnya mesti dibicarakan.” [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Peed Aya” | Pawai PKB 2021 dengan Latar Air Terjun Kanto Lampo

Next Post

Dialog Kritis Pesona Tokoh Gajah Mada Lewat Eksotiknya Gili Menjangan

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Dialog Kritis Pesona Tokoh Gajah Mada Lewat Eksotiknya Gili Menjangan

Dialog Kritis Pesona Tokoh Gajah Mada Lewat Eksotiknya Gili Menjangan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co