23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Bumi | Jadikan Pertanian Organik Sebagai Gaya Hidup

Gede Praja by Gede Praja
April 22, 2021
in Esai
Hari Bumi | Jadikan Pertanian Organik Sebagai Gaya Hidup

Tanaman vanili dengan pupuk organik

22 April kita memperingati Hari Bumi dan 23 Maret lalu kita memperingati Hari Air, lalu 5 Juni memperingati Hari Lingkungan Hidup. Begitu selanjutnya. Hari-hari memberi tanda, dan kita kadang abai begitu saja.

Taukah kawan-kawan bumi, air dan lingkungan tidak butuh ucapan kita. Tak memerlukan ucapan Selamat Hari Bumi, Selamat Hari Air dan seterusnya. Kitalah yang memerlukan “mereka”. Peringatan hanyalah pengingat bahwa kita semua bertanggungjawab terhadap bumi, air, dan lingkungan yang nyaman, bersih dan layak.

Pada masa-masa sekarang adalah masa-masa yang menguntungkan untuk bumi. Penurunan aktivitas sosial dan industri skala besar mampu memberikan bumi kita bernapas dan berangsur-angsur mengembalikan fungsi-fungsi yang kita butuhkan dalam kehidupan. Mungkin itulah sebagian hikmah dari pandemi Covid 19.

Kita butuh waktu 50-150 tahun untuk mengembalikan sebuah kondisi hutan kembali pada kondisi semula, itu pun jika terganggu oleh kepentingan, kebakaran hutan, dan aktivitas lainnya yang menurunkan kualitas pendukung di sekitarnya. Hutan yang kita manfaatkan adalah warisan dari leluhur untuk kita rawat dan kita jaga.

Tugas kita sederhana tanamkanlah nilai-nilai kepedulian bahwa kita memerlukan orang lain, dan membutuhkan lingkungan yang nyaman. Tidak akan bisa dilakukan oleh polisi kehutanan saja, penggiat lingkungan saja dan LSM saja tapi oleh kita karena kita memerlukan bumi.

Salah satu upaya menyelamatkan bumi adalah dengan menjadikan pertanian organik sebagai gaya hidup.

Pertanian organik kini mulai dikenal luas masyarakat, bahkan sudah menjadi tren hidup sehat. Banyak pelaku pertanian organik bermunculan seiring dengan pangsa pasar yang semakin terbuka. Tidak hanya kerena bernilai ekonomis tinggi, pertanian organik penting untuk perbaikan ekosistem pertanian yang kian rusak terpapar bahan sintetik atau kimiawi seperti pestisida.

Guru Besar Perlindungan Hama dan Penyakit Tanaman Universitas Hasanuddin Makassar, Prof. Dr. Sylvia Sjam menyatakan perlunya mempromosikan pertanian organik ini sebagai sebuah solusi pertanian berkelanjutan, khususnya pada petani. Harus diajarkan bahwa penanganan hama dan penyakit tidak hanya melalui  pestisida sintetik, begitu pun dengan pupuk yang bisa disiapkan sendiri yang lebih murah dan terjangkau, sekaligus sehat bagi ekosistem pertanian.

Tanaman yang dikelola secara organik biasanya lebih tahan hama penyakit, hal itu terkait dengan kesuburan tanah yang sehat.  Kalao tanah subur maka tanaman akan jauh lebih bagus tumbuhnya, tanaman akan lebih tahan hama. Kalao tanah itu menjadi subur karena penambahan bahan organik, kita asumsikan tanaman di atasnya akan mendapat unsur hara yang lebih bagus.

Sebaliknya, jika tanah mengandung banyak bahan sintetik maka mikroorganisme dalam tanah tidak berkembang, padahal mikroorganisme berfungsi penting menjaga keseimbangan ekosistem. Mikroorganisme bisa sebagai biodekomporser. Ada juga yang sifatnya antagonis bisa mengendalikan penyakit tetapi tak bisa berkembang karena penggunaan Bahan kimia.

Pupuk Kimia

Penggunaan pupuk kimia yang cukup tinggi untuk pertanian padi, buah dan sayuran justru akan berdampak pada menurunnya kualitas tanah dan membunuh mikroorganisme tanah. Penggunaan pupuk kimia dengan kandungan nitrogen bukannya tidak dibolehkan, namun harus sesuai aturan standar serta saat menggunakannya pun harus menggunakan  alat pelindung diri (APD). Tapi sayang petani dan masyarakat jarang memikirkan serta mengetahui dampaknya, tidak hanya berdampak pada mikroorganisme, ekosistem dan juga berdampak pada kesehatan masyarakat.

