2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Bumi | Jadikan Pertanian Organik Sebagai Gaya Hidup

Gede Praja by Gede Praja
April 22, 2021
in Esai
Hari Bumi | Jadikan Pertanian Organik Sebagai Gaya Hidup

Tanaman vanili dengan pupuk organik

22 April kita memperingati Hari Bumi dan 23 Maret lalu kita memperingati Hari Air, lalu 5 Juni memperingati Hari Lingkungan Hidup. Begitu selanjutnya. Hari-hari memberi tanda, dan kita kadang abai begitu saja.

Taukah kawan-kawan bumi, air dan lingkungan tidak butuh ucapan kita. Tak memerlukan ucapan Selamat Hari Bumi, Selamat Hari Air dan seterusnya. Kitalah yang memerlukan “mereka”. Peringatan hanyalah pengingat bahwa kita semua bertanggungjawab terhadap bumi, air, dan lingkungan yang nyaman, bersih dan layak.

Pada masa-masa sekarang adalah masa-masa yang menguntungkan untuk bumi. Penurunan aktivitas sosial dan industri skala besar mampu memberikan bumi kita bernapas dan berangsur-angsur mengembalikan fungsi-fungsi yang kita butuhkan dalam kehidupan. Mungkin itulah sebagian hikmah dari pandemi Covid 19.

Kita butuh waktu 50-150 tahun untuk mengembalikan sebuah kondisi hutan kembali pada kondisi semula, itu pun jika terganggu oleh kepentingan, kebakaran hutan, dan aktivitas lainnya yang menurunkan kualitas pendukung di sekitarnya. Hutan yang kita manfaatkan adalah warisan dari leluhur untuk kita rawat dan kita jaga.

Tugas kita sederhana tanamkanlah nilai-nilai kepedulian bahwa kita memerlukan orang lain, dan membutuhkan lingkungan yang nyaman. Tidak akan bisa dilakukan oleh polisi kehutanan saja, penggiat lingkungan saja dan LSM saja tapi oleh kita karena kita memerlukan bumi.

Salah satu upaya menyelamatkan bumi adalah dengan menjadikan pertanian organik sebagai gaya hidup.

Pertanian organik kini mulai dikenal luas masyarakat, bahkan sudah menjadi tren hidup sehat. Banyak pelaku pertanian organik bermunculan seiring dengan pangsa pasar yang semakin terbuka. Tidak hanya kerena bernilai ekonomis tinggi, pertanian organik penting untuk perbaikan ekosistem pertanian yang kian rusak terpapar bahan sintetik atau kimiawi seperti pestisida.

Guru Besar Perlindungan Hama dan Penyakit Tanaman Universitas Hasanuddin Makassar, Prof. Dr. Sylvia Sjam menyatakan perlunya mempromosikan pertanian organik ini sebagai sebuah solusi pertanian berkelanjutan, khususnya pada petani. Harus diajarkan bahwa penanganan hama dan penyakit tidak hanya melalui  pestisida sintetik, begitu pun dengan pupuk yang bisa disiapkan sendiri yang lebih murah dan terjangkau, sekaligus sehat bagi ekosistem pertanian.

Tanaman yang dikelola secara organik biasanya lebih tahan hama penyakit, hal itu terkait dengan kesuburan tanah yang sehat.  Kalao tanah subur maka tanaman akan jauh lebih bagus tumbuhnya, tanaman akan lebih tahan hama. Kalao tanah itu menjadi subur karena penambahan bahan organik, kita asumsikan tanaman di atasnya akan mendapat unsur hara yang lebih bagus.

Sebaliknya, jika tanah mengandung banyak bahan sintetik maka mikroorganisme dalam tanah tidak berkembang, padahal mikroorganisme berfungsi penting menjaga keseimbangan ekosistem. Mikroorganisme bisa sebagai biodekomporser. Ada juga yang sifatnya antagonis bisa mengendalikan penyakit tetapi tak bisa berkembang karena penggunaan Bahan kimia.

Pupuk Kimia

Penggunaan pupuk kimia yang cukup tinggi untuk pertanian padi, buah dan sayuran justru akan berdampak pada menurunnya kualitas tanah dan membunuh mikroorganisme tanah. Penggunaan pupuk kimia dengan kandungan nitrogen bukannya tidak dibolehkan, namun harus sesuai aturan standar serta saat menggunakannya pun harus menggunakan  alat pelindung diri (APD). Tapi sayang petani dan masyarakat jarang memikirkan serta mengetahui dampaknya, tidak hanya berdampak pada mikroorganisme, ekosistem dan juga berdampak pada kesehatan masyarakat.

