1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Bangga dan Sedih | Kisah Kecil Seorang Ibu di Sekitar Hari Kartini

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
April 22, 2021
in Esai
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra || Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Di sebuah rumah tua di pinggiran Kota Denpasar, Gemini – seorang lansia yang telah dua puluh tahun menjanda tinggal seorang diri. Di tengah kesepiannya, Gemini menghabiskan hari demi hari dengan menjaga dan merawat rumah warisan suami tercintanya. Ia tak kuasa meninggalkan rumah itu, karena begitu banyak kenangan manis yang membekas bersama mendiang suaminya silam. Walau kini kondisi rumah cukup memprihatinkan, ia tetap bersyukur setidaknya masih ada peninggalan yang sangat berarti bagi hidupnya. Tempat yang tidak saja menyimpan kenangan manis dengan alamarhum suaminya, namun juga saksi perjuangan tatkala membesarkan putra tunggalnya seorang diri sejak kecil sampai akhirnya dinyatakan lolos sebagai prajurit siswa di Magelang.

Sore itu, raut wajah Gemini terlihat lebih suntuk dan lesu dari biasanya. Maklum saja, kesendirian hidupnya memaksa Ia harus mengambil seluruh pekerjaan rumahnya seorang diri. Dalam sebuah renungan di pelataran rumah, ia merasa sangat cemas akan keadaan putranya. Sudah tiga bulan lebih setelah dinyatakan lolos mengikuti pendidikan prajurit, ia tak pernah mendapatkan kabar dari buah hatinya itu. Dalam setiap kegelisahannya di malam hari, Gemini hanya mencoba menepi pada alunan bait-bait doa. Ia hanya berserah dan  bersandar pasrah pada takdir Tuhan. Malam berganti malam, hari berganti hari dan bulan berganti bulan, tak satu pun kabar yang Ia dapatkan dari mulut putranya semenjak keberangkatannya ke Magelang.

Merasa cukup jenuh dengan lamunannya sore itu, Gemini lantas kembali melanjutkan aktivitasnya menyapu reruntuhan daun-daun kamboja kering yang berserakan di halaman. Saat hendak memasukkan tumpukan kumpulan daun-daun itu ke sebuah karung coklat, handphone-nya berdering kencang. Nomor yang tak dikenal terlihat asing di layar smartphone-nya. Tanpa berpikir panjang dan penuh curiga, Gemini langsung mengangkat telepon itu.

“Hallo ibu,,,, ini Bagus. Aku tak punya banyak waktu, Senior hanya memberikan waktu tidak lebih dari 1 menit saja”. Ibu, aku akan wisuda tiga hari lagi, aku mohon Ibu datang. Ibu jaga kesehatan ya”-  ujar pria yang merupakan putra tercintanya.

Mendengar kalimat singkat dari putra tercintanya itu, Gemini terlihat sangat sumringah. Wajahnya memerah matanya pun berkaca-kaca. Walau tak sempat berbalas kata, namun lontaran kabar dari putranya itu meyakinkan batinnya bahwa putra semata wayang nya masih hidup. Maklum saja sudah tiga bulan lebih, curiga dan prasangka bergelora di pikirannya. Kecemasan senantiasa mewarnai setiap malamnya. Gemini lantas bergegas kembali pada bait-bait doa mengucap syukur kehadapan Yang Kuasa yang telah memberi jawaban atas pertanyaan cemasnya selama ini. Setidaknya, ia yakin Bagus masih hidup.

Dua hari kemudian, Gemini menuju Magelang via Jogja dengan pesawat paling pagi ditemani ibu kandung dan ibu mertuanya yang cukup sepuh. Selama ini, ibu kandungnya tinggal bersama kakak laki-lakinya dan ibu mertuanya tinggal bersama ipar perempuannya. Gemini sengaja mengajak ibu dan mertuanya agar dapat menyaksikan langsung dari dekat upacara pengukuhan cucunya. Bandara Adi Sucipto Jogja pagi itu cukup lengang hanya ada beberapa petugas yang berjaga di gerbang kedatangan. Selepas landing, Gemini tak ingin menghabiskan waktu senggangnya untuk berkeliling Kota Jogja. Ia memutuskan bergegas langsung menuju Kota Magelang sambil mencari penginapan, karena Upacara Wisuda Prajurit bakal digelar esok harinya. Pikirannya hanya tertuju pada Magelang dan tak sabar untuk bertemu serta mengajak pulang putra tercintanya balik ke rumah seusai wisuda besok. Berselang satu setengah jam lamanya menempuh perjalanan darat dari Bandara Adi Sucipto Jogja, Gemini akhirnya tiba di salah satu penginapan sederhana tak jauh dari Kompleks Akademi. Ia sengaja memilih penginapan yang dekat dengan lokasi acara agar tak terlambat di hari yang sangat spesial itu.

Keesokan harinya, Gemini terbangun sangat pagi. Dari semalam tidurnya tidak begitu nyenyak. Saking bersemangat akan bertemu dengan putra tercinta, hampir setiap dua jam tidurnya terbangun. Pagi itu menunjukkan pukul 08:00 Gemini akhirnya sampai di Gerbang Utama Akademi – gerbang dengan pasangan batu alam berwarna gelap terusun sangat rapi dan megah. Para petugas bersenjata lengkap melakukan pengecekan surat kelengkapan para orang tua wisudawan. Setelah selesai dengan urusan adminitratif, Gemini yang tampil dengan busana coklat bercorak batik memegang erat kedua Ibu tercintanya berjalan kaki menuju sebuah lapangan utama yang cukup luas dan indah. Di hamparan rumput hijau yang membentang rapi itulah, Upacara Wisuda Prajurit akan dilaksanakan dan dipimpin langsung Komandan Diklat.

Gemini panik menoleh ke kanan dan ke kiri, hatinya berdebar kencang walau sesekali terlihat bingung. Di lapangan itu, tak satupun terlihat para calon wisudawan.

“Dimanakah anakku ini?? Bagaimanakah rupanya saat ini?? ”- tanyanya dalam hati.

Ia lantas memutuskan mencari tempat duduk di tribun sisi utara. Suasana tribun utara terlihat cukup lengang tak banyak diisi oleh para undangan.

Tak berselang lama, gemuruh suara Marching Band berkumandang, teriakan ratusan remaja berseragam loreng menggelegar. Mereka berteriak, bernyanyi sambil sesekali melakukan atraksi. Dari kejauhan Gemini tak menemukan yang mana putranya, karena seluruh prajurit remaja itu bertopeng cat hitam di wajahnya. Gemini hanya bisa duduk manis sambil melihat satu demi satu tahapan ketrampilan para prajurit. Ada yang turut dalam instrumen marching band, ada sebagian yang memperlihatkan atraksi bela diri dan tembak menembak, serta beberapa yang lain mempertontonkan atraksi meluncur bebas dari ketinggian. 

Langit Magelang hari itu cukup bersahabat dan jalannya acara berjalan dengan lancar. Selepas atraksi, Para remaja membentuk barisan memanjang dan Komandan Diklat melakukan pengecekan barisan bersama satu orang ajudan. Di akhir acara, Komandan Diklat memberikan sambutan sekaligus menutup pendikan dan pelatihan tahap pertama para prajurit sembari mengingatkan agar para senantiasa menjaga kepribadian, dedikasi serta menjunjung tinggi etika dalam jiwa pengabdiannya pada negara.

“Apa saudara siap???” tanya Komandan dengan suara lantang.

Seluruh prajurit pun menjawab dengan tegas dan kompak, SIAP!!!!!

Air mata Gemini pun sontak tak dapat dibendung, Ia tak menyangka jalan hidup putranya menjadi seorang prajurit pembela kedaulatan tanah air. Ia memegang erat tangan ibu dan mertuanya sambil berkata: “Aku Bangga.”

Dalam hati Gemini tak kuasa menahan gelombang rasa yang bercampur dalam sanubarinya. Perasaan sedih, senang, bangga, dan kawatir menjadi satu. Janji setia pada Tanah Air dan Merah Putih yang disampaikan, membuat Gemini pilu sedikit cemas. Ia sadar hari ini putranya telah mengarungi jalan pengabdian bagi persada dan Merah Putih tercinta. Ia pun mencoba menerima bahwa kelak putranya lebih mendahulukan urusan bangsa dan negara daripada kebersamaan dengan dirinya.

Acara pengukuhan wisuda prajurit telah dinyatakan selesai dan para undangan bersiap untuk bertemu langsung dengan para prajurit yang diwisuda. Gemini dan kedua ibunya tak sabar turun dari tribun menuju lapangan untuk bertemu langsung putra tercintanya yang tiga bulan lebih tak dapat dilihatnya. Namun tak disangka, pertemuan dengan putranya tak segampang yang dipikirkan. Dari ratusan prajurit yang berbaris, mereka berseragam sama, berukuran tubuh yang sama, serta ditutupi oleh warna wajah yang sama. Para orang tua dan keluarga yang hadir dengan perlahan dan teliti memeriksa satu persatu prajurit yang berdiri serta memastikan bahwa satu diantara barisan itu adalah putra atau putrinya. Raut wajah Gemini kembali terlihat sangat cemas dan bersedih, Ia belum menemukan dimana Bagus berada. Kecemasannya memuncak tatkala satu dua orang tua yang berdesakan dengannya dengan bahagia telah menemukan dan memeluk hangat para putranya. Gemini makin bingung dan panik, kenapa putranya tak ketemu.

Di sebuah deretan nomor dua paling ujung lantas Gemini berdiri tepat di sebuah remaja landung, dengan perlahan Ia membaca nama didada prajurit itu dan sontak Gemini teriak:

“Anakku Bagus, Ibu kangen, Bagus, Bagus, Bagus,,”

Bagus pun dengan air mata yang tak bisa dibendung berujar: “Ibu,,, Bagus baik-baik saja,,,, Ini semua kupersembahkan untukmu”

Gemini dan anaknya enggan melepas pelukan. Wajar saja anak semata wayangnya ini adalah pertaruhan pembuktian dirinya sebagai seorang Janda. Prestasi, karir dan jenjang pendidikan merupakan hal penting dan mendasar bagi Gemini guna menunjukkan buah hasil perjuangan dirinya seorang diri membesarkan putranya. Bagus lantas bersujud di kaki ibunya dan memeluk erat kedua nenek tercintanya.

Hari itu Gemini sangat bahagia dengan pencapaian putranya. Di dalam khayalnya, dia merasakan mendiang suami tercintanya berdiri di sebelah dirinya turut memeluk erat Bagus yang membanggakan itu. Gemini lantas tak sabar untuk mengajak  Bagus ke penginapan dan segera pulang ke Bali. Tak berselang lama, suara pengumuman tersiar dengan sangat keras melalui corong udara di pojok lapangan.

“Bapak/Ibu para orang tua, waktu yang tersedia hanya lagi 3 menit saja. Kami informasikan bahwa putra putri Bapak/Ibu akan melanjutkan pendidikan selama tiga bulan ke depan dan kami harap Bapak/Ibu para orang tua segera berpisah dengan putra/putrinya dan selanjutnya dipersilahkan bergegas meninggalakan lapangan ini melalui gerbang selatan” – Itulah pesan tegas yang diberikan oleh Petugas Diklat.

Gemini begitu terpukul dan terkejut dengan pengumuman itu. Ia tak menyangka esok akan balik ke Bali tanpa putra tercintanya. Ia harus kembali memendam rindu selama tiga bulan lagi. Air matanya tak berhenti mengalir. Bagus lantas meyakinkan ibunya dengan penuh keyakinan:

“Ibu,,, sabarlah,,, Aku akan berdoa dengan khyusuk di setiap malamku agar ibu senantiasa diberi kesehatan. Tenang dan ikhlaskanlah diriku di sini melanjutkan pendidikan. Aku janji akan datang dengan kemenangan dan membanggangkan dirimu”.

Gemini mencoba tegak dan tabah. Langkah kakinya terasa berat kembali pulang ke Bali tanpa Bagus di sisinya. Dalam perjalanan menuju Bandara pada hari itu juga, Gemini hanya melamun terdiam di dalam mobil. Ibu dan mertuanya sesekali menyemangati dirinya, walau tak bisa dipungkiri kekecewaan dan kesedihan tampak di raut wajahnya.

Akhirnya Gemini harus menunggu tiga bulan lagi dan menepi pada bait-bait doa. Perasannya bercampur antara sedih dan bangga. Dia bangga saat putranya mencium bendera Merah Putih, namun di satu sisi bersedih saat harus tinggal kembali di gubuk tua itu seorang diri. [T]

Tags: anak-anakibuPendidikanPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Bumi | Jadikan Pertanian Organik Sebagai Gaya Hidup

Next Post

Inilah 22 Novel dan Buku Cerpen Bahasa Bali Terpilih untuk Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

by Arief Rahzen
May 1, 2026
0
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

Read moreDetails

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

by Sugi Lanus
April 30, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

Read moreDetails

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
0
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

Read moreDetails

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
0
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

Read moreDetails

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

by Angga Wijaya
April 28, 2026
0
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

Read moreDetails

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

by Isran Kamal
April 27, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails
Next Post
Inilah 22 Novel dan Buku Cerpen Bahasa Bali Terpilih untuk Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Inilah 22 Novel dan Buku Cerpen Bahasa Bali Terpilih untuk Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini
Budaya

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng...

by tatkala
May 1, 2026
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’
Khas

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya
Gaya

HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya

PASAR ponsel pintar di Indonesia kembali diramaikan oleh kehadiran perangkat yang mendobrak batas kewajaran spesifikasi di kelasnya. Infinix Note 60...

by tatkala
May 1, 2026
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru
Pop

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band...

by Dede Putra Wiguna
May 1, 2026
‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co