Beda halnya jika kita berlaku dan berbudaya organik saat berlebihan pemakaiannya akan lebih baik tetapi tidak efisien. Pasalnya membuat pupuk organik perlu waktu minimal dua minggu dan makin lama makin bagus.

Untuk mengubah lahan konvensional menjadi lahan organik butuh kesabaran, bisa setahun meski ada yang mengatakan bisa 6 bulan. Semuanya akan tergantung pada sejarah lahan, apakah pernah terpapar pupuk sintetik dan pestisida atau herbisida dalam skala besar.

Jika ekosistemnya sudah rusak maka harus diperbaiki terlebih dahulu, kalau (lahan) tidak terlalu parah, bisa cepat recovery-nya. Sepanjang kita berhenti dan terus mengobati lahannya dengan  diberi pupuk organik yang cukup. Pola tanam juga harus diperbaiki. Makanya pola tanam tumpang sari sangat disarankan, harus juga dipikirkan bagaimana mendapatkan nitrogen secara alami dari udara.

Bertani organik tanpa kita sadari adalah berbicara sikap, berbudaya serta membutuhkan totalitas dan konsistensi diri. Sekali menyatakan berlaku dan berbudaya organik semua penggunaan bahan kimia harus perlahan mulai di hentikan. Tidak boleh sekarang organik lalu musim selanjutnya kembali ke pupuk sintetik. Butuh kesabaran yang tinggi, pupuk organik harus selalu diberikan selama beberapa musim, tantangannya kemudian maukah kita bercapek-capek dahulu,bersenang-senang kemudian?

Dalam kenyataannya, sebagian besar petani ingin serba instan, padahal dalam berorganik butuh proses yang tak mudah. Misalnya harus menyediakan pupuk organik yang banyak, meski bisa dibeli membuat pupuk organik sendiri jauh lebih baik karena petani bisa menjamin keaslian pupuk yang dihasilkan.

Untuk mendorong gerakan pertanian gerakan pertanian organik ini butuh dukungan dari pemerintah salah satunya pemberian bantuan peralatan mesin pencacah tanaman untuk bahan pembuatan kompos, selain itu pemerintah bisa menetapkan satu atau daerah sebagai sentral penghasil produk organik. Apa kabar perda bahwa produk organik, sejauh mana edukasi serta pengawasan terhadap petani.

Pertanian organik ini bisa diterapkan untuk tanaman keras dan jangka panjang seperti kakao, cengkeh, alpokat, duren dll. Tidak hanya untuk produk sayur-sayuran atau tanaman yang usianya 6 bulanan yang seperti banyak dilakukan selama ini. Sekarang ada beberapa negara yang  pasarnya sangat ketat mengatur hal tentang organik.

Untuk mewujudkan hal ini  maka perlu pendampingan intens ke petani-petani agar memulai kembali berbudaya dan berlaku organik. Petani diingatkan kembali tentang budaya pertanian organik, tingginya serangan hama di pertanian karena penekanan biotiknya yang tak ada, pada pola tanaman dan cara penanganan yang keliru.

Contoh ketika kita melihat hama maka pikirannya harus disemprot yang malah kemudian juga membunuh predator, yang harusnya dikendalikan. Kalau musuh alami mati maka tak ada penekanan hama ini kalau kita menanam yang sepanjang tahun maka makanan akan tersedia terus menerus, inangnya banyak, padahal harus diputus siklus yang sama. Bisa dengan menggunakan varietas yang sama.

Pentingnya manajemen ekosistem dalam pertanian, dalam hal ini ekosistem diatur sedemikian rupa sehingga kalau pun ada hama maka tidak akan pernah berada dalam populasi yang bisa menimbulkan kerugian ekonomi. Sungguh senang jika masyarakat mau berbicara organik, karena dengan mau berbicara organik setidaknya ini adalah langkah awal untuk memperbaiki lingkungan dan mengingat sebuah budaya organik sehingga akan menjadi perilaku organik. [T]

Tags: bumiHari Bumiorganik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demi Membantu Korban Bencana NTT, Pemuda Batur Turun ke Jalan

Next Post

Antara Bangga dan Sedih | Kisah Kecil Seorang Ibu di Sekitar Hari Kartini

Gede Praja

Gede Praja

Trener ecobrick. Pengelola Komunitas Sahabat Bumi

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Antara Bangga dan Sedih | Kisah Kecil Seorang Ibu di Sekitar Hari Kartini

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co