Beda halnya jika kita berlaku dan berbudaya organik saat berlebihan pemakaiannya akan lebih baik tetapi tidak efisien. Pasalnya membuat pupuk organik perlu waktu minimal dua minggu dan makin lama makin bagus.

Untuk mengubah lahan konvensional menjadi lahan organik butuh kesabaran, bisa setahun meski ada yang mengatakan bisa 6 bulan. Semuanya akan tergantung pada sejarah lahan, apakah pernah terpapar pupuk sintetik dan pestisida atau herbisida dalam skala besar.

Jika ekosistemnya sudah rusak maka harus diperbaiki terlebih dahulu, kalau (lahan) tidak terlalu parah, bisa cepat recovery-nya. Sepanjang kita berhenti dan terus mengobati lahannya dengan  diberi pupuk organik yang cukup. Pola tanam juga harus diperbaiki. Makanya pola tanam tumpang sari sangat disarankan, harus juga dipikirkan bagaimana mendapatkan nitrogen secara alami dari udara.

Bertani organik tanpa kita sadari adalah berbicara sikap, berbudaya serta membutuhkan totalitas dan konsistensi diri. Sekali menyatakan berlaku dan berbudaya organik semua penggunaan bahan kimia harus perlahan mulai di hentikan. Tidak boleh sekarang organik lalu musim selanjutnya kembali ke pupuk sintetik. Butuh kesabaran yang tinggi, pupuk organik harus selalu diberikan selama beberapa musim, tantangannya kemudian maukah kita bercapek-capek dahulu,bersenang-senang kemudian?

Dalam kenyataannya, sebagian besar petani ingin serba instan, padahal dalam berorganik butuh proses yang tak mudah. Misalnya harus menyediakan pupuk organik yang banyak, meski bisa dibeli membuat pupuk organik sendiri jauh lebih baik karena petani bisa menjamin keaslian pupuk yang dihasilkan.

Untuk mendorong gerakan pertanian gerakan pertanian organik ini butuh dukungan dari pemerintah salah satunya pemberian bantuan peralatan mesin pencacah tanaman untuk bahan pembuatan kompos, selain itu pemerintah bisa menetapkan satu atau daerah sebagai sentral penghasil produk organik. Apa kabar perda bahwa produk organik, sejauh mana edukasi serta pengawasan terhadap petani.

Pertanian organik ini bisa diterapkan untuk tanaman keras dan jangka panjang seperti kakao, cengkeh, alpokat, duren dll. Tidak hanya untuk produk sayur-sayuran atau tanaman yang usianya 6 bulanan yang seperti banyak dilakukan selama ini. Sekarang ada beberapa negara yang  pasarnya sangat ketat mengatur hal tentang organik.

Untuk mewujudkan hal ini  maka perlu pendampingan intens ke petani-petani agar memulai kembali berbudaya dan berlaku organik. Petani diingatkan kembali tentang budaya pertanian organik, tingginya serangan hama di pertanian karena penekanan biotiknya yang tak ada, pada pola tanaman dan cara penanganan yang keliru.

Contoh ketika kita melihat hama maka pikirannya harus disemprot yang malah kemudian juga membunuh predator, yang harusnya dikendalikan. Kalau musuh alami mati maka tak ada penekanan hama ini kalau kita menanam yang sepanjang tahun maka makanan akan tersedia terus menerus, inangnya banyak, padahal harus diputus siklus yang sama. Bisa dengan menggunakan varietas yang sama.

Pentingnya manajemen ekosistem dalam pertanian, dalam hal ini ekosistem diatur sedemikian rupa sehingga kalau pun ada hama maka tidak akan pernah berada dalam populasi yang bisa menimbulkan kerugian ekonomi. Sungguh senang jika masyarakat mau berbicara organik, karena dengan mau berbicara organik setidaknya ini adalah langkah awal untuk memperbaiki lingkungan dan mengingat sebuah budaya organik sehingga akan menjadi perilaku organik. [T]

Tags: bumiHari Bumiorganik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demi Membantu Korban Bencana NTT, Pemuda Batur Turun ke Jalan

Next Post

Antara Bangga dan Sedih | Kisah Kecil Seorang Ibu di Sekitar Hari Kartini

Gede Praja

Gede Praja

Trener ecobrick. Pengelola Komunitas Sahabat Bumi

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Antara Bangga dan Sedih | Kisah Kecil Seorang Ibu di Sekitar Hari Kartini

